|
![]() Judul asli The Chronicles of Narnia #4 Prince Caspian
Penulis C.S.Lewis
Penerjemah Donna Widjajanto
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 280 hal
Liburan sekolah akan segera berakhir. Peter, Susan, Edmund, dan Lucy harus kembali ke sekolah. Lihatlah, mereka sekarang ada di peron stasiun tengah menunggu kereta api yang akan membawa mereka ke asrama sekolah. Mereka terkenang kembali saat-saat menakjubkan sebagai raja dan ratu di Narnia setahun yang lalu. Rasanya seperti baru kemarin peristiwa itu mereka alami. Kenyataan harus kembali ke sekolah, membuat keempat saudara itu sedikit murung.
Sekonyong-konyong mereka serentak merasakan ada sesuatu yang menyeret mereka dan saat berikutnya Peter dan adik-adiknya telah berada di tengah hutan lebat! Kekuatan sihir memanggil mereka kembali ke Narnia. Ada apakah gerangan?
Seperti telah dikisahkan pada judul-judul sebelumnya, Narnia adalah sebuah negeri dongeng tempat segala keajaiban terjadi : pohon-pohon yang menari, hewan-hewan yang dapat bicara dan di sana hidup pula makhluk-makhluk dari segala jenis : centaur, dwarf, raksasa, faun dan lain-lain. Di sana, di Narnia, Peter bersaudara diangkat menjadi raja dan ratu sebelum akhirnya kembali ke dunia riil.
Rupanya banyak pintu menuju Narnia. Dalam episode ini, anak-anak itu masuk ke Narnia malalui peron stasiun setelah Pangeran Caspian meniup terompet minta pertolongan. Terompet tersebut milik Susan semasa menjadi ratu.
Pangeran Caspian adalah ahli waris sah takhta Narnia yang dikhianati oleh pamannya sendiri. Ia mengetahuinya dari Doctor Cornelius, makhluk setengah dwarf yang menjadi guru privatnya dan diam-diam membantunya melarikan diri dari istana untuk kemudian merebut kembali singgasana kerajaan Narnia dari tangan Miraz, sang paman.
Bagi Miraz, itu sama saja artinya dengan menantang perang. Maka, tak terelakkan lagi perang pun pecah antara Narnia Baru di bawah pimpinan Miraz dengan Narnia Lama yang dipimpin Caspian.
Ketika Caspian dan pengikutnya terdesak dan nyaris kalah, mereka memanggil Peter, Susan, Edmund, dan Lucy lewat tiupan terompet ajaib untuk kembali ke Narnia membantu mereka menghadapi Miraz. Maka, keempat anak tersebut kembali bertualang!
Episode Pangeran Caspian ini, menurut saya, agak sedikit 'sadis' sebagai bacaan anak-anak, sebab ada adegan perang dan bunuh membunuh antara tokoh baik dan jahatnya. Berbeda dengan dua episode sebelumnya yang saya baca - Sang Singa...dan Keponakan Penyihir - berakhir dengan kepergian para tokoh antagonisnya, pada Pangeran Caspian ini, C.S. Lewis tanpa ragu-ragu 'membunuh' karakter penjahatnya untuk menyelesaikan konflik. Perang dan pembunuhan, tentu bukan teladan yang baik bagi anak-anak, kepada siapa buku ini ditujukan.
Cerita selebihnya masih tetap menarik.
Salah satu bagian favorit saya setiap membaca buku anak-anak karya terjemahan adalah bagian yang menceritakan makanannya. Bagian yang justru acap kali dilupakan oleh para penulis cerita anak kita. Ingat saja Lima Sekawan dan Harry Potter, misalnya. Selalu ada acara makannya.
Pada bagian ini, biasanya saya jadi ikut-ikutan merasa sangat lapar membayangkan semua makanan lezat yang diceritakan itu; bahkan jika hanya sekadar menggambarkan soal roti tawar berlapis keju dan mentega dengan sebutir bawang saja atau sebatang coklat yang meleleh karena terlalu lama disimpan di saku.
Dan membaca Narnia hampir sama nikmatnya dengan makan sebatang coklat plus es krim. Yummy...!
Endah Sulwesi 18/01
|