Monday, March 17, 2008
(12) ALANGKAH BERKUASANYA PERS!

Judul buku: Dulu Aku Tikus! Atau Sepatu Merah

Judul asli: I Was a Rat! or The Scarlet Slippers

Penulis: Philip Pullman

Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani

Editor: Dina Pandia

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Desember 2007

Tebal: 250 hlm

 

Apa jadinya jika tikus yang disihir jadi pelayan Cinderella tak bisa lagi berubah ke wujud aslinya? Yang terjadi adalah dongeng keren berjudul I Was a Rat! karya Philip Pullman. Di buku berkover ungu ini Philip Pullman kembali membuktikan kepiawaiannya mendongeng. Dengan keliaran fantasinya Pullman menyodorkan pesan-pesan moral yang dikemas dalam keajaiban-keajaiban ciptaannya. Saya tidak yakin, apakah buku ini akan juga menyenangkan anak-anak yang membacanya mengingat di dalamnya memuat berbagai hal yang mestinya menjadi konsumsi orang dewasa. Oh..jangan khawatir, bukan pornografi atau kekerasan, tetapi barangkali sebentuk gagasan, seperti kekuasaan pers dan filosofi.

 

Baiklah, ringkasannya begini:

 

Pada suatu malam, suami istri Bob dan Joan kedatangan tamu. Ia seorang anak lelaki kecil, kira-kira berumur 9 tahun, mengenakan baju pelayan lusuh, dan berkata: “Dulu aku tikus!”. Bob, si pembuat sepatu, segera mempersilakan bocah dekil itu masuk dan memberinya makan serta tempat untuk tidur malam itu. Bob dan Joan yang telah menikah 32 tahun dan tidak dikaruniai anak, segera saja merasa sayang kepada anak kecil itu dan memberinya nama Roger.

 

Di rumah itu, Roger belajar menjadi anak laki-laki yang baik. Makan dengan sopan, mengucapkan terima kasih, dan bersekolah. Tetapi lantaran dulunya ia adalah seekor tikus, maka sifat-sifat ketikusan masih melekat padanya. Ia suka menggerogot, mengerat, dan memakan apa saja (seperti: pensil, kasur, seprai, dll). Ia juga kabur dari sekolah karena tak mau dihukum oleh gurunya. Tentu ia dihukum karena ketidakmengertiannya  akan beberapa hal yang harus dilakukan layaknya anak sekolah.

 

Roger tersesat dan mengalami beberapa kejadian buruk yang pada akhirnya membawanya ke penjara. Sementara itu, Bob dan Joan sedih dengan menghilangnya Roger. Mereka mencarinya ke seluruh penjuru kota sampai kemudian mereka mendapat petunjuk tentang keberadaan Roger dipenjara dari koran The Daily Scourge. Dengan berbagai cara, termasuk meminta pertolongan Putri Aurelia, suami istri yang baik hati ini berupaya mengeluarkan si Bocah Tikus dari jerat hukuman mati.

 

Seperti dua bukunya yang lain (Putri Si Pembuat Kembang Api dan Si Pembuat Jam), kali ini pun Pullman menyuguhkan sebuah dongeng yang menakjubkan, bukan saja untuk remaja tetapi juga bagi orang setua saya. Humor-humornya jahil, kocak, penuh sindirian kepada penguasa, petugas hukum, dan “orang-orang dewasa” lainnya yang suka sok pintar.

 

Kali ini Pullman mengambil setting ceritanya di Inggris, negeri yang terkenal dengan koran dan tabloidnya yang senang bergosip. Koran-koran tersebut, terutama yang besar-besar, terbukti memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap opini publik sehingga berita sepele bisa disulap menjadi head line dan bikin heboh berhari-hari. Bukan hanya masyarakat, bahkan pihak pemerintahpun sering tanpa sadar mengeluarkan kebijakan karena terpengaruh pemberitaan di surat kabar.

 

Dengan kekuasaan yang dimilikinya, media-media cetak itu membentuk  opini publik, memutarbalikkan fakta, membuat yang baik jadi tampak buruk atau sebaliknya, semata-mata demi tiras. Memang tidak semua seperti itu, namun dalam hal ini Pullman hendak menyampaikan fakta betapa berkuasanya pers, bahkan di sebuah negera sebesar Inggris sekali pun. Inilah yang saya maksud di atas dengan “hal yang mestinya menjadi konsumsi orang dewasa”.

 

Mungkin Pullman terinspirasi dongeng Cinderella dalam menciptakan I Was a Rat! ini. Tokoh Roger adalah salah seekor tikus yang disihir Peri Biru jadi pelayan Sang Putri ke pesta dansa. Meskipun Sang Putri bukan Cinderella, tetapi kisahnya mirip dengan Gadis Abu itu. Kemudian Pullman meraciknya sedemikian rupa, membawa keluar tikus itu ke dunia riil manusia yang keras, penuh iri dengki, kebohongan, kejahatan moral, sekaligus juga cinta kasih yang senantiasa terbukti–dengan kekuatannya– menjadi pemenang. Tidak ada yang bisa saya ucapkan untuk buku ini selain : keren banget!***

 

Endah Sulwesi 17/3

Posted at Monday, March 17, 2008 by Perca
Make a comment  

Sunday, March 09, 2008
(11) JARAK ITU ADALAH KASTA

Judul buku: Jarak Di Antara Kita

Judul asli: The Space Between Us

Penulis: Thrity Umrigar

Penerjemah: Femmy Syahrani

Penyunting: Dini Pandia

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Desember 2007

Tebal: 432 hlm.

 

India adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk paling padat di dunia. Negeri multietnis ini terus-menerus dirundung persoalan domestik menyangkut perselisihan antarras dan agama.  Bahkan jika dirunut sejarahnya, India telah berkali-kali mengalami perpecahan akibat perang antaragama itu. Terutama antara Hindu dan Islam. Perang sipil itu melahirkan Pakistan dan Bangladesh. Namun demikian bukan berarti masalah lantas selesai. Meski sudah bercerai, tetap saja terjadi rusuh dengan persoalan yang sama.

 

Di India, khususnya di masyarakat pemeluk Hindu, hingga hari ini masih berlaku sistem pembagian kasta. Sistem ini membuat masyarakat terbagi-bagi dalam kelas-kelas sosial yang berbeda berdasarkan keturunan dan juga ekonomi. Mereka yang berkasta Brahmana dan Ksatria biasanya berada di level menengah ke atas secara sosial ekonomi. Tingkat pendidikan mereka umumnya tinggi, kerena itu mereka juga memiliki pekerjaan yang baik.

 

Adapun kasta yang berada pada level bawah adalah Sudra dan kaum Paria. Mereka inilah yang menempati daerah-daerah kumuh di kota-kota besar seperti Bombay dan New Delhi. Bombay, sebagaimana Jakarta, adalah sebuah kota pelabuhan yang berkembang pesat. Di sana tinggal bukan hanya orang-orang berduit tetapi juga para kaum papa yang mencoba mengais remah-remah kehidupan. Mereka hidup dari bekerja sebagai pelayan atau pembantu rumah tangga (Cerita tentang masyarakat Bombay pernah ditulis dengan bagus oleh Dominique Lapierre dalam bukunya The City of Joy).

 

Mengambil setting Bombay, Thrity Umrigar menuliskan sebuah kisah sedih dalam novelnya yang berjudul The Space Between Us. Umrigar yang lahir dan dibesarkan di Bombay sebelum kemudian pindah dan menetap di M'rika (sebutan orang India untuk Amerika Serikat), tentu memiliki modal yang cukup untuk membangun ceritanya. Ditambah lagi pengalamannya sebagai jurnalis semakin menghidupkan detail-detail yang dirajutnya dengan apik dalam novel keduanya yang terbit pada 2006 di Amerika.

 

Novel ini memusatkan ceritanya pada dua orang perempuan dari dua kasta yang berbeda: Sera Dubash , si majikan, dan Bhima sang hamba sahaya. Hubungan keduanya unik, saling menyayangi dan menghormati sambil tetap menjaga jarak yang seharusnya antara majikan dan pembantu. Sebagai seorang majikan perlakuan Sera kepada Bhima sering dianggap terlalu baik. Sera telah menganggap Bhima sebagai anggota keluarganya walaupun masih tidak mengizinkan Bhima duduk di kursi dan minum dari cangkir mereka.

 

Keduanya begitu berbeda dalam banyak hal. Sera adalah seorang perempuan terpelajar dari keluarga kaya.Menikah dengan Feroz dan punya seorang putri, Dinaz. Sementara Bhima buta huruf dan selamanya miskin. Menjadi pembantu rumah tangga telah dilakoninya sejak ia remaja. Bhima menikah dengan Gopal dan memiliki dua orang anak. Namun karena suaminya pergi meninggalkannya, Bhima kini hanya tinggal berdua dengan Maya, cucu dari anak pertamanya yang meninggal karena AIDs.

 

Bhima telah mengabdi pada keluarga Dubash selama bertahun-tahun. Selama itu ia telah membuktikan diri sebagai pekerja yang baik bagi majikannya. Ia jujur, rajin, dan setia seperti anjing. Dan Sera membalas semua kerja Bhima dengan kebaikan yang sepadan: membayar Bhima dengan upah yang tinggi, menyantuni setiap kali Bhima mendapat kesusahan, dan membiayai sekolah Maya hingga perguruan tinggi.

 

Relasi kedua karakter ini digarap dengan intens dan rapi sehingga kemudian terungkaplah masing-masing persoalan yang mengungkungi keduanya. Sera yang tampak bahagia dengan rumah tangganya sebenarnya menyimpan luka dan trauma akibat perlakuan kasar Feroz dan campur tangan ibu mertua yang kelewatan. Lewat tokoh Sera, Umrigar menunjukkan kehidupan masyarakat kelas atas; sedangkan melalui sosok Bhima, kita diajak menyelami dan melihat lebih banyak lagi penderitaan orang miskin. Dengan caranya masing-masing kedua perempuan tegar ini berusaha bertahan menjalani nasib dan takdir mereka. Barangkali, inilah wajah India hari ini.

 

Dua per tiga novel ini mengupas secara bergantian riwayat Sera dan Bhima. Konflik baru terbuka di sepertiga bagian menjelang akhir kisah. Konflik yang dipicu oleh kehamilan Maya di luar nikah itu menjadi klimaks yang memilukan sekaligus mengesankan. Bhima, sosok yang bermartabat dan penuh harga diri ini, telah membuat saya–tanpa ragu– menobatkannya sebagai "pahlawan".

 

Melalui The Space Between Us ini Umrigar dengan cemerlang telah menyuguhkan sebuah kisah kehidupan manusia yang sangat menyentuh perasaan. Karakter-karakternya begitu hidup; bergelut dengan persoalan-persoalan realis yang kerap kita jumpai dalam keseharian kita, terutama dalam kultur ketimuran yang khas. Mungkin karena kemiripan budaya dan tradisi antara India dan Indonesia, beberapa hal yang diungkap terasa akrab dan tidak asing lagi; sehingga lebih mudah bagi kita untuk memahami dan bersimpati kepada tokoh-tokohnya. Tetapi tentu, memikatnya novel ini, terutama berkat penggarapan yang nyaris tanpa cacat. ***

 

endah sulwesi 9/3

Posted at Sunday, March 09, 2008 by Perca
Make a comment  

Monday, March 03, 2008
(10) TAKHTYA ATAU TAKHTA?


Judul buku: TAJ: Tragedi di Balik Tanda Cinta Abadi

Judul asli: Taj: A Story of Mughal India

Penulis: Timeri N. Murari

Penerjemah: Maria M. Lubis

Penyunting: Andhy Romdani

Penerbit: Mizan

Cetakan: I, 2007

Tebal: 490 hlm.

 

Ini satu lagi novel tentang Taj Mahal, bangunan makam paling megah yang didirikan oleh Shah Jahan untuk mengenang permaisuri tercintanya, Mumtaz-i-Mahal. Permaisuri jelita yang memiliki nama kecil Arjumand ini mangkat sehabis melahirkan anak mereka yang keempat belas. Selama hidupnya, Arjumand telah menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Mughal Agung, pemimpin Kesultanan India yang kekuasaannya membentang hingga Kandahar dan Kashmir.

 

Bangunan agung yang terbuat dari marmer pilihan ini terletak di Agra, India Utara. Tepatnya di tepi Sungai Yumna. Tinggi Taj Mahal adalah 55 meter. Kubahnya yang megah bergaris tengah 18 meter. Pembangunannya memakan waktu 22 tahun (1631-1653 M) di bawah perintah dan pengawasan Shah Jahan.

 

TAJ ini merupakan novel kedua tentang Taj Mahal yang diterbitkan Mizan. Sebelumnya telah beredar karya penulis asal Inggris, John  Shors berjudul Taj Mahal: Kisah Cinta Abadi (2006). Meskipun keduanya berangkat dari sumber inspirasi yang sama–Taj Mahal itu sendiri–namun masing-masing mengupasnya dari sudut yang berbeda sehingga menghasilkan versi yang berbeda pula.

 

Dalam buku John Shors, ceritanya berpusat pada percintaan terlarang antara Jahanara, putri Shah Jahan dengan Isa, lelaki Turki, arsitek pembangunan Taj Mahal. Dari situ John Shors mengembangkan kisahnya ke masa silam, menggali kembali riwayat asmara Arjumand dan Shah Jahan dengan latar kehidupan istana yang serbagemerlap, bergelimang kesenangan, dan juga intrik-intrik di antara para penghuninya. Di buku ini, Arjumand adalah istri pertama dan satu-satunya Shah Jahan. John memaparkan pula perselisihan kedua putra Shah Jahan, Dara dan Aurangzeb, dalam memperebutkan takhta.

 

Sementara dalam buku Timeri N. Murari, penulis kelahiran India, cerita berpusat pada asmara Arjumand dan Shah Jahan berlatar konflik-konflik dalam istana. Menurut versi Timeri, Arjumand adalah istri kedua Shah Jahan. Sebelumnya, sebagai seorang Putra Mahkota, Shah Jahan telah dipilihkan jodoh seorang putri Persia. Namun, lantaran cintanya hanya terpaut pada Arjumand seorang, perkawinan yang bersifat politis itu hanya bertahan sebentar dan selanjutnya Shah Jahan menikahi kekasih sejatinya, Arjumand. Sampai meninggalnya, Shah Jahan tak pernah menikah lagi dengan wanita lain.

 

Timeri menuturkannya dalam pengaturan demikian: bab-bab bernomor ganjil mengisahkan kisah cinta Arjumand dan Shah Jahan; sedangkan bab-bab genap menceritakan masa pembangunan Taj Mahal dan saat-saat berakhirnya kejayaan Shah Jahan. Tokoh Isa hadir sebagai pelayan setia Arjumand; saksi hidup kisah cinta dan jatuh bangunnya Shah Jahan mempertahankan takhta.

 

Kemilau takhta dan kekuasaan senantiasa menjadi pangkal perselisihan para pewarisnya. Sejarah dan legenda telah banyak mengisahkan tentang perebutan kekuasaan yang selalu saja menumpahkan darah dan memakan korban jiwa. Takhta tak mengenal saudara. Bahkan tak peduli itu anak atau ayah kandung sendiri. Jika dianggap menghalangi, maka harus ditumpas sampai ke anak cucu. Bagi para pangeran yang berebut mahkota itu hanya ada dua pilihan: takhtya atau takhta. Makam atau takhta.

 

Tak terkecuali di istana Kesultanan Mughal ini. Sejak masa Jahangir berkuasa hingga berlanjut pada anak cucunya. Riwayat Istana Kesultanannya berlumuran darah. Darah keturunannya sendiri sebagai akibat sikap tak adil orang tua kepada anak-anak mereka. Satu anak ditimang-timang sebagai Putra Mahkota; sedangkan putra yang lain diabaikan seolah-olah anak tiri. Pembedaan perlakuan ini menumbuhkan benih-benih dendam dan kesumat yang membutakan hati nurani.

 

Jika dicermati, kedua versi di atas pada intinya mengutarakan satu hal, bahwa di balik kemegahan Taj Mahal tersimpan bukan saja kisah cinta abadi tetapi juga tragedi. Jika John Shors lebih tertarik berimajinasi tentang asmara terlarang antara seorang putri raja dengan orang biasa, Timeri memilih menggali dan mengekspos (tentu dengan tambahan imajinasi juga) tema perebutan kekuasaan, sehingga karyanya terasa lebih “keras” dan maskulin dibanding karya Shors. Perkara versi mana yang lebih mendekati kenyataan, saya tidak mau memusingkannya. Saya menikmati kedua novel tersebut semata-mata hanya sebagai sebuah karya fiksi.

 

Terlepas mana yang lebih menarik dari kedua versi tersebut, saya yakin keagungan Taj Mahal masih akan terus menginspirasi banyak orang untuk menuliskannya. Sampai ia tak ada lagi, musnah dimakan waktu.

 

Dan seperti Nawal El Saadawi, saya percaya bahwa setiap banguan megah berusia ratusan tahun (misalnya: piramida di Mesir atau Candi Borubudur di Magelang) adalah wujud tirani kekuasaan seorang raja terhadap rakyatnya. Entah berapa ribu jiwa melayang dalam pengerjaan bangunan-bangunan tersebut. Konon, Shah Jahan memotong tangan setiap pekerja dan memenggal kepala arsiteknya setelah Taj Mahal selesai dibangun. Tujuannya agar tidak ada Taj Mahal tiruan. ***

 

endah sulwesi 3/3

Posted at Monday, March 03, 2008 by Perca
Comments (2)  

Monday, February 25, 2008
(9) A LOVE STORY FROM LOMBOK

Judul buku: Ketika Cinta Tak Mau Pergi

Penulis: Nadhira Khalid

Editor: Birulaut

Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa

Cetakan: I, 2007

Tebal: 312 hlm

 

Maafkan saya karena sempat mengira novel ini adalah chicklit lokal beraroma Islam seperti kebanyakan buku made in Forum Lingkar Pena (FLP) lainnya. "Kecurigaan" bahwa ini chicklit lebih diperkuat lagi oleh tampilan cover dan judulnya yang mellow (istilah anak sekarang untuk menyebut sesuatu yang rada-rada cengeng). Kedua hal tersebut patut disayangkan sebab sedikit banyak telah memberi informasi yang "menyesatkan" bagi para calon pembacanya. Bisa-bisa pembaca yang "anti-chicklit" urung membeli buku ini hanya karena keliru menafsirkan judul dan gambar sampulnya.

 

Kiranya kecurigaan saya meleset jauh. Ini sama sekali bukan novel chicklit. Memang sebuah kisah cinta tetapi bersamanya memuat juga unsur-unsur budaya lokal Tanah Lombok, khususnya masyarakat Sasak pada era tujuh puluhan.

 

Lombok, pulau yang dipisahkan oleh sebuah selat dari tetangganya yang makmur, Bali, merupakan satu daerah miskin dan terbelakang pada masa itu. Masyarakatnya yang mayoritas beragama Islam menggantungkan hidup mereka dari bertani. Orang Sasak adalah orang-orang yang setia pada tradisi leluhur di samping menjalankan ajaran agama Islam sekaligus masih meyakini klenik dan hal-hal mistik seperti dukun, teluh, dan mantra.

 

Lazimnya kebanyakan daerah lain di Indonesia, di Lombok juga tak lepas dari persoalan intern masyarakat lantaran perbedaan status sosial. Antara kaum bangsawan dengan rakyat biasa masih berlaku adat yang diskriminatif. Soal keturunan itu kerap menimbulkan masalah dalam urusan cinta. Keturunan bangsawan hanya boleh menikah dengan bangsawan lagi atau paling tidak orang yang kedudukan ekonomi sosialnya terpandang.

 

Nadhira Khalid, penulis kelahiran 1971 ini , mengusung tema cinta terlarang antara Sahnim, putri orang terkaya di Janapriya dengan Kertiaji, keturunan bangsawan yang sudah jatuh miskin. Hasrat asmara mereka terhalang oleh perbedaan kondisi sosial ekonomi kedua orang tua. Ayah Sahnim, Ismuhadi, melarang hubungan tali kasih itu diteruskan. Sahnim hanya boleh menikah dengan lelaki yang sederajat, bukan dengan pemuda miskin seperti Kertiaji, walaupun ia masih berdarah biru.

 

Lika-liku kasih tak sampai inilah yang digarap oleh Nadhira dengan latar belakang budaya Sasak yang selama ini belum banyak diungkap dan karenanya menjadi sesuatu yang istimewa dalam buku ini. Kultur lokal dengan setting sosial yang dipaparkan secara cukup detail ini menjadi semakin menarik ketika Nadhira mengawinkannya dengan persoalan transmigrasi yang menjadi salah satu kebijakan pemerintah Orde Baru kala itu. Konflik-konflik yang mengemuka membuka wawasan pembaca, khususnya bagi kita yang belum mengerti banyak ikhwal tradisi Lombok dan Sasak.

 

Kisah cinta Sahnim dan Kertiaji hanyalah sebagai gerbang masuk yang dibuat Nadhira untuk membawa pembaca menyelam lebih jauh lagi ke dalam persoalan-persoalan orang kecil di Lombok dan Sumbawa. Kemiskinan yang terjadi di sana seiring sejalan dengan minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat. Ketika dokter dan rumah sakit tak ada, satu-satunya tempat mereka menggantungkan nyawa dari segala macam penyakit adalah dukun yang menyembuhkan dengan jampi-jampi bertuahnya. Begitupun tatkala harus menghadapi masalah lainnya yang tak sanggup diselesaikan lewat usaha real, mereka datang kepada dukun untuk meminta ramuan pekasihan, guna-guna, ataupun santet.

 

Kentalnya unsur lokal dalam novel perdana Nadhira ini kian terasa pekat dengan tetap membiarkan istilah-istilah setempat dalam bahasa asalnya yang diberi keterangan pada catatan kaki. Sebuah siasat yang cerdik, sebab dengan demikian kisah yang tersaji jadi terasa lebih bernyawa dan membumi. Tokoh utamanya, Kertiaji, tampil cukup hidup sebagai lelaki yang lemah hati, sedikit pengecut, dan sering lari dari masalah. Saya sempat gemas dan geregetan pada tokoh ini.

 

Hanya sayang sekali, Nadhira sering alpa pada perhitungan waktu. Pada satu bagian ceritanya berlangsung dalam waktu lama, namun ketika menghubungkannya dengan bagian lain, seolah-olah kedua kejadian itu hanya berselang sebentar saja. Misalnya di bagian Sahnim terbaring sakit dalam keadaan hamil beberapa bulan. Sampai ia sembuh, lebih dari setahun, tak pernah dikisahkan tentang kelahiran bayinya. Hal seperti ini beberapa kali terjadi. Pun soal salah ketik dan salah eja, lumayan banyak juga ditemukan. Cukup mengganggu mata.

 

Selebihnya, keberanian Nadhira untuk mengangkat tema lokal dalam fiksi kita di tengah serbuan novel-novel impor patut diberi apresiasi. Sejatinya, tema apapun–lokal atau bukan lokal–akan menjadi kisah yang memikat selama digali dan digarap dengan baik. ***

Dua bintang dari saya (artinya, cukup keren).

 

endah sulwesi 25/2

Posted at Monday, February 25, 2008 by Perca
Make a comment  

Monday, February 18, 2008
(8) SIHIR ITU BERNAMA COKELAT

Judul Buku: Chocolat

Judul asli: Chocolat

Penulis: Joanne Harris

Penerjemah: Ibnu Setiawan

Penyunting: Wendratama

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, 2007

Tebal: xii + 374 hlm

 

Pada sebuah Februari yang dingin menjelang Paskah, Vianne Rocher bersama putrinya, Anouk, tiba di Lansquenet-sous-Tannes, desa kecil di Prancis berpenduduk 200 jiwa saja. Ia tiba bertepatan dengan hari karnaval. Seluruh orang tampak gembira. Desa kecil itu terasa hidup dan penuh warna. Udara dipenuhi aroma hangat panekuk dan sosis goreng, juga rasa manis kue wafel berlapis gula bubuk. Toko-toko berhias kertas warna-warni dan bunga-bunga. Orang-orang memakai kostum aneka tokoh dongeng dunia. Musik dari drum yang ditabuh, tiupan terompet dan seruling menambah gembira suasana. Saat itu Vianne langsung memutuskan untuk tinggal di desa tersebut.

 

Ia membeli sebuah bangunan tua bekas toko roti. Dengan sentuhan sedikit di sana-sini, bangunan itu disulapnya menjadi sebuah chocolaterie, toko cokelat dengan papan nama La Celeste Praline. Letak toko cokelatnya berhadapan langsung dengan gereja desa yang dipimpin seorang pastor konservatif Francis Reynaud.

 

Vianne memang ahli membuat cokelat yang sesungguhnya seperti yang diminum oleh bangsa Aztec dalam ritual ribuan tahun silam. Ia juga ahli membuat kue-kue, gula-gula, dan aneka makanan lainnya berbahan dasar cokelat. Ia membentuknya serupa binatang, rumah, bunga-bunga, bintang, buah-buahan, dan sebagainya.

 

Entah karena keramahtamahan Vianne atau lantaran cokelatnya yang lezat, toko kecil itu segera saja disukai warga desa. Setiap hari, seperti tersihir, mereka mendatangi La Celeste Praline untuk menikmati minuman dan aneka kue cokelat atau sekadar mengobrol.

 

Namun, sebagaimana banyak desa di dunia, ada saja orang-orang yang tidak suka dengan pendatang baru. Pastor Reynaud dan beberapa warga lain tidak suka pada kehadiran Vianne dan toko cokelatnya itu. Reynaud yang tak pernah mencicipi cokelat sejak kecil secara terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan dengan ibu dan anak yang tidak pernah datang ke gerejanya itu. Baginya, wanita yang punya anak tanpa suami itu adalah pengaruh buruk buat warga desa yang selama ini selalu hanya mematuhinya. Lebih-lebih dengan beraninya Vianne berencana menyelenggarakan festival cokelat tepat pada hari Paskah. Itu sama saja artinya dengan  mengibarkan bendera Perang Salib. Masyarakat harus diselamatkan dari ancaman “tukang sihir” tersebut.

 

Plot novel ini secara bergantian diceritakan melalui dua perspektif : Vianne Rocher dan Pastor Reynaud,  pusat konflik kisah ini. Kedua karekater utama ini berdiri pada posisi berseberangan seperti toko cokelat dan gereja. Reynaud adalah simbol orang-orang munafik yang menutupi watak buruk dengan penampilan mereka sebagai warga terhormat, tokoh masyarakat, dan bahkan pemimpin agama.

 

Sementara Vianne adalah pribadi hangat, berani, penuh semangat hidup, dan ekspresif. Seorang perempuan yang cerdas dan mandiri, berkepribadian kuat, penuh percaya diri. Sejenis orang yang percaya bahwa berbuat baik tidak harus dengan rajin ke gereja. Sebenarnya, kedua insan yang bermusuhan ini memiliki latar belakang riwayat hidup yang mirip. Sama-sama pernah mengalami masa kecil yang tidak bahagia. Hanya kemudian mereka menyikapinya secara berbeda. 

 

Konflik Reynaud dan Vianne terbangun sejak awal cerita diselingi peristiwa-peristiwa lain yang menggambarkan kehidupan khas masyarakat desa yang senang bergosip dan usil namun sekaligus juga akrab, saling peduli satu sama lain. Klimaksnya adalah pada pagi hari pelaksanaan Festival Cokelat. Ending yang nakal dan tak terduga. Perseteruan Vianne dan Reynaud ini pastinya menjadi bagian paling menarik yang membuat kita ingin tahu bagaimana akhirnya.

 

Yang juga tak kalah menarik adalah tatkala tiba pada bagian-bagian membahas kue-kue cokelat itu. Deskripsinya begitu hidup, seolah-olah semua makanan lezat itu benar-benar tersaji di hadapan kita, bikin kita terpaksa menelan ludah ketika membacanya: bitter orange cracknel, apricot marzipan roll, cerisette russe, white rum truffle, coklat dengan butir-butir jahe dalam cangkang gula yang keras, cokelat beraroma cendana, kayu manis, dan limau; lapisan cokelat bertabur potongan kecil buah persik yang dicelup dalam madu dan brandy, fondant caramel, manon blanc dengan krim segar dan almond…..Huuu..semuanya terdengar enak.  Sesaat saya jadi ingat novel Like Water for Chocolate (Laura Esquivel).

 

Tentu ada juga kisah cintanya walaupun cuma samar-samar, antara Roux, pemuda gipsi yang tinggal di rumah perahu dan sangat dibenci oleh Reynaud, dengan Vianne. Bukan kisah cinta yang vulgar, malah nyaris tidak kelihatan. Joanne menyampaikan dengan halus melalui letupan-letupan kecil kecemburuan Vianne.

 

Joanne Harris, penulis novel ini, mendapat ide tentang toko cokelat dari pengalaman masa kanak-kanaknya di Prancis. Kakeknya punya sebuah toko permen. Sehari-hari hidup Joanne Michele Sylvie Harris kecil yang lahir pada 3 Juli 1964 ini dipenuhi aneka permen dan makanan serta dongeng-dongeng rakyat. Bahkan nenek buyutnya, kepada siapa buku ini didedikasikan, dikenal sebagai penyihir dan semacam dukun penyembuh (healer). Kenang-kenangannya tentang  sang nenek buyut diabadikan dalam tokoh eksentrik di novel ini, Armande Voizin.

 

Novel ini ditulis pada 1999. Setahun kemudian dibuat filmnya yang dibintangi oleh Juliette Binoche dan Johnny Depp dan masuk nominasi Oscar untuk 5 kategori, termasuk untuk film dan pemeran wanita terbaik.

 

Untuk bukunya, saya beri tiga bintang.

 

Endah Sulwesi 18/2

Posted at Monday, February 18, 2008 by Perca
Make a comment  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< March 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed