Monday, July 06, 2009
(15) Lelaki Tua dan Laut

Judul buku: Lekaki Tua dan Laut

Judul asli: The Old Man and the Sea

Penulis: Ernest Hemingway

Penerjemah: Yuni Kristianingsih P.

Penyunting: Mita Yuniarti

Penerbit: Serambi

Cetakan: I, 2008

Tebal: 145 hlm

 

Pernahkah kau merasa takut menghadapi hari tua? Aku pernah. Sebagai seorang yang telah berikrar untuk melajang seumur hidup, rada ngeri juga membayangkan hari tuaku kelak. Berbeda dengan mereka yang hidup “normal” – menikah dan punya anak – barangkali masa pensiunku nanti akan kuhabiskan sendiri, tanpa anak cucu. Mungkin aku akan menghuni panti jompo yang sewanya kubayar dari uang pensiunku. Di sana, dengan sebuah laptop (pasti 30 tahun lagi bentuk komputer semakin canggih dan ringkas), aku akan mengisi sisa hidupku dengan menulis. Seperti NH Dini (Eh, tapi Eyang Dini kan punya 2 orang anak, ya?)

 

Tetapi yang barangkali paling kukhawatirkan tentang masa tua adalah menyaksikan tubuhku menjadi semakin lemah. Kulitku akan mengerut dan mengeriput. Wajahku akan penuh gurat-gurat aneh sebagaimana almarhum nenekku. Mungkin aku juga akan menjadi pikun, sedikit tuli, dan mengenakan kacamata setebal pantat botol. Bisa jadi juga aku akan mengenakan kerudung demi menutupi warna perak uban-uban. Itu kalau aku memang beruntung dikaruniai umur panjang hingga 70, misalnya.

 

Barangkali, bagi seorang nelayan, menjadi tua merupakan persoalan tersendiri. Seperti halnya Santiago, tokoh dalam Lelaki Tua dan Laut, cerpen keren karya Hemingway yang memenangi Pulitzer Prize tahun 1953. Ia tentu tidak berpikir untuk tinggal di rumah jompo di tepi pantai dan menanti ajal sembari membaca buku.

 

Bagi Santiago, laut adalah hidupnya. Ia mengenal samudera seakrab ia mengenal jemari tangannya. Di usia senjanya, saat kekuatan fisiknya sudah sangat menurun, ia masih melaut. Sebagaimana kehidupannya yang selalu sendiri, melaut pun dilakukannya sendiri. Ia hanya memiliki seorang sahabat kecil, Manolin, yang kadang-kadang menemaninya berburu ikan.

 

Sekali dalam hidup Santiago, terjadi sebuah peristiwa yang tak akan pernah dilupakannya: ia berhasil menangkap ikan marlin raksasa setelah melaut selama 85 hari. Itulah rekornya sebagai nelayan.

 

Pak Tua Santiago berhasil menaklukkan ikan marlin yang lebih besar dari perahunya itu setelah berjuang keras dan mengorbankan seluruh miliknya yang paling berharga: pisau, alat pancing, tali temali, dan perahunya.

 

Penaklukkan itu merupakan pembuktian bahwa meski ia sudah uzur namun masih sanggup bertahan hidup selama 85 hari di tengah gelombang untuk kemudian mengalahkan seekor ikan raksasa. Sendirian! Dengan sisa-sisa tenaganya. Dengan jemari tuanya yang sempat kram. Dengan otot-otot liatnya. Dengan lutut yang gemetar. Dengan tetesan darahnya. Ia bukan hanya mengalahkan marlin gede itu, tetapi juga sejumlah hiu ganas yang berusaha merebut tangkapan besarnya tersebut.

 

Membaca kisah Santiago ini, yang terasa olehku adalah sebuah kesepian yang sangat dalam. Sebuah perasaan kesendirian yang sangat menyentuh dari seorang pria tua di pengujung usianya. Ia kerap bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau dengan alam sekitarnya: ikan-ikan, burung-burung camar, penyu, angin, awan, atau tangannya sendiri:

 

Dia berdiri, mengelap tangannya pada celana. “Sekarang,” katanya, “kamu bisa melepaskan tali senar itu, Tangan, dan aku akan memegangnya dengan lengan kanan saja sampai kauhentikan omong kosong itu.” (hlm 65)

 

Nyaris di sepanjang kisah, bertebaran monolog seperti itu yang diucapkan oleh tokoh Santiago. “Percakapan” inilah yang membawa pembaca kepada sebuah kisah yang penuh perenungan tentang kehidupan, terutama hidup di masa tua. “Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka, pikirnya. Tetapi ini tak bisa dielakkan.” (hlm 53)

 

Mungkin selagi Santiago muda belia, masih sekuat kuda tenaganya, ia tidak merasa kesepian seperti saat itu. Atau mungkin juga, ia baru merasa hidupnya sangat sunyi setelah memiliki Manolin sebagai sahabat yang telah memberinya kesempatan merasakan mempunyai seseorang yang menyayangi dan mencintai. Memiliki seseorang yang ia cintai dan sayangi. Diam-diam, ia sering merindukan Manolin.

 

Dengan lantang ia berkata, “Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.”  Tapi kau tidak bersama anak lelaki itu, pikirnya. Kau hanya bersama dirimu sendiri dan kau lebih baik kembali bekerja…(hlm 57).

 

Cerpen (ada juga yang menyebutnya novela) ini telah mengantarkan Hemingway kepada puncak ketenaran sebagai salah seorang penulis papan atas Amerika. Menurut para kritikus sastra, inilah karya masterpiece penulis kelahiran Illinois, 21 Juli 1899 itu. Berkat popularitasnya pula, telah beberapa kali, cerita si Tua Santiago ini diangkat ke layar lebar.

 

Konon, pengarang yang menikah empat kali ini, adalah seorang pecandu berat alkohol. Di masa tuanya, ia menderita depresi yang parah lantaran merasa tak mampu lagi menulis dengan baik. Ia menghabisi hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri. Saat itu ia nyaris berumur 62 tahun. Tragis banget, ya?

 

Tetapi, untunglah, aku tidak ikut-ikutan depresi setelah membaca Lelaki Tua dan Laut ini. Sudah lama aku tak merasa ngeri lagi ihwal bayangan masa tuaku nanti. Toh, belum tentu aku akan hidup sampai tua, kan? Kata orang bijak, bayangan itu sering jauh lebih menakutkan ketimbang benda aslinya. Jadi, siapa takut? J ***

 

endah sulwesi

Posted at Monday, July 06, 2009 by Perca
Make a comment  

Monday, June 22, 2009
(14) Metropolis

Judul buku: Metropolis

Penulis: Windry Ramadhina

Penyunting: Mira Rainayati

Penerbit: Grasindo

Cetakan: I, 2009

Tebal: 331 hlm

 

Di sekitar lokasi pemakaman berjaga sejumlah polisi. Mobil-mobil mereka berbaris di pinggir tanah luas yang dipagari kamboja kuning dan tersaput rumput hijau yang terpangkas rapi. Bram yang memimpin polisi-polisi tersebut. Ia berdiri bersandar pada mobil dinasnya. Matanya memperhatikan kumpulan orang berpakaian serbahitam yang sedang berdoa di tengah pemakaman. Di antara kumpulan itu ia mengenali Ferry, anak tunggal Leo. Ferry berdiri paling dekat dengan peti mati ayahnya dan laki-laki muda berdarah Sulawesi itu tampak sangat terpukul (hlm 1).

 

Apa yang terbayang olehmu ketika membaca deskripsi di atas? Apakah sama dengan yang kubayangkan: adegan pembuka di sebuah film mafia? Pemakaman. Orang-orang berpakaian hitam. Polisi yang berjaga-jaga.

 

Novel kedua karya Windry Ramadhina ini memang mengusung tema mafia bergenre detektif. Mafia narkotika di Jakarta tepatnya dengan tokoh utama seorang inspektur polisi muda bernama Bram Agusta. Windry berhasil menciptakan tokohnya ini sebagai sosok polisi sekaligus detektif yang cerdas dan "bandel".  Bukan mustahil, jika Windry bersedia, ia bisa saja membuat sebuah kisah serial detektif–seperti Agatha Christie dengan Poirot-nya atau Sir Arthur Conan  Doyle dengan Sherlock Holmes-nya–dengan Bram sebagai jagoannya. Peluang itu sangat terbuka bagi penulis Orange ini.

 

Lewat Metropolis ini, Windry sukses menampilkan sebuah kisah campuran detektif dan aksi, genre yang jarang disentuh oleh penulis kita. Windry sangat berbakat menulis kisah serupa ini. Metropolis bisa menjadi awal yang baik bagi Windry untuk menobatkan diri sebagai penulis kisah detektif menyusul seniornya, S Mara Gd. Malah, menurutku, Windry menyimpan kekuatan yang lebih dibanding pendahulunya itu yang sangat dibayang-bayangi Agatha Christie dengan duet Kosasih dan Gozali yang meniru Poirot dan Hastings.

 

Sebagai sebuah cerita detektif berbalut action ala Godfather ini, Windry mampu menjaga alur dan memainkan temponya dengan baik sehingga pembaca betah bertahan hingga halaman terakhir. Ketegangan dan unsur-unsur misterinya ia olah dengan cermat dalam tuturan yang lancar dan cerdas. Tokoh-tokohnya hidup dengan karakter yang melekat konsisten. Ia juga sanggup menghadirkan sejumlah data dan fakta seputar kejahatan narkotika yang–mungkin–diperolehnya dari sumber-sumber di kepolisian Jakarta. Ini menjadi kelebihan tersendiri. Keistimewaan lainnya adalah faktor humor yang kerap dilupakan oleh para penulis kita. Padahal humor, jika dikemas dan ditempatkan dengan cerdik, bisa menjadi bumbu penyedap yang menyegarkan.  Seperti dalam buku Windry ini. Alhasil, Metropolis adalah buku detektif yang asyik dikunyah. Gurih. Kriuuuuk…..

 

Terus terang, ketika pertama kali Windry menyebutkan judul Metropolis, yang pertama melintas di benakku adalah sebuah novel metropop (chicklit). Maka, saat buku tersebut kuterima, gambaran tentang novel chicklit langsung sirna seketika mendapati kovernya yang bergambar cuplikan sepotong halaman koran dengan noda darah menggenang di atasnya. Desain kover yang sangat jauh dari gambaran sebuah novel chicklit yang lazimnya colourful dan ceria.

 

Sejatinya, bukanlah sesuatu yang terlalu mengejutkan mendapatkan fakta Windry telah menulis novel ini dengan memikat. Pada karya sebelumnya, ia telah membuktikan kemampuannya menulis melalui karya debutannya: Orange (aku belum baca buku ini) yang sempat masuk lima besar ajang KLA (Khatulistiwa Literary Award) tahun lalu untuk kategori Penulis Muda Berbakat. Di final, ia dikalahkan oleh rekannya, Wa Ode Wulan Ratna dengan bukunya Cari Aku di Canti.

 

Sekali lagi, selamat buat Windry. Benar deh, kalau kamu berniat menjadi penulis cerita detektif, kamu sudah memulainya dengan baik melalui Metropolis ini.***

 

Endah Sulwesi

 

Posted at Monday, June 22, 2009 by Perca
Comments (1)  

Tuesday, June 16, 2009
(13) Botchan

Judul buku: Botchan

Penulis: Natsume Soseki

Penerjemah: Indah Santi Pratidina

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, 2009.

Tebal: 217 hlm.

 

Beberapa alasanku memutuskan untuk membaca novel ini:

 

  1. Desain kovernya.

Ini sesuatu yang langka, sebab aku nyaris tidak pernah menilai buku dari sampulnya. Selama ini, aku termasuk orang yang cukup setia mengamalkan ungkapan “Don’t judge the book by its cover”. Biasanya, pertimbangan utamaku dalam membeli atau membaca buku adalah nama pengarangnya. Baru kemudian penerbitnya dan penerjemahnya jika itu merupakan karya fiksi terjemahan. Namun, untuk kali ini aku terpaksa melanggar keyakinanku sendiri dan menyerah pada daya tarik desain kover hasil rancangan Martin Dima ini. Empat bintang untuk kerjamu, Kawan!

 

Kover ini memikat lantaran gambarnya yang terkesan komik dan jenaka dalam 9 panel (kotak) dengan 3 di antaranya sengaja dibuat “berlubang” seperti jendela. “Jendela” tersebut menampakkan gambar pada lapis kedua sampul ini. Unik. Lucu. Aku sempat mengira ini sebuah novel kanak-kanak seperti layaknya Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi).

 

  1. Judulnya.

Mengingatkan pada salah satu buku favoritku sepanjang masa : Totto-chan. Seperti sudah kutulis di atas, semula aku mengira buku ini buku cerita kanak-kanak (atau setidaknya tokoh ceritanya adalah anak-anak). Aku senang dengan buku yang memakai tokoh atau sudut pandang anak-anak.

 

  1. Kertasnya.

Novel karya sastrawan Jepang yang ditulis pada 1906 (ugh, sudah lebih satu abad, ya?) ini oleh Gramedia dicetak dalam jenis kertas ringan yang belakangan ini banyak digunakan oleh penerbit kita.

 

Ketiga hal di muka sebenarnya sangat jarang memengaruhiku dalam memutuskan membeli atau membaca sebuah buku (fiksi). Tetapi, agaknya sekali ini, pilihanku terhadap Botchan (dengan menggunakan 3 kategori tadi) tidak keliru. Tentu saja nama penulisnya, Natsume Soseki, tidak mungkin kujadikan  bahan pertimbangan, sebab belum pernah satu kali pun kudengar seumur hayatku. Namun, sekarang aku jadi tahu siapa sesungguhnya dia.

 

Natsume Soseki lahir di Tokyo pada 1867. Sejak kecil ia telah jatuh cinta pada sastra. Pada usia 14 tahun, untuk pertama kalinya bocah ini mempelajari sastra Cina di sekolahnya yang pengaruhnya terus melekat dan dapat dirasakan dalam karya-karyanya.

 

Lantaran cinta mati pada sastra, ketika meneruskan ke perguruan tinggi, Soseki memilih Jurusan Sastra Inggris di Tokyo Imperial University pada 1890 dan lulus lima tahun kemudian. Berikutnya, ia mengamalkan ilmunya tersebut di sekolah menengah Matsuyama sebagai guru Bahasa Inggris. Sekolah inilah yang kelak dijadikan setting Botchan, novel keduanya.

 

Sesungguhnya Botchan adalah sebuah kisah sederhana tentang geliat kehidupan di sebuah desa kecil bernama Shikoku. Dalam skup yang lebih sempit lagi: kehidupan para guru sekolah menengah Shikoku.

 

“Kecurigaan”-ku bahwa Botchan adalah buku kanak-kanak, nyaris terbukti sewaktu kudapati barisan kalimat pada bab pertama buku ini :

 

Sejak aku kecil, kecerobohan alamiku selalu memberiku masalah.

Pernah, suatu kali saat aku masih di sekolah dasar, aku melompat dari jendela di lantai dua dan akibatnya tidak bisa berjalan selama seminggu (hlm 11).

 

Aku hampir saja bersorak karena kukira akan menemukan sebuah kisah yang senada dengan Totto-chan. Tetapi, rupanya bab 1 ini hanya merupakan episode perkenalan pembaca dengan tokoh utamanya: Botchan yang dalam bahasa Jepang berarti tuan muda.

 

Oh, jangan buru-buru kecewa sebab kendati temanya biasa dan sederhana saja, Botchan akan memikat Anda hingga akhir cerita. Itu jika selera bacaan Anda sama denganku. Botchan adalah sebuah novel realis yang mengetengahkan persoalan sehari-hari kehidupan para guru (lelaki) yang bisa jadi merupakan potret kecil kehidupan masyarakat Jepang umumnya. Di sana ada orang yang culas, jujur, pemberani, pengecut, santun, penjilat, dan sebagainya.

 

Botchan sendiri, sebagai karakter utama novel ini, hampir-hampir saja menjadi antihero, karena walaupun ia tokoh protagonis, Natsume tidak menghadirkannya sebagai sosok yang sempurna, serbabaik, dan tanpa cela. Botchan adalah seorang pria biasa dengan kepandaian sedang-sedang saja. Secara fisik pun ia bukan pria tampan yang akan segera memikat hati para gadis. Ia cenderung memiliki sifat seorang penggerutu. Tetapi, ia juga seorang pria jujur yang bersikap adil, baik kepada dirinya sendiri atau pun orang lain.

 

Dan sebagaimana lazimnya, kejujuran selalu akan berhadapan dengan kelicikan. Memang pada akhirnya novel ini adalah sebuah kisah hitam-putih, namun Soseki tidak terjebak untuk menyampaikan pesan moralnya menjadi sebuah khotbah yang menggurui. Bahkan pada beberapa bagian, ia dengan cerdiknya menyelipkan humor-humor yang cukup lucu yang membuatku tak mampu menahan senyum atau tawa kecil. Alhasil, Botchan menjadi sebuah bacaan yang menyenangkan dan bergizi tinggi. Bagi yang sudah membaca, apakah Anda sepakat denganku?***

Posted at Tuesday, June 16, 2009 by Perca
Comments (3)  

Saturday, May 30, 2009
(12) Ma Yan

Judul buku: Ma Yan

Penulis: Sanie B Kuncoro

Editor: Rahmat Widada

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, 2009

Tebal: 214 hlm.

 

Bulan Mei 2001. Pierre Haski, seorang wartawan Prancis yang bergabung dengan sebuah tim ekspedisi kecil, tiba di Zhanjiashu, sebuah dusun kecil berjarak ribuan kilometer dari Beijing. Di kampung ini, Pierre dan rombongannya dipaksa oleh seorang ibu untuk singgah ke rumahnya yang sangat sederhana. Di sana, ibu tersebut memberikan selembar surat dan tiga buah buku kecil bersampul cokelat. Surat dan buku yang ternyata adalah sebuah diary itu ditulis dengan pensil oleh seorang bocah perempuan berusia 13 tahun bernama Ma Yan. Isinya, ditulis dalam aksara Cina, berupa curahan hati si gadis kecil tentang keinginannya untuk terus bersekolah. Namun, lantaran kemiskinan orang tuanya, Ma Yan harus rela mengubur cita-citanya itu.

 

Surat yang ditulis di selembar kertas bekas pembungkus kacang itu, telah menggugah hati Pierre dkk. Maka, setelah melalui penyuntingan serta ditambah wawancara dengan Ma Yan, catatan harian tersebut setahun kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Diary of Ma Yan.

 

Dan apa hasilnya? Luar biasa! Kisah gadis Tiongkok itu telah mengundang banyak simpati dari masyarakat pembacanya di Prancis yang lantas memberikan sumbangan uang bagi pendidikan Ma Yan. Apa sebenarnya yang dituturkan Ma Yan dalam diary-nya itu sehingga membuat para pembacanya jatuh hati?

 

Gadis ini lahir dari pasangan suami istri miskin di Cina. Sangat miskin. Bayangkan saja, dengan penghasilan 120 yuan setahun (setara dengan 15 dolar AS atau 160.000 rupiah), keluarga ini harus mencukupi kebutuhan hidup mereka. Jangan lagi untuk sekolah, untuk makan pun sangat susah. Tak jarang, Ma Yan sekeluarga harus berpuasa menahan lapar lantaran tak ada uang untuk membeli makanan.

 

Pernah suatu ketika Ma Yan mengidamkan sebatang pulpen yang dilihatnya di pasar. Harga pena itu hanya 2 yuan. Tetapi bagi Ma Yan, uang dua yuan adalah jumlah yang besar karena sama dengan uang sakunya selama dua pekan. Demi memiliki benda idamannya itu, Ma Yan rela berhemat dan menahan lapar selama berhari-hari.

 

Kuterima pena itu dengan gemetar. Jantungku berdebar. Kugenggam pena itu erat-erat. Kuingat nasi tak berasa yang harus kutelan berhari-hari sekian pekan demi pena itu. Kuingat pedih di rongga perut berisi kelaparan yang panjang…..(hlm.76)

 

Namun demikian, orang tua Ma Yan, terutama sang ibu, memiliki tekad baja untuk menyekolahkan anak-anaknya agar kelak mereka tak mengalami nasib serupa orang tua mereka. Ibu dan ayah Ma Yan memeras keringat dan darah demi pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, ibu Ma Yan rela menjadi buruh pemanen fa cai – sejenis rumput sayuran, biasanya diolah untuk salad atau sup – di Ning Xia, daerah yang berbatasan dengan Mongolia Dalam. Berjarak 400 km dari kampung mereka. Meski upah yang diterima tak memadai, tetapi apa boleh buat hanya itulah pekerjaan yang tersisa bagi perempuan buta huruf seperti ibu Ma Yan.

 

Begitu beratnya kehidupan bagi Ma Yan sekeluarga. Kendati telah berupaya keras membanting tulang, namun akhirnya orang tua Ma Yan harus takluk di hadapan nasib buruk dan kemiskinan yang seolah abadi. Mereka menyerah, tak sanggup lagi membiayai sekolah Ma Yan.

 

Namun, peruntungan dan mukjizat seringkali datang tak terduga. Seperti telah diuraikan di atas, berkat catatan hariannya, Ma Yan bisa kembali melanjutkan cita-cita yang pernah terkubur. Gadis kecil itu kini kembali ke sekolah. Dunia telah membaca kisahnya dan mengulurkan bantuan untuknya.

***

 

Kisah tadi adalah kisah nyata yang ditulis ulang oleh Sanie B Kuncoro dalam bentuk novel (novelisasi?). Jika buku aslinya setebal 372 halaman dengan format pocket book, maka oleh Sanie diringkas menjadi hanya tinggal 214 halaman berukuran sedikit lebih besar.

 

Jika harus membandingkan keduanya, masing-masing memiliki kelebihan. The Diary of Ma Yan terbitan Q-Press tentu menyajikan cerita yang lebih detail karena memuat secara lengkap catatan harian Ma Yan. Bagi Anda yang senang dan ingin mengetahaui kisah rincinya, sebaiknya memang membaca buku aslinya. Tetapi, apabila Anda ingin menikmati sebuah kisah dengan alur seperti novel, maka tulisan Sanie akan lebih cocok.

 

Susan Ismiati, begitulah nama asli Sanie B Kuncoro, mengaku bahwa Ma Yan merupakan “novel” pertamanya dan menjadi semacam lompatan atau anak tangga dari semula menulis cerita cinta romantis manis–yang cenderung terasa lebih ngepop–kepada karya yang lebih “nyastra”, walaupun hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan gosip bakal keluarnya novel Susan paling mutakhir bertajuk Garis Perempuan yang konon akan berbeda dengan karya-karyanya selama ini. Hmm, kita tunggu saja, ya. 

 

Kembali ke Ma Yan. Kalau kita perhatikan baik-baik kovernya, di sudut kiri atas tertera label “Lini Laskar Pelangi”. Barangkali fungsinya sebagai stempel bahwa kisah di dalamnya adalah sebuah kisah yang mengusung spirit Laskar Pelangi : pendidikan. Yah, memang begitulah kerap terjadi di mana pun. Sebuah produk yang laris manis, segera saja melahirkan produk-produk sejenis yang mirip. Itu berlaku hampir di segala bidang: buku, film, musik, makanan, minuman, fesyen…..

 

Tentang bukunya ini, Susan pernah berbagi kebahagiaan dengan saya, bahwa ia senang buku yang ditulisnya ini ternyata diterima dengan cukup baik oleh pembacanya. Salah satu buktinya pada suatu hari ia ditelepon oleh seorang ibu yang telah membaca Ma Yan ini. Si ibu menyampaikan penghargaan sekaligus berterima kasih kepada Susan karena berkat Ma Yan anak perempuannya (seumuran Ma Yan) kini jadi rajin belajar serta penuh perhatian kepadanya. Pengakuan ibu tersebut membikin Susan terharu dan diam-diam menitikkan air mata.

 

“Aku bahagia karena ternyata bukuku bermanfaat bagi orang lain,” katanya. Tentu saat itu ia sudah tidak menangis lagi.***

Posted at Saturday, May 30, 2009 by Perca
Make a comment  

Monday, May 25, 2009
(11) Kolam: Buku Puisi Sapardi Djoko Damono

Judul Buku: Kolam

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: Editum

Cetakan: I, 2009

Tebal: 120 hlm

 

Buku ini dibedah pekan lalu (18/5) di Salihara bersama Hasan Aspahani (penyair) dan Muhammad Al Fayyadl. Buku dengan sampul hitam putih bergambar lukisan karya Jeihan ini memuat 51 puisi terbaru Sapardi Djoko Damono (selanjutnya aku sebut Sapardi saja). Kelima puluh satu sajak tersebut dibagi menjadi 3 bagian (kata Reda Gaudiamo pada kesempatan bertemu di sebuah acara sastra, Sapardi sangat suka angka 3).

 

Tahun ini, tepatnya 20 Maret silam, penyair idolaku ini genap berusia 69 tahun (eh, 69 bukan angka genap, ya?). Sebuah angka yang tidak muda lagi tentu. Namun, pada usia senjanya itu, Sapardi masih terus menyajak, membuktikan kecintaan dan kesetiaannya kepada seni yang bernama puisi.

 

Kalau kita cermati sejak buku perdananya, DukaMu Abadi (1969 – wow, aku masih orok!) hingga yang hadir terakhir ini, Kolam (2009 – berjarak tepat 40 tahun!), kita bisa lihat ada sesuatu yang mengabadi di dalamnya: kesetiaan Sapardi menggunakan benda-benda alam sebagai alat pengucapan sajak-sajaknya. Dalam rentang 40 tahun itu, kita akan selalu bertemu dengan kabut, bunga, embun, matahari, bulan , bintang, langit, rumput, pohon, ilalang, awan, ranting, sungai, laut, hujan……

 

Ketika hal tersebut disinggung oleh Zen Hae (penyair) pada malam diskusi di Salihara itu, Sapardi menanggapinya dengan berujar, “Yang terpenting adalah bukan apa yang diucapkan, tetapi bagaimana mengucapkannya (puisi). Bagi saya, sudah tidak ada lagi yang baru di dunia ini. Tema dalam puisi itu kan hanya merupakan pengulangan-pengulangan.”

 

Terlepas apakah Anda setuju atau tidak pada jawaban Sapardi, untukku puisi-puisi bapak ini tetaplah menjadi sesuatu yang memukau. Ia tidak ingin bercanggih-canggih dengan serba-kebaruan. Ia memilih menjadi seorang penjaga “taman” yang setia, sebab “taman” itu adalah temuannya. Miliknya. Seperti halnya celana bagi Joko Pinurbo. Kurang lebih seperti itulah pendapat Hasan Aspahani yang dengan ikhlas kusepakati. Bagiku, dalam kesetiaannya itu, puisi-puisi Sapardi menjadi klasik dan akan senantiasa lestari.

 

Ada yang menarik, khususnya buatku, pada acara diskusi yang lalu. Sebelum acara resmi dimulai, aku sempat bertukar kata dengan Hasan Aspahani. Tak jauh-jauh topiknya, masih di sekitar pinggir-pinggir Kolam.

 

Hasan bertanya padaku, “Gimana, Ndah? Sudah khatam Kolam-nya? Apa favoritmu?”

 

“Pohon Belimbing,” sahutku. Itu merupakan sajak nomor urut 2 di buku ini.

 

Belum sempat kami membincangnya lebih jauh, Guntur Romli yang malam itu bertindak selaku pembawa acara, telah naik mimbar dan memanggil Hasan untuk segera menempati kursi di muka. Acara akan segera dibuka dengan pembacaan satu puisi oleh Sapardi. Anda tahu, puisi apa yang dipilih beliau? “Pohon Belimbing”. Ah..aku jadi merasa Sapardi khusus membacakannya buatku J

 

Inilah “Pohon Belimbing” itu:

 

Pohon Belimbing

 

                Sore itu kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh

yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang

lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan

kausapa, nanti ia bangun  dari tidurnya.

                Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya

di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik., juga karena

konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan

menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau

jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?

                Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa

Belimbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami

adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika

ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin

bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon

belimbing wuluh ity berjalan dalam tidur?

                Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi

Tua juga akhirnya?

 

 

Entah. Barangkali aku pun tak paham sepenuhnya maksud puisi ini. Namun, ada yang terasa indah saat aku membacanya. Juga membersit sebuah perasaan cinta yang tulus, yang telah teruji melewati waktu nan panjang. Tetapi tentu saja, Anda boleh mempunyai tafsir yang berbeda terhadapnya. Tak berlaku tafsir tunggal dalam fiksi, terlebih puisi. Memangnya Pancasila? :D

 

Sebetulnya masih ada satu puisi lagi yang bakal menjadi calon kuat menggantikan “Aku Ingin” sebagai sajak wajib Valentine’s Day versi aku. Wajib di sini artinya, setiap Hari Cinta Kasih itu tiba, aku selalu mengirimkan untaian sajak tersebut kepada beberapa orang (cowok dong) yang “istimewa”. Agaknya, Februari tahun depan, “Aku Ingin” akan kutukar dengan sebuah puisi yang mirip: “Seperti Kabut”. Tidak percaya bahwa mereka mirip satu sama lain? Nih, aku kasih lihat, ya:

 

Seperti Kabut

 

aku akan menyayangimu

seperti kabut

yang raib di cahaya matahari

:

aku akan menjelma awan

hati-hati mendaki bukit

agar bisa menghujanimu

:

pada suatu hari baik nanti.

 

Bagaimana? Mirip sekali, kan? Spiritnya terutama: cinta.

 

Jadi, bagi Anda para penggemar Sapardi sepertiku atau penyuka sajak-sajak cinta yang manis romantis, Kolam perlu dimiliki sebagai koleksi karya seorang “dewa”. Puisi-puisinya bukan jenis yang berat, yang membikin kening berlipat empat. Lagian, tak perlu betul untuk benar-benar memahaminya kok. Seperti aku, nikmati saja.***

 

Endah Sulwesi

Posted at Monday, May 25, 2009 by Perca
Comments (1)  

Previous Page Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed