Sunday, December 30, 2007
SELAMAT TAHUN BARU 2008

 Ayo..ayo...baca buku....!

 

 

Posted at Sunday, December 30, 2007 by Perca
Make a comment  

Wednesday, December 26, 2007
SEPULUH BUKU PILIHAN PERCA

Untuk ketiga kalinya, di setiap pengujung tahun, aku membuat daftar 10 buku plihanku. Buku pilihanku ini tidak mesti melulu berdasarkan standar kesusastraan yang berlaku. Sudah pasti penilaian terhadap buku-buku ini sangat subjektif jadinya. Misalnya saja, Burung Kolibri Merah Dadu. Buku tersebut aku pilih dengan alasan yang sangaaaaat pribadi. Pasti masih banyak buku (fiksi) yang jauh lebih bagus dari buku kumpulan cerpen karya Kurnia Effendi ini. Tetapi mengapa aku memilih dan menempatkannya di urutan teratas? Buku ini menjadi buku paling berkesan untukku karena salah satu cerpen yang termuat di dalamnya itu ditulis khusus untukku. Judulnya, "Cinta Separuh Malam". Nah, gimana tidak berkesan? Cerpen itu bercerita pula tentang aku. Hanya secuplik dari kehidupanku memang,tetapi bisa jadi inilah satu-satunya cerpen yang khusus berkisah dan dipersembahkan bagiku dari seorang cerpenis sebesar Kurnia Effendi. Terima kasih, Kef.   
 
Yah, pokoknya begitu deh. Lantaran dasarnya lebih cenderung urusan selera (dan alasan-alasan pribadi lainnya yang tak mesti diungkap di sini), maka para pembaca dilarang protes. Tapi kalau mau saling membandingkan, mari. Yang penting, jangan berhenti membaca dan mencintai sastra. Agar hidup sedikit lebih gemulai.
 
Selamat tahun baru!
 
SEPULUH BUKU PILIHAN PERCA :
  1. Burung Kolibri Merah Dadu (Kurnia Effendi)
  2. Kepada Cium (Joko Pinurbo)
  3. Kekasih Gelap (Sanie B.Kuncoro)
  4. Middlesex (Jeffrey Eugenides)
  5. Out (Natsuo Kirino)
  6. A Boy In The Stripped Pajamas (John Boyne)
  7. Mahasati (Qaris Tajudin)
  8. Kapten March (Geraldine Brooks)
  9. The Remains of The Day (Kazuo Ishiguro)
  10. Rahasia Meede (E.S. Ito)

Endah Sulwesi 28/12

Ilustrasi dicomot dari: http://www.shorpy.com/files/images/3c17926u.preview.jpg

Posted at Wednesday, December 26, 2007 by Perca
Make a comment  

Friday, December 21, 2007
FIKSI SEJARAH DALAM KEMASAN THRILLER

Judul buku: Rahasia Meede

Penulis: E.S. ITO

Penyunting: Yulia Fitri

Penerbit: Hikmah

Catakan: I, Agustus 2007

Tebal: 671 hlm

 

“Dosa manusia yang terbesar adalah imajinasinya yang kadang-kadang berlebihan,” demikian Eddri Sumitra atau yang lebih dikenal dengan nama E.S. Ito itu menjawab pertanyaan saya pada satu kesempatan ngobrol dengannya. Pertanyaan saya waktu itu adalah tentang dari mana ia mendapat ide soal harta karun VOC yang menjadi tema novel keduanya, Rahasia Meede. Novel dengan subjudul Misteri Harta Karun VOC ini ditulisnya dalam kurun waktu dua tahun. Itu sudah termasuk riset dan wawancara dengan orang-orang yang dijadikan nara sumber. Selebihnya, Ito memanfaatkan kecenderungan masyarakat kita yang telah lama hidup dengan mitos-mitos di seputar harta terpendam, Imam Mahdi, dana revolusi, dan segala yang serbamistis.

 

"Dosa" itulah yang mengantarkan Ito pada isu adanya harta karun VOC di perut bumi Jakarta yang dijadikannya pintu masuk ke dalam novel yang sarat data sejarah ini. Dari sini, Ito membawa pembaca menyusuri sejarah panjang VOC yang mau tidak mau terkait erat dengan sejarah jatuh bangunnya Republik kita ini.

 

Keliaran fantasi anak muda kelahiran Kamang, 26 tahun silam ini selanjutnya akan menyeret kita kepada peristiwa-peristiwa bersejarah di masa silam; mempertemukan kita dengan pemikiran-pemikiran Gandhi dan Muhammad Hatta, dua tokoh yang sangat dikaguminya.

 

Bermula dari ide perlawanan tanpa kekerasan yang diyakini oleh Hatta dan Gandhi yang dalam novel ini telah disalahartikan oleh sekelompok orang yang menyebut diri Anarki Nusantara untuk melegalkan perbuatan mereka memberontak kepada negara.

Awalnya, Anarki Nusantara ini adalah sebuah grup diskusi mahasiswa di Yogya yang kerap mengangkat topik sensitif seputar kondisi sosial politik dalam negeri yang menurut mereka carut-marut. Kelompok ini kemudian membesar karena mendapat banyak simpati dari masyarakat. Termasuk Guru Uban, seorang pengajar sejarah di sebuah SMA kumuh di Bojonggede yang kelak terlibat aktif dalam aksi-aksi yang dilakukan komplotan pemberontak ini.

 

Tanpa disadari oleh para pengikutnya, Anarki Nusantara telah lama menjadi target operasi kalangan militer, khususnya Kopassus. Mereka mengincar Attar Malaka, anak muda cerdas berbakat lulusan SMA Taruna Nusantara (almamater Ito) yang ditengarai sebagai otak Anarki Nusantara. Operasi intelijen itu melibatkan seorang letnan muda berjuluk Lalat Merah. Attar Malaka dijadikan target bukan semata-mata karena perbuatannya melawan negara tetapi karena ia juga dicurigai memiliki informasi perihal harta karun peninggalan VOC.

 

Maka kemudian terjadilah “perang” antara Attar Malaka dengan Lalat Merah. Perwira muda yang pandai menyamar ini ternyata sahabat lama Attar Malaka. Mereka bersekolah di SMA dan kelas yang sama. Kepada sahabatnya ini, Attar Malaka memercayakan seluruh rahasia hidupnya. Kedua sahabat karib ini sayangnya setelah dewasa terpaksa bersimpang jalan. Yang satu menjadi perwira pengabdi negara, sedangkan yang lainnya berdiri berseberangan sebagai pemberontak.

 

Lalu dengan caranya yang asyik, melalui kisah perseteruan kedua sahabat yang berbeda ideologi ini, Ito mengajak kita menerobos ke masa ratusan tahun lalu. Mengubek-ubek sejumlah berkas dan dokumen bersejarah; mulai dari berdirinya VOC hingga Konferensi Meja Bundar yang ternyata menyinggung soal harta karun VOC.

 

Kabar tentang harta terpendam yang diduga nilainya sanggup untuk membayar utang luar negeri Indonesia ini ternyata terendus juga baunya oleh segelintir peneliti di Belanda. Berkedok sebagai peneliti, mereka datang dengan bermacam kepentingan. Salah satunya adalah Cathleen Zwinckel, mahasiswi tingkat master yang tengah menulis tesis ikhwal sejarah ekonomi kolonial. Oleh Prof Huygens, dosen pembimbingnya, gadis cantik ini dititipkan di CSA (Center for Strategic Affair), sebuah lembaga peneliti yang dipimpin oleh Suryo Lelono, sahabat Prof Huygens.

 

Sungguh malang, baru beberapa hari  menikmati udara pengap Jakarta, Cathleen harus mengalami nasib sial diculik oleh gerombolan pemberontak yang diotaki oleh seseorang yang dipanggil dengan nama Kalek. Kalek punya data bahwa Cathleen mengetahui sebuah rahasia dari masa lalu yang akan menggiring mereka menemukan lokasi harta karun VOC. Itulah rahasia Meede.

 

Pelan-pelan kita disadarkan, bahwa kita tengah bermuka-muka dengan sebuah kisah thriller ala Dan Brown. Teka-teki demi teka-teki dihadirkan di hadapan kita bagaikan potongan-potongan puzzle yang kelak berhubungan satu sama lain dan pada akhirnya menyingkap rahasia dari seluruh teka-teki.

 

Meski settingnya masa kini, tetapi novel ini sarat memuat data sejarah. Angka tahun dan nama-nama tempat yang berasal dari masa lampau bertaburan di sekujur cerita yang disajikan dalam bentuk dialog para tokohnya. Ini yang menurut saya agak sedikit berlebihan. Boleh dibilang nyaris semua tokohnya pandai dan sangat menguasai sejarah. Mereka mampu bercakap panjang lebar tentang sejarah lengkap dengan menyebut (tanpa keliru) angka-angka tanggal dan tahunnya. Tak peduli itu Kalek di pemberontak, Cathleen si mahasiswi, atau pun Lalat Merah sang perwira penjaga keutuhan NKRI. Mereka memiliki pengetahun yang sama dan seimbang dalam urusan sejarah. Hampir tak ada tokoh pandir dalam novel ini.

 

Hal ini, menurut hemat saya, karena penulisnya kurang mampu menahan diri untuk tidak pamer pengetahuan. Data yang ditampilkan jadi terasa berjejalan dan kadang terkesan dipaksakan. Semangat Ito sebagai orang muda yang kritis juga acap nyelonong di tengah-tengah dialog. Misalnya tentang sinetron televisi yang hanya mengandalkan tampang indo para artisnya yang tiba-tiba menyeruak di tengah-tengah dialog sejarah. Ito juga sering terdengar sinis mengomentari para pejabat yang korup, tentara yang berbisnis ilegal, atau pun kurikulum sekolah yang hanya menghasilkan manusia-manusia penghapal.

 

Namun, secara keseluruhan novel ini merupakan bacaan yang menarik. Unsur thriller (dengan kejutan-kejutannya yang tak terduga) dan sejarah menjadi pemikat utamanya. Jika hendak dibandingkan dengan Dan Brown, kelebihan Rahasia Meede adalah karena ia mengambil latar sejarah lokal. Bagi pembaca Indonesia, kejadian-kejadian di masa lampau itu tentu lebih menarik dan terasa akrab. 

 

Keberanian Ito mengawinkan fakta dan fiksi sehingga menghasilkan novel gurih ini perlu dipujikan. Mengingat belum banyak penulis kita yang memanfaatkan lahan subur sejarah tanah air sebagai tema atau latar belakang kisah-kisah fiksi. Dari yang sedikit itu nama besar Pramoedya Ananta Toer sebagai empu belum tergoyahkan.

 

Oya, ada catatan kecil saya untuk Ito atau editornya agar lain kali lebih teliti. Bukan perkara besar, hanya karena kurang cermat saja. Pada halaman 518, tertulis: Tangannya merogoh rokok dari kantong. Sepanjang pertemuan mereka, baru kali ini dia (Kalek) merokok di depan Cathleen. Padahal di halaman 455, Ito menulis : Pada pertemuan mereka di Banda, Kalek menahan diri untuk tidak merokok. Sekarang dia tidak tahan lagi. Secangkir kopi pahit dan sebatang rokok untuk sebuah perayaan pertemuan.

Dan juga di halaman 541 : Erick mungkin bersama Kalek.  Mestinya bukan Erick, tetapi Robert, sebab Erick telah mati bersama Raphael.

 

Kalau harus memberi bintang, tiga bintang dari saya untuk buku ini.***

 

endah sulwesi 21/12

Posted at Friday, December 21, 2007 by Perca
Make a comment  

Sunday, December 09, 2007
DONG MU : SEBUAH (MAUNYA) ROMAN SPIONASE MELAYU

Judul buku: Dong Mu

Penulis: Jamal

Penyunting: -

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, September 2007

Tebal: 237 hlm.

 

“Dong mu” dalam bahasa Korea bermakna sama seperti kamerad dalam bahasa Rusia. Kira-kira dalam bahasa kita artinya kawan (rekan). Biasanya dipakai sebagai panggilan akrab sesama anggota partai komunis. Ingat film Pengkhianatan G 30 S/PKI karya Arifin C.Noor yang sangat populer di paruh tahun 80-an? Dalam dialognya, sesama anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) saling menyapa dengan sebutan “kawan” (Kawan Sam, Kawan Aidit, dll). Kurang lebih seperti itulah arti kata “dong mu”.

 

Dong Mu menjadi judul novel kelima Jamal karena mengambil setting cerita di Negeri Ginseng. Tokohnya seorang pria Indonesia, Herman, staf Departemen of Safeguard International Atomic Energy (IAEA), sebuah organisasi PBB yang mengurusi energi nuklir. Bermarkas di Wina, Austria, IAEA bertugas mengawasi penggunaan tenaga nuklir di setiap negara agar tidak dipakai sebagai senjata pemusnah yang membahayakan umat manusia.

 

Korea Utara adalah salah satu negara yang memiliki reaktor nuklir cukup besar di Asia. Pada 5 Juli 2006, negeri di bawah pimpinan Presiden Kim Jong Il itu diam-diam meluncurkan peluru kendali (rudal) dalam rangka uji coba di Yongbyon. Rudal tersebut ternyata jatuh di laut Jepang. Peristiwa tersebut sangat mengejutkan dunia, khususnya Amerika Serikat selaku negeri adi kuasa yang selalu merasa diri sebagai polisi dunia itu. Seluruh dunia khawatir rudal tersebut berhulu ledak nuklir yang apa bila meledak dapat mengakibatkan bencana besar bagia kemanusiaan.

 

Kejadian itu membawa Herman tiba di Seoul, Korea Selatan, untuk mengulik kebenaran fakta langsung dari sumbernya.  Namun, alih-alih memperoleh informasi yang diperlukan, Herman malah terseret dalam sebuah upaya pembebasan seorang agen CIA, Robert Campbell, yang diculik oleh pihak intelejen Korea Utara. Mereka meminta tebusan berupa uranium sebanyak 50 kilogram. Jumlah yang sangat cukup untuk  menghancur-leburkan dunia.

 

Keterlibatan Herman karena ia diminta pihak Korea Utara sebagai perantara yang akan menyerahkan barang tebusan tersebut. Dengan alasan kemanusiaan, akhirnya Herman tak sanggup mengelak dari “tugas” yang penuh risiko itu. Bersama tentara Korea Selatan dan Amerika, ia melaksanakan operasi pembebasan Campbell. Turut serta dalam petualangan itu Prof.Rukayadi, ahli mikrobiologi Indonesia sahabat Herman yang telah lama menetap di Seoul.

 

Lagi-lagi, Jamal yang asli Ciamis ini membuat cerita berlatar belakang luar negeri. Kali ini ia (mencoba) berkelana ke Korea meskipun ia belum pernah menginjakkan kaki di negeri yang diramalkan akan menjadi salah satu Macan Asia ini. Permasalahan politik yang berakar pada soal ideologi antara Korea Utara dan Selatan “dimanfaatkan” Jamal untuk memperkaya novelnya ini. Tidak cukup dalam sih, karena memang Dong Mu tidak berambisi menjadi sebuah novel politik.

 

Tema yang kali ini diusung Jamal lumayan berat sebetulnya. Tetapi sayangnya tidak lalu menjelma novel yang cukup berbobot. Malah cenderung cetek dan enteng-enteng saja. Usahanya menghadirkan plot beraroma thriller tak cukup berhasil kendati telah disiasati dengan gaya cerita spionase ala James Bond. Penyelesaian masalah yang mestinya cukup serius itu terkesan terlalu gampang.

 

Yang menarik “spionnya” adalah Herman, orang Melayu; sedangkan korbannya adalah Campbell, agen CIA. Menarik sebab selama ini Amerika dengan CIA-nya nyaris selalu digambarkan sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Namun, dalam Dong Mu, dengan usilnya Jamal menjungkirbalikkan gambaran tersebut.

 

Sebenarnya jika penulis yang juga dosen ITENAS ini mau membebaskan diri dari keharusan menyampaikan pesan moral tentang bahaya penggunaan nuklir sebagai senjata pemusnah, barangkali Dong Mu akan jauh lebih asyik dinikmati sebagai semata-mata novel spionase. Tentu dengan menggali lebih dalam lagi informasi dan data bagi kisah dengan tema besar ini. Di sini, ia jadi tidak fokus lantaran sibuk mengampanyekan perdamaian dunia dan anti senjata nuklir.

 

Jamal juga terlihat kelewat nasionalis dengan menjadikan Herman dan Prof.Rukayadi sebagai pahlawan. Boleh saja sih berbangga-bangga dengan negeri sendiri sepanjang itu rasional dan sesuai fakta. Tetapi jika sebaliknya, apa malah tidak akan jadi lelucon saja?***

 

 

endah sulwesi 9/12

Posted at Sunday, December 09, 2007 by Perca
Make a comment  

Monday, December 03, 2007
ANDAI SAJA SEMUA ANAK SEBAHAGIA ADIN....

Judul buku: Dunia Adin

Penulis: Sundea

Penyunting: Andy Romdani

Ilustrator: Triyadi Guntur W.

Penerbit: Read! (Kelompok Mizan)

Cetakan: I, September 2007

Tebal: 261 hlm.

 

Saya mempunyai kenalan seorang gadis kecil berumur enam tahun. Adin namanya. Wajahnya sangat imut, pipinya tembam, dan rambutnya hitam tebal. Dia sangat suka bermain dan menggambar di tembok kamarnya. Saya suka bermain dengannya karena cara berpikir dia yang mengejutkan dan jenaka.

 

Demikianlah buku cerita anak Dunia Adin dibuka. Pembukaan yang konvensional. Selanjutnya, kisah tertuang dalam bab-bab yang kadang-kadang tidak berhubungan satu dengan lainnya. Lebih sering tiap bab itu berisi kisah yang berdiri sendiri. Tapi tetap tokohnya Adin. Ya..mirip catatan harian mengamati gerak-gerik dan aktivitas Adin sehari-hari.

 

Umpamanya saja, ketika Adin dan mamim–demikian Adin menyebut ibunya–terjebak kemacetan di salah satu ruas jalan di Bandung. Atau saat Adin dan sahabatnya, Coki, bersedih hati karena ikan mas peliharaan mereka mati. Hal-hal semacam itulah yang tertulis di buku karya Sundea ini. Untuk menambah daya tarik, buku ini dilengkapi oleh gambar-gambar lucu sebagai ilustrasi hasil torehan kuas Triyadi Guntur W. Ilustrasi ini, bagi pembaca anak-anak, sangat membantu mereka untuk lebih memahami jalan cerita.

 

Secara fisik, tampilan buku Dunia Adin ini sudah sangat memadai sebagai bacaan anak-anak. Selain tampilan ilustrasi tadi, ukuran hurufnya pun dibuat cukup besar untuk memudahkan membacanya.

 

Ceritanya sendiri lumayan menarik. Memungut kejadian sehari-hari yang dialami bocah perempuan kelas I SD, penulisnya berupaya menyajikan kisah yang diharapkan akrab dengan pembacanya.  Pesan yang disampaikan cukup efektif  tanpa berkesan menggurui, meskipun ada satu yang saya kurang setuju, yakni perihal si papip (ayah Adin) yang memanggil putri tunggalnya itu dengan julukan Si Gembul.

 

Menurut saya, tidak seharusnya seorang ayah menyebut putrinya yang cantik dengan panggilan kesayangan seperti itu. Panggillah anak kita dengan nama-nama yang cantik atau julukan yang baik yang akan menambah kepercayaan diri anak dan bukan malah membuatnya minder.

 

Menurut penulisnya seperti yang dapat dibaca diblog miliknya, untuk memperoleh pemahaman yang sebenarnya mengenai dunia anak-anak, ia menyempatkan diri melakukan observasi dengan terjun langsung bermain dan bergaul bersama bocah-bocah cilik itu di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas, Bandung. Dan dari sana cewek lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran itu mendapatkan realita yang mengejutkan. Ternyata anak-anak itu jauh lebih cerdas dari yang ia kira.

 

"Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian", tutur Dea lebih lanjut, "Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sederhana tapi ternyata filosofis", tambah gadis berusia 26 tahun ini lagi.

 

Lantaran itulah, penulis yang bernama lengkap Ardea Rhema Sikhar ini tak ragu menggunakan kosa-kata dan kalimat-kalimat liris plus metafor-metafor dalam buku keduanya tersebut. Dea, begitu ia biasa disapa, percaya dengan caranya sendiri anak-anak itu akan dapat mengartikannya.

 

Akan tetapi, buku ini tentu belum bisa dikatakan mewakili seluruh kenyataan yang ada di dunia atau untuk skup lebih sempit lagi, Indonesia (Kalau mau lebih kecil lagi : Bandung). Dea hanya mengambil sampel anak-anak dari kelas sosial menengah ke atas yang nota bene tak mengalami kesulitan ekonomi sebagaimana terjadi pada anak-anak di keluarga miskin. Jangan lagi untuk sekolah, buat sekadar makan pun susah. Bagi mereka, masa kanak-kanak bukanlah masa yang manis penuh gula. Setiap saat mereka dituntut untuk bekerja agar tetap bisa survive. Sejak dilahirkan , hidup sudah kejam pada mereka.

 

Namun, baiklah. Mari sebaiknya kita berharap agar anak-anak kita kelak bisa hidup lebih baik lagi. Seperti Adin dan Coki.***

 

endah sulwesi 3/12

Posted at Monday, December 03, 2007 by Perca
Make a comment  

Previous Page Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< March 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed