|
|
 |
 |
|
Saturday, August 04, 2007
KETIKA ISRAEL MERAMPOK PALESTINA
Judul buku : Di Atas Bukit Tuhan, My Salwa My Palestine Judul asli: On The Hills of God Penulis: Ibrahim Fawal Penerjemah: Hermawan Aksan Penerbit: Mizania Cetakan: I, Mei 2007 Tebal: 581 hlm Juli 1948 Musim panas di Palestina. Matahari terasa lebih terik, memanggang ribuan kepala manusia yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka di Ardallah menuju Jericho, kota kecil di perbatasan Palestina dan Jordania. Ardallah adalah sebuah kota yang terletak 45 kilometer di barat laut Jerusalem dan 23 kilometer sebelah timur Jaffa. Ardallah merupakan salah satu kota tujuan wisata di Palestina. Setiap musim panas, populasi penduduknya meningkat seratus persen oleh kedatangan para turis dari berbagai penjuru dunia. Penduduknya hidup rukun dan damai dalam kemajemukan agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun, itu dahulu, setahun yang lalu sebelum kaum Zionis Yahudi masuk secara paksa dan mengusir pergi warga Palestina dari tanah air mereka sendiri. Bermula pada tanggal 29 November 1947, ketika dunia kehilangan akal sehatnya dan menyebabkan timbulnya bencana berkepanjangan bagi negeri Palestina. Hari itu, para pemimpin dunia bersama-sama melakukan 'bunuh diri' massal lantaran menyetujui bersama-sama resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai pembagian Palestina. Kota suci Jerusalem dan sekitarnya menjadi wilayah dan hak internasional, dan Inggris harus mengakhiri kekuasaannya pada bulan Agustus. Resolusi tersebut didukung tak kurang oleh tiga puluh tiga negara, tiga belas menolak, dan sepuluh abstain. Sudah pasti Amerika Serikat berdiri paling depan di antara para negara pendukung. Dengan kekuasaannya, negeri yang saat itu dipimpin oleh Presiden Truman, memaksa para sekutunya dengan cara mengancam untuk ikut memberi dukungan. Bahkan negara sebesar Prancis pun tunduk pada ancaman tersebut : tak akan mendapat bantuan luar negeri lagi jika tak mendukung rencana pembagian Palestina itu. Dan itulah awal musibah sepanjang masa bagi warga Palestina. Rakyat yang telah mendiami tanah tersebut secara turun-temurun selama berabad-abad lampau harus menyingkir, terusir dari bumi kelahiran mereka oleh pendatang baru: kaum Yahudi Zionis. Zionisme ialah sebuah gerakan kaum Yahudi yang hendak mendirikan kembali negara Israel. Istilah ini mula-mula dipakai oleh Nathan Birnbaum alias Matthias Acher (1864-1937), seorang budayawan Yahudi. Kata "zion' sendiri bermakna "bukit". Bagi kaum Yahudi, Zion adalah nama sebuah bukit di Jerusalem. Sejarahnya, pasca direbutnya kota itu dari orang Jebus oleh Israel di bawah kepemimpinan Raja Daud, dibangunlah sebuah istana di atas bukit tersebut. Selanjutnya, Bukit Zion menjadi tempat ibadat sekaligus pemerintahan Yahudi. Bagi orang Israel, Zion berarti tanah air mereka pada masa Palestina kuno. Kongres Zionisme yang pertama diadakan pada 1897. Sejak itu, Zionisme mulai turut bermain di gelanggang politik. Berkat upaya para pemimpinnya, pada 1917 berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Deklarasi Balfour yang menjanjikan suatu negara berkebangsaan yang berdaulat kepada orang-orang Yahudi itu. Tanah yang dijanjikan itu, sesuai keputusan Kongres Zionisme 1905, adalah Palestina dan sekitarnya. Tiga puluh tahun kemudian (1948), terwujudlah impian orang-orang Yahudi tersebut untuk memiliki tanah air sendiri, meskipun dengan cara yang sangat terkutuk: membantai jutaan orang Palestina. Kurang lebih demikianlah sekelumit sejarah Palestina yang tertuang dalam novel On The Hills of God ini. Entah demi pertimbangan bisnis (pasar), judul tersebut diubah menjadi My Salwa My Palestine berikut judul kecilnya (ditulis dengan huruf berukuran kecil sehingga nyaris tak terperhatikan ): Di Atas Bukit Tuhan. Judul yang sudah cukup panjang itu masih dirasa belum cukup, sehingga perlu ditambah dengan sebaris kalimat "keterangan" : Kisah Tentang Kesetiaan Pada Tuhan, Tanah Air, Dan Kemanusiaan. Sejatinya, My Salwa My Palestine ini adalah sebuah fiksi sejarah. Riwayat pendudukan Israel di Palestina membingkai keseluruhan kisah dalam buku ini. Melalui tokoh Yousif Safi, pemuda berusia 18 tahun, Ibrahim Fawal memberi semacam kesaksian getir tentang perang Palestina yang tak kunjung usai hingga hari ini. Perang yang tak seimbang antara Palestina (didukung oleh Mesir, Jordania, Irak, Siria, dan Lebanon) di satu pihak berhadap-hadapan dengan Israel (dibantu Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya) di pihak lain. Perang yang sempat membuat rakyat Palestina, selaku pihak paling menderita, meragukan keberadaan Tuhan. "Tuhan, kalau Engkau membiarkan anak-Mu sendiri dipaku dan dilukai, kalau Engkau membiarkan ia mati di kayu salib seperti seorang penjahat, tentu Engkau akan membiarkan rumah-rumah kami terbakar. Kalau begitulah cara-Mu memperlakukan anak-Mu sendiri, lalu kepada siapa lagi orang Palestina memohon perlindungan? Engkau memperlakukan kami seakan-akan kami bukan anak-anak-Mu, seakan-akan Engkau tidak mencintai kami. Engkau memperlakukan kami tidak lebih baik dibanding raja-raja dan presiden kami memperlakukan kami…." (hlm56) Palestina yang damai dalam sekejap telah berubah menjadi ladang pembantaian. Tercatat di antaranya pembantaian paling mengerikan di Deir Yasin yang terkenal itu. Nyaris tak ada yang selamat dalam aksi biadab tersebut. Para tentara Zionis itu bukan saja menembaki kaum prianya, tetapi juga memerkosa para wanita dan membunuh anak-anak. Menyusul kemudian, setelah Inggris hengkang pada Mei 1948, desa-desa yang lain menjadi sasaran serbuan. Termasuk Ardallah, kota kecil tempat Yousif dan kekasihnya, Salwa, tinggal. Perihal percintaan Yousif dan Salwa bukanlah merupakan kisah utama. Hanya sepercik drama kecil pelengkap cerita sesungguhnya yang jauh lebih besar : drama (tragedi) kemanusiaan yang dipungut dari medan perang paling brutal dalam sejarah. Membaca sejarah yang dituturkan lewat sebuah karya fiksi tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang mengetahuinya melalui buku-buku sejarah yang "garing" dan menjemukan itu. Jika semua sejarah bangsa-bangsa di dunia ini bisa disampaikan semenarik novel-novel fiksi, alangkah asyiknya. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah pasti tidak akan ditinggal tidur oleh para siswa. On The Hills of God adalah novel perdana Ibrahim Fawal, pengajar film dan sastra di Birmingham-Southern College dan University of Alabama. Ia pernah menjadi asisten sutradara dalam film klasik terkenal Lawrence of Arabia. Novel sulungnya ini meraih PEN-Oakland Award untuk kategori Excellent in Literature. Sebagai seorang kelahiran Ramallah, Palestina, sangat dapat dimaklumi jika Fawal banyak menampilkan sisi emosional dalam kisahnya ini. Bagian-bagian memilukan disajikan secara gamblang sehingga berhasil menyentuh rasa kemanusiaan kita. Saya pribadi dibuat termangu-mangu oleh fakta-fakta yang dibentangkannya. "Benarkah sedemikian kelam kenyataannya?" gumam saya dalam hati. Tetapi saya harus percaya, hampir tak ada kisah indah tentang perang. Di manapun. Kapan pun. Perang senantiasa hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Seperti yang kerap kita saksikan. Namun, hal paling mengherankan adalah mengapa orang-orang Yahudi yang pernah mengecap pahitnya sejarah menjadi 'orang buruan' itu kini tega berbalik menjadi bangsa yang memburu-buru bangsa lain? Andai pun itu sebuah tindakan 'balas dendam', mengapa harus kepada orang-orang (Arab di) Palestina? Endah Sulwesi 4/8
Posted at Saturday, August 04, 2007 by Perca
Permalink
Saturday, July 28, 2007
SEPENGGAL NARASI GETIR DARI "OUT WITH"

Judul buku : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis
Judul asli: The Boy In The Striped Pyjamas
Penulis: John Boyne
Penerjemah: Rosemary Kasauli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I – Juli 2007
Tebal: 240 hlm
Kesalahan pertama saya dalam membaca buku ini adalah mengira bahwa buku ini sebuah buku cerita anak-anak yang lucu dan jenaka. Asumsi ini saya tafsirkan dari judulnya : Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis. Terdengar lucu dan riang. Kesalahan kedua, saya, seperti biasa, melewatkan membaca sinopsisnya yang tercantum di sampul belakang buku. Seandainya saya mau menyempatkan diri membacanya terlebih dahulu, barangkali saya tak akan terkecoh.
Terkecoh? Ya, sebab kiranya buku tipis dengan ukuran font besar-besar ini, lebih tepat dibaca oleh orang dewasa, meskipun John Boyne, penulisnya, menujukan buku tersebut buat (bacaan) anak-anak. Menurut saya, kisah yang tersaji di dalamnya terlalu kelam, pilu, dan getir bagi jiwa kanak-kanak yang (semestinya) riang.
Tokoh utamanya memang anak-anak. Bocah lelaki berusia sembilan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.
Ayah Bruno adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang temanpun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis.
Lantaran kesepian, suatu hari, Bruno memutuskan untuk melakukan 'penjelajahan' berkeliling Out With (sebutan Bruno untuk Auschwitz). Dengan kaki-kaki kecilnya, Bruno menyusuri jalan sepanjang pagar kawat tempat terdapat orang-orang dengan piyama dan topi kain garis-garis.
Petang itu, Bruno akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi. Tak disangka, mereka memiliki tanggal lahir yang sama, 15 April 1934. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel.
Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin, meninggalkan Out With. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya di Out With, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "petualangan"–Bruno menyebutnya, "permainan menjelajah"–terakhir bersama Shmuel di balik pagar sebelah sana.
Begitulah. Karya John Boyne yang ditulis tahun lalu ini berhasil menghadirkan sisi lain perang melalui kaca mata seorang bocah lugu berumur sembilan tahun. Meminjam sudut pandang Bruno, John Boyne melontarkan kritiknya terhadap perang secara halus namun amat menusuk. Orang-orang dewasa memang sering kelewat kejam dan jahat demi mencapai tujuannya. Orang-orang dewasalah yang menyebabkan peperangan terus berlangsung di atas dunia ini, tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya. Tanpa peduli betapa banyak pihak terpaksa menjadi korban, termasuk anak-anak tak berdosa seperti Bruno dan Shmuel.
Taktik Boyne menggunakan perspektif kanak-kanak dalam menuturkan ceritanya, bukanlah sesuatu yang baru. Sebut saja misalnya, novel klasik karya Harper Lee, To Kill A Mockingbird (1962) atau novel mutakhir karya Lois Lowry : Menghitung Bintang, telah lebih dulu menggunakan strategi ini.
Hasilnya memang terasa berbeda, lebih polos dan jujur. Kemurnian jiwa seorang anak hampir selalu mampu menerobos, menyentuh relung perasaan kita yang terdalam. Kemalangan dan penderitaan yang dialami mereka, akan menyeret kita ke dalam genangan rasa haru, menyesakkan dada, dan lantas menjebol tanggul air mata. Begitu pula kelucuan tingkah polah mereka membuat kita tersenyum dan tertawa bahagia.
Alur kisah Bruno ini dibuat menanjak perlahan-lahan hingga mencapai klimaksnya di penghujung. Meski pun ada beberapa hal (sepele) yang diabaikan oleh Boyne–umpamanya, ihwal Shmuel yang selalu sukses menyelinap ke tepi pagar untuk berjumpa Bruno, terasa janggal mengingat ketatnya pengawasan di kamp konsentrasi tersebut–namun segera terbayar tunai oleh kedahsyatan cerita secara keseluruhan. Boyne mampu menjaga ritme ceritanya untuk kemudian memberi kejutan menyentak di bagian akhir.
Konon, sejarah selalu berulang. Tetapi, relakah kita sejarah tragis pembantaian umat manusia seperti yang dilakukan Hitler terhadap orang-orang Yahudi itu, kembali terulang? Saya rasa tidak, walaupun, misalnya, ia hadir dalam bentuknya yang lain. Kita akan sama-sama mengutuknya.
Saran saya, bagi Anda yang berniat membaca buku ini, sebaiknya siapkan selembar tisu atau sapu tangan, atau apa apa saja yang bisa dipakai untuk menghapus air mata. Sebab, saya jamin, jika Anda memiliki sekeping hati yang lembut, Anda akan terisak-isak seperti saya.
Endah Sulwesi 28/7
Posted at Saturday, July 28, 2007 by Perca
Permalink
Saturday, July 21, 2007
MONSTER JADI-JADIAN DI MALAM HALLOWEEN
Judul buku: Cincin Monster
Judul asli: The Monster's Ring
Penulis: Bruce Coville
Penerjemah: Venti
Penyunting: Hamzah
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2007
Tebal: 140 hlm
Bagaimana rasanya menjadi anak lelaki kelas 5 SD yang selalu diganggu oleh anak paling nakal di sekolah?
Russel Troy, anak lelaki pendiam dan cenderung pemalu itu tengah bingung menghadapi Hallloween, yakni salah satu perayaan di bulan Oktober yang ditandai dengan pesta kostum. Biasanya kostum-kostum yang menyeramkan. Halloween kali ini, Russel ingin jadi Frankenstein. Tetapi, suatu kebetulan telah membawanya ke sebuah toko benda-benda sihir milik Elive. Di toko ini, Russel menemukan sebuah cincin ajaib yang dapat setiap saat mengubahnya menjadi sesosok monster menyeramkan.
Mulanya Russel tak percaya begitu saja. Ia merasa terlalu tua untuk permainan bodoh seperti itu. Mana mungkin ada cincin semacam itu? Tetapi kemudian untuk memenuhi rasa penasarannya, ia pun mencobanya.
Wow…ternyata bukan omong kosong. Cincin itu mampu mengubah Russel menjadi monster menyeramkan: tumbuh sepasang tanduk di keningnya, matanya menjadi bersorot kuning menyeramkan, bulu-bulu lebat hitam membungkus tubuh kecil Russel, kuku-kuku runcing bersembulan di jari-jarinya, dan tawa riang kanak-kanaknya berubah menjadi geram menakutkan. Russel terkejut sekaligus girang betul mendapati kenyataan itu. Hmm...dengan sosok monsternya itu, ia akan membuat perhitungan dengan Eddie, anak nakal di sekolah yang kerap mengganggunya.
Lantas pada malam perayaan yang dinanti-nantikan itu, Russel kembali menggunakan kekuatan cincin bertuah tersebut. Sebenarnya, sihir dari cincin bermata hijau zamrud itu tidaklah membahayakan seandainya pemakainya mematuhi aturan cara kerjanya. Tetapi Russel terlampau menikmati perubahan dirinya menjadi monster sehingga melupakan peringatannya:
Satu kali putaran, kau akan bertanduk dan berbulu;
Dua kali putaran, gigi taring akan terlihat;
Tiga kali putaran? Tidak seorang pun yang berani!
Russel kebablasan! Ia memutar cincinnya sampai tiga kali! Maka, menjelmalah ia sesosok monster paling mengerikan yang pernah dilihat anak-anak pada malam Halloween. Yang lebih menyeramkan lagi, "kostum" monster ini memberi pengaruh jahat pada jiwa Russel. Ia mengamuk; mencari Eddie untuk membalaskan segala perlakuan buruk yang pernah diterimanya. Murid-murid lain berhamburan lari ketakutan. Seluruh sekolah kacau dan ribut. Para guru dan Kepala Sekolah sibuk menenangkan mereka. Situasi nyaris tak terkendali.
Buku yang ditulis oleh Bruce Coville ini lumayan asyik sebagai bacaan kanak-kanak. Unsur-unsur fantasi dan petualangan yang digemari oleh umumnya anak-anak bisa ditemui di dalamnya. Peralihan tokoh Russel yang lemah dan kalahan menjadi seorang pahlawan adalah resep klasik yang tetap laku dijual. Dan Coville masih percaya penuh pada kemanjuran menu dari dunia sihir sebagai daya tarik karyanya ini. Pesan moral hitam-putihnya, seperti lazimnya cerita anak : mengajak untuk selalu menjadi orang baik.
Bruce Coville yang lahir di Syracuse, New York, Amerika Serikat pada 16 Mei 1950 ini, adalah seorang penulis kanak-kanak yang telah banyak menghasilkan buku ber-genre fantasi dan fiksi ilmiah.Kariernya sebagai "pendongeng" ini berangkat dari kegemarannya membaca sejak kecil. Ia melahap dengan rakus buku Mary Poppins, Doctor Dolittle, Nancy Drew, The Hardy Boys, dan berbagai komik.
Karya debutannya yang ditulis berdua sang istri adalah The Foolish Giant (1997). Adapun Cincin Monster ini merupakan bagian dari serial Magic Shop yang seluruhnya terdiri dari lima judul.
Endah Sulwesi 18/7
Posted at Saturday, July 21, 2007 by Perca
Permalink
Sunday, July 15, 2007
Blog untuk Kepentingan Bisnis? Why Not?
Judul buku : Blog Marketing Penulis : Jeremy Wright Penerjemah : Donny Setiawan Penerbit : Elex Media Komputindo Cetakan: I, 2007 Tebal : xiii + 343 halaman. Sekitar awal 2000-an, orang begitu bersemangat membuat situs pribadi. Demam dotcom menjangkiti siapa saja, tak terkecuali mereka yang berprofesi di luar dunia IT. Sekarang? Masih seperti itu. Tapi bukan situs atau website lagi obyeknya. Tren itu telah bergeser ke arah weblog, alias blog. Prosedur pembaruan konten yang lebih mudah dari situs, serta arsipisasi yang lebih fleksibel ketimbang email, membuat blog cepat menjadi primadona di jagad maya. Adalah Jeremy Wright, salah seorang yang meramalkan blog takkan sekedar menjadi tren sesaat. Blog tidak akan pernah mati, begitulah "sabda"-nya dalam buku berjudul Blog Marketing ini (halaman 326). Jadi merugilah mereka yang tidak berpartisipasi dalam blogging. Dalam beberapa tahun belakangan, "blogging" telah menjadi kata kerja baru yang merujuk pada aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan blog, misalnya membuat, merawat atau memperbarui blog. Blogging bukan kegiatan iseng, mengingat mulanya blog hadir untuk alasan profesional. Bentuk klasik blog adalah log (catatan) konvensional yang ditulis pegawai shif buat petugas jaga berikutnya. Hingga hari ini, fungsi itu berkembang menjadi bermacam-macam, apalagi pasca penemuan log yang bisa diakses online secara simultan, blog. Beberapa perusahaan raksasa kini mendorong karyawannya untuk menjadi blogger (pelaku blog), demi mendekatkan brand mereka pada masyarakat. Kesan perusahaan besar yang dingin dan tak terjamah konsumen kecil pun luntur berkat keluwesan gaya komunikasi mesin blog. Wright, dalam Blog Marketing-nya menjelaskan bagaimana memaksimalkan blog bagi bisnis Anda. Inti buku ini tak jauh-jauh dari pembandingan budaya transmitting (memancarkan) dan engaging (melibatkan diri). Banyak komunikasi perusahaan yang hanya satu arah, memancarkan informasi ke pelanggan sebagaimana banalnya iklan. Dengan blog, perusahaan dapat melibatkan diri pada pembicaraan dua arah yang egaliter, tidak peduli yang berhadapan ternyata CEO dan seorang pembeli eceran sekalipun. Buku ini disegmenkan untuk blogger profesional (perusahaan), baik besar maupun kecil. Judulnya saja Blog Marketing. Kalau Anda tidak punya sesuatu untuk dimarketkan, maka buku ini rasanya bukan buat Anda. Tapi blogger personal tidak perlu buru-buru melirik buku lain, karena di buku ini pun banyak ditemukan tips dan filosofi blogging secara general. Salah satu tips dari Wright yang bisa diterapkan siapapun ialah soal mengatasi negativitas. Entah Anda blogger personal (yang biasa menulis soal pacar, puisi, catatan harian) atau blogger yang mewakili perusahaan (katakanlah Anda seorang e-PR), suatu hari Anda pasti bersinggungan dengan negativitas. Blogosfer (dunia blog) mirip dunia nyata. Medianya saja yang maya, namun pada dasarnya kita juga berkomunikasi dengan manusia, bukan mesin. Jadi sewaktu-waktu konflik dapat terpantik. Gara-gara kita membuat kecewa orang lain, atau blogger lain membuat kita tersinggung, misalnya. Di matra yang lebih luas, blog profesional, negativitas pun acap terbentuk. Alkisah, sebuah produk gembok begitu terkenal lantaran ketangguhannya. Produsennya bernama Kryptonite Locks. Eh, suatu hari seseorang menemukan sebuah rahasia memalukan: Gembok perkasa itu ternyata bisa dibuka hanya dengan sebatang pulpen. Dia lalu mem-posting (menulis blog) penemuan tersebut. Demikianlah informasi negatif itu menyebar liar (halaman 70—72). Tidak seperti situs yang ada sedikit penundaan penyampaian, blog bekerja dalam waktu riil. Search engine (mesin pencari kata-kata) untuk blog pun kinerjanya jauh lebih banter ketimbang search engine situs. Bila kita mem-posting sesuatu, beberapa detik kemudian siapapun yang terkonek internet akan bisa melahapnya. Andai beritanya baik, tentu tak masalah. Namun bagaimana dengan kasus gembok tadi? Faktanya, Kryptonite kehilangan muka dan duit hampir secepat tombol "publish" diklik. Apa yang ingin disampaikan Wright yaitu: Inilah revolusi! Kenalilah, atau Anda akan digilas. Kalau dulu seorang pelanggan yang komplain harus menunggu beberapa saat untuk ditanggapi, atau beberapa hari atau pekan (bahkan bulan) jika ingin masuk Surat Pembaca media cetak, dengan blog, semua hitungan itu menyusut menjadi detik. Dahulu kala, seorang PRO (public relations officer) punya banyak waktu untuk menunggu terbitnya beberapa harian utama, di pagi hari, siang atau sore. Mereka memiliki waktu yang lumayan lapang untuk mengguntingi koran-koran tersebut sebagai bahan kajian. Sekarang? Sebuah komplain tentang sinyal CDMA yang jelek bisa hadir telanjang di depan publik pada tengah malam, saat belum satu pun harian beredar. Keluh kesah terhadap pelayanan bank dapat menyeruak saat tim PR-nya bersiap-siap pulang kantor. Dan orang-orang pun bisa mengomentari dan/atau mem-forward-nya dengan cepat. Perusahaan tak sadar, tiba-tiba saja berita buruk itu diketahui seluruh dunia. Mujurnya, kecepatan itu juga keuntungan. Dalam blogosfer banyak sekali alat yang bisa membantu kita menyadap rasan-rasan orang tentang perusahaan kita, dan kalau mau, mengawasi perusahaan kompetitor (baca: memata-matai) 24 jam. Tidak perlu satu per satu mencari di search engine segala komplain maupun komplimen tentang perusahaan. Dengan miliaran situs dan blog yang beredar di jagad maya, itu bukan hal yang bijak untuk dilakukan. Jalan keluarnya biasanya dengan berlangganan feed untuk kata-kata tertentu. Feed adalah tulisan yang diambil dari blog tertentu yang otomatis dikirim ke desktop komputer atau inbox email kita tiap kali blog tertentu tadi mengalami perubahan atau penambahan konten. Jadi seperti berlanggan koran, Anda tidak perlu keluar rumah, feed-lah yang akan menghampiri. Selain feed, buku ini membahas strategi berhadapan dengan negativitas dari segi kehumasannya. Buka bab 9. Detail sekali uraiannya di sana. Ini buku yang disarankan untuk memaksimalkan potensi blog bagi kepentingan bisnis Anda. Ditulis oleh seorang konsultan blog yang kliennya terdiri dari Ford, Microsoft, eBay, Business Week, dan masih banyak lagi perusahaan besar lainnya. Karena memang bukan saatnya lagi perusahaan-perusahaan berkomunikasi satu arah dengan pelanggan. Brahmanto Anindito
Posted at Sunday, July 15, 2007 by Perca
Permalink
Monday, July 09, 2007
Membincang Seks dengan Santai
Judul buku: Middlesex Judul asli: Middlesex Penulis: Jeffrey Eugenides Penerjemah: Berliani M.Nugrahani Penerbit: Serambi Cetakan: I, Juni 2007 Tebal: 811 hlm Cerita ini dimulai dari Asia Minor, sebuah tempat yang terletak jauh di atas tebing Gunung Olympus di Yunani. Tepatnya di desa Bithynios. Waktu itu tahun 1922. Waktu itu tengah berkecamuk perang antara Yunani dan tetangganya, Turki. Bithynios adalah sebuah desa kecil dengan segelintir saja orang yang mendiaminya. Pekerjaan utama para penduduk di sana adalah bertani dan beternak ulat sutra yang hasilnya diangkut dan dijual ke pasar di Bursa. Adalah Stephanides, salah satu keluarga penghuni Bithynios dengan dua orang anak mereka yang menjelang dewasa, Desdemona si sulung berusia 21 tahun dan Eleutherios alias Lefty, adik lelaki Desdemona. Usia kakak-beradik ini hanya terpaut satu tahun saja. Mereka berdua yatim-piatu; menafkahi hidup dari beternak ulat sutra, sebagaimana warga desa lainnya. Ketika kecil, mereka berbagi tempat tidur. Lefty sudah biasa melihat kakaknya berganti baju di hadapannya tanpa perasaan risih sedikitpun. Beranjak dewasa, mereka tetap tidur di kamar yang sama namun di ranjang berbeda, hanya dipisahkan oleh selembar tirai dari kain putih. Lefty masih bisa menyaksikan Desdemona telanjang, meski kini ia harus puas melihatnya cuma dalam bentuk siluet di tirai yang terbentang. Tanpa disadari oleh Lefty, dia telah terobsesi pada tubuh indah kakak perempuannya. Kakak beradik ini tak banyak bergaul dengan sesama remaja di desa mereka. Desdemona terlalu sibuk dengan kepompong-kepompong ulat sutra kesayangannya, sedangkan Lefty kebagian tugas membawa dan menjualnya ke pasar di Bursa. Desdemona tak sempat mengenal lelaki lain kecuali adik kandungnya itu. Demikian pun Lefty, terbiasa dengan kehadiran Desdemona, ia seolah-olah tak membutuhkan perempuan lain. Pada setiap kesempatan ke Bursa, Lefty kadang-kadang menyimpang sejenak ke bar-bar dan tempat judi yang ada di situ. Juga sesuai perkembangan umur remajanya, ia mulai mencoba-coba mencicipi kenikmatan dari tubuh perempuan sembari tetap membayangkan tubuh Desdemona. Hingga pada suatu ketika, mereka berdua tak mampu lagi mencegah rasa ketertarikan seksual di antara keduanya dan membawa mereka berlayar menyebrang ke Amerika. Di atas kapal yang mereka tumpangi, keduanya menikah di hadapan para penumpang lain yang kabur mengungsi, menyelamatkan diri dari huru-hara perang. Tentu saja dengan menyamarkan identitas. Terjadilah perkawinan incest yang kelak senantiasa membuat hidup Desdemona dirundung kekhawatiran akan munculnya "hukuman". Di Amerika Serikat, tepatnya di Detroit, pasangan incest ini ditampung oleh sepupu mereka, Sourmelina Zizmo, yang telah lebih dulu kabur demi menyembunyikan kenyataan dirinya sebagai lesbian. Di Amerika, Sourmelina menikah dengan Jimmy Zizmo yang tidak mengetahui ihwal kelainan seks sang istri. Tak lama berselang, kedua pasangan "aneh" ini dikaruniai anak. Masing-masing adalah Milton Stephanides dan Theodora Zizmo. Sekali lagi terjadi perkwainan sedarah di antara para sepupu ini: Milton menikahi Theodora (Tessie), yang menambah besar kecemasan Desdemona akan hadirnya "hukuman" Tuhan atas dosa-dosa keluarganya. Hukuman yang paling ditakuti Desdemona–dan ini menghantui terus sepanjang hidupnya –adalah lahirnya anak-anak cacat dari perkawinan sedarah itu. Kekhawatiran Desdemona ternyata terbukti bertahun-tahun kemudian, ditemukan pada Calliope, anak kedua pasangan Milton dan Tessie. Calliope yang terlahir sebagai perempuan, pada usia empat belas tahun bertranseksual (secara alamiah) menjadi remaja lelaki. Tumbuh penis di tempat di mana seharusnya terdapat klitoris, alat kelamin perempuan. Sebetulnya, sejak lahir Calliope sudah berjenis kelamin laki-laki. Hal tersebut terjadi karena kekeliruan Dokter Phil, dokter keluarga mereka yang mulai uzur, saat mengidentifikasi jenis kelamin bayi Calliope tidak melihat penis yang tersembunyi itu dan menyatakan Callie sebagai perempuan. Benarkah kasus Callie merupakan hukuman Tuhan, traged, iatau sekadar fenomena genetika yang bisa diterangkan secara ilmiah? Tema menarik ini diangkat Jeffrey Eugenides dalam novel "gemuk"-nya yang berjudul Middlesex. Middlesex sendiri dalam novel ini adalah nama rumah yang ditinggali oleh keluarga Stephanides di Detroit. Berawal dari hubungan sedarah (incest) itu, Eugenides pelan-pelan membawa kita ke dalam persoalan para tokohnya, tiga generasi sebuah keluarga Yunani yang bermigrasi ke Amerika Serikat. Dengan santai dan tanpa terkesan vulgar, penulis kelahiran Detroit ini, mengajak pembacanya berbincang tentang seks, perkawinan, tradisi, keluarga, dan cinta. Ia dengan cermat mengolah bahan-bahan tulisannya menjadi sebuah fiksi yang segar, jenaka, sekaligus menyentuh perasaan. Benar-benar sebuah buku yang menghibur. Dalam pengamatan saya, sedikitnya ada 3 kelainan seksual yang coba diangkat dalam novel ini, yakni : incest (Desdemona dan Lefty), lesbian (Sourmelina), dan hermaprodit (Calliope). Ketiga hal yang sering dianggap sebagai suatu kondisi abnormal ini membingkai keseluruhan Middlesex dengan tokoh sentral Calliope yang juga berperan sebagai "aku" sang narator. Teknik bertutur sebagai orang pertama ini menghasilkan efek seolah-olah Middlesex ini merupakan sebuah true story dari seseorang bernama Calliope. Eugenides sukses menampilkan Calliope sebagai karakter yang "hidup" dan "nyata". Tak sia-sia jerih payah dan waktu sembilan tahun yang dihabiskannya untuk menulis novel ini. Middlesex berhasil menggondol Pulitzer Prize 2003 dan menjadi international best-seller. Tanpa bermaksud menggurui, sebetulnya akan lebih leluasa bagi Eugenides apa bila memakai narasi orang ketiga untuk kisah seluas dan sedalam Middlesex. Dengan gaya penyampaian orang ketiga, ia bisa bebas keluar –masuk, memahami, mengorek-ngorek, membedah, dan menyimpulkan perasaan serta pikiran para tokohnya. Ia bisa terhindar dari kesan "sok tahu" karena penggunaan orang pertama sebagai narator. Okelah, bisa sih disiasati dengan selalu memakai kata "barangkali", "mungkin", "agaknya", atau "kira-kira". Tetapi tentu seorang penulis tak bisa selamanya melandasi ceritanya dengan "dugaan-dugaan" semacam itu. Sekilas, Middlesex sempat mengingatkan saya pada karya masterpiece Gabriel Garcia Marquez, One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian). Seperti halnya Desdemona dan Lefty, dalam Seratus Tahun Kesunyian juga tercatat pernikahan incest antara dua orang sepupu: Ursula Iguaran dan Jose Arcadio Buendia. Pun seperti juga Desdemona, Ursula dilanda kecemasan seumur hidup akan datangnya malapetaka atau kutukan dalam keluarga Buendia. Ia diganggu mimpi buruk tentang anak-anak dengan tulang ekor yang panjang. Kemiripan lainnya, jika Desdemona dan Lefty melarikan diri ke Amerika, maka pasangan Buendia kabur ke Macondo, sebuah kota fiksional di Amerika Latin. Well, pada akhirnya, harus diakui, Eugenides adalah seorang pendongeng yang baik. Kita akan merasa sayang jika tak menuntaskan "urusan" dengan bukunya ini. Satu hal yang perlu diperhatikan untuk versi terjemahan Indonesia yang diterbitkan oleh Serambi, yaitu banyak terdapat kesalahan ketik dan ejaan yang lumayan mengganggu. Semoga hal tersebut dapat diperbaiki pada cetakan berikutnya. Endah Sulwesi 9/7
Posted at Monday, July 09, 2007 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|