Wednesday, May 19, 2004
Dari Pentas Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi memang bukanlah barang baru. Namun menyaksikan kembali sebuah pertunjukan seni
yang diberi nama seperti itu selalu mengasyikkan. Demikianlah, pada tgl. 18-19 Mei 2004 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, kembali digelar sebuah acara musikalisasi puisi dengan judul " Sajak dalam Musik & Nada". Mengusung nama-nama terkenal seperti di antaranya Aning Katamsi, Cornelia Agatha dan Maudy Koesnaedi, menjadikan acara ini cukup menghibur.
 
Tak kurang dari 23 puisi yang dibawakan berganti-ganti malam itu oleh para penampil. Maka lalu Diponegoro karya Chairil Anwar yang heroik itu menjelma menjadi sebuah lagu yang indah dibawakan oleh  Deavies Sanggar Matahari, sebuah kelompok musik yang terdiri dari 6 personel Siregar bersaudara (Dedie Syahnila, Herie Syahnila, Irma Komala Syahni, Devie Komala Syahni, Andrie Syahnila dan Denie Syahnila). Berdiri tahun 1990, mereka mengkhususkan diri dalam jalur musikalisasi puisi. Selain Diponegoro, mereka juga membawakan PadaMu Jua karya Amir Hamzah dan Tanah Air Mata (Sutardji Calzoum Bachri).
 
Penampil lain yang tak kalah menarik adalah Aning Katamsi. Dalam irama seriosa, ia menyanyikan  dengan sepenuh perasaan puisi-puisi Kubakar Cintaku karya Emha Ainun Nadjib serta Hidup, Jika Kau Tahu dan Cita-cita karya Usmar Ismail.
 
Trio  Cornelia Agatha, Melanie Subono dan Teddy Snada mendendangkan beberapa puisi yang di antaranya sudah sangat terkenal, seperti : Hujan Bulan Juni dan Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono). Cornelia Agatha   tampil dalam gaun berwarna hitam. Sebuah busana yang lebih pantas untuk ke pesta. Pemain sinetron ini memang senang mencoba hal-hal baru. Sebelumnya dia juga pernah terlibat dalam beberapa pementasan drama/teater.
Sementara Teddy Snada adalah salah satu personel dari kelompok nasyid Snada.
 
Sayangnya, acara ini tidak dipandu oleh seorang pemandu acara yang bisa menjadi jembatan antara penonton dengan para penampil serta puisi-puisi yang dilagukan. Penonton hanya dibekali sebuah buku panduan pertunjukan. Sudah begitu, para artis di panggungpun  sama sekali tidak melakukan dialog dengan para penonton sehingga pertunjukan seperti dibiarkan mengalir begitu saja. Endah Widiastuti, gitaris, menjadi satu- satunya penampil yang melibatkan penonton dalam pertunjukan malam itu. Dia mengajak penonton bertepuk tangan mengikuti irama gitarnya saat  membawakan puisi Semangkok Bubur Ayam karya Ags.Arya Dwipayana. 
 
Acara ditutup oleh Trio Cornelia, Melanie dan Teddy dengan bait-bait indah dari sajak Sapardi Pada Suatu Hari Nanti :
 
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
.....................
 
 
19/5/04

Posted at Wednesday, May 19, 2004 by Perca
Comments (2)  

Tuesday, May 18, 2004
Lembar Terakhir Buku Harian Sobatku (Lanjutan)

MINGGU, 11 FEBRUARI 2004
Sekarang bukan hanya tanganku yang seperti di borgol…
Mulut dan hidungku juga dimasuki selang ( untunglah tangan kananku masih bisa
di pakai untuk mengisi buku harian ini..) selang itu terhubung ke sebuah tabung besar
di samping kanan ranjangku
Tabung bertuliskan oksigen..
Apa itu oksigen? Aku pernah mendengarnya, tapi apa itu?
Di mana aku?
Aku tidak kenal orang orang di sekelilingku..siapa mereka?
Sedang apa memandangiku?
Ada perempuan menangis di sampingku…” Jo..ini mama..mama sayang..”
Mama? Mama itu apa? Kenapa orang itu menangis?
Hilangkah otakku? Ku coba untuk mengingat ingat…
Tapi aku tak sanggup berfikir…
Aku hanya ingin bernafas
Mana udara? Mana udara?

(bersambung..)

Posted at Tuesday, May 18, 2004 by Perca
Make a comment  

Sunday, May 16, 2004
Lembar Terakhir Buku Harian Sobatku - oleh Sid

SELASA  6 FEBRUARI 2004
Aku muak harus terlentang di sini
Bersama orang-orang tua dan pesakitan bau tanah..
Botol infus dan selangnya ini seperti borgol saja
Dan udara di sini sungguh memualkan,
Bau obat dan antiseptik!
 
KAMIS, 8 FEBRUARI 2004
Keluarga dan sahabat datang silih berganti
Membawa bermacam-macam makanan dan buah-buahan
Uh! Buat apa..setiap aku makan pasti keluar lagi
Dan lagipula lidahku pahit sekali…mereka lalu memandangku  dengan mata yang sendu
Memijit mijit kakiku…sejujurnya saja, dipijit tidak dipijit sama saja..
Dadaku tetap sakit dan sesak……
 
(bersambung..)

Posted at Sunday, May 16, 2004 by Perca
Make a comment  

Waving Gallery

Tak tampak olehku
lengkung pelangi alismu
dari sini
Di sekat kaca yang manakah engkau
gadisku merah jambu
 
Cengkareng, 8/4/04  

Posted at Sunday, May 16, 2004 by Perca
Make a comment  

Saturday, May 15, 2004
Letup

Ada kerjap api memercik di dadaku
saat sinar kecilmu mengerdip
pada rembulan yang mabuk
mengajakmu berdansa
berputar menari sampai pagi
lalu secarik kertas seuntai cerita mutiara
bagi sang renbulan mabuk : doktrin pertama
pencucian otak..ah...
secuil ingatan tersisa untukku
di sudut kepalamu segi lima

(untuk bintang kecilku)
 
 

Posted at Saturday, May 15, 2004 by Perca
Make a comment  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< April 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed