|
|
 |
 |
|
Monday, August 27, 2007
CALON ARANG YANG TIDAK GARANG
 Judul buku: Janda dari Jirah Penulis: Cok Sawitri Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I – Juni 2007 Tebal: 187 hlm Sedikitnya telah beredar tiga buah buku kisah Calon Arang : Dongeng Calon Arang (Pramoedya Ananta Toer), Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (Toeti Heraty), dan Galau Putri Calon Arang (Femmy Syahrani). Masing-masing mengusung versi yang berbeda dari beberapa perspektif namun tetap memiliki kemiripan satu sama lain. Tentu saja, sebab sumber ceritanya kan tetap satu : Calon Arang, legenda Tanah Bali (meskipun ada juga yang berpendapat bahwa sebenarnya kisah ini berasal dari Jawa). Juni lalu, diluncurkan satu lagi karya fiksi mengenai Calon Arang yang diberi titel Janda dari Jirah, ditulis oleh Cok Sawitri. Karya penulis kelahiran Sidemen, Karangasem, Bali ini sedikit banyak berbeda dibandingkan tiga karya yang disebut di atas. Pada novelnya ini, Calon Arang–ah..tidak, satu kalipun ia tak pernah menuliskan kata "Calon Arang" di novelnya ini. Ia menyebutnya: Rangda Ing Jirah–bukanlah seorang perempuan kejam berparas dan berperangai buruk yang memiliki ilmu hitam, tetapi seorang perempuan paruh baya yang senantiasa tampil anggun, berwibawa, dan bijaksana. Peri lakunya sungguh-sungguh menggambarkan seorang yang taat menjalankan ajaran Budha. Tak ada kegarangan. Tak ada kebengisan. Di sini, Rangda Ing Jirah bukanlah sentral cerita sebagaimana pada buku-buku sebelumnya. Pada buku ini, tokoh sentralnya adalah Airlangga, Raja Kadiri (Kediri), nama baru bagi Kerajaan Medang yang kalah perang melawan kerajaan dari seberang: Sriwijaya. Intinya adalah perebutan kekuasaan. Takhta Kadiri yang diduduki Airlangga kini tengah terancam lantaran Samarawijaya, cucu Raja Medang yang selama ini menghilang entah ke mana, tiba-tiba muncul di istana Airlangga. Airlangga yang cuma sekadar menantu raja, menjadi galau dengan kedatangan sang pewaris takhta yang sesungguhnya. Apa lagi ia telah menyiapkan putri kandungnya sebagai Raja Kadiri berikutnya. Yang lebih mengejutkan lagi, Samarawijaya tiba dengan segenggam kekuasaan di tangannya atas seluruh wilayah Kabikuan, yakni daerah "suci" tempat para penganut Budha Tantra bertinggal. Salah satunya yang terbesar dan paling berpengaruh adalah Kabikuan Setra Gandamayu, di mana Rangda Ing Jirah berkuasa. Pada saat Airlangga mengira telah berhasil mengangkangi seluruh Kadiri, Rangda Ing Jirah bersama-sama segenap Kabikuan yang ada justru bertakluk dan berpihak pada Samarawijaya, pangeran muda belia pewaris sah takhta Medang. Akhirnya, sebagaimana tertulis dalam sejarah klasik yang sudah kita kenal, Airlangga harus membelah dua kerajaannya masing-masing menjadi Kadiri dan Jenggala demi mencegah perang saudara. Janda dari Jirah ditulis dengan–dan ini merupakan hal yang terasa paling menonjol–bahasa puitis. Sejenak sempat melayangkan ingatan saya pada novel gubahan Linus Suryadi, Pengakuan Pariyem. Seperti halnya Linus, Cok Sawitri yang juga seorang penyair ini, menuangkan kisahnya dalam bentuk narasi yang liris (prosa liris). Lihat saja, misalnya pada kalimat pembuka buku ini: "Di luar sana, embun telah terbentuk; entah tangan-tangan angin, entah isak-isak daun dan rerumputan. Entah. Entahlah. Siapakah di antara itu yang membentuk embun? …." (hlm 1) Gaya repetisi terlihat di sini, berhasil memberikan efek liris pada alinea ini dan terbangun suasana indah romantik. Hal demikian akan kita dapati di sekujur tubuh karangan. Menyenangkan membacanya bagi yang senang berpuitis-puitis. Namun, sebaliknya, akan terasa berlarat-larat bagi para pembaca yang maunya serbacepat dan praktis. Layaknya sebuah dongeng, Cok Sawitri dengan enaknya menerbangkan kita ke negeri-negeri khayalan tempat pohon-pohon, rerumputan, bunga-bunga, dan segala margasatwa mampu bercakap-cakap dengan manusia. Ia juga memepertemukan kita dengan sebuah dunia dari masa lampau penuh orang-orang sakti yang bisa terbang melayang laksana burung ataupun melintasi lautan hanya dengan menumpang di atas selembar daun kalancang. Namun begitu, Cok Sawitri juga tak mengharamkan airmata bagi para lelaki perkasa ini. Berulangkali ia menghadirkan adegan para lelaki yang tanpa malu-malu meneteskan airmata tersebab rasa pilu, terharu, atau syukur yang mendalam. Seorang panglima perang paling tangguhpun boleh menangis sesenggukan berurai airmata. Di Kadiri, rupanya tak dikenal istilah "boys don't cry". Sementara itu, di manakah gerangan Ratna Manggali, putri cantik yang senantiasa menyertai sang janda di setiap cerita? Oh, Cok Sawitri tak memberi rol penting bagi sang putri. Ia hanya hadir sesaat, sekilas-sekilas, untuk kemudian dikawinkan dengan Bahula, seorang utusan istana yang jatuh cinta padanya. Agaknya, andaipun Ratna tak mampir di buku ini, tak akan banyak mengubah kisah. Maka, Tanah terbelahlah. aku pulang menyeru padamu, Ibu Setra Gandamayu pun hening membisulah semua pohon bila ditanya ke mana mereka pergi ke masa depan…… Endah Sulwesi 27/8
Posted at Monday, August 27, 2007 by Perca
Permalink
Monday, August 20, 2007
KOMIK YANG MAKNYUUSS.....

Judul buku: Ekspedisi Kapal Borobudur Jalur Kayu Manis
Teks: Yusi Avianto Pareanom
Gambar: M.Dwi Bondan Winarno dan Dhian Prasetya
Penerbit: Banana
Cetakan: I (2007)
Tebal: 50 hlm (29 x 20,5 cm)
Sudah lama banget rasanya saya tidak baca komik. Entah kapan terakhir kali, saya nggak terlalu ingat. Namun, jelas saya ingat sekali masa-masa ketika saya sangat tergila-gila pada komik. Ya komik, buku cerita bergambar yang kini lebih sering disebut dengan novel grafis itu.
Itu terjadi kira-kira dua puluh lima tahun yang lalu, akhir tujuh puluhan, awal delapan puluhan, saat saya SD dan SMP. Waktu itu, tingkat kecanduan saya pada komik lumayan berat. Saya membaca komik-komik yang kondisinya sudah kumal dan lecek lantaran dibaca bergantian oleh banyak orang di rumah tetangga berjarak 3 rumah dari rumah kami. Komik-komik itu di antaranya adalah Si Buta Dari Gua Hantu (Ganes Th) dan serial Jaka Sembung. Ada juga Petruk-Gareng, Gundala Putra Petir, Sun Go Kong serta beberapa komik romantis yang saya sudah tak ingat lagi judul-judulnya. Semuanya berupa komik hitam putih.
Beberapa tahun kemudian, saya 'berkenalan' dengan komik Barat yang full colour dengan ukuran sebesar majalah. Tintin, Asterix, Smurf, dan Lucky Luke adalah 'kenalan-kenalan' baru saya itu. Terasa sekali bedanya, baik dari segi cerita maupun gambar, dengan komik-komik "kampung" yang sebelumnya pernah saya gila-gilai. Komik-komik impor ini sarat dengan humor-humor segar. Jika komik-komik lokal sempat membuat saya ingin jadi pendekar, maka komik-komik made in luar negeri ini membuat saya terbahak-bahak.
Setelah itu, seingat saya, belum ada lagi pengalaman berkesan lainnya dengan komik.. Saya nggak ikut-ikutan demam manga, misalnya. Nggak tertarik, walaupun di rumah berserakan komik-komik Jepang bacaan kegemaran adik-adik saya, seperti Kungfu Boy, Candy Candy, Sailormoon, sampai Doraemon. Waktu itu, tampaknya saya mulai emoh baca komik. Menurut saya, komik cuma bacaan buat anak-anak. Saya mengucapkan selamat tinggal pada komik.
Hingga bertahun-tahun sesudah itu, saya masih tetap menolak membaca komik. Nggak ngiler sedikitpun. Sampai beberapa hari yang lalu entah kenapa saya kok jadi ingin baca komik lagi seusai membaca iklan komik berjudul Ekspedisi Kapal Borobudur Jalur Kayu Manis. Komik–atau istilah kerennya novel grafis–ini dicetak dalam bentuk hard cover ukuran 29 x 20,5 cm, berwarna, dan tebal 50 halaman. Lebih mirip komik-komik impor dari pada komik lokal jadul (jaman dulu) yang saya ceritakan di atas. Ketertarikan saya pada komik ini barangkali lebih karena ada nama M. Dwi Bondan Winarno (yang semula saya kira Bondan "Maknyuuss" itu) tercantum sebagai tukang gambarnya.
Kisahnya mengenai pelayaran internasional Kapal Borobudur menyusuri kembali Jalur Kayu Manis untuk membuktikan kebenaran "dugaan" tentang sejarah keperkasaan para pelaut Nusantara yang berhasil menempuh jarak ribuan mil hingga ke pantai Afrika Barat berabad-abad yang lalu hanya dengan menggunakan sejenis perahu sederhana : "Mereka datang menggunakan rakit atau perahu sederhana dua cadik dengan muatan kayu manis dan bumbu-bumbu lain" Demikian catatan yang ditulis pada abad ke-1 Masehi oleh Pilny, ahli sejarah Romawi. Saking terkesannya, sampai-sampai ia menulis, bahwa perahu-perahu tersebut bukan digerakkan oleh layar melainkan oleh semangat dan keberanian.
Gagasan awalnya berasal dari seorang mahasiswa Inggris, Phillip Beale, yang tengah belajar ihwal kapal tradisional Indonesia. Ia tergelitik untuk melakukan sebuah ekspedisi "napak tilas" menempuh Jalur Kayu Manis dengan menggunakan sebuah kapal yang mirip dengan kapal yang dipakai oleh para pelaut dahulu, yang gambarnya ia lihat pada sekeping relief di Candi Borobudur pada 1982 (itulah asal mula nama kapal ini dinamai Kapal Borobudur).
Dua puluh tahun berselang, Phillip berhasil memujudkan ide sintingnya itu. Bersama sejumlah anak buah kapal (ABK) gabungan dari Indonesia dan luar negeri, Phillip memimpin langsung ekspedisi tersebut. Kapal kayu hasil rancangan Nick Burmingham (Australia) dan dibuat oleh As'ad Abdullah (Indonesia) ini sukses mengarungi samudra sejauh 11 ribu mil dalam waktu 6 bulan (15 Agustus 2003 – 23 Februari 2004).
Memang rasanya singkat sekali mengikuti pelayaran yang berlangsung selama 6 bulan hanya dalam 50 halaman komik saja. Nggak puas sebetulnya. Pasti masih banyak hal menarik lainnya yang tidak sempat disampaikan oleh gambar-gambar apik dan teks yang terkadang "usil" , suka tiba-tiba nyeletuk humor lewat dialog tokoh-tokohnya ataupun kejadian-kejadian lucu yang mengundang senyum. Alurnya konvensional, mudah diikuti, bahkan oleh pembaca kanak-kanak sekalipun. Sayang, terdapat beberapa kesalahan cetak–tanda petik (") semuanya tercetak menjadi tanda tanya (?)–yang kendati tidak fatal tetapi terasa mengganggu juga.
Meskipun komik ini tidak memuaskan saya karena "kekurusannya", namun cukup maknyuuss, sehingga selesai membacanya saya mendapat "hikmah" tersendiri: jadi kepingin dan rindu baca komik lagi.
Endah Sulwesi 19/8
Posted at Monday, August 20, 2007 by Perca
Permalink
Saturday, August 11, 2007
SURAT CINTA DARI GUANTANAMO
Judul buku: Mahasati
Penulis: Qaris Tajudin
Editor: Aries R.Prima
Penerbit: AKOER
Cetakan: I, Mei 2007
Tebal: 392 hlm
Mahasati adalah nama sebuah patung (di India), dibangun untuk mengenang perempuan-perempuan Hindu yang bunuh diri menceburkan tubuh ke dalam api perabuan suami mereka sebagai bukti kesetiaan seorang istri. Tradisi kuno ini dikenal dengan nama “Sati”. Dengan turut mati, para istri ini berharap dapat terus bersama sang suami di alam baka. Sati, dalam bahasa Sanskerta bermakna istri sejati. Dan Sati–dipenggal dari Larasati–adalah juga nama tokoh utama di novel Mahasati ini.
Mungkin ada benarnya pendapat yang mengatakan, bahwa lebih gampang menulis sesuatu yang akrab dengan kita. Kita bisa menuturkannya secara lengkap dan terperinci dengan penjiwaan yang lebih terhayati sebab kita mengenal dan mengetahui setiap detailnya dengan baik.
Berjejak dari pengalaman pribadinya selaku wartawan, Qaris lalu “menciptakan” Andi Djatmika, seorang jurnalis muda keluaran sebuah pesantren di Jawa, sebagai karakter utama dalam Mahasati. Kemudian, secara flash back melalui narasi Andi, Qaris membawa kita bertualang ke Tunisia dan Afganistan.
Bermula di sebuah kompleks pemakaman. Mereka, Andi dan Sati, dipertemukan kembali oleh kematian Item, seorang sahabat dari masa kanak-kanak, setelah enam belas tahun terpisah. Dari sini, terjalin kembali hubungan cinta Sati dan Andi yang sempat terputus oleh jarak dan waktu.
Sati kecil yang tomboy itu telah menjelma seorang perempuan matang berprofesi model sekaligus perancang busana. Sedikit agak mengherankan jika mengingat ia digambarkan sebagai anak perempuan yang kelaki-lakian, tak pandai (dan tak suka) menari, tak suka berkain kebaya, tak suka berdandan, lebih suka layang-layang atau balap sepeda (dan menang) melawan Item dari pada main boneka.
Tetapi agaknya keterdesakan ekonomilah yang membuat Sati memilih berkarier di bidang modeling tersebut. Parasnya yang rupawan dengan mudah memberinya jalan cepat mencari uang di Jakarta, tempatnya melarikan diri dari rumah lantaran berkonflik dengan ayahnya (tak disebutkan konfliknya apa).
Kehidupan sebagai model di kota besar yang serbagemerlap melarutkan Sati ke dalam pergaulan yang cenderung bebas. Saat berjumpa kembali dengan Andi, Sati telah memiliki seorang anak perempuan, Rania, tanpa pernah menikah.
Bagi Andi, kehadiran Rania, tak mengubah apapun. Ia tetap mencintai Sati sebagaimana dahulu ketika masih sama-sama remaja kampung. Namun, malang tak bisa ditolak. Sati meninggal dunia di kala cinta lama mereka tengah di puncak mekar. Sati menemui ajal lantaran menenggak valium dalam dosis tinggi.
Sebenarnya, jiwa Sati bisa diselamatkan seandainya ia tidak–“sekonyong-konyong”–“divonis” mengidap kelainan jantung sejak kecil (Sekonyong-konyong, sebab sebelumnya tak pernah disinggung soal penyakit Sati ini. Malah ia digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang sehat dan kuat secara fisik, terbukti menang balap sepeda melawan Item)
Maka, sang kekasih pun patah hati dan lantas “kabur” ke Tunisia demi menenangkan diri.
Alih-alih memperoleh ketenangan, Andi justru berhadapan dengan masalah baru. Ia terlibat dalam huru-hara mahasiswa yang menentang pemerintahan diktator Tunisia. Dalam salah satu aksi pengeboman, nama Andi dikait-kaitkan sebagai tersangka pelaku. Andi harus menyelamatkan diri.
Afganistan, ke sanalah ia pergi sampai akhirnya tertangkap tentara Amerika Serikat dan dijebloskan ke sel di Guantanamo, tempat ratusan tawanan perang asal Afganistan ditahan. Di sana, ia harus menjalani interogasi melelahkan yang dilakukan seorang perwira wanita AS keturunan Cina. Kepadanyalah kisah ini dituturkan.
Kisah roman yang lumayan menarik, terutama pada bagian petualangan Andi di Tunisia dan Afganistan. Qaris yang pernah mengemban tugas sebagai reporter rubrik Internasional di Tempo, sempat meliput serbuan Amerika Serikat di Kabul, ibukota Afganistan, pada pengujung 2001.
Pengalaman berharga tersebut tentu berperan penting dalam penulisan novel dengan latar (sebagian di) Afganistan ini. Ditambah lagi pengalamannya tinggal di Kairo selama menjadi mahasiswa Al Azhar, Mesir, membuatnya cukup fasih menghadirkan suasana gurun, kebudayaan, adat istiadat, dan situasi perang di Timur Tengah. Adapun untuk efek romantisnya, Qaris mengutip sejumlah puisi dari para penyair idolanya, seperti Rendra, Goenawan Mohammad, Abdul Hadi WM, ataupun Nizar Qabbani, dalam beberapa dialognya. Upayanya cukup berhasil. Kelihatan betul ia seorang yang menggandrungi puisi (bisa dijenguk pula di blog miliknya: www.cerminretak.blogdrive.com)
Tunisia dan Afganistan terasa eksotis sebagai setting cerita. Rasanya belum banyak penulis kita yang mengambil kedua negeri tersebut sebagai latar novel atau pun cerpen. Qaris cukup banyak memberikan informasi menarik mengenainya. Misalnya saja tentang perilaku (adat istiadat) masyarakat nomaden di Afganistan yang hidup dari menggembala ternak (kambing/domba) secara berpindah-pindah. Rumah mereka adalah tenda-tenda beratapkan langit dan berlantai tanah. Untuk mengawal dan menjaga keamanan, mereka menyewa para pemuda bersenjata yang akan melindungi dari para begal ataupun serangan tentara Taliban.
Hal menarik lainnya dari Mahasati adalah cara penceritaannya yang mengambil dua perspektif : Andi dan si wanita perwira, Lucia Wong, yang menginterogasinya. Ketika Andi sebagai narator, kita berhadapan dengan “aku” yang mengisahkan dirinya. Sementara dari sudut pandang si perwira, Andi berubah menjadi “dia” (orang ketiga).
Celakanya, novel ini masih menyisakan “lubang-lubang” kelemahan, sebagaimana di atas sudah saya singgung, yakni perkara Sati yang tiba-tiba saja disebutkan memiliki kelainan jantung. Kesan saya, Qaris seolah-olah ingin mencari gampangnya saja. Padahal, andai tak ada “kelainan jantung”-pun, alasan dan penyebab kematian Sati karena over dosis sudah cukup logis.
Sebagai karya debutan, secara keseluruhan not bad-lah. Cukup enak dikunyah. Ia berani tampil “sendirian”, tanpa deretan kalimat endorsement dari sejumlah nama terkenal layaknya buku-buku lain yang banyak beredar belakangan ini. Sayangnya, biodata penulisnya ikut-ikutan absen. Konon sih, kalau yang satu ini karena kelalaian penerbitnya.
Yah, akhirulkalam, kepada Qaris Tajudin, saya ucapkan selamat datang di “jalan sunyi” para sastrawan. Semoga akan terus lahir karya-karya Anda berikutnya.
Endah Sulwesi 11/8
Posted at Saturday, August 11, 2007 by Perca
Permalink
Saturday, August 04, 2007
KETIKA ISRAEL MERAMPOK PALESTINA
Judul buku : Di Atas Bukit Tuhan, My Salwa My Palestine Judul asli: On The Hills of God Penulis: Ibrahim Fawal Penerjemah: Hermawan Aksan Penerbit: Mizania Cetakan: I, Mei 2007 Tebal: 581 hlm Juli 1948 Musim panas di Palestina. Matahari terasa lebih terik, memanggang ribuan kepala manusia yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka di Ardallah menuju Jericho, kota kecil di perbatasan Palestina dan Jordania. Ardallah adalah sebuah kota yang terletak 45 kilometer di barat laut Jerusalem dan 23 kilometer sebelah timur Jaffa. Ardallah merupakan salah satu kota tujuan wisata di Palestina. Setiap musim panas, populasi penduduknya meningkat seratus persen oleh kedatangan para turis dari berbagai penjuru dunia. Penduduknya hidup rukun dan damai dalam kemajemukan agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun, itu dahulu, setahun yang lalu sebelum kaum Zionis Yahudi masuk secara paksa dan mengusir pergi warga Palestina dari tanah air mereka sendiri. Bermula pada tanggal 29 November 1947, ketika dunia kehilangan akal sehatnya dan menyebabkan timbulnya bencana berkepanjangan bagi negeri Palestina. Hari itu, para pemimpin dunia bersama-sama melakukan 'bunuh diri' massal lantaran menyetujui bersama-sama resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai pembagian Palestina. Kota suci Jerusalem dan sekitarnya menjadi wilayah dan hak internasional, dan Inggris harus mengakhiri kekuasaannya pada bulan Agustus. Resolusi tersebut didukung tak kurang oleh tiga puluh tiga negara, tiga belas menolak, dan sepuluh abstain. Sudah pasti Amerika Serikat berdiri paling depan di antara para negara pendukung. Dengan kekuasaannya, negeri yang saat itu dipimpin oleh Presiden Truman, memaksa para sekutunya dengan cara mengancam untuk ikut memberi dukungan. Bahkan negara sebesar Prancis pun tunduk pada ancaman tersebut : tak akan mendapat bantuan luar negeri lagi jika tak mendukung rencana pembagian Palestina itu. Dan itulah awal musibah sepanjang masa bagi warga Palestina. Rakyat yang telah mendiami tanah tersebut secara turun-temurun selama berabad-abad lampau harus menyingkir, terusir dari bumi kelahiran mereka oleh pendatang baru: kaum Yahudi Zionis. Zionisme ialah sebuah gerakan kaum Yahudi yang hendak mendirikan kembali negara Israel. Istilah ini mula-mula dipakai oleh Nathan Birnbaum alias Matthias Acher (1864-1937), seorang budayawan Yahudi. Kata "zion' sendiri bermakna "bukit". Bagi kaum Yahudi, Zion adalah nama sebuah bukit di Jerusalem. Sejarahnya, pasca direbutnya kota itu dari orang Jebus oleh Israel di bawah kepemimpinan Raja Daud, dibangunlah sebuah istana di atas bukit tersebut. Selanjutnya, Bukit Zion menjadi tempat ibadat sekaligus pemerintahan Yahudi. Bagi orang Israel, Zion berarti tanah air mereka pada masa Palestina kuno. Kongres Zionisme yang pertama diadakan pada 1897. Sejak itu, Zionisme mulai turut bermain di gelanggang politik. Berkat upaya para pemimpinnya, pada 1917 berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Deklarasi Balfour yang menjanjikan suatu negara berkebangsaan yang berdaulat kepada orang-orang Yahudi itu. Tanah yang dijanjikan itu, sesuai keputusan Kongres Zionisme 1905, adalah Palestina dan sekitarnya. Tiga puluh tahun kemudian (1948), terwujudlah impian orang-orang Yahudi tersebut untuk memiliki tanah air sendiri, meskipun dengan cara yang sangat terkutuk: membantai jutaan orang Palestina. Kurang lebih demikianlah sekelumit sejarah Palestina yang tertuang dalam novel On The Hills of God ini. Entah demi pertimbangan bisnis (pasar), judul tersebut diubah menjadi My Salwa My Palestine berikut judul kecilnya (ditulis dengan huruf berukuran kecil sehingga nyaris tak terperhatikan ): Di Atas Bukit Tuhan. Judul yang sudah cukup panjang itu masih dirasa belum cukup, sehingga perlu ditambah dengan sebaris kalimat "keterangan" : Kisah Tentang Kesetiaan Pada Tuhan, Tanah Air, Dan Kemanusiaan. Sejatinya, My Salwa My Palestine ini adalah sebuah fiksi sejarah. Riwayat pendudukan Israel di Palestina membingkai keseluruhan kisah dalam buku ini. Melalui tokoh Yousif Safi, pemuda berusia 18 tahun, Ibrahim Fawal memberi semacam kesaksian getir tentang perang Palestina yang tak kunjung usai hingga hari ini. Perang yang tak seimbang antara Palestina (didukung oleh Mesir, Jordania, Irak, Siria, dan Lebanon) di satu pihak berhadap-hadapan dengan Israel (dibantu Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya) di pihak lain. Perang yang sempat membuat rakyat Palestina, selaku pihak paling menderita, meragukan keberadaan Tuhan. "Tuhan, kalau Engkau membiarkan anak-Mu sendiri dipaku dan dilukai, kalau Engkau membiarkan ia mati di kayu salib seperti seorang penjahat, tentu Engkau akan membiarkan rumah-rumah kami terbakar. Kalau begitulah cara-Mu memperlakukan anak-Mu sendiri, lalu kepada siapa lagi orang Palestina memohon perlindungan? Engkau memperlakukan kami seakan-akan kami bukan anak-anak-Mu, seakan-akan Engkau tidak mencintai kami. Engkau memperlakukan kami tidak lebih baik dibanding raja-raja dan presiden kami memperlakukan kami…." (hlm56) Palestina yang damai dalam sekejap telah berubah menjadi ladang pembantaian. Tercatat di antaranya pembantaian paling mengerikan di Deir Yasin yang terkenal itu. Nyaris tak ada yang selamat dalam aksi biadab tersebut. Para tentara Zionis itu bukan saja menembaki kaum prianya, tetapi juga memerkosa para wanita dan membunuh anak-anak. Menyusul kemudian, setelah Inggris hengkang pada Mei 1948, desa-desa yang lain menjadi sasaran serbuan. Termasuk Ardallah, kota kecil tempat Yousif dan kekasihnya, Salwa, tinggal. Perihal percintaan Yousif dan Salwa bukanlah merupakan kisah utama. Hanya sepercik drama kecil pelengkap cerita sesungguhnya yang jauh lebih besar : drama (tragedi) kemanusiaan yang dipungut dari medan perang paling brutal dalam sejarah. Membaca sejarah yang dituturkan lewat sebuah karya fiksi tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang mengetahuinya melalui buku-buku sejarah yang "garing" dan menjemukan itu. Jika semua sejarah bangsa-bangsa di dunia ini bisa disampaikan semenarik novel-novel fiksi, alangkah asyiknya. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah pasti tidak akan ditinggal tidur oleh para siswa. On The Hills of God adalah novel perdana Ibrahim Fawal, pengajar film dan sastra di Birmingham-Southern College dan University of Alabama. Ia pernah menjadi asisten sutradara dalam film klasik terkenal Lawrence of Arabia. Novel sulungnya ini meraih PEN-Oakland Award untuk kategori Excellent in Literature. Sebagai seorang kelahiran Ramallah, Palestina, sangat dapat dimaklumi jika Fawal banyak menampilkan sisi emosional dalam kisahnya ini. Bagian-bagian memilukan disajikan secara gamblang sehingga berhasil menyentuh rasa kemanusiaan kita. Saya pribadi dibuat termangu-mangu oleh fakta-fakta yang dibentangkannya. "Benarkah sedemikian kelam kenyataannya?" gumam saya dalam hati. Tetapi saya harus percaya, hampir tak ada kisah indah tentang perang. Di manapun. Kapan pun. Perang senantiasa hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Seperti yang kerap kita saksikan. Namun, hal paling mengherankan adalah mengapa orang-orang Yahudi yang pernah mengecap pahitnya sejarah menjadi 'orang buruan' itu kini tega berbalik menjadi bangsa yang memburu-buru bangsa lain? Andai pun itu sebuah tindakan 'balas dendam', mengapa harus kepada orang-orang (Arab di) Palestina? Endah Sulwesi 4/8
Posted at Saturday, August 04, 2007 by Perca
Permalink
Saturday, July 28, 2007
SEPENGGAL NARASI GETIR DARI "OUT WITH"

Judul buku : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis
Judul asli: The Boy In The Striped Pyjamas
Penulis: John Boyne
Penerjemah: Rosemary Kasauli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I – Juli 2007
Tebal: 240 hlm
Kesalahan pertama saya dalam membaca buku ini adalah mengira bahwa buku ini sebuah buku cerita anak-anak yang lucu dan jenaka. Asumsi ini saya tafsirkan dari judulnya : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis. Terdengar lucu dan riang. Kesalahan kedua, saya, seperti biasa, melewatkan membaca sinopsisnya yang tercantum di sampul belakang buku. Seandainya saya mau menyempatkan diri membacanya terlebih dahulu, barangkali saya tak akan terkecoh.
Terkecoh? Ya, sebab kiranya buku tipis dengan ukuran font besar-besar ini, lebih tepat dibaca oleh orang dewasa, meskipun John Boyne, penulisnya, menujukan buku tersebut buat (bacaan) anak-anak. Menurut saya, kisah yang tersaji di dalamnya terlalu kelam, pilu, dan getir bagi jiwa kanak-kanak yang (semestinya) riang.
Tokoh utamanya memang anak-anak. Bocah lelaki berusia sembilan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.
Ayah Bruno adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang temanpun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis.
Lantaran kesepian, suatu hari, Bruno memutuskan untuk melakukan 'penjelajahan' berkeliling Out With (sebutan Bruno untuk Auschwitz). Dengan kaki-kaki kecilnya, Bruno menyusuri jalan sepanjang pagar kawat tempat terdapat orang-orang dengan piyama dan topi kain garis-garis.
Petang itu, Bruno akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi. Tak disangka, mereka memiliki tanggal lahir yang sama, 15 April 1934. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel.
Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin, meninggalkan Out With. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya di Out With, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "petualangan"–Bruno menyebutnya, "permainan menjelajah"–terakhir bersama Shmuel di balik pagar sebelah sana.
Begitulah. Karya John Boyne yang ditulis tahun lalu ini berhasil menghadirkan sisi lain perang melalui kaca mata seorang bocah lugu berumur sembilan tahun. Meminjam sudut pandang Bruno, John Boyne melontarkan kritiknya terhadap perang secara halus namun amat menusuk. Orang-orang dewasa memang sering kelewat kejam dan jahat demi mencapai tujuannya. Orang-orang dewasalah yang menyebabkan peperangan terus berlangsung di atas dunia ini, tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya. Tanpa peduli betapa banyak pihak terpaksa menjadi korban, termasuk anak-anak tak berdosa seperti Bruno dan Shmuel.
Taktik Boyne menggunakan perspektif kanak-kanak dalam menuturkan ceritanya, bukanlah sesuatu yang baru. Sebut saja misalnya, novel klasik karya Harper Lee, To Kill A Mockingbird (1962) atau novel mutakhir karya Lois Lowry : Menghitung Bintang, telah lebih dulu menggunakan strategi ini.
Hasilnya memang terasa berbeda, lebih polos dan jujur. Kemurnian jiwa seorang anak hampir selalu mampu menerobos, menyentuh relung perasaan kita yang terdalam. Kemalangan dan penderitaan yang dialami mereka, akan menyeret kita ke dalam genangan rasa haru, menyesakkan dada, dan lantas menjebol tanggul air mata. Begitu pula kelucuan tingkah polah mereka membuat kita tersenyum dan tertawa bahagia.
Alur kisah Bruno ini dibuat menanjak perlahan-lahan hingga mencapai klimaksnya di penghujung. Meski pun ada beberapa hal (sepele) yang diabaikan oleh Boyne–umpamanya, ihwal Shmuel yang selalu sukses menyelinap ke tepi pagar untuk berjumpa Bruno, terasa janggal mengingat ketatnya pengawasan di kamp konsentrasi tersebut–namun segera terbayar tunai oleh kedahsyatan cerita secara keseluruhan. Boyne mampu menjaga ritme ceritanya untuk kemudian memberi kejutan menyentak di bagian akhir.
Konon, sejarah selalu berulang. Tetapi, relakah kita sejarah tragis pembantaian umat manusia seperti yang dilakukan Hitler terhadap orang-orang Yahudi itu, kembali terulang? Saya rasa tidak, walaupun, misalnya, ia hadir dalam bentuknya yang lain. Kita akan sama-sama mengutuknya.
Saran saya, bagi Anda yang berniat membaca buku ini, sebaiknya siapkan selembar tisu atau sapu tangan, atau apa apa saja yang bisa dipakai untuk menghapus air mata. Sebab, saya jamin, jika Anda memiliki sekeping hati yang lembut, Anda akan terisak-isak seperti saya.
Endah Sulwesi 28/7
Posted at Saturday, July 28, 2007 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|