|
|
 |
 |
|
Tuesday, July 22, 2008
(24) Fu, Bilangan Politis Ayu Utami
Judul buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Cetakan: I, 2008
Tebal: 536 hlm
Setelah Saman terbit (1998) dengan segala kehebohannya, citra penulis vulgar seolah-olah melekat pada diri pengarangnya, Ayu Utami (40). Citra ini bahkan tersiar sampai ke luar Indonesia. Fakta ini baru saya ketahui kira-kira dua minggu silam dari percakapan saya dengan 6 orang teman dari Malaysia yang mengaku sebagai “ulat buku”, sebutan di negeri jiran itu untuk kutu buku. Saat mereka berkunjung ke Jakarta pada acara Pesta Buku Jakarta 2008 yang lalu, mereka emoh menuruti saran saya untuk juga membeli (dan membaca) novel-novel Ayu Utami selain tetraloginya Pram lantaran kabar yang mereka dengar buku-buku Ayu itu porno.
Citra porno yang telanjur menempel pada perempuan lajang bertubuh ramping ini juga sempat membuat teman-teman saya yang hendak membeli (dan membaca) buku ini mempertanyakan : masih sejenis nggak ya buku ini dengan Saman?
Setamat saya membaca novel setebal 500-an halaman ini, saya baru bisa mengatakan, bahwa buku ini berbeda dengan karya Ayu terdahulu, Saman dan Larung.
Bilangan Fu barangkali akan menjadi sebuah cerita yang “berat” seandainya Ayu tidak menuliskannya dengan bahasa yang gurih, sebab ia, novel ini, memuat gagasan dan kritik Ayu pada tiga hal yang dianggapnya sebagai ancaman kebebasan dan demokrasi, yakni 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Tema yang serius, bukan? Namun, secara cerdik Ayu menyiasatinya melalui jalinan kisah dua pemuda pendaki tebing yang tampan dan cerdas: Yuda dan Parang Jati.
Kedua lelaki muda yang sehat itu menjadi simbol dan sekaligus para pahlawan di novel ini yang memerangi segala bentuk penzaliman dan penganiayaan kepada alam dan manusia. Yuda dan Parang Jati tidak berdiri berseberangan sebagai dua orang seteru, tetapi justru saling bahu-membahu menjadi protagonis melawani musuh bersama: ya 3 M itu.
M yang pertama, modernisme, menurut Ayu menjadi penyebab utama rusaknya lingkungan akibat eksploitasi manusia modern yang kelewat batas dan lupa menghormati alam. Manusia modern tak percaya lagi pada segala bentuk keramat dan cerita-cerita takhayul ihwal roh-roh halus penunggu pohon besar, sungai, gunung, dan samudera. Padahal kepercayaan pada takhayul dan keberadaan roh-roh halus yang dahulu “diimani” oleh masyarakat adat telah mampu menyelamatkan alam dari kebinasaan. Kerena percaya bahwa setiap benda dan tempat ada yang punya, mereka tak berani berlaku sewenang-wenang. Tetapi kini seiring dengan semakin lunturnya kepercayaan tersebut, semakin parahlah perusakan yang terjadi.
Kritik dan kampanye anti-perusakan lingkungan ini disampaikan Ayu dengan memilih dunia panjat tebing sebagai latar kisahnya. Yuda dan Parang Jati mengenalkan agama baru mereka : pemanjatan bersih atau yang lebih ekstrem lagi sacred climbing, yaitu teknik memanjat dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tidak melukai tebing-tebing dengan alat-alat panjat modern seperti bor dan paku.
M yang kedua adalah monoteisme. Ayu meyakini, bahwa agama-agama langit yang monoteis memiliki persoalan mendasar dalam menerima perbedaan. Ayu menggambarkannya melalui permusuhan antara Kupukupu dan Parang Jati. Kupukupu adalah lambang mereka yang merasa diri paling benar dengan agama yang mereka peluk dan lalu merasa berhak mengadili serta mengkafirkan orang lain yang menganut kepercayaan yang berbeda dengannya. Mereka tak menyisakan ruang bagi perbedaan. Fundamentalis, begitulah tepatnya. Pada bagian inilah Ayu memperkenalkan filosofi bilangan fu yang lebih bermakna metaforis ketimbang matematis. Ini menyangkut pengertian akan Tuhan yang satu yang sering diartikan secara matematis.
Dan M yang ketiga adalah militerisme. Pendapat Ayu bahwa militerisme merupakan musuh utama demokrasi berangkat dari masa Orde Baru, di mana peran militer sangat dominan. Dengan kekuatan dan caranya sendiri, militer menebar teror, ketakutan, dan kekerasan di masyarakat demi mempertahankan kekuasaan. Kebebasan pers dibungkam, acara-acara seni dan sastra dimata-matai, diskusi dan kumpul-kumpul dianggap makar, sebversi. Kita yang sempat mengecap hidup di masa gelap tersebut tentu tahu betul rasanya.
Novel dengan beban gagasan seberat itu tentu akan terasa membosankan jika tak pandai-pandai mengemas dan menyajikannya. Bilangan Fu nyaris terjerumus menjadi novel demikian seandainya Ayu hanya fokus pada ide besarnya itu dan melupakan unsur-unsur “hiburan” dalam bukunya ini. Unsur-unsur hiburan itu di antaranya bumbu seks, asmara, dialog-dialog yang bernas, plot yang tidak linear, dan humor. Kendati saya sempat terserang jenuh juga oleh banyaknya kutipan kliping surat kabar dan majalah, “artikel” serius Parang jati, serta dialog panjang lebar Yuda dan Parang Jati yang sangat ilmiah, namun secara keseluruhan novel ini enak dibaca.
Lantas, bagaimana dengan cinta segitiga seperti yang diiklankan dalam sinopsis di sampul belakang buku ini? Ah, rasanya saya tidak menemukan adanya asmara tiga sisi di novel ini. Ayu tidak pernah secara terang-terangan menampilkan percintaan segitiga antara Yuda, Marja, dan Parang Jati. Marja itu pacar Yuda yang dengan tersirat dan samar-samar–melalui dugaan-dugaan Yuda–diceritakan juga menaruh hasrat kepada Parang Jati. Jadi, jika Anda berharap akan bertemu kisah cinta segitiga yang menggelora dalam novel ini, siap-siaplah kecewa.***
Posted at Tuesday, July 22, 2008 by Perca
Permalink
Friday, July 04, 2008
(23) Children of The Lamp; The Akhenaten Adventure
Judul buku: The Children of The Lamp
Penulis:P.B. Kerr
Penerjemah: Utti Setiawati
Penyunting: Akmal N.B. & Fahmi
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, 2008
Tebal: 416 hlm
Anda percaya jin? Percaya penuh atau separuh atau justru tidak percaya? Saya sih rada-rada tidak percaya, sebab belum pernah bertemu langsung dengan makhluk yang berasal dari alam gaib itu. Memang sih, dalam ajaran agama saya, Islam, keberadaan bangsa jin diakui. Malah ada yang menggolongkannya dalam 2 jenis: jin kafir dan jin Islam. Yang pertama itu adalah jin jahat yang tidak mau menuruti perintah Tuhan; sedangkan yang terakhir jin saleh yang selalu mematuhi penciptanya.
Jin yang saya ketahui hanyalah jin-jin dalam dongeng-dongeng yang berasal dari Kisah 1001 Malam. Tentu saja yang paling terkenal adalah jin yang keluar dari lampu ajaib milik Aladin. Atau kalau hendak mengembara ke masa kecil saya adalah jin cantik berambut pirang bermata biru dalam serial tivi era '70-an : I Dream of Jeannie. Jin perempuan ini tinggal dalam botol dan pandai menyihir. Ia akan mengabulkan setiap permintaan majikannya yang tampan.
Baiklah. Rasanya cukuplah cuap-cuap tentang jin sebagai pengantar ulasan saya untuk buku fantasi Children of The Lamp. Mengapa jin? Ya sebab buku ini berisi dongeng khayalan ihwal jin hari ini yang hidup dan tinggal di tengah-tengah manusia (di sini disebut mundane; sedangkan di Harry Potter Rowling memakai istilah muggle).
John dan Philippa baru tahu kalau diri mereka ternyata berdarah campuran separuh jin dan separuh manusia. Ibu mereka yang jelita, Layla, berasal dari bangsa jin yang menikahi Edward Gaunt, pria Amerika.
Layla tidak mengira kedua anak kembarnya menjelma jin jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Pada usia 12 tahun mereka kudu menerima takdir mereka sebagai jin muda yang ditandai oleh tumbuhnya gigi geraham bungsu. Dokter gigi mereka menganjurkan agar gigi-gigi tersebut dicabut melalui operasi.
Saat menjalani operasi itulah, dalam kondisi tidak sadar karena anestesi, kedua kembar berjumpa dengan Nimrod, paman mereka yang tinggal di London. Dalam pertemuan tersebut Nimrod meminta mereka untuk datang ke London dan berjanji akan melatih mereka menjadi jin yang keren.
Maka, lantas John dan Philippa terbang ke London. Di sana Nimrod menepati janjinya melatih mereka hidup sebagai jin : masuk ke dalam botol, berubah wujud, meniadakan dan mendatangkan benda-benda, dll. Nimrod tak semata-mata mengajarkan, tetapi juga mempersiapkan keduanya untuk menghadapi serangan dari jin jahat yang ingin mengembalikan kejayaan mereka seperti di masa lampau. Tanpa mampu dicegah, John dan Philippa tahu-tahu sudah terlibat dalam sebuah petualangan seru di Mesir, menyingkap misteri makam Akhenaten dan para firaun.
Saya sebetulnya tidak begitu suka kisah-kisah fantasi (kecuali Harry Potter yang menurut saya idenya sungguh luar biasa). Tapi sesekali sih boleh juga sebagai selingan. Apa lagi jika ternyata bukunya enak dibaca seperti Children of The Lamp ini.
Buku ini saya bilang enak dibaca lantaran banyak terdapat humor di dalamnya yang bikin tersenyum dan tertawa. Misalnya, pada bagian Groanin yang kepedasan menyantap "creemy special special". Pelayan Nimrod yang setia dan suka menggerutu ini sampai tak sadar meminum air di vas bunga yang sudah melumut (iiiuuuuuuuh….) untuk menghilangkan rasa pedas yang membakar lidahnya. Saat itu saya kok teringat Squideward, tokoh cumi-cumi dalam film kartun SpongeBob SquarePants.
Dari segi cerita tidak ada yang baru. Artinya, seperti lazimnya buku cerita anak-anak, sangat hitam-putih. Yang baik mengalahkan yang jahat, ada pahlawan dan ada pecundang. Ada petualangan dan keajaiban. Dan yang paling penting ada kegembiraan, satu hal yang membuat saya menyukai buku anak-anak.
Mengenai tokoh-tokohnya yang berasal dari bangsa jin, tentu juga bukan barang asing. Sebagaimana telah saya singgung di atas, jin sudah cukup dikenal anak-anak melalui hikayat Seribu Satu Malam.
So, dapat apa kita dari buku karya P.B. Kerr ini? Tentu terutama sekali mendapatkan penghiburan. Selanjutnya adalah pengetahuan lebih dalam lagi ihwal firaun dan seluk-beluk per-jin-an. Itu pun kalau Anda rela memercayainya.***
Posted at Friday, July 04, 2008 by Perca
Permalink
Monday, June 16, 2008
(22) Adam Hawa Versi "Lucu-Lucuan"
Judul: Adam Hawa
Penulis: Muhidin M.Dahlan
Penerbit: ScriPta Manent
Cetakan: I, 2005
Tebal: 166 hlm.
Adam dalam kitab-kitab suci agama langit, Islam, Nasrani, dan Yahudi, dipercaya sebagai manusia pertama ciptaan Tuhan. Makhluk berjenis kelamin lelaki ini, masih menurut kitab-kitab suci itu, dibuat dari tanah. Sebelum kemudian ia diusir dari Surga, Tuhan telah berbaik hari memberinya seorang kawan yang–sebagaimana tertulis dalam ayat-ayat Tuhan–diciptakan dari seruas tulang iga Adam sebelah kiri (barangkali dari sini berawal penempatan perempuan dalam saf salat berjamaah). Tersebab Adam melanggar larangan Tuhan untuk tidak menyentuh atau apa lagi sampai berani memakan buah khuldi–buah yang hanya tumbuh di Surga (ada juga versi yang menyebutnya apel)–ia pun dihukum Tuhan dengan dilemparkan ke bumi bersama "rusuk kirinya". Itulah sejarah yang selama ini diimani sebagai asal mula adanya manusia di bumi.
Oleh penulis "gemblung" Muhidin M. Dahlan, "sejarah" suci itu ditulis kembali dengan gaya kelakar yang bisa jadi bikin pembaca yang relijius akan merah kuping dan "berasap" kepalanya. Pasalnya Adam Hawa dalam versi Gus Muh atawa Gus Pengasap ini tampil dalam sosok yang "berbeda". Oh, bahkan Gus Sinting ini berani menuliskan bahwa Hawa bukanlah perempuan pertama, sebab yang pertama itu adalah Maia (ah..kenapa saya lalu jadi ingat Maia Ahmad, ya?)
Lantaran sebelumnya saya sudah sempat mencari kenal penulis muda yang banyak mendapat hujatan, terutama dari kelompok Islam karena keempat novelnya yang dianggap kelewat nyeleneh itu, maka saya sudah menyiapkan mental untuk bertemu dengan sebuah lakon yang "aneh".
Muhidin menyajikan dua versi "unik" mengenai penciptaan Adam. Versi pertama, ia mengartikan secara harfiah Adam yang dibuat dari tanah. Tuhan telah memerintahkan malaikat-malaikatnya yang setia untuk menemui kaum kurcaci yang terkenal mahir membuat patung. Pada orang-orang mungil ini, malaikat memesan sebuah patung lempung makhluk terbaru yang kelak dikenal sebagai manusia. Gambar dan rancangan patung tersebut dibuat sendiri oleh Tuhan dengan detail yang sangat sempurna. Ketika saatnya tiba, Tuhan menghembuskan kehidupan ke dalam tubuh patung lempung tersebut dan memanggilnya dengan nama Adam.
Versi kedua, Tuhanlah yang "melahirkan" Adam. Cuma karena Muhidin menafsirkan Tuhan berkelamin cowok (Ugh, mengapa harus ditafsirkan sebagai lelaki?) yang tidak memiliki rahim dan vagina, maka Adam lalu dikisahkan lahir lewat ketiak Tuhan yang dipenuhi bulu. Sungguh imajinasi yang, hmm, nakal. Saya bisa paham jika ada pembaca yang tidak berkenan dan misuh-misuh. Saya tidak tahu deh bagaimana reaksi FPI kalau membaca novel tipis ini.
Adam ternyata lebih suka dan sepakat dengan versi kedua. Sebab menurut hematnya versi pertama sangat tidak keren. Tercipta dari lempung? Oh, sungguh hina dan memalukan. Sebutan "putra Tuhan" tentu jauh lebih terhormat.
Setelah sekian lama sendiri di Taman Eden, pada suatu pagi Adam terkejut lantaran mendapati seorang makhluk lain yang sangat mirip dengan dirinya nangkring di batang pohon khuldi. Ah, tetapi setelah ia dekati, makhluk itu ternyata sedikit berbeda dengan dirinya. Bagian dadanya menggelembung, tidak rata seperti miliknya. Dan sebaliknya, di antara selangkangannya tidak terdapat gumpalan daging yang mirip akar tunjang seperti di tubuhnya. Makhluk itu menyebut dirinya Maia.
Lalu, tinggallah Maia bersama Adam di Taman Eden, di sebuah rumah batu (entah belajar dari mana Adam cara membuat rumah itu). Setiap detik mereka lewati dengan bercinta sampai kelelahan. Rupanya, Tuhan yang pandai itu telah melengkapi Adam dan Maia dengan hasrat berahi yang membuat keduanya saling tertarik dan bergairah satu sama lain. Tiada hari tanpa bercinta. Hingga pada suatu masa Maia tiba pada titik jenuh karena pasangannya kelewat dominan dan suka memerintah. Maia tak diperkenankan memiliki inisatif, bahkan dalam soal bercinta sekalipun. Ia harus selalu mematuhi kehendak Adam, tanpa boleh membantah sedikitpun. Maka, kemudian ia memutuskan minggat dari lelaki itu.
Nah, barulah setelah kepergian Maia entah ke mana, Tuhan memberikan Hawa sebagai penggantinya. Hawa yang penurut serta tak pernah menuntut. Disuruh apapun akan ia laksanakan dengan kepatuhan seorang budak kepada majikannya. Sebab, ia telah diperintahkan Tuhan untuk hanya mematuhi Adam. Ow..ow…inikah hulu sejarah masyarakat patriarkhi (male domination)?:D
Yah, saya cuma bisa mengatakan, sebagai sebuah novel, cara penggarapannya masih harus diamplas lagi supaya lebih halus. Untuk tema cerita, saya sama sekali tidak mempersoalkan. Saya pikir, demi kebebasan berkreasi, tema apapun boleh ditulis. Perkara mutu penulisannya, itulah yang perlu diperhatikan.
Untuk penerbitnya, sangat saya sarankan agar lebih memerhatikan ejaan. Saya menemukan banyak kekeliruan yang terkesan kebablasan. Misalnya, "memperoleh" ditulis "memeroleh", "memperlihatkan" ditulis "memerlihatkan", dll. Ini kan kebablasan, jangan mentang-mentang "memperhatikan" harus ditulis "memerhatikan". Sebab, kata dasar "memerhatikan" adalah "perhati", sedangkan "memperlihatkan", kata dasarnya adalah "lihat".
Komentar untuk Gus Muh : "Kau memang edan tenan, Gus!"
Posted at Monday, June 16, 2008 by Perca
Permalink
Tuesday, June 03, 2008
(21) "Taman" yang Kurang Bersih Disiangi
Judul buku: Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil
Penulis: remy Sylado
Penerbit: Tiga Serangkai
Cetakan: I, 2007
Tebal: 339 hlm.
Remy Sylado sudah sering menulis novel sejarah. Sebut saja misalnya, Kembang Jepun, Parijs van Java, dan Ca Bau Kan. Ketiganya merupakan fiksi berlatar sejarah. Kembang Jepun bersetting Surabaya, Parijs van Java menceritakan riwayat Bandung tempo doeloe, dan Ca Bau Kan adalah kisah ihwal sejarah orang-orang Cina di Betawi dan Semarang. Terakhir adalah Novel Pangeran Diponegoro yang menurut desas-desus akan terbit dalam tujuh jilid.
Diponegoro yang memiliki nama kecil Ontowiryo terlahir sebagai putra sulung raja Jawa, Hamengku Buwono III dengan salah seorang selirnya, Raden Ajeng Mangkarawati (putri bupati Pacitan), di Yogyakarta pada 11 November 1785. Sejak bayi ia diasuh dan dipelihara oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng, di sebuah puri di desa Tegalrejo. Di sini ia ditempa bermacam ilmu dan pengetahuan; mulai dari olah tubuh hingga olah batin. Ia dibesarkan dalam ajaran Islam dan tradisi Jawa yang berakar pada Hindu dan animisme.
Riwayat sang Pangeran yang ditulis sebagian berdasarkan Babad Diponegoro yang berjumlah empat jilid dengan keseluruhannya 1357 halaman ini, pada buku pertama dengan subjudul Menggagas Ratu Adil, mengisahkan masa kecil Ontowiryo hingga ia diangkat menjadi pangeran dengan nama Diponegoro; nama yang dipilihnya sendiri karena kekagumannya pada leluhur. Saat itu Kesultanan Yogyakarta diperintah oleh Hamengku Buwono II, kakek Diponegoro, yang kemudian dilucuti kekuasaannya oleh Gubernur Jendral Daendels. Daendels lalu mengangkat putra Hamengku Buwono II sebagai raja baru yang bergelar Hamengku Buwono III (ayahanda Diponegoro).
Diriwayatkan pula betapa Ontowiryo muda senang sekali membaca berbagai kitab, agama dan sastra, suluk, primbon, babad, tarikh, dll. Buku-buku itu diperolehnya dari pedagang kelontong keliling keturunan Thionghoa, Ong Kian Tiong (entahlah ia ini tokoh riil atau fiktif). Setiap hari, setelah beribadat di surau, Ontowiryo kerap menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tersebut. Selain itu ia juga mempelajari dan menekuni laku batin dengan tapa dan semadi ditambah olah tubuh sebagai bekal membela diri kelak menghadapi musuh bangsa Jawa : Belanda Setan.
Tentu kita sepakat, bahwa materi buku yang sarat unsur sejarah ini merupakan materi yang bagus sekali. Di dalamnya ada banyak informasi seputar sejarah kerajaan di Jawa, khususnya KesultananYogyakarta yang diacak-acak bangsa kulit putih, dari masa pemerintahan Daendels (Belanda) hingga Sir Stamford Raffles (Inggris).
Buku ini seharusnya bisa lebih baik lagi jika terbebas dari kekeliruan-kekeliruan yang bisa jadi berasal dari penulisnya atau penerbit yang mengetik ulang naskah ini, sebab konon Remy menulisnya dengan menggunakan mesik ketik. Yang beberapa kali terjadi adalah kejanggalan soal umur tokoh-tokohnya.
Umpamanya, pada halaman 72 : "Tapi dalam setiap waktu ada waktu-waktunya masing-masing. Umurku baru akan menginjak setengah abad. Padahal aku rasa–begitu yang aku lihat dalam mata terpejam di setiap tapaku–usia paling tepat untuk menjadi amirulmukminin sekaligus penatagama yang kalifatullah di tanah Jawa ini adalah angka 40."
Dialog di atas diucapkan oleh nenek buyut Ontowiryo kepada cucunya itu saat sang cucu berumur 23 tahun. Jika Anda tak malas berhitung, hitunglah berapa kira-kira umur orang tua Ontowiryo dengan berpatok pada kalimat yang saya kutip itu. Jika nenek buyutnya–berarti nenek dari orang tua Ontowiryo–baru berusia menjelang separuh abad, berapakah usia neneknya? Dan berapa usia ayah ibunya?
Anehnya, pada halaman 253, Remy menyebutkan, bahwa umur Hamengku Buwono II (putra Ratu Ageng) adalah 60 tahun. Saat itulah, saya dengan berat hati terpaksa berasumsi, demi menjaga kenikmatan membaca, bahwa telah terjadi salah ketik di halaman 72. Mungkin maksudnya, "menginjak seabad". Barulah urusan umur ini terasa masuk akal.
Namun, rupanya perkara umur yang janggal belum selesai. Masih tersisa satu lagi di halaman 334: Sayang, Sultan Raja hanya sebentar saja menikmati kereta bagus itu. Dua tahun setelah menjadi Sultan Hamengku Buwono III, pada 1814 dia wafat di usia 43 tahun.
Mari kita cermati lagi. Sultan HB III adalah ayah Diponegoro. Diponegoro lahir pada 1785. Ketika ayahnya meninggal pada 1814, ia berumur 29 tahun. Kalau pada wafatnya HB III berumur 43 tahun, itu artinya ia lahir pada 1771 dan pada 1785, saat ia baru berusia 14 tahun, punya anak Ontowiryo. Ah…kok sulit buat nalar saya menerima paparan ini meskipun telah saya coba memahaminya dengan mengaitkannya pada konteks zaman dulu di mana menikah muda itu sesuatu yang lazim. Tetapi, 14 tahun punya anak?
Saya penasaran. Akhirnya saya cari sumber lain. Ketemulah di internet sumber lain itu yang menyatakan bahwa HB III lahir pada 1769 dan wafat pada 1814. Nah, ini lebih masuk akal, sebab berarti pada saat punya anak ia telah cukup dewasa: 16 tahun. Sekali lagi saya harus menoleransi data di novel ini sebagai sebuah kesalahan pengetikan (Duh..banyak banget ya salah ketiknya? Dan kok kebetulan menyangkut hal yang penting).
Walaupun saya sempat kehilangan minat, saya teruskan juga menyelesaikan novel ini. Harus saya akui di luar masalah umur tadi, Remy adalah seorang pendongeng yang cukup mengasyikkan. Seperti pada buku-bukunya yang lain, Remy yang sangat menyukai bahasa asing sering menggunakannya dalam percakapan tokoh-tokohnya. Tak lupa juga ia menyelipkan humor-humor yang lumayan menyegarkan. Contohnya:
Sambil memandang ke langit, dia berkata, "Siapkan pasukan tempur hari ini juga. Kita akan bikin dia kebakaran janggut."
Wiese menyelang, katanya, "Dia tidak berjanggut, Tuan Gubernur Jendral." (hlm.211).
Sayangnya, sebagai pendongeng, Remy kerap melupakan detail. Kebetulan, pada saat yang bersamaan saya juga tengah membaca Rara Mendut, novel trilogi karya mendiang Romo Mangun yang diterbitkan kembali. Kebetulan pula, setting Rara Mendut sangat mirip dengan novel Remy ini : Jawa tempo doeloe.
Jika harus membandingkannya dengan Rara Mendut, Novel Pangeran Diponegoro akan terlihat kurang untuk urusan detail. Dalam Rara Mendut, dipaparkan detail motif kain batik yang dikenakan para raja, permaisuri, dan selir-selirnya. Juga hiasan pada keris dan benda-benda pusaka lainnya. Pun yang menyangkut tata cara adat kerajaan. Hal tersebut luput dari pengamatan Remy, termasuk penggunaan istilah bahasa Jawa untuk menyebut kakak lelaki dengan "kangmas". Alih-alih memakai sebutan "kangmas", Remy malah menggunakan istilah "kakak" saja (bab 15). Mungkin sepele, tetapi cukup bikin gatal.
Barangkali saya jenis pembaca yang cerewet untuk hal-hal demikian. Ibarat menikmati sebuah taman bunga, hal-hal yang bikin gatal tadi adalah rumput-rumput liar yang luput disiangi oleh pemilik atau tukang kebunnya. Alhasil, taman bunga yang seharusnya indah dipandang, jadi sedikit terganggu keasriannya. Harapan saya, pada buku selanjutnya (masih aka nada enam lagi) kesalahan-kesalahan tadi jangan sampai terjadi lagi.***
Posted at Tuesday, June 03, 2008 by Perca
Permalink
Sunday, May 25, 2008
(20) Masihkah Kita Percaya Keajaiban?
 Judul buku: Horeluya
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2008
Tebal: 236 hlm.
Rasanya sudah lama sekali saya tak membaca karya-karya Arswendo, penulis yang saya kenal sejak dekade 80-an ini. Boleh dibilang saya adalah penggemar mantan pemimpin redaksi tabloid Monitor ini. Saya mengikuti karya-karyanya, terutama fiksi, sejak cerita serial Imung dan Keluarga Cemara yang rutin terbit di majalah remaja Hai, cerita-cerita bersambungnya di Kompas yang kemudian dinovelkan (Opera Jakarta dan Opera Bulutangkis dengan memakai nama samaran Titi Nginung) sampai novel-novelnya yang lain (terakhir yang saya baca berjudul Canting).
Saya menyukainya sebab kisah-kisah yang digarapnya hampir selalu bertema realis, ihwal kehidupan “orang-orang kecil” yang berjuang keras menyiasati hidup. Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang sederhana; humor-humor yang miris, serta akhir yang kerap menyentuh. Tokoh-tokoh ceritanya dipungut dari orang-orang biasa dengan persoalan-persoalan yang biasa yang dapat dengan mudah kita jumpai sehari-hari di sekitar kita. Tokoh-tokohnya tak pernah berpretensi sebagai pahlawan tangguh atau manusia sempurna yang tak pernah berbuat salah. Mereka adalah manusia biasa yang sering putus asa dan tak luput dari dosa. Itulah yang membuat karya-karya Arswendo terasa begitu akrab dan membumi.
Demikian pula halnya Horeluya, novel terbaru karya penulis kelahiran Solo, 26 November 1948 ini. Dalam buku setebal hanya 200-an halaman ini, Arswendo sekali lagi kembali menyuguhkan sebuah realita masyarakat bawah yang kudu bertarung mengatasi musibah.
Adalah Lilin, bocah perempuan berumur 5 tahun yang menjadi sentral novel Horeluya. Pasalnya Lilin mengidap penyakit langka berupa kelainan darah yang hanya bisa disembuhkan melalui transfusi dari donor dengan golongan darah yang sejenis. Dari hasil tes laboratorium diduga ada kelainan pada sel darah merahnya. Lilin memiliki golongan darah rhesus negative dan tak mampu memproduksi sel-sel darah putih. Gangguan kesehatan yang paling remehpun akan sangat memperburuk kondisi Lilin, sebab ia tak memiliki kekebalan tubuh. Satu-satunya upaya penyembuhan medis adalah dengan cara transfui dari golongan darah yang sama. Malangnya, jenis darah Lilin tergolong jenis yang langka.
Dokter telah memvonis hidup Lilin tak akan lebih dari 3 bulan jika tidak segera mendapatkan donor. Segala upaya telah dilakukan oleh Eca dan Kokro, orang tua Lilin, demi kesembuhan anak mereka semata wayang.
Saat semua usaha medis menemui kebuntuan, sebagai keluarga Katholik yang taat, Eca dan Kokro, memanjatkan doa-doa, berharap terjadi sebuah keajaiban yang akan mengembalikan Lilin sehat seperti sedia kala. Setiap hari Eca berdoa di sebuah gereja tua di kampung mereka, di depan goa Maria, memohon kesembuhan bagi putrinya tercinta.
Diam-diam ternyata ada wartawan koran daerah yang iseng mengamati kebiasaan Eca berdoa di gereja itu. Adam, demikian nama wartawan tersebut, kemudian memasang foto Eca yang sedang berdoa disertai komentar : “Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini masih perlu menyembah patung atau berhala? Apakah patung akan memberikan jawaban, ataukah ikut menangis darah tanda prihatin?”
Penderitaan Eca dan Kokro semakin berat sebab kemudian Kokro diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik biskuit karena ulah sentimen pribadi seseorang yang dengki kepadanya. Untungnya usaha bikin spanduk yang pernah dirintisnya bersama Nayarana, adik lelakinya, masih bertahan. Naya yang urakan itu menjadi semacam penyeimbang sekaligus penghibur dalam kisah yang sedih ini. Gaya cuek Naya serta gurauan-gurauannya membuat Horeluya menjadi lebih berjiwa, wajar, dan manusiawi.
Meskipun akhirnya saya harus bilang, bahwa Horeluya bukan cerita yang terlalu istimewa, namun dengan segala “kesederhanaan” yang ditampilkannya, buku ini telah berhasil menyentuh saya, beberapa kali bahkan sempat membuat mata saya berkaca-kaca.
Seperti yang hampir selalu kita temukan dalam karya-karya Arswendo, Horeluya juga berangkat dari kehidupan sebuah keluarga Indonesia, Jawa khususnya, yang guyub, akrab, dan saling mencintai dengan caranya tersendiri. Satu keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga batih (ayah, ibu, anak) tetapi juga kadang-kadang ada anggota tambahan seperti adik, kakak, atau paman dan bibi yang mesti kita tampung karena alasan-alasan kekeluargaan. Sistem kekerabatan kita tidak membenarkan kita mengusir atau menutup mata menyaksikan keluarga kita sengsara.
Kecuali itu, Wendo juga memotret realita masyarakat kota kecil yang masih tebal relijiusitasnya; yang ketika berhadap-hadapan dengan musibah senantiasa berpaling kepada Tuhan, pemilik segala kekuatan. Kita masih sangat yakin, bahwa segala bencana dan penderitaan adalah ujian bagi keimanan kita sehingga sudah selayaknya kita menerimanya dengan sabar dan ikhlas. Kita masih percaya doa-doa akan menyelamatkan kita dari marabahaya. Kita mengimani, bahwa saat kita tak sanggup mengatasi persoalan–apa saja, mulai dari rezeki, penyakit, sampai urusan jodoh–sebaiknya kita serahkan saja kepadaTuhan. Sebab, semua berasal dari dan akan kembali kepada Tuhan. Duh, sungguh tidak enak jadi Tuhan kalau begitu karena harus mengurusi banyak masalah manusia.
Begitulah. Dalam buku ini Wendo menunjukkan bagaimana keajaiban bekerja. Bukan dengan sim salabim atau tongkat ajaib peri, tetapi oleh sebuah upaya nyata dan beberapa kebetulan yang logis yang barangkali memang sudah diatur Tuhan (Lah..kok Tuhan lagi akhirnya?).
Saya jadi ingat “teori” mestakung (semesta mendukung) yang pernah dinyatakan oleh Yohannes Surya, ketua Tim Olimpiade Fisika yang telah mengantarkan tim Indonesia menjadi juara dunia oliampiade fisika internasional di Singapura (2006). Mestakung diambil dari konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya akan bekerja serentak dan mencapai titik ideal. Mestakung menempatkan masalah dan rintangan menjadi kondisi kritis yang mendorong kekuatan-kekuatan alam mendukung upaya mewujudkan mimpi. Dalam setiap keadaan kritis, Yohannes yakin, mestakung pasti terjadi, di mana pun dan dalam bidang apapun. Bakan dalam kehidupan pribadi kita.
Dalam kasus Lilin di buku ini, kiranya demikianlah yang terjadi. Masalah percaya atau tidak, terserah Anda.***
Posted at Sunday, May 25, 2008 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|