Sunday, August 06, 2006
The Ivy Chronicles

Judul asli : The Ivy Chronicles
Penulis : Karen Quinn
Penerjemah : Sujatrini Lisa
Penyunting : Hermawan Aksan
Penerbit : C / Publishing
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : ix + 443 hlm.
 
Kerap kali dalam kondisi terjepit seseorang jadi kreatif. Seluruh daya kemampuan dikerahkan demi keluar dari himpitan itu. Agaknya itu sudah merupakan naluri purba yang dimiliki setiap makhluk hidup agar tetap survive. Tapi tak jarang juga "kreativitas" itu malah mengarah pada kriminalitas yang menghalalkan segala cara.
 
Bagi Ivy Ames, 39 tahun,  yang baru saja dipecat dari kantornya dan menangkap basah perselingkuhan sang suami, keadaan itu memaksanya berpikir keras untuk secepatnya mendapatkan pekerjaan baru agar kehidupannya bersama kedua orang anaknya bisa terus berlangsung. Untuk beberapa saat, uang pesangon yang diterimanya masih dapat diandalkan meskipun ia kudu pandai-pandai bermanuver sampai mendapatkan pekerjaan kembali.
 
Hidupnya nyaris berubah seratus delapan puluh derajat. Sebagai mantan menajer, ia terbiasa hidup berkecukupan. Tinggal di apartemen mahal, mobil mewah, rutin ke salon dan spa untuk perawatan kecantikan, pakian-pakaian mahal dari merek terkenal, makan malam di restoran bintang lima, anak-anaknya bersekolah di sekolah swasta yang bergengsi, dokter gigi, berbagai macam asuransi....Pokoknya segala tetek-bengek yang menjadi kebutuhan dan gaya hidup kelas atas ia lakoni.
 
Dengan pemecatan dirinya itu, mau tidak mau ia harus banting setir : pindah rumah ke daerah permukiman kelas dua, memindahkan anak-anaknya ke sekolah negeri, menghentikan semua kebiasaannya ke salon, puasa makan malam di resto mahal, menukar mobilnya, dan terutama, harus segera mengirimkan surat-surat lamaran kerja sebelum tabungannya ludes.
 
Namun, mencari pekerjaan di New York City bukanlah perkara mudah yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Banyaknya jumlah pencari kerja menimbulkan persaingan ketat yang hanya menyisakan pemenang bagi mereka yang betul-betul unggul.  Apa lagi jika tak punya koneksi dan jaringan pertemanan yang luas. Bisa jadi selamanya akan menganggur.
 
Saat Ivy nyaris buntu harapan, tanpa diduga datanglah Faith, sahabatnya yang menikah dengan seorang miliuner. Faith yang tengah kesulitan mencari sekolah TK (Taman Kanak-kanak) swasta paling bergengsi untuk anaknya, meminta nasihat Ivy dan terbukti efektif. Dari pengalaman tersebut, timbullah ide dari Faith supaya Ivy membuka kantor layanan konsultan bagi para orang tua yang punya problem sama dengan dirinya.
 
Pada mulanya, Ivy yang kini menjadi orang tua tunggal, sama sekali tak yakin dengan gagasan kawannya itu. Mana ada sih orang tua yang bersedia buang-buang duit hanya untuk memperoleh informasi dan "bimbingan" dalam mencari sekolah TK untuk anak-anaknya? Pasti hanya orang tua yang kebanyakan duit seperti Faith dan Steven Lord saja yang mau memakai jasa konsultan semacam itu.
 
Akan tetapi ketika kebutuhan hidup kian terasa mendesak, Ivy tak bisa tidak tergoda juga untuk mencoba ide tersebut. Mulailah ia menyusun strategi untuk bisnis barunya itu. Sejak dari memasang iklan, mencari referensi serta informasi ihwal sekolah-sekolah kelas satu, sampai menyelenggarakan work shop segala.
 
Jerih payahnya hampir saja sia-sia belaka jika tidak ada  peristiwa penyanderaan seorang kepala sekolah oleh orang tua murid yang kecewa anaknya tak diterima di sekolah tersebut. Penyanderaan itu berujung pada terbunuhnya sang kepala sekolah. Kejadian menghebohkan itu diliput oleh seluruh stasiun tivi dan berikutnya Ivy bak kejatuhan bintang dari surga. Dalam sekejap ia menjadi populer. Beberapa stasiun tivi mengundangnya untuk wawancara dan talk show sehubungan dengan tragedi itu. Ia dimintai pendapat sesuai kapasitasnya selaku konsultan/penasihat . Kontan saja namanya jadi sering disebut-sebut.
 
Kecelakaan itu berdampak positif bagi bisnis jasa konsultannya. Tak berapa lama, klien pun mulai berdatangan. Rupanya mencari sekolah yang baik telah lama menjadi masalah serius bagi para pasangan muda di NYC. Beraneka persoalannya. Ada yang kesulitan karena masalah ras, agama, atau juga status sosial. Di sinilah Ivy berperan membantu melicinkan jalan.
 
Dibungkus dengan gaya komedi situasi, novel The Ivy Chronicles karya Karen Quinn ini menampilkan sepotong kisah lika-liku kehidupan perempuan lajang di kota metropolitan yang keras, individualis, dan mahal. Karya pertama Quinn ini memang berangkat dari kisah nyata pengalaman sehari-harinya semasa masih bekerja sebagai penasihat sekolah. Sebuah profesi yang rasanya belum pernah ada di negeri kita.
 
Sebagaimana lazim terdapat pada kisah-kisah komedi, novel ini pun sarat dengan humor-humor segar yang amat menghibur. Quinn menulisnya dengan rapi dan manis menggunakan bahasa yang ringan sehingga pembaca ikut larut ke dalam cerita. Meski pun tokohnya tertimpa kemalangan beruntun, namun tidak lantas membuat kisahnya jadi cengeng dan penuh ratapan memohon belas kasihan. Malah sebaliknya. Si tokoh utama senantiasa berusaha kelihatan tegar, kocak, sabar, dan menganggap enteng segala kemelut yang dihadapinya (Bayangkan, di tengah-tengah kebangkrutannya, Ivy masih sempat kencan dengan George Clooney).
 
Drama semacam ini tak asing lagi bagi yang senang nonton film-film bergenre komedi romantis. Untuk novel biasa disebut chicklit atau metropop. Umumnya, cerita-cerita jenis begini berakhir bahagia.
 
Jika novel ini semata-mata diniatkan sebagai hiburan, Karen Quinn telah berhasil menjadi juru penghibur yang baik.
 
 
Endah Sulwesi 6/8

Posted at Sunday, August 06, 2006 by Perca
Comments (7)  

Monday, July 31, 2006
Snow Flower

Judul asli : Snow Flower and The Secret Fan
Penulis : Lisa See
Penerjemah : A.Rahartati Bambang H.
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : 551 hlm
 
Pertengahan 2006 ini, Qanita kembali menerbitkan novel karya Lisa See bertajuk Snow Flower. Ini merupakan novel Lisa See kedua setelah serial detektif Liu Hulan : Jaring-jaring Bunga yang terbit di awal tahun ini.
 
Berbeda jauh dengan novel terdahulunya yang bergenre detektif dengan setting mutakhir, Snow Flower mengusung tema persahabatan dan cinta berlatar budaya dan tradisi Cina abad 19, teristimewa menyangkut aturan bagi para wanita di sana, yang jika dicermati, umumnya justru sangat tak berpihak pada wanita dan berpusat pada melayani lelaki ("Jika kamu anak perempuan, patuhilah ayahmu; jika kamu seorang istri, patuhilah suamimu; jika kamu seorang janda, patuhilah anak lelakimu" - hlm.44)
 
Tengok saja umpamanya ihwal pengikatan kaki yang wajib dijalani oleh para bocah perempuan di sana (khususnya di kalangan bangsawan).Praktiknya ternyata mengakibatkan satu dari sepuluh anak yang menjalani pengikatan kaki, meninggal dunia. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, kaki lembut bocah usia 6 atau 7 tahun itu dibebat erat-erat sedemikian rupa sehingga keempat jari-jari mungil mereka tertekuk, menempel pada ceruk telapak kaki. Setelah itu mereka dipaksa berjalan keliling ruangan sepuluh kali setiap hari dalam kondisi kaki terikat kuat sampai akhirnya suatu hari tulang-tulang jari itu patah berderak. Kraaak... 
 
Pada tahap ini, kaki-kaki yang diikat itu akan berdarah-darah dan bernanah. Kemudian secara perlahan-lahan membusuk.
 
Penderitaan itu belum berakhir sampai tercipta bentuk kaki ideal serupa kuncup teratai sepanjang hanya 7 sentimeter saja. Kaki seperti ini disebut juga kaki bunga lili emas. Kaki sempurna impian para gadis di Cina. Dengan modal kaki lili emas, berarti masa depan cerlang-cemerlang telah ada dalam genggaman : menjadi istri lelaki ningrat dan kaya-raya. Kaki mungil adalah bukti pengendalian diri serta kemampuan menahan derita hidup sebagai wanita terhormat. Pun merupakan bukti kepatuhan kepada keluarga dan orang tua. Untunglah, tradisi yang sangat tidak manusiawi ini telah lama berakhir.
 
Inilah yang dialami oleh dua orang sahabat setia : Lily dan Bunga Salju (Snow Flower). Mereka berdua dipertemukan sebagai sepasang kembaran sehati (laotong) oleh nasib dan tradisi. Persaudaraan laotong melibatkan dua orang gadis dari desa yang berbeda dan berlangsung seumur hidup. Kedua gadis tersebut harus dilahirkan pada hari, tanggal,bulan, dan tahun yang sama. Lily dan Bunga Salju memenuhi seluruh syarat sebagai laotong.
 
Maka, sejak hari pertama bertemu, kedua gadis kecil itu telah berjanji setia mengikatkan diri kepada laotong-nya sampai ajal memisahkan. Bersama-sama mereka melalui hari-hari anak gadis (remaja), hari-hari jepit rambut (menjelang pernikahan), dan hari-hari beras dan garam (menjadi istri dan ibu). Ikatan cinta laotong ini kadang-kadang melebihi suami istri.
 
Seterusnya, melalui kisah cinta mengharukan sepasang laotong ini, Lisa See membeberkan seluk-beluk tradisi dan adat istiadat Cina dengan lumayan rinci. Ia tidak berhenti hanya pada pengikatan kaki dan laotong saja. Ia bicara juga soal nu shu, tulisan rahasia kaum wanita.
 
Lewat nu shu, para wanita itu menjalin komunikasi di antara mereka. Saling bertukar warta dan cerita. Seperti layaknya sepucuk surat. Nu shu biasanya ditulis  pada lipatan-lipatan kipas atau berupa bordiran di saputangan. Ini mengigatkan saya pada novel Perempuan-perempuan Haremku karya Fatima Mernissi yang juga terbitan Qanita. Pada Perempuan-perempuan Haremku, para perempuan yang dipingit itu menyatakan isi hati lewat karya-karya bordir dan sulaman. Hal lain yang juga mirip adalah "ruang atas" bagi para wanita pada Snow Flower hampir sama fungsinya dengan harem di novel karya Mernissi.
 
Sesungguhnya, soal nu shu inilah yang pertama kali mengilhami Lisa See menulis Snow Flower. Konon, pernah ada cerita tentang seorang wanita tua yang pingsan di sebuah stasiun tua. Saat polisi menggeledah, mereka menemukan lembar-lembar kertas berisi tulisan yang langsung dicurigai sebagai sandi/kode rahasia. Setelah diselidiki oleh para ahli, ternyata itu adalah tulisan rahasia yang khusus digunakan oleh para wanita alias nu shu. Lisa See sendiri pertama kali mendengar tentang nu shu saat menulis laporan buku Aching for Beauty karya Wang Ping untuk The Los Angeles Time (hlm 544).
 
Pada zamannya, nu shu bolehlah kita lihat sebagai sebuah bentuk pemberontakan halus dari para istri yang terkurung dan terkungkung dalam "ruang atas" itu.
 
Snow Flower ditulis Lisa See dengan gaya sebuah memoar, di mana Lily berperan sebagai "saya" sang narator, si empunya cerita. Gaya ini cukup berhasil menghidupkan plot, peristiwa, serta para tokohnya. Melalui perspektif Lily, perempuan konservatif dari keluarga rakyat biasa yang berhasil meraih kedudukan terhormat sebagai Lady Lu, Lisa See mengurai sisi kelam kehidupan para wanita Cina di abad 19 itu.
 
Lily agak mendekati karakter Madame Wu, tokoh novel ciptaan Pearl S.Buck yang juga berlatar etnis dan budaya Cina klasik. Lily bukanlah seorang wanita pemberontak. Ia menjalani kehidupannya sebagai sebuah takdir dan keniscayaan yang harus diterima. Ia anak perempuan yang patuh bagi orang tuanya, istri setia bagi suaminya, dan menantu kesayangan ibu mertua. Ia seorang yang meyakini bahwa apa bila ia menjalani dengan benar semua tradisi dan aturan yang telah ditetapkan bagi dirinya, maka ia akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.
 
Sayangnya, keberuntungan serupa tak menyertai Bunga Salju. Yang didapatnya hanyalah nasib buruk dan penderitaan semata : suami miskin berwatak kasar dan kejam serta seorang ibu mertua nyinyir yang senantiasa mencela dan menghinanya. Pada hal, kehidupan Snow flower di masa silam bergelimang harta dan kekuasaan. Di sinilah kesetiaan dan cinta Lily sebagai laotong mengalami ujian terberatnya. Mampukah ia tetap setia pada sumpahnya?
 
Sekali lagi, jika hendak membandingkan Snow Flower ini dengan Liu Hulan, akan tampak sekali perbedaannya, baik dari segi tema maupun teknik berceritanya. Snow Flower terasa lebih menggelitik dengan persoalan-persoalan perempuan yang dikedepankannya,lebih menyentuh emosi (khususnya bagi pembaca perempuan) serta lebih dalam dan detail memaparkan budaya Cina sebagai latarnya.
 
Endah Sulwesi 31/7

Posted at Monday, July 31, 2006 by Perca
Comments (11)  

Sunday, July 23, 2006
Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Penulis : Pramoedya A.Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Cetakan : I, April 2004

Tebal : 126 hlm.

 

Setiap kali menikmati karya-karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut Pram saja), saya selalu merasa dilempar bertahun-tahun ke belakang; mendatangi tokoh dan menjelajah peristiwa sejarah negeri ini. Pram memang kampiun dalam urusan menulis novel sejarah. Hampir seluruh karya yang dihasilkannya berlatar belakang sejarah. Beberapa di antaranya adalah : Arok Dedes, Arus Balik, Panggil Aku Kartini Saja, dan sudah tentu tetraloginya yang dahsyat itu.

 

Selain itu, saya pun merasakan semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang berkobar-kobar dalam karya-karya Pram. Sikap antikolonialisme (dalam segala bentuknya) tergambar dengan gamblangnya, menularkan semangat perjuangan kepada pembacanya. Pemihakannya kepada kaum kecil (rakyat jelata) yang tertindas amat jelas. Tokoh-tokoh ceritanya nyaris selalu orang-orang tak berdaya yang pada akhirnya memerdekakan diri melalui perlawanan dan pemberontakan. Lihat saja, misalnya Kartini (Panggil Aku Kartini Saja), Minke dan Nyai Ontosoroh (Bumi Manusia), Ken Arok (Arok Dedes). Dan karenanya, kisahnya pun jadi lebih sering terasa suram, kelam.

 

Kesuraman itu sekali lagi bisa kita temukan dalam novel pendeknya yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Menurut pengakuan Pram sebagaimana tertulis pada bagian Kata Pengantar, novel tipis ini merupakan reportase hasil kunjungannya ke Banten Selatan di akhir 1957.

 

Kisahnya sendiri barangkali hanya fiktif, namun beberapa karakter tokohnya diambil Pram dari orang-orang yang ditemuinya selama kunjungan tersebut. Ia menyebut salah satunya adalah Pak Lurah yang pernah ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan Cikotok.  Sedangkan peristiwa yang melatarinya adalah pemberontakan Darul Islam (DI). Satu peristiwa yang memang pernah terjadi dan dicatat dalam sejarah Indonesia.

 

Pak Lurah dalam novel ini berperan sebagai tokoh utama bernama Ranta. Ia adalah gambaran rakyat kecil miskin yang merupakan kelompok mayoritas penghuni republik ini. Penderitaan Ranta semakin menjadi-jadi akibat kelaliman Juragan Musa, seorang lintah darat yang diam-diam ternyata adalah salah satu pentolan DI di Banten Selatan. Ia digambarkan Pram sebagai sosok lelaki tamak, kasar, licik, dan doyan kawin. Ia berlaku jahat dan curang dalam setiap urusan, terutama kepada orang miskin seperti Ranta.

 

Kisah selanjutnya telah bisa ditebak. Ranta berontak. Ia yang secara tidak sengaja menemukan bukti-bukti keterlibatan Juragan Musa dengan DI, melaporkannya kepada Pak Komandan, pimpinan tentara yang ditugaskan menumpas DI. Berkat kerja sama (gotong-royong)  yang baik antara rakyat Banten Selatan dan tentara di bawah komando Pak Komandan, akhirnya pemberontakan itu dapat dipadamkan sebelum sempat membesar. Kemudian, Ranta yang telah diangkat menjadi lurah, bersama-sama seluruh warga bahu-membahu membangun kehidupan yang lebih baik.

 

Pram menulis novel ini pada 1958. Ia tampaknya gelisah oleh kondisi masyarakat yang dilihatnya di Banten Selatan tersebut. Di sana ia tak lagi menemukan tradisi gotong-royong. Padahal saat itu semangat gotong-royong amatlah dibutuhkan dalam situasi negara yang serba sulit : anggaran belanja kurang dan keamanan dirongrong oleh aksi pemberontakan di dalam. Melalui novelnya ini, Pram ingin menyalakan kembali semangat yang nyaris lenyap itu.

 

Pram menyatakan, bahwa cerita yang ditulisnya ini memang merupakan cerita bacaan, namun dapat pula dipentaskan di panggung (sebagai sebuah sandiwara). Naskahnya ini tanpa kalimat langsung yang memakai tanpa petik ("). Percakapan ditulis lurus saja seperti narasi, yang membedakannya adalah perpindahan spasi baru. Kata-kata dan istilah yang digunakan, benar-benar mewakili zamannya (dan sangat khas Pram). Umpamanya : juragan, nyonya, mandor, laki-bini.

 

Sekali Peristiwa di Banten Selatan memang bukan karya masterpiece sang maestro, akan tetapi ia merupakan sebuah "catatan" yang tak kalah penting dalam merekam peristiwa sejarah tanah air, khususnya Banten Selatan.

 

Ah..buat saya, apapun yang datang dari Pram, rasanya selalu bagus dan menarik. Saya  mungkin tak akan pernah bisa obyektif terhadapnya. Di mata saya, Pram masih sastrawan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

 

Endah Sulwesi 23/7

Posted at Sunday, July 23, 2006 by Perca
Comments (7)  

Thursday, July 20, 2006
E P I G R A M

   

Penulis : Jamal
Penyunting : Indah SP.
Penerbit : GPU
Cetakan : I, Mei 2006
Tebal : 375 hlm
Jamal tergolong novelis produktif. Hanya dalam kurun waktu 3 tahun sejak novel pertamanya, Louisiana Louisiana (2003) diluncurkan, ia telah menghasilkan 3 buah novel berikutnya : Rakkaustarina, Fetussaga, dan yang paling anyar, Epigram (2006)
 
Dari covernya, saya menduga Epigram adalah novel yang bercerita seputar kehidupan di rig (anjungan minyak lepas pantai). Dugaan saya tak terlalu meleset, meski juga tak sepenuhnya tepat.
 
Epigram terdiri dari dua bagian kisah, masing-masing ber-setting tahun 1989 dan 2003.
 
Dibuka dengan kisah ber-setting 2003; menceritakan kehidupan Kristunov, tokoh utamanya, di rig Troll B di Laut Utara, 75 km dari pantai Norwegia. Kris adalah penyelia proses pengeboran di rig kawasan Ormen Lange, Norwegia. Bagaimana Kris yang orang Indonesia bisa terdampar di tengah laut Utara? Bagian itu dituturkan secara kilas balik empat belas tahun ke belakang : 1989.
 
Tahun 1989 Kris masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Di novel ini dengan isengnya Jamal memberi nama perguruan tinggi tersebut UTT, kependekan dari Universitas Tralala Trilili. Sebuah keisengan yang amat disayangkan kerena membuat novel yang seharusnya bisa lebih serius ini jadi terasa main-main. Saya juga heran, mengapa Jamal memilih nama yang konyol itu padahal akhirnya toh pembaca mengetahui juga perguruan tinggi sebenarnya yang dimaksud : ITB (Institut Teknologi Bandung).
 
Tahun 1989, masih lekat dalam ingatan kita mungkin, peristiwa demonstrasi mahasiswa ITB menolak kehadiran Menteri Dalam Negeri di kampus mereka. Kedatangan Mendagri yang kala itu dijabat oleh mantan jendral Rudini dianggap sebagai upaya kampanye yang bersangkutan untuk tetap mempertahankan pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Mahasiswa ITB keberatan kampus mereka diintervensi oleh militer. Maka, pecahlah aksi unjuk rasa, berujung pada pemecatan beberapa orang mahasiswa yang ditengarai sebagai pentolan penggerak massa.
 
Berangkat dari peristiwa tersebut, Jamal menyuguhkan drama kehidupan dua orang aktivis mahasiswa penuh gejolak darah muda dengan idealisme menjangkau awan. Novel yang diawali dengan paparan serius, mendadak sontak terasa lumer, meleleh, mencair, di episode flash back ini. Kelakar berserakan di sepanjang halamannya; terutama dialog para tokohnya, Kris dan Nara beserta komplotannya.
 
Barangkali ini upaya Jamal menghidupkan cerita sesuai konteks. Oleh karena konteksnya dunia anak muda (mahasiswa), maka dialog dan paparannya dibuat ringan-ringan saja, gaul, nyantai, dan cuek. Kesan "main-main" semakin menguat. Mungkin banyak juga pembaca yang malah merasa terhibur oleh humor-humornya.
 
Selain itu, pada bagian ini Jamal tiba-tiba juga jadi ceriwis dan nyinyir. Maksudnya mungkin ingin kritis pada penguasa otoriter, namun malah terjebak jadi seperti pamflet yang riuh-rendah oleh protes dan kecaman sembari tetap menyamarkan nama-nama tokoh penting yang terkait peristiwa ini, hanya disebutkan jabatannya saja. Mestinya, Jamal tak perlu khawatir dengan penyebutan nama-nama itu, sebab sekarang zamannya sudah beda. Iklim kebebasan kini relatif sudah jauh lebih kondusif ketimbang era Soeharto.
 
Berikutnya, unjuk rasa tersebut berbuntut ditangkapnya Kris dan Nara oleh aparat militer (tentara). Di dalam tahanan mereka mengalami siksaan fisik dan teror psikologis setiap hari sampai akhirnya datang juru selamat yang membantu mereka melarikan diri hingga ke luar negeri. Kris ke Eropa, sedangkan Nara ke Amerika Serikat.
 
Selanjutnya, soal Nara tak banyak diceritakan lagi. Singkatnya, ia selamat. Kris juga selamat, malah meraih sukses gemilang dalam studi dan karier di sebuah perusahaan minyak Norwegia. Kris sempat juga mengalami malam-malam dengan mimpi buruk masa ia ditahan. Pengalaman tak menyenangkan selama di tahanan itu menorehkan trauma psikologis yang mengarah pada pembelahan kepribadian dalam kadar yang ringan; dan Jamal menyelesaikannya juga dengan ringan : cukup dengan sedikit sentuhan berbau supranatural a la paranormal.
 
Oya, sudah barang tentu Jamal tak ketinggalan menyisipkan roman asmara kedua jagoan dengan karakter yang nyaris sempurna ini : miskin, bengal, pemberontak tapi pandai dan tampan pula. Tipikal cowok idaman yang hanya ada di novel atau film.
 
Epigram sesungguhnya sebuah novel serius (dan saya yakin pasti digarap dengan sangat serius. Menurut pengakuan Jamal, ia menyelesaikannya dalam waktu 5 bulan), hanya sayang sekali sempat sedikit tersandung di bab-bab "mahasiswa" yang cair tadi. Tapi tak mengapa. Dan jika yang dicari pembaca sebuah penghiburan, novel ini lumayan menghibur kok.
 
Endah Sulwesi 20/07

Posted at Thursday, July 20, 2006 by Perca
Comments (2)  

Saturday, July 15, 2006
Misteri Lukisan Vermeer

Judul Asli : Chasing Vermeer
Penulis : Blue Balliett
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penyunting : Maria M.Lubis
Penerbit : Little K
Cetakan : I, Juni 2006
Tebal : 309 hlm.
 
Ada beberapa alasan mengapa saya suka membaca buku cerita anak-anak. Pertama, karena hampir bisa dipastikan dari setiap buku anak-anak itu saya mendapat penghiburan : bumbu humor menyegarkan yang timbul dari karakter tokoh-tokohnya ataupun jalinan kisahnya, menularkan suasana ceria sepanjang membacanya. Kedua, unsur misteri yang menimbulkan rasa penasaran. Ketiga, kandungan nilai-nilai persahabatan yang kerap kali terasa menyentuh.
 
Ketiga hal tersebut di atas juga yang saya harapkan bisa saya dapatkan di Chasing Vermeer, novel kanak-kanak (terjemahan) terbaru dari penerbit Little K, sebuah penerbit di bawah payung Mizan Grup yang khusus menerbitkan buku-buku cerita anak.
 
Chasing Vermeer ditulis oleh Blue Balliett, seorang sarjana sejarah seni di Chicago. Ia menyelesaikan proyek novel ini selama lima tahun. Waktu yang lumayan lama untuk menulis sebuah novel kanak-kanak.  Di New York City, kota kelahirannya, untuk pertama kalinya ia mengenal lukisan karya Vermeer. Tak heran jika kemudian ia menjadikan Vermeer salah seorang pelukis yang paling dikaguminya.
 
Semasa masih menjadi guru di Sekolah Laboratorium Universitas Chicago, Blue sering mengajak para muridnya berkunjung ke museum-museum seni. Pengalaman inilah yang sebagian mengilhaminya menulis Chasing Vermeer.
 
Pelukis asal Belanda bernama lengkap Johannes Vermeer ini konon sepanjang hayatnya hanya sempat membuat 35 lukisan. Salah satu yang termasyhur adalah A Lady Writing, dibuat tahun 1665.
 
Pada Chasing Vermeer, A Lady Writing hilang dicuri dalam perjalanannya dari Washington menuju Chicago untuk sebuah pameran.  Upaya menemukan kembali adikarya Vermeer tersebut melibatkan dua orang anak, Petra dan Calder, murid-murid Miss Hussey. Petualangan mereka inilah yang tertuang sebagai inti cerita Chasing Vermeer
 
Semestinya, Chasing Vermeer ini bisa menjadi sangat menarik jika saja ketiga hal yang telah saya sebut di awal tadi terpenuhi. Unsur humor, misalnya, terasa kering sekali dalam novel ini. Petra dan Calder seharusnya bisa tampil dengan karakter lebih ceria sebagai bocah sekolahan usia 12 tahun. Karakter mereka terlalu serius. Ada sih lontaran-lontaran guyonan tetapi tidak cukup mendatangkan suasana riang.
 
Mungkin yang rada lumayan adalah kandungan misterinya, kendati itu pun masih menyisakan ganjalan yang mengganggu kenikmatan oleh karena terlampau banyak faktor kebetulannya. Untuk sebuah kisah misteri, hal tersebut bisa berakibat cerita jadi terasa kurang seru dan terkesan menggampangkan (pemecahan) masalah.
 
Berbeda sekali - jika ingin diambil perbandingan - dengan serial Lima Sekawan (Enid Blyton) dalam mengungkap pelaku kejahatan. Pada Chasing Vermeer saya melihat sesuatu yang agak irasional, yakni memperoleh petunjuk lewat mimpi. Menurut saya, ini sedikit tak lazim. Pun ide menggunakan rangkaian pentomino (suatu alat matematis yang terdiri dari dua belas keping yang masing-masingnya terbuat dari lima bujur sangkar yang saling bersinggungan. Satu polanya berbentuk huruf seperti dalam alfabet, di antaranya "I" dan "L") tampak "sia-sia", sebab tadinya saya kira bakal dipakai selaku alat bantu memecahkan kasus.
 
Tetapi, bukan berarti keseluruhan kisah petualangan Petra dan Calder ini tak asyik dinikmati. Setidaknya, pembaca memperoleh informasi mengenai Johannes Vermeer serta keajaiban pentomino yang menakjubkan. Apa lagi ditambah dengan ilustrasi gambar hasil coretan Brett Helquist serta sisipan selembar pentomino dan cara membuatnya sebagai bonus.
 
Endah Sulwesi 15/7

Posted at Saturday, July 15, 2006 by Perca
Comments (15)  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed