|
|
 |
 |
|
Sunday, August 27, 2006
Penulis: Clara Ng
Editor : Hetih Rusli
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, April 2006
Tebal : 368 hlm
Setiap keluarga sebagian besar memiliki menu khas tersendiri untuk hari raya keluarga mereka. Dan dalam novel ini, dimsum lah makanan khas keluarga sang tokoh. Setiap tahunnya dimsum telah dihasilkan dari tangan-tangan kecil seluruh anggota keluarga ini. Yang penting bukanlah rasanya, tetapi kebersamaannya. Bagaimana mereka bangun pagi-pagi hanya demi membuat dimsum, kerja sama antara sesama anggota keluarga, hingga kepuasan yang diperoleh ketika memakan dimsum buatan mereka sendiri. Clara Ng, pengarang yang eksis di bidang tulis menulis ini mengambil tema yang jarang dilirik orang. Pertama kali saya membaca buku The (Un)Reality Show (buku Clara Ng yang ditulis sebelum Dimsum Terakhir), saya sempat membatin ceritanya beda ya.. Beda dalam arti langka, tapi bermutu. Maklum, saat itu makin banyak novel-novel dengan tema yang begitu-begitu saja, monoton.
Perjalanan hidup Siska Yuanita, Indah Pratidina, Novera Kresnawati, dan Rosi Liliani sebagai 4 tokoh utama digambarkan secara detail dengan alur mundur, yang banyak dimunculkan dari ingatan-ingatan tokoh-tokohnya. Siska, sang workaholic yang bergaya hidup mewah, perfeksionis, dan agak angkuh memiliki perusahaan di Singapore, dan telah menjadi wanita karier yang sibuk dengan perusahaan internasionalnya. Sedangkan Indah, memilih hidup sebagai penulis. Novera yang sedang mencari jati dirinya lewat kebenaran agama, dan Rosi, si tomboy yang bermasalah dengan kepribadiannya. Mereka berempat merupakan saudara kembar, yang jarang bertemu satu sama lain karena kesibukannya masing-masing. Namun, tiba-tiba mereka dihadapkan kenyataan bahwa ayah mereka, Nung, masuk rumah sakit. Bahkan, dapat dikatakan, ayah mereka sekarat. Konflik mulai berdatangan, di saat ayah mereka membutuhkan mereka disampingnya, mereka pun sedang dilanda masalahnya masing-masing. Nobody’s Perfect.. Persis seperti semua tokoh dalam novel ini. Yang paling membuat novel ini enak dibaca adalah, Clara tidak pernah memberikan keterangan tokoh sekaligus. Sedikit demi sedikit karakteristik tokoh baru akan terkuak dengan dialog antara tokoh, atau bahkan terkadang pikiran tokoh itu sendiri.
Membaca Dimsum Terakhir membuat saya memosisikan diri saya sebagai warga keturunan China. Setting yang diambil benar-benar menjelaskan secara rinci, seperti diletakkannya pakua di atas pintu ya, saya langsung membayangkan benda berbentuk segi delapan dengan kaca di tengahnya yang sering dijual di daerah kota, dan dianggap penolak bala oleh kaum China, kemudian adanya kisah-kisah flash back dari para tokoh yang menggambarkan betapa masih didiskriminasinya warga keturunan China di Indonesia saat itu. Ya, hal-hal kecil semacam itu yang membuat lengkap kemasan Dimsum Terakhir. Hal-hal tersebut memang terjadi di kehidupan sehari-hari.
Clara Ng, pengarang yang lahir di Jakarta 1973 ini termasuk pengarang yang produktif. Karya-karyanya pun tak jarang mendapat predikat best seller. Sebut saja The (Un)Reality Show, Utukki, dan Indiana Chronicle (yang terdiri dari beberapa sub judul). Tak hanya itu, Clara juga menulis buku cerita anak-anak yang lucu serta mendidik. Satu yang saya suka dalam membaca karya-karyanya ialah, desain kovernya, selalu menarik untuk dilirik.
Laksmi
Posted at Sunday, August 27, 2006 by Perca
Permalink
Monday, August 21, 2006
Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : I - Juli 2006
Tebal : x + 292 hlm
Menyusul novel pertamanya, Laskar Pelangi, Andrea Hirata meluncurkan Sang Pemimpi sebagai kelanjutannya. Masih berkutat di dunia sekolahan, Sang Pemimpi memunculkan tokoh "pahlawan" Arai yang mirip dengan Lintang pada Laskar Pelangi. Dengan semangat juang yang tinggi, Arai dan Ikal bertekad mewujudkan impian mereka : sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Apa pun yang terjadi!
Jika di Laskar Pelangi melibatkan sebelas orang anak SD, maka pada Sang Pemimpi cerita berpusat pada tiga orang anak (SMA) saja. Mereka adalah : Ikal, Arai, dan Jimbron. Bagi yang telah pernah membaca Laskar Pelangi, pasti tidak asing lagi dengan tokoh Ikal. Dialah si empunya hikayat, di mana padanyalah kisah kedua novel ini bersumber.
Setting cerita masih tetap di Belitong, kampung halaman ketiga anak muda itu. Warga di sana baru saja mendapat kegembiraan yang bukan main besarnya, karena kini tak jauh dari kampung mereka (kira-kira 30 km) berdiri satu unit bangunan sekolah SMA Negeri. Bukan main! Sebelumnya, SMA terdekat ada di Tanjong Pandan, berjarak 120 km jauhnya dari kampung tempat para pegawai PN Timah bermukim. Semestinyalah seluruh penduduk kampung tersebut bersuka-cita dengan kehadiran SMA yang dirintis oleh Pak Mustar, sang Wakil Kepala Sekolah.
Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan siswa-siswa angkatan pertama SMA Bukan Main yang dipimpin oleh Pak Balia, guru sastra lulusan IKIP Bandung yang memegang teguh aturan moral itu. Berbahagialah para siswanya karena memiliki para pendidik seperti Pak Balia dan Pak Mustar, orang-orang idealis dengan komitmen tinggi pada profesi guru yang disandangnya.
Oya, di Laskar Pelangi nama Arai belum pernah disebut satu kalipun. Agak mengherankan sebetulnya, sebab menurut penuturan di buku Sang Pemimpi ini, Arai telah bersama-sama dengan Ikal sejak kelas III SD. Mereka tinggal di kamar yang sama dalam rumah yang sama. Mengaji bersama. Bermain bersama. Sejak menjadi yatim piatu, Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal. Pertanyaannya lalu : di mana Arai bersekolah waktu SD dan SMP?
Tapi baiklah, kita teruskan saja dongeng Sang Pemimpi yang berisi kisah-kisah lucu, sedih, pahit, mengharukan, semasa SMA. Misalnya, sewaktu pembagian rapor. Bagi ayah Ikal, saat pembagian rapor anak-anaknya adalah saat istimewa yang membanggakan. Oleh karenanya beliau senantiasa menyiapkan segala sesuatunya pada hari pembagian rapor. Ia akan mengambil cuti dua hari, memangkas rambut serta merapikan kumisnya, dan tak lupa mengenakan busana terbaik miliknya, yakni baju safari yang dijahit istrinya tahun 1972. Itu baju keramat yang hanya dipakai pada acara-cara penting saja.
Bagian ini amat menyentuh, memperlihatkan kasih sayang seorang ayah yang lugu dan tulus kepada putranya tercinta. Bagi Ikal, dialah ayah juara satu seluruh dunia.
Sayangnya, ada yang terasa tak logis di sini, yaitu ketika Ikal bercerita soal baju safari kebanggaan sang ayah : Aku ingat, tahun 1972, setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong, semacam calon pegawai PN Timah, akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam. Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri 1972, ayahku, aku, adik laki-lakiku, dan kedua abangku memakai baju seragam: safari empat saku! Kami bersilaturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar (hlm.89).
Jika pada saat Ikal bercerita itu tahun 1988/1989 dan ia - taruhlah - berusia 17 atau 18 tahun (usia anak SMA umumnya), maka berarti ia lahir tahun 1971. Ini artinya pada 1972, ia baru berumur 1 tahun. Mungkinkah ia mampu mengingat peristiwa yang dialami ketika ia umur 1 tahun? Rasanya akan lebih masuk akal bila ditulis dengan kalimat : Aku ingat, ibuku pernah bercerita, bahwa pada tahun 1972...bla..bla..bla.
Satu hal lagi pada bab ini yang mengundang pertanyaan adalah : apabila Ikal berumur 1 tahun, berapa umur si adik pada saat itu? Logikanya, pasti si adik masih bayi usia bulanan dan kok janggal ya rasanya anak bayi diberi busana baju safari empat saku.
Entahlah, apakah ini merupakan kekeliruan penulis yang tidak disengaja akibat kurang teliti atau karena luput dari pengamatan editor? Andaipun dianggap hanya sebagai sebuah kesalahan kecil yang tak penting, akan jauh lebih baik jika hal tersebut tidak terjadi.
Barangkali memang tak mudah membuat novel, apa lagi novel sekuel. Selalu ada "beban" atau semacam tuntutan pada novel-novel lanjutannya untuk bisa lebih baik dari novel pertamanya. Minimal, samalah. Beberapa novel telah terbukti sukses sebagai kisah sekuel. Misalnya, The Lord of The Rings (Tolkien) dan Harry Potter (J.K.Rowlings) dan atau Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) untuk menyebut karya penulis lokal.
Pada Sang Pemimpi agaknya Andrea Hirata terlalu memusatkan perhatiannya pada bagaimana menciptakan sebuah kisah emosional, menghanyutkan pembaca ke dalam peristiwa dan situasi emosi para tokohnya sebagaimana Laskar Pelangi. Dalam hal ini ia cukup berhasil. Kelakarnya berhamburan, mengundang senyum, cukup menghibur, dan ketika harus bersentimentil, ia juga mampu menyentuh hati pembacanya. Namun, di beberapa bagian ia melalaikan hal-hal "kecil" yang cukup mengganggu logika cerita. Ia juga tampak mengabaikan urutan waktu dan kejadian, sehingga masing-masing babnya seperti berdiri sendiri-sendiri dan membikin pembaca kehilangan panduan waktu.
Kalau harus membandingkan antara Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Laskar Pelangi lebih menarik dan lebih emosional. Tetapi, kedua-duanya memiliki kelebihan berupa kekayaan diksi dan metafor yang menawan. Penggunaan metafor yang baik, kita tahu, merupakan unsur penting dalam sebuah karya fiksi.
Pada kuliahnya di depan para anggota Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) peserta program penulisan novel awal Agustus lalu, Prof.Fuad Hasan mengatakan, bahwa salah satu syarat sebuah karya sastra yang baik adalah konsistensi, khususnya untuk perwatakan para tokohnya. Dari awal hingga kisah ditutup, tak boleh ada sedikitpun penyimpangan karakter tokoh-tokoh yang diciptakan penulis. Penulis diharamkan melupakan karakter tokoh-tokoh ceritanya.
Hal yang kelihatan kerap dilupakan Andrea dalam menulis adalah konsistensi. Dalam Sang Pemimpi ini ia kembali lupa mengingat keterangan yang pernah ditulisnya sendiri untuk seorang tokohnya : Arai. Pada saat Arai merayu gadis pujaan hatinya, Nurmala, dengan lagu "I Can't Stop Loving You", ia digambarkan sebagai siswa yang jago berbahasa Inggris. Namun, ketika "terdampar" di emper rumah makan Kentucky Fried Chicken di Bogor, ia berubah menjadi seorang dengan kemampuan bahasa Inggris yang buruk, sampai-sampai tak tahu makna kata "fried", malah memelesetkannya menjadi Tuan Fred.
Beberapa 'ganjalan' yang disebut di atas tadi, selayaknya bisa diminimalisasi oleh penyunting. Bukankah itu merupakan salah satu fungsi penyunting selain memeriksa ejaan?
Demikianlah. Sang Pemimpi hadir dengan sejumlah mozaik riwayat masa muda Ikal dan Arai, dua sepupu jauh yang percaya pada kekuatan mimpi-mimpi, pengorbanan, kerja keras, dan Tuhan. Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, termasuk mewujudkan impian kedua makhluk Belitong dengan cita-cita setinggi langit itu. Kedua "pahlawan" dalam buku ini ingin menularkan semangat mereka dalam memetik cita-cita. Percayalah, apa bila kita fokus dan bekerja keras demi meraih impian, maka Tuhan beserta seluruh alam semesta akan ikut membantu. Ah...kok jadi seperti Sang Alkemis, ya? :)
Endah Sulwesi 20/8
Posted at Monday, August 21, 2006 by Perca
Permalink
Sunday, August 13, 2006
Judul asli : The Icarus Girl
Penulis : Helen Oyeyemi
Alih bahasa : Esti Budihabsari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : 392 hlm
Barangkali sebagian dari kita pernah memiliki teman khayalan saat kita masih kecil dahulu. Menurut ilmu psikologi, itu adalah gejala kejiwaan yang wajar terjadi dan hampir setiap anak mengalaminya. Saya sendiri tidak ingat, apakah saya pernah memilikinya. Namun, sekarang saya sering memerhatikan keponakan saya berumur lima tahun beberapa kali terlihat seperti sedang bercaka-cakap dengan seseorang yang tidak tampak. Entah, apakah ia tengah berada dalam fase "teman khayalan" itu?
Dalam novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng karya Jostein Gaarder, tokohnya juga punya seorang teman khayalan yang terus "ada" sampai si tokoh dewasa dan tua. Teman khayalannya itu seorang lelaki kecil setinggi satu meter dan selalu membawa-bawa tongkat. Ia muncul biasanya pada waktu sang tokoh membutuhkan guna menyelamatkannya dari situasi tertentu yang dirasa tidak aman dan tidak nyaman.
Begitu juga dalam A Beautiful Mind, kisah nyata kehidupan John Nash, pemenang nobel bidang ekonomi yang harus dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap mengidap kelainan jiwa. Ia mempunyai seorang teman khayalan, gadis kecil pirang dengan bonekanya.
Dari kedua buku tersebut, kiranya teman khayalan itu tidak hanya milik anak-anak kecil saja dan pada tahap tertentu hal tersebut bisa jadi merupakan penyakit kejiwaan.
Novel The Icarus Girl garapan Helen Oyeyemi juga bercerita seputar teman khayalan seorang gadis cilik, Jessamy Harrison. Jess, demikian gadis itu disapa, baru berumur delapan tahun, beribukan Sarah asal Nigeria dan ayah Daniel Harrison, orang Inggris asli.
Untuk ukuran gadis 8 tahun, Jess tampak sedikit "berbeda" dibandingkan teman-teman seusianya. Ia pendiam, suka menyendiri, dan senang sekali membaca (novel favoritnya : Little Women). Sebagai peranakan kulit hitam, ia kerap mendapat masalah dalam pergaulan dengan teman-teman di sekolahnya. Ia tidak suka kelasnya. Ia merasa jauh lebih nyaman berada di dalam lemari pakaian ibunya daripada di dalam kelasnya.
Suatu hari, ia bersama kedua orang tuanya pergi mengunjungi kakeknya di Nigeria. Sebenarnya ia sudah menolak ikut, akan tetapi ibunya ingin mereka semua pergi dan berkenalan dengan keluarga besarnya di Nigeria. Jess tidak pernah menduga, di Nigeria ini ia bertemu dan bersahabat dengan Titiola (yang kemudian dipanggilnya TillyTilly).
TillyTilly muncul pertama kali di Rumah Anak Laki-laki, yakni satu unit bangunan tua dan lapuk yang sudah tidak pernah dipakai lagi. Letaknya tidak jauh dari rumah induk keluarga besar kakeknya. Sejak itu mereka pun berikrar untuk saling setia sebagai sahabat.
Persahabatan mereka terus berlanjut hingga Jess kembali Ke London, Inggris. Beberapa hari setelah kepulangannya, TillyTilly muncul dengan rok kotak-kotak hijau putih seperti murid sekolah. Jess yang senantiasa merasa kesepian dan sendiri tentulah gembira sekali dengan kehadiran "temannya" itu. TillyTilly benar-benar memenuhi janjinya untuk selalu setia. Ia bahkan membalaskan sakit hati Jess pada teman-teman dan guru yang suka mengejeknya. Karena TillyTilly tidak terlihat oleh orang lain, maka Jess-lah yang harus menanggung segala akibat perbuatan TillyTilly yang menjadi sangat posesif.
Lama-kelamaan perilaku Jess semakin terlihat aneh. Di sekolah dan di rumah selalu saja mendapat masalah. Akhirnya, ibunya membawa Jess ke seorang psikolog, Dr. McKenzie, yang mendiagnosis kasusnya sebagai kasus multiple personality disorder atau kepribadian ganda. Kesimpulannya, TillyTilly itu adalah alter ego Jessamy yang muncul setiap kali Jessamy merasa terancam dan marah.
Saya hampir setuju dengan Dr.McKenzie kalau saja tidak ada peristiwa permen jelly baby itu.
Novel (psikologi) yang menarik dengan racikan bumbu thriller lumayan menegangkan. Setidaknya berhasil memicu rasa penasaran pembaca akan bagaimanakah akhirnya, terutama demi mengetahui apa atau siapakah sebenarnya TillyTilly. Betulkah ia hanya teman khayalan atau satu kepingan pribadi Jessamy yang terbelah? Atau lebih jauh lagi, ia adalah arwah penasaran yang merasuki raga dan jiwa Jessamy?
Ketegangan terbangun sedikit demi sedikit seiring dengan perubahan karakter TillyTilly dari seorang gadis manis menjelma posesif dan kejam. Kita dibuat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Salah satu faktor yang membuat novel ini menarik adalah karena tokohnya anak-anak. Rasanya, ada kepolosan dan kejujuran tersendiri yang tidak terdapat dalam cerita-cerita dengan tokoh orang dewasa. Ingat saja misalnya, To Kill A Mockingbird (Harper Lee) atau Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi).
Dalam novel ini, Helen Oyeyemi sempat menyinggung perihal rasialisme yang terjadi di Inggris. Ia juga mengangkat budaya dan tradisi Nigeria untuk mendukung cerita agar tersedia alasan dan penjelasan logis di bagian-bagian yang bersifat mistis.
Helen Oyeyemi adalah penulis kelahiran Nigeria (1984) yang kemudian menetap di London, Inggris. The Icarus Girl merupakan karya debutannya yang ia tulis saat masih duduk di bangku SMU.
Satu pertanyaan : mengapa judulnya The Icarus Girl ya? Apakah ini menggambarkan Jessamy yang selalu ingin terbang bebas seperti Icarus, anak Daedalus dalam mitologi Yunani yang ingin menggapai matahari dengan sayap lilinnya?
Endah Sulwesi 13/8
Posted at Sunday, August 13, 2006 by Perca
Permalink
Sunday, August 06, 2006
Judul asli : The Ivy Chronicles
Penulis : Karen Quinn
Penerjemah : Sujatrini Lisa
Penyunting : Hermawan Aksan
Penerbit : C / Publishing
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : ix + 443 hlm.
Kerap kali dalam kondisi terjepit seseorang jadi kreatif. Seluruh daya kemampuan dikerahkan demi keluar dari himpitan itu. Agaknya itu sudah merupakan naluri purba yang dimiliki setiap makhluk hidup agar tetap survive. Tapi tak jarang juga "kreativitas" itu malah mengarah pada kriminalitas yang menghalalkan segala cara.
Bagi Ivy Ames, 39 tahun, yang baru saja dipecat dari kantornya dan menangkap basah perselingkuhan sang suami, keadaan itu memaksanya berpikir keras untuk secepatnya mendapatkan pekerjaan baru agar kehidupannya bersama kedua orang anaknya bisa terus berlangsung. Untuk beberapa saat, uang pesangon yang diterimanya masih dapat diandalkan meskipun ia kudu pandai-pandai bermanuver sampai mendapatkan pekerjaan kembali.
Hidupnya nyaris berubah seratus delapan puluh derajat. Sebagai mantan menajer, ia terbiasa hidup berkecukupan. Tinggal di apartemen mahal, mobil mewah, rutin ke salon dan spa untuk perawatan kecantikan, pakian-pakaian mahal dari merek terkenal, makan malam di restoran bintang lima, anak-anaknya bersekolah di sekolah swasta yang bergengsi, dokter gigi, berbagai macam asuransi....Pokoknya segala tetek-bengek yang menjadi kebutuhan dan gaya hidup kelas atas ia lakoni.
Dengan pemecatan dirinya itu, mau tidak mau ia harus banting setir : pindah rumah ke daerah permukiman kelas dua, memindahkan anak-anaknya ke sekolah negeri, menghentikan semua kebiasaannya ke salon, puasa makan malam di resto mahal, menukar mobilnya, dan terutama, harus segera mengirimkan surat-surat lamaran kerja sebelum tabungannya ludes.
Namun, mencari pekerjaan di New York City bukanlah perkara mudah yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Banyaknya jumlah pencari kerja menimbulkan persaingan ketat yang hanya menyisakan pemenang bagi mereka yang betul-betul unggul. Apa lagi jika tak punya koneksi dan jaringan pertemanan yang luas. Bisa jadi selamanya akan menganggur.
Saat Ivy nyaris buntu harapan, tanpa diduga datanglah Faith, sahabatnya yang menikah dengan seorang miliuner. Faith yang tengah kesulitan mencari sekolah TK (Taman Kanak-kanak) swasta paling bergengsi untuk anaknya, meminta nasihat Ivy dan terbukti efektif. Dari pengalaman tersebut, timbullah ide dari Faith supaya Ivy membuka kantor layanan konsultan bagi para orang tua yang punya problem sama dengan dirinya.
Pada mulanya, Ivy yang kini menjadi orang tua tunggal, sama sekali tak yakin dengan gagasan kawannya itu. Mana ada sih orang tua yang bersedia buang-buang duit hanya untuk memperoleh informasi dan "bimbingan" dalam mencari sekolah TK untuk anak-anaknya? Pasti hanya orang tua yang kebanyakan duit seperti Faith dan Steven Lord saja yang mau memakai jasa konsultan semacam itu.
Akan tetapi ketika kebutuhan hidup kian terasa mendesak, Ivy tak bisa tidak tergoda juga untuk mencoba ide tersebut. Mulailah ia menyusun strategi untuk bisnis barunya itu. Sejak dari memasang iklan, mencari referensi serta informasi ihwal sekolah-sekolah kelas satu, sampai menyelenggarakan work shop segala.
Jerih payahnya hampir saja sia-sia belaka jika tidak ada peristiwa penyanderaan seorang kepala sekolah oleh orang tua murid yang kecewa anaknya tak diterima di sekolah tersebut. Penyanderaan itu berujung pada terbunuhnya sang kepala sekolah. Kejadian menghebohkan itu diliput oleh seluruh stasiun tivi dan berikutnya Ivy bak kejatuhan bintang dari surga. Dalam sekejap ia menjadi populer. Beberapa stasiun tivi mengundangnya untuk wawancara dan talk show sehubungan dengan tragedi itu. Ia dimintai pendapat sesuai kapasitasnya selaku konsultan/penasihat . Kontan saja namanya jadi sering disebut-sebut.
Kecelakaan itu berdampak positif bagi bisnis jasa konsultannya. Tak berapa lama, klien pun mulai berdatangan. Rupanya mencari sekolah yang baik telah lama menjadi masalah serius bagi para pasangan muda di NYC. Beraneka persoalannya. Ada yang kesulitan karena masalah ras, agama, atau juga status sosial. Di sinilah Ivy berperan membantu melicinkan jalan.
Dibungkus dengan gaya komedi situasi, novel The Ivy Chronicles karya Karen Quinn ini menampilkan sepotong kisah lika-liku kehidupan perempuan lajang di kota metropolitan yang keras, individualis, dan mahal. Karya pertama Quinn ini memang berangkat dari kisah nyata pengalaman sehari-harinya semasa masih bekerja sebagai penasihat sekolah. Sebuah profesi yang rasanya belum pernah ada di negeri kita.
Sebagaimana lazim terdapat pada kisah-kisah komedi, novel ini pun sarat dengan humor-humor segar yang amat menghibur. Quinn menulisnya dengan rapi dan manis menggunakan bahasa yang ringan sehingga pembaca ikut larut ke dalam cerita. Meski pun tokohnya tertimpa kemalangan beruntun, namun tidak lantas membuat kisahnya jadi cengeng dan penuh ratapan memohon belas kasihan. Malah sebaliknya. Si tokoh utama senantiasa berusaha kelihatan tegar, kocak, sabar, dan menganggap enteng segala kemelut yang dihadapinya (Bayangkan, di tengah-tengah kebangkrutannya, Ivy masih sempat kencan dengan George Clooney).
Drama semacam ini tak asing lagi bagi yang senang nonton film-film bergenre komedi romantis. Untuk novel biasa disebut chicklit atau metropop. Umumnya, cerita-cerita jenis begini berakhir bahagia.
Jika novel ini semata-mata diniatkan sebagai hiburan, Karen Quinn telah berhasil menjadi juru penghibur yang baik.
Endah Sulwesi 6/8
Posted at Sunday, August 06, 2006 by Perca
Permalink
Monday, July 31, 2006
Judul asli : Snow Flower and The Secret Fan
Penulis : Lisa See
Penerjemah : A.Rahartati Bambang H.
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : 551 hlm
Pertengahan 2006 ini, Qanita kembali menerbitkan novel karya Lisa See bertajuk Snow Flower. Ini merupakan novel Lisa See kedua setelah serial detektif Liu Hulan : Jaring-jaring Bunga yang terbit di awal tahun ini.
Berbeda jauh dengan novel terdahulunya yang bergenre detektif dengan setting mutakhir, Snow Flower mengusung tema persahabatan dan cinta berlatar budaya dan tradisi Cina abad 19, teristimewa menyangkut aturan bagi para wanita di sana, yang jika dicermati, umumnya justru sangat tak berpihak pada wanita dan berpusat pada melayani lelaki ("Jika kamu anak perempuan, patuhilah ayahmu; jika kamu seorang istri, patuhilah suamimu; jika kamu seorang janda, patuhilah anak lelakimu" - hlm.44)
Tengok saja umpamanya ihwal pengikatan kaki yang wajib dijalani oleh para bocah perempuan di sana (khususnya di kalangan bangsawan).Praktiknya ternyata mengakibatkan satu dari sepuluh anak yang menjalani pengikatan kaki, meninggal dunia. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, kaki lembut bocah usia 6 atau 7 tahun itu dibebat erat-erat sedemikian rupa sehingga keempat jari-jari mungil mereka tertekuk, menempel pada ceruk telapak kaki. Setelah itu mereka dipaksa berjalan keliling ruangan sepuluh kali setiap hari dalam kondisi kaki terikat kuat sampai akhirnya suatu hari tulang-tulang jari itu patah berderak. Kraaak...
Pada tahap ini, kaki-kaki yang diikat itu akan berdarah-darah dan bernanah. Kemudian secara perlahan-lahan membusuk.
Penderitaan itu belum berakhir sampai tercipta bentuk kaki ideal serupa kuncup teratai sepanjang hanya 7 sentimeter saja. Kaki seperti ini disebut juga kaki bunga lili emas. Kaki sempurna impian para gadis di Cina. Dengan modal kaki lili emas, berarti masa depan cerlang-cemerlang telah ada dalam genggaman : menjadi istri lelaki ningrat dan kaya-raya. Kaki mungil adalah bukti pengendalian diri serta kemampuan menahan derita hidup sebagai wanita terhormat. Pun merupakan bukti kepatuhan kepada keluarga dan orang tua. Untunglah, tradisi yang sangat tidak manusiawi ini telah lama berakhir.
Inilah yang dialami oleh dua orang sahabat setia : Lily dan Bunga Salju (Snow Flower). Mereka berdua dipertemukan sebagai sepasang kembaran sehati (laotong) oleh nasib dan tradisi. Persaudaraan laotong melibatkan dua orang gadis dari desa yang berbeda dan berlangsung seumur hidup. Kedua gadis tersebut harus dilahirkan pada hari, tanggal,bulan, dan tahun yang sama. Lily dan Bunga Salju memenuhi seluruh syarat sebagai laotong.
Maka, sejak hari pertama bertemu, kedua gadis kecil itu telah berjanji setia mengikatkan diri kepada laotong-nya sampai ajal memisahkan. Bersama-sama mereka melalui hari-hari anak gadis (remaja), hari-hari jepit rambut (menjelang pernikahan), dan hari-hari beras dan garam (menjadi istri dan ibu). Ikatan cinta laotong ini kadang-kadang melebihi suami istri.
Seterusnya, melalui kisah cinta mengharukan sepasang laotong ini, Lisa See membeberkan seluk-beluk tradisi dan adat istiadat Cina dengan lumayan rinci. Ia tidak berhenti hanya pada pengikatan kaki dan laotong saja. Ia bicara juga soal nu shu, tulisan rahasia kaum wanita.
Lewat nu shu, para wanita itu menjalin komunikasi di antara mereka. Saling bertukar warta dan cerita. Seperti layaknya sepucuk surat. Nu shu biasanya ditulis pada lipatan-lipatan kipas atau berupa bordiran di saputangan. Ini mengigatkan saya pada novel Perempuan-perempuan Haremku karya Fatima Mernissi yang juga terbitan Qanita. Pada Perempuan-perempuan Haremku, para perempuan yang dipingit itu menyatakan isi hati lewat karya-karya bordir dan sulaman. Hal lain yang juga mirip adalah "ruang atas" bagi para wanita pada Snow Flower hampir sama fungsinya dengan harem di novel karya Mernissi.
Sesungguhnya, soal nu shu inilah yang pertama kali mengilhami Lisa See menulis Snow Flower. Konon, pernah ada cerita tentang seorang wanita tua yang pingsan di sebuah stasiun tua. Saat polisi menggeledah, mereka menemukan lembar-lembar kertas berisi tulisan yang langsung dicurigai sebagai sandi/kode rahasia. Setelah diselidiki oleh para ahli, ternyata itu adalah tulisan rahasia yang khusus digunakan oleh para wanita alias nu shu. Lisa See sendiri pertama kali mendengar tentang nu shu saat menulis laporan buku Aching for Beauty karya Wang Ping untuk The Los Angeles Time (hlm 544).
Pada zamannya, nu shu bolehlah kita lihat sebagai sebuah bentuk pemberontakan halus dari para istri yang terkurung dan terkungkung dalam "ruang atas" itu.
Snow Flower ditulis Lisa See dengan gaya sebuah memoar, di mana Lily berperan sebagai "saya" sang narator, si empunya cerita. Gaya ini cukup berhasil menghidupkan plot, peristiwa, serta para tokohnya. Melalui perspektif Lily, perempuan konservatif dari keluarga rakyat biasa yang berhasil meraih kedudukan terhormat sebagai Lady Lu, Lisa See mengurai sisi kelam kehidupan para wanita Cina di abad 19 itu.
Lily agak mendekati karakter Madame Wu, tokoh novel ciptaan Pearl S.Buck yang juga berlatar etnis dan budaya Cina klasik. Lily bukanlah seorang wanita pemberontak. Ia menjalani kehidupannya sebagai sebuah takdir dan keniscayaan yang harus diterima. Ia anak perempuan yang patuh bagi orang tuanya, istri setia bagi suaminya, dan menantu kesayangan ibu mertua. Ia seorang yang meyakini bahwa apa bila ia menjalani dengan benar semua tradisi dan aturan yang telah ditetapkan bagi dirinya, maka ia akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.
Sayangnya, keberuntungan serupa tak menyertai Bunga Salju. Yang didapatnya hanyalah nasib buruk dan penderitaan semata : suami miskin berwatak kasar dan kejam serta seorang ibu mertua nyinyir yang senantiasa mencela dan menghinanya. Pada hal, kehidupan Snow flower di masa silam bergelimang harta dan kekuasaan. Di sinilah kesetiaan dan cinta Lily sebagai laotong mengalami ujian terberatnya. Mampukah ia tetap setia pada sumpahnya?
Sekali lagi, jika hendak membandingkan Snow Flower ini dengan Liu Hulan, akan tampak sekali perbedaannya, baik dari segi tema maupun teknik berceritanya. Snow Flower terasa lebih menggelitik dengan persoalan-persoalan perempuan yang dikedepankannya,lebih menyentuh emosi (khususnya bagi pembaca perempuan) serta lebih dalam dan detail memaparkan budaya Cina sebagai latarnya.
Endah Sulwesi 31/7
Posted at Monday, July 31, 2006 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|