|
|
 |
 |
|
Sunday, October 26, 2008
(32) Kartunama Putih: Puisi untuk Sejumlah Nama
Judul buku: Kartunama Putih
Penulis: Kurnia Effendi
Penerbit: Biduk, Bandung
Cetakan: I, 1997
Tebal: xiv + 95 hlm.
Kurnia Effendi sebagai cerpenis, itu sudah lama saya tahu. Sejak dua puluh tahun yang lalu di era generasi Anita Cemerlang. Tetapi bahwa ia juga seorang penyair, baru belakangan ini saya mengetahuinya. Dan diam-diam, oh…tepatnya sih saya yang kurang informasi, ia telah pernah menerbitkan puisi-puisinya itu dalam satu buku : Kartunama Putih. Buku tersebut lahir 11 tahun silam.
Kerena usianya yang sudah cukup “tua” untuk ukuran sebuah buku, tidaklah mengherankan jika kita sudah tidak akan menemukannya lagi di rak-rak toko buku. Namun, beruntunglah saya yang berkat persahabatan saya dengan penulisnya, masih bisa menikmati jejak kepenyairan Kurnia Effendi atau yang kerap disapa dengan nama akrabnya, Kef, ini. Sepekan lalu, pada sebuah siang yang menyengat, ia menghadiahi saya buku kumpulan puisinya itu.
Kartunama Putih memuat 86 biji sajak yang bertema atau berkisah ihwal nama-nama orang yang oleh saya akan saya bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah puisi-puisi yang melibatkan atau diperuntukkan bagi orang-orang terdekat Kef. Misalnya, istri, anak-anaknya, keluarga, keponakan, kakek, sahabat, atau bisa jadi sejumlah mantan kekasih di masa remaja. Bagian kedua merupakan puisi-puisi persembahan atau ungkapan kekaguman Kef kepada para tokoh. Baik nasional ataupun internasional. Di sana akan kita temukan nama-nama seperti Mega, Udin, Benyamin Netanyahu, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.
Dari kedua pembagian ini, saya bisa merasakan perbedaannya. Maksud saya, saya merasakan kesan yang berbeda dari keduanya.
Pada bagian untuk orang-orang terdekatnya, puisi-puisi yang ditulisnya terasa lebih “bunyi”. Barangkali karena ia benar-benar menuliskannya dari hati. Dari jarak yang dekat dengan subjeknya. Benar-benar merupakan ungkapan perasaan yang personal; yang umumnya hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sajak-sajak Kef di buku ini. Meskipun puisi tersebut sangat personal sifatnya dan bukan ditujukan untuk kita (baca : saya), tapi kita (baca: saya) dapat ikut merasakan getarannya. Dengan kata lain, sampai ke hati. Baik maknanya maupun keindahannya. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai puisi-pusi yang bikin cemburu; lantaran tatkala membacanya saya membayangkan tentu pribadi-pribadi kepada siapa Kef menujukan sajak-sajaknya ini merasa tersanjung dan senang sekali. Sebab hal yang sama pernah saya rasakan pula.
Untuk jelasnya, baiklah, saya petikkan satu contohnya :
R.A.
Tinggal wangi bajumu, menyapu udara, ketika
Kereta bertolak ke utara. Tanganmu lepas dari
Genggaman. Jarak pun berkali lipat menawarkan sunyi
Di bumi yang selalu basah ini kutunggu kabar:
Kapan engkau kembali? Hujan terus turun, mencuci
Jarak pertemuan yang sengaja kunamai kenangan
Dingin peron merayap ke lantai kamar. Tempat
Sepasang kakiku terhenti. Menopang kerinduan
Yang tiba-tiba sangat berat.
Ingin kularutkan dalam mimpi: seluruh percakapan
Tentang harapan dan kecemasan. Juga tahun-tahun
Yang kupertaruhkan. Menunggu bulan turun
Ke pangkuan, alangkah panjang pengembaraan
Di malam yang kelewat basah, terus kupagut
Wangi bajumu. Terus kupagut
Puisi yang berangka tahun 1989 ini, jelas sekali merupakan puisi persembahan cinta untuk kekasih yang kini menjadi istrinya : R.A. Kependekan dari Ratu Ade. Tentu waktu itu mereka masih berstatus pacaran.
Walaupun “R.A.” sajak yang sangat personal bagi penulisnya, namun kita bisa meminjamnya untuk merayu kekasih kita. Apa lagi bila peristiwa atau situasi yang kita hadapi memiliki kemiripan dengan sajak tersebut.
Atau sajak yang ini :
KANGEN
: Ageng-Erda
Benarkah hanya jarak memisahkan kita
(Bukan karena orang ketiga, atau matirasa?)
Waktu telah lancang menghimpun seluruh
Perasaan yang diam-diam kutabung untukmu
Bahwa suatu ketika kado ini kubuka
Persis di depan bolamatamu
Yang menyembunyikan sejumlah gemerlap,
adalah tentang kangen semata
Ini juga milikku
Satu kangen yang tak bergeser
dari alamatmu.
Saya tentu tak kenal Ageng dan Erda. Dan saya memang tak perlu mengenal mereka lebih dahulu untuk bisa menikmati sajak ini; untuk dapat ikut serta merasakan kerinduan seorang kekasih di dalamnya. Bahkan saya berniat, kapan-kapan jikalau saya sedang kangen pada kekasih saya (kalau pas lagi punya kekasih), saya akan ungkapkan rindu saya dengan sajak ini.
Nah, kini mari kita bandingkan dengan sajak-sajaknya di “bagian kedua”. Langsung saja saya ambil satu sampel :
MEGA
Ketika bibirmu tersenyum
Beribu-ribu hati bijak turut tersiram sejuk
Tanganmu yang mengepal: menanamkan tunas
semangat kepada kebun massa di sekelilingmu
Engkau duduk pada kursi yang mula-mula
disiapkan untuk memimpin komunitas luluh-lantak
Babak kondisional dalam peta sosial politik,
dielu-elu dengan saputangan basah
Lorong panjang masa silam kembali diteropong
Darah orator mengalir kuat di jantungmu
Ketika bibirmu tersenyum
Seharusnya untuk 1993 sampai 1998
Namun dramatisasi dalam sandiwara negeri ini diperlukan
Untuk mengecoh para penulis sejarah masa depan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?
Engkau kini duduk di kursi goyah
Sedang mata dunia tengah bersama-sama menatap
dari segala penjuru. Mungkin berjuta lembar skenario
harus ditimbang-tinbang, sebelum diterbitkan
dengan tinta cetak kepalsuan
Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?
Sajak ini ditulis tahun 1996. Sudah pasti bermaksud mengenang peristiwa bersejarah 27 Juli 1996 yang berupaya menumbangkan Megawati dari kursi ketua DPP PDI. Zaman itu, ketika pemerintahan masih dijalankan oleh rezim Orde Baru yang otoriter, sosok Megawati dan PDI-nya menjadi simbol perlawanan. Megawati yang didzalimi, telah menumbuhkan banyak simpati di hati banyak orang di negeri ini. Mungkin termasuk Kurnia Effendi, sehingga terciptalah puisi ini.
Perhatikan diksi yang dipilih Kef dalam sajak ini. Sangat berbeda dengan yang ia pakai dalam sajak-sajak cintanya yang lembut dan romantis. Pada sajak “Mega” ini, saya seperti sedang membaca pamflet. Ada aroma politik, kekerasan, bau amis darah, kemarahan, serta sarat gugatan di sana. Demikian pula pada sajak “Literatur Kematian Udin” (hlm.16), “Kepada Ny. Hillary Clinton” (hlm.38), dan “Slobodan Milosevic” (hlm.24)
Tetapi itu masih lumayan. Masih lumayan ngerti, maksud saya. Sosok Megawati, Udin, Ny. Clinton, dan Milosevic bukanlah sosok asing. Namun, ketika sampai pada Peter Brook, Eva Johnson, Narrowsky, Oodgeroo Noonuccal, atau Hikotaro Yazaki, lantaran dangkalnya ilmu yang saya punyai, terpaksa kudu tanya si Google dulu untuk mengulik pengetahuan ihwal nama-nama tersebut. Akibatnya, saya merasakan ada jarak antara saya dengan puisi-puisi tentang mereka. Tidak senikmat saat saya membaca puisi-puisi di “bagian pertama”. Ah, mudah-mudahan Kef menulis sajak-sajak di “bagian kedua” ini bukan sekadar sebagai sebuah upaya gagah-gagahan.
Lalu, mana sajak “Kartunama Putih” yang dipakai untuk judul buku ini? Ia terletak di halaman xi (pembuka) dan 95 (penutup) :
Kartunama itu putih saja
Tak ada huruf kecuali warna kain kafan
Kartunama itu : putih saja
Namun, agaknya kartunama itu tak putih lagi. Di dalamnya, Kef telah mengukir nama-nama, puisi-puisi…***
Endah Sulwesi 26/10
Posted at Sunday, October 26, 2008 by Perca
Permalink
Wednesday, October 15, 2008
(31) Jalan Daendels = Kuburan Terluas di Jawa
Judul buku: Jalan Raya Pos, Jalan Daendles.
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Editor: Daniel Mahendra dan Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: I, 2005
Tebal: 148 hlm.
Telah satu windu lebih setiap hari saya melakoni perjalanan pergi pulang Jakarta-Puncak setiap hari. Ya, setiap hari, karena kantor saya terletak nun di negeri awan dengan selendang kabut yang melayang-layang di pagi hari : Puncak. Anda tentu tahu perkebunan teh yang membentang di kiri kanan Jalan Raya Puncak mulai dari desa Tugu Selatan dan berakhir di sekitar restoran Rindu Alam? Nah, di situlah saya ngantor setiap harinya. Enam hari dalam sepekan. Nama perkebunan itu adalah Gunung Mas yang merupakan salah satu "warisan" peninggalan pemerintah kolonial Belanda.
Oh, saya melantur. Sebaiknya saya segera kembali ke niat semula membincang ihwal riwayat Jalan Raya Pos atau yang lebih populer lagi dengan sebutan Jalan Daendels (atau beken juga dengan nama Anyer-Panarukan). Kiranya salah sepotong jalan yang memiliki panjang keseluruhan seribu kilometer itu adalah Jalan Raya Puncak yang selama delapan tahun mondar-mandir saya lalui setiap hari.
Sebetulnya saya sudah sedikit mengetahui fakta tersebut. Namun, selama ini saya tidak pernah memberikan perhatian khusus pada jalan raya yang dalam sejarah pembuatannya telah menelan ribuan korban jiwa (menurut data pemerintah Inggris, sekitar 12.000) rakyat Indonesia. Barulah setelah membaca buku nonfiksi karya sastrawan aktivis Lekra, Pramoedya Ananta Toer, perhatian saya tergugah sepenuhnya.
Kini, jika tidak tertidur di angkot, setiap kali melintasi jalur Puncak tersebut, saya membayangkan betapa sengsaranya para kuli pribumi saat menjalani kerja rodi membangun jalan ini. Membabat hutan, memangkas bukit. Membelahnya hingga menjadi sebatang jalan yang menembus memanjang hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Dengan teknologi dan peralatan yang tentu masih sangat sederhana, tak mengherankan jika banyak jatuh korban dalam upaya pembikinan jalan ini. Terlebih lagi mereka bekerja secara paksa di bawah tekanan penjajahan yang dipimpin oleh Sang Tuan Besar Guntur, Mr. Herman Willem Daendels. Tanpa upah dan kerap tak diberi makan.
Pramoedya, sastrawan yang banyak melahirkan roman sejarah, kali inipun menuliskan riwayat Jalan Daendels dengan cara bertutur, mengawinkan fakta sejarah dengan pengalaman pribadinya dengan kota-kota yang dilewati jalan raya "maut" ini.
Ia memulai kisahnya dari Lasem, Jawa Tengah. Kota yang dekat dengan tanah kelahirannya : Blora. Kemudian meloncat ke ujung barat Jawa: Anyer, tempat "mandor" Daendels pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jawa (5 Januari 1808).
Dari Anyer, ia lantas mengurutnya ke Cilegon, Banten, Serang Tangerang, dan Batavia. Semua daerah itu ada di garis pantai utara Jawa. Dari Batavia Jalan Raya Pos ini membelok ke Depok, berlanjut ke jalur mudik selatan: Bogor (waktu itu namanya masih Buitenzorg), Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, dan berakhir di Karang Sembung sebelum kembali menuju pantura (jalur mudik yang senantiasa macet dan rawan kecelakaan) yang berawal di Cirebon.
Dari Kota Udang ini, Meneer Daendels memerintahkan untuk melanjutkan pembuatan jalan terus ke timur, melewati sederetan kota sebagai berikut: Losari, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Waleri, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Juwana, dan stop di Rembang yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Oosthoek (Jawa Timur).
Apakah jalan itu buntu di kota tepi pantai ini? Tentu tidak, sebab kita tahu dari sejarah, jalan "berdarah" ini berujung di Panarukan, Jawa Timur. Maka, dari Rembang jalan menyambung ke Tuban, Gresik, Surabaya, Wonokromo, Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan tamat di Panarukan yang pada masanya pernah menjadi pelabuhan terpenting di bagian paling timur pantai utara Jawa.
Jika hanya menuliskan barisan kota-kota tadi, pastilah terbayang di benak Anda (dan saya sebelum membaca) alangkah membosankannya buku ini. Tetapi bukan Pram namanya jika ia tak pandai "menyiasati" sejarah.
Maka, Pram mengakali penulisan sejarah Jalan Raya Pos ini melalui penuturan yang sangat personal; mengaitkannya dengan pengalaman dan kenang-kenangannya terhadap barisan kota yang dilalui jalan raya itu plus sejarah kota-kota tersebut sembari sesekali melontarkan kritik dan kecaman terhadap penguasa. Bahkan kejadian-kejadian lucu yang sempat dialaminya tak luput diuraikan pula.
Misalnya, pengalaman harus mengantre selama dua harmal (dua hari dua malam) di Semarang untuk memperoleh karcis kereta api cepat jurusan Jakarta. Atau pengalaman "menjijikan" ketika ia menginap di markas Laskar Rakyat di Cirebon pada pertengahan 1946. Pada tengah malam, mendadak Pram muda terserang sakit perut ingin buang air besar. Karena tidak ada penerangan, di dalam kakus, ia tak dapat melihat apapun di sekitarnya.
"Kaki menggerayangi takhta kakus. Begitu mendapatkan ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh memantulkan bunyi minor. Membersihkan diri pun tangan gerayangan mencari sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masya Allah, ternyata yang kuberaki bukan takhta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam periuk rendah yang masih ada sisa singkong rebus" (hlm. 79).
Sudah pasti, paparan demikian tak akan kita temukan dalam buku teks sejarah. Oleh karenanya, melalui buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini sejarah jadi terasa menarik dan nikmat untuk diikuti. Dengan ketekunan seorang sejarawan, Pram mencangkuli, menggali, setiap data dan detail sebuah peristiwa untuk kemudian dicatat dan dituliskan kembali sebagai sebuah upaya melawan lupa.
Tahun ini, tepat 200 tahun usia Jalan Raya Daendels. Pada masanya, jalan ini pernah menjadi jalan terpanjang di dunia. Sama dengan jalan raya yang menghubungkan Amsterdam-Paris. Jalan yang ternyata tidak sepenuhnya hasil karya Daendels (jalan aslinya sebagian sudah ada sejak berabad-abad sebelumnya, ia hanya melebarkannya menjadi 7 meter) ini, menjadi saksi dan bukti pembantaian manusia-manusia pribumi. Kisah di balik pembuatannya hanya salah satu dari banyak tragedi kerja paksa yang pernah berlangsung di Hindia Belanda. Di bawah Jalan Daendels ini terhimpun ribuan mayat petani dan orang-orang kecil tak berdaya.
Dan, oops! "Kuburan" itulah yang selama sewindu setiap hari saya lintasi. Masya Allah….***
endah sulwesi 15/10
Posted at Wednesday, October 15, 2008 by Perca
Permalink
Saturday, September 27, 2008
Mungkin pernah kulukai hatimu dengan kata-kata
Mungkin ucapanku pernah membuat perasaanmu berdarah
Mungkin diam-diam kau menyimpan amarah
Mungkin masih tersisa kesumat di dada
Mungkin masih belum reda angkara
Mungkin kemarin kau belum hendak membuka hatimu
memberi maafmu
melebur marah dan dendammu
Kini, di hari yang fitri
dengan kelembutan yang kaumiliki
kau pasti ikhlas mengulurkan jemari
membuka diri, melapangkan hati
memberi maaf bagi sahabatmu ini
"SELAMAT IDUL FITRI!"
Posted at Saturday, September 27, 2008 by Perca
Permalink
Monday, September 22, 2008
(30) Putu Wijaya Berdangdutria
Judul buku: Nora
Penulis: Putu Wijaya
Editor: Kenedi Nurhan
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: November, 2007
Tebal: 304 hlm
Siapa tak kenal Putu Wijaya? Nama itu tak asing lagi di kalangan pencinta sastra dan teater. Kiprah seniman-sastrawan asal Tabanan, Bali ini sudah dimulai sejak ia masih duduk di kelas 3 SMP. Jadi kira-kira sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, ya. Sebab, usia pria bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya kini 64 tahun. Tak heran jika dalam perjalanan yang panjang itu ia telah banyak memperoleh penghargaan dalam dunia yang digelutinya.
Seperti kebiasaan saya membeli buku dengan pertimbangan utama nama penulisnya, maka Nora saya comot dari rak di toko buku tentu karena penulisnya adalah Putu Wijaya. Beberapa karyanya sudah saya lahap sejak mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu. Terutama cerpen-cerpennya yang kadang-kadang terasa absurd sebagaimana karya-karya drama yang ditulis dan disutradarainya. Banyak di antara ratusan cerpennya yang saya suka, tetapi tak sedikit juga yang bikin jidat saya berkerut tujuh lapis saking absurdnya. Celakanya, sudah begitupun saya ternyata lebih sering gagal menangkap maksudnya. Umpamanya sewaktu menonton pementasan dramanya yang berjudul “Zero”. Pemahaman saya terhadap apa yang tersaji di panggung benar-benar zero.
Maka, tatkala usai membaca Nora–yang merupakan buku pertama dari rangkaian “Tetralogi Dangdut” seperti tertulis di kover novel ini–dengan sejumlah “ganjalan”, saya berusaha menemukan “pembenarannya”. Maksud saya, ketika di dalam Nora saya mendapati hal-hal yang saya tidak sepakat karena kelewat dramatis, saya berusaha melihatnya dari kacamata yang lain (kacamata apa ya?) kendati tak selalu berhasil.
Novel ini dimulai dengan sebuah pembukaan yang menarik : Nora tanpa sengaja melihat kemaluan Mala, pria lajang tetangganya, saat Mala membuang hajat kecilnya di gerumbul semak kembang sepatu. Ketika itu Nora sedang mencuci piring di sebaliknya. Apa yang dilihatnya membuat Nora panas dingin dan berhari-hari meracau dalam ketidaksadarannya; menyebutkan kata-kata : “Takut…takut…takut. Hitam. Besar. Panjang..”
Igauan tersebut lalu disimpulkan oleh kedua orang tua Nora sebagai akibat dari perbuatan jahat seseorang terhadap putri mereka. Saat kemudian racauan Nora melafalkan nama Mala, tak pelak lagi tuduhan bagi si pelaku perbuatan jahat itu jatuh pada Mala, tetangga mereka, pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Maka, lantas mereka mendatangi Mala untuk bersegera menikahi Nora.
Tanpa kuasa menolak, Mala pasrah saja pada todongan orang tua Nora. Ia yang dikenal sebagai seorang yang kritis, rasional, cerdas, berpendidikan tinggi, berpandangan luas, tiba-tiba menyerah begitu saja pada “nasib” yang disodorkan oleh ayah Nora. Menikahlah ia dengan Nora, gadis kampung lugu yang tidak pernah benar-benar dikenalnya. Agar tindakan Mala tampak masuk akal, Putu Wijaya memberi penjelasan sederhana: setiap orang punya sudut gendeng yang tidak dimengertinya sendiri. Tubuh sudah punya kemauan sendiri dan bertindak seenak udelnya tanpa konsultasi. Mala seperti dihipnotis, mengiyakan semuanya.
Setelah menikah, Mala ternyata hanya dijadikan sapi perahan oleh keluarga istrinya itu. Seluruh kebutuhan keluarga dia yang mencukupinya. Sementara itu, Nora sama sekali tidak pernah disetubuhinya sebab ia mengira istrinya itu sedang hamil akibat perbuatan lelaki lain sebelum menikah dengannya. Sampai berbulan-bulan ia tak menyadari bahwa Nora sebenarnya tidak pernah hamil.
Pada suatu hari tanpa persetujuan Mala, orang tua Nora menerima lamaran dan hendak menikahkan Nora dengan orang lain. Keberatan Mala tidak digubris. Mereka tetap menikahkan (lagi) Nora dengan laki-laki yang masih ada hubungan sanak famili dan meminta Mala membiayai pernikahan tersebut. Lagi-lagi Mala tidak berdaya.
Sementara itu, kehidupan Mala di luar hubungannya dengan Nora, juga sedang mengalami ujian. Pergaulannya yang luas tanpa disadarinya telah melibatkannya dengan Yayasan Nurani, perkumpulan politik yang berkedok yayasan yang agenda utamanya makar dan mengubah NKRI menjadi negara serikat. Tiba-tiba saja Mala telah terseret sebuah persoalan besar yang di dalamnya menyertakan pula kedua sahabatnya, Midori dan Adam. Termasuk pula dana sebesar 400 miliar rupiah. Persoalan semakin rumit sewaktu kemudian Midori ditemukan tewas terpotong-potong. Sebuah konspirasi tingkat tinggi yang tidak Mala mengerti telah menjeratnya sebagai tersangka pelaku pembunuhan tersebut.
Meski dengan geregetan, saya akhirnya bisa juga menamatkan novel ini. Bukan karena menarik, tetapi lantaran penasaran ingin tahu mau dibawa ke mana cerita ini sebenarnya. Jelas sekali, buku ini berpijak pada realisme, walaupun di beberapa bagian terlihat dilebih-lebihkan. Seperti gambar karikatur. Atau ibarat lagu dangdut yang syair dan ceritanya kerap sangat dramatis (untuk tidak menyebutnya norak) dalam mengungkapkan sesuatu. Apakah itu sebabnya Putu menamakan karyanya ini sebagai “Tetralogi Dangdut”?
Mulanya sih saya masih bisa ketawa-ketiwi lantaran menganggap lakon ini sebagai sebuah gaya lucu-lucuan ala Putu. Namun, lama-lama jadi sebal juga saat Putu makin “seenaknya”. Bagai menonton pertunjukan sandiwara panggung yang banyak adegan improvisasinya. Peristiwa dan para pemain sering ujug-ujug datang dan pergi seolah tanpa direncanakan. Misalnya saja, kita baru tahu bahwa Mala ternyata punya pinjaman 100 juta rupiah kepada kantornya untuk membangun rumah padahal sebelumnya hal tersebut tidak pernah disinggung-singgung. Fakta ihwal utang Mala itu muncul secara sekonyong-konyong di tengah adegan raibnya dana sebesar 400 miliar dari rekening Mala.
Demikian pun tentang karakter Mala yang kelewat baik sehingga malah jadi “bodoh” itu, rasanya kok berlebihan betul. Ada fakta yang saling bertentangan dalam karakter Mala. Ia yang cerdas, serbarasional, calon doktor, jadi terasa aneh ketika tak berdaya berhadapan dengan keluguan Nora dan kebebalan keluarganya. Atau barangkali saya harus ikhlas untuk sepakat dengan apa yang dikatakan Putu, bahwa setiap orang memiliki sudut gendeng yang tidak dimengertinya? Yang pasti sih, saya capek mengikuti alur logika buku ini yang terasa dibentur-benturkan. Saya tidak yakin, seandainya bukan Putu Wijaya yang menulis, apakah bakal ada penerbit yang mau menerbitkannya. Yang jelas, saya sudah memutuskan untuk tidak membaca buku lanjutannya. Atau mungkin Anda punya pendapat berbeda?***
Endah Sulwesi 22/9
Posted at Monday, September 22, 2008 by Perca
Permalink
Wednesday, September 10, 2008
(29) Olenka: Drama Pergulatan Jiwa Manusia
Judul buku: Olenka
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: Keempat, 1992
Tebal: 232 hlm.
Budi Darma, sedikit dari begawan sastra yang kita miliki, mengaku menulis masterpiece-nya ini hanya dalam waktu tiga minggu saja. Diawali oleh perjumpaan beliau dengan seorang perempuan di sebuah lift gedung Tulip Tree di Bloomington, Amerika Serikat pada 1979. Saat itu musim dingin dengan suhu udara yang, seperti ditulisnya, sangat kurang ajar. Beliau hampir tertinggal lift, namun untungnya seorang wanita yang telah lebih dulu ada dalam kotak itu membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Wanita itu bersama tiga orang bocah lelaki dekil dan kumal. Oleh karena wajah ketiga bocah tersebut mirip dengan si wanita, Budi Darma sempat mengira mereka adalah ibu dan anak-anaknya. Tetapi ternyata sangkaannya keliru.
Sesampai di kamar apartemennya, Budi Darma segera mengambil mesin tulis hendak membuat cerpen berdasarkan pengalamannya berjumpa dengan wanita dan tiga bocah gelandangan itu. Tetapi, ia tak bisa berhenti menulis sehingga bukan lagi cerpen yang dibikinnya melainkan novel. Maka, sesudah tiga pekan lahirlah Olenka. Empat tahun kemudian (1983) novel tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Seingat saya, pertama kali saya membaca novel yang memenangi Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 1983 ini, saat saya duduk di bangku SMP. Bukunya saya pinjam di perpustakaan sekolah. Tak ada yang tersisa dari pembacaan saya kecuali ingatan tentang Olenka yang gemar membaca buku di taman. Selebihnya, gelap.
Maka, ketika saya membaca kembali buku ini, saya seperti membaca sebuah buku yang belum pernah saya baca sama sekali.
Baiklah, baiklah. Saya harus kasih empat bintang untuk novel ini. Novel ini benar-benar membuat saya terpukau, tertawa, dan berkali-kali bergumam : "Sinting! Benar-benar sinting!"
Yang sinting itu bukan pengarangnya tentu. Kalau "makian" itu saya tujukan untuk pengarangnya, pasti akan saya beri tanda petik di antara kata sinting itu. Sebutan sinting itu saya tujukan kepada para tokoh dalam buku yang sudah beberapa kali mengalami cetak ulang ini.
Pertama, pastilah untuk Fanton Drummond, tokoh utama sekaligus narator dalam kisah yang berseting Bloomington ini, kota tempat Budi Darma pernah tinggal sebagai mahasiswa di Universitas Indiana. Fanton Drummond, bekerja sebagai sutradara pembuat film iklan, adalah seorang dengan masa lalu yang kelam. Ia yatim piatu sejak kecil yang diangkat anak oleh suami istri Drummond. Tetapi itu tidak lama, sebab kedua orang tua angkatnya itu tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dan ia harus kembali dipelihara oleh negara. Setamat SMA, Drummond bekerja serabutan sebelum akhirnya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan ke universitas. Ia tumbuh menjadi pribadi yang kesepian sehingga kerap bertingkah aneh, seperti menulis surat untuk dirinya sendiri dengan berpura-pura surat tersebut ditulis oleh gadis yang ditaksirnya.
Kedua, untuk Olenka, wanita dengan siapa Fanton Drummond jatuh cinta dan menjalin affair. Dia istri Wayne Danton, suami pecundang yang terobsesi menjadi penulis besar. Masa silam Olenka tak kalah gelap dibanding kekasihnya, Fanton. Ia memiliki bakat besar menjadi pelukis, tetapi kedua orang tuanya tak mendukung cita-citanya. Ia pernah terlibat cinta sejenis dengan seorang perempuan yang disebutnya Winifred, diambil dari nama tokoh dalam novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Agar ia tetap dianggap "normal", maka kemudian ia menikahi Wayne Danton.
Berikutnya untuk, Wayne Danton, suami Olenka yang juga tak kalah "sakit"-nya. Ia terobsesi menjadi seorang penulis besar sehingga tidak sudi melakukan pekerjaan lain kecuali menulis. Dari sekian banyak cerita yang ditulisnya, hanya beberapa biji saja yang berhasil dimuat koran. Sementara itu, Olenka dibiarkan bekerja menafkahi rumah tangga mereka dan ia sendiri lebih suka menganggur, menjadi parasit.
Begitulah. Dalam novel ini Budi Darma menyajikan sebuah pertunjukan drama manusia dengan karakter-karakter yang "sakit", yang hidupnya senantiasa terbentur-bentur dan tidak malu mengakui sisi buruk dirinya. Sebab bagi Budi Darma, manusia adalah makhluk yang penuh luka, hina dina, dan sekaligus agung dan anggun. Manusia bukanlah makhluk yang enak (hlm.224). Tokoh-tokoh dalam Olenka bukanlah para pahlawan. Mereka hanya manusia biasa yang jujur dan berani berterus terang ihwal diri mereka yang sebenarnya.
Membaca buku ini, sekejap saya teringat novel karya satrawan Rusia Fyodor Dostoyesky, Crime and Punishment, yang juga meneropong jauh ke dalam pergumulan jiwa manusia. Menurut Budi Darma, begitu kita terjun ke dalam pikiran seseorang, kita akan mengetahui betapa kayanya pikiran orang itu dan kita dapat bercerita banyak mengenainya. Pada hakikatnya, masih mengutip sastrawan berusia 71 tahun ini, setiap orang adalah Immanuel Kant. Hidupnya terkungkung, akan tetapi pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia.
Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika kemudian ia banyak menciptakan karakter-karakter kuat yang gelap dan riuh bergelut menemukan jati diri. ***
endah sulwesi 10/9
Posted at Wednesday, September 10, 2008 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|