|
|
 |
 |
|
Wednesday, January 11, 2006
Gadis yang Menikahi Seekor Singa
Penulis Alexander McCall Smith
Penerbit Bentang
Tahun 2005 Cetakan I
Tebal 195 hal
Sekali lagi, Perca mengetengahkan review dongeng. Kali ini dongeng-dongeng indah berasal dari Afrika, tepatnya Zimbabwe dan Bostwana. Pendongengnya adalah Alexander McCall Smith, penulis Skotlandia kelahiran Zimbabwe. Ia 'sekadar' menuliskan kembali - dengan bantuan seorang penerjemah - cerita-cerita rakyat yang ia kumpulkan sejak duapuluh tahun lalu dari masyarakat di bagian selatan Zimbabwe.
Seperti juga dongeng-dongeng dari negeri kita (dan dari banyak negeri lainnya), dongeng Afrika ini banyak menampilkan binatang sebagai tokoh-tokohnya. Karena ini Afrika, singalah yang sering mendapat peran utama dalam dongeng yang seluruhnya ada 33 di buku ini. Ia, singa, tak selalu digambarkan sebagai si gagah perkasa tak terkalahkan, kejam, buas, licik. Kadang-kadang ia bisa jadi si pecuncang dan baik hati.
Satu hal yang akan selalu kita temukan dalam dongeng dan cerita-cerita rakyat adalah unsur keajaiban yang mustahil dapat kita jumpai di dunia real. Dalam buku ini misalnya, ada anak-anak yang terbuat dari lilin, yang akan meleleh di panas matahari (Anak-anak Lilin hal 57) atau seekor burung yang menghasilkan susu (Burung Susu hal 43). Unik bukan? Semua itu hanya bisa terjadi dalam dongeng.
Dalam kata pengantar buku ini, McCall Smith mengatakan, bahwa dongeng-dongeng di seluruh dunia memiliki sejumlah kesamaan, dan banyak tema yang umum muncul dalam tradisi rakyat yang budayanya berbeda jauh. Ini berarti, dongeng merupakan bagian dari bahasa universal yang dapat berbicara kepada semua orang, melampaui batas-batas manusia, sebagaimana halnya musik.
Tradisi mendongeng (sastra lisan) ada di mana-mana rupanya. Kisah-kisah rakyat itu tersebar meluas dari mulut ke mulut, turun-temurun dari generasi ke generasi, bahkan menyeberang jauh ke benua lain setelah dituliskan kembali.
Walau pun bersifat universal, setiap dongeng membawa ciri khas daerah/negeri dari mana ia berasal. Jika pada banyak dongeng Barat, kita jumpai para tokohnya adalah putri dan pangeran dari istana raja-raja, maka dongeng Afrika ini lebih banyak mengangkat kehidupan rakyat kebanyakan yang tinggal di gurun dengan tradisi berburu dan bertani. Kedekatan hubungan manusia dengan alam (tumbuhan dan hewan) sangat kental tergambar dalam hampir di setiap cerita, bahkan sejak dari judul-judulnya : Gadis yang Menikahi Seekor Singa, Labu, Kelinci Hutan Berhati Batu, Lelaki Buta Menangkap Seekor Burung, Kisah Sedih Kura-kura dan Siput. Babun Pemalas, Ular Raksasa, Pohon Kelapa, dan lain-lain.
Membaca dongeng-dongeng dalam buku ini membawa kenangan saya pada masa kecil; saat di mana hampir setiap malam menjelang tidur, ayah saya mengisahkan satu cerita indah kepada saya dan adik saya. Kami tak pernah bosan mendengarnya, meski pun diceritakan berulang-ulang (mungkin karena ayah sudah kehabisan cerita). Beberapa dari dongeng-dongeng tersebut amat berkesan, sehingga sampai hari ini saya masih bisa mengingatnya dengan baik.
Alexander McCall Smith mendongeng seperti seorang ayah kepada anaknya. Bahasanya sederhana dan lugas, dan karena ceritanya singkat-singkat, kita akan dapat menghapalnya untuk kita kisahkan kembali kepada anak-anak kita.
Gadis yang Menikahi Seekor Singa ini bukan satu-satunya buku McCall Smith yang berlatarbelakang Afrika. Ia juga menulis The No.1 Ladies' Detective Agency - terjemahan Indonesianya telah terbit tahun lalu dengan judul Kantor Detektif Wanita No.1 - yang ber-setting Bostwana.
Endah Sulwesi 11/01
Posted at Wednesday, January 11, 2006 by Perca
Permalink
Sunday, January 08, 2006
Penulis Achdiat K.Mihardja
Penerbit Arasy Mizan
Tahun 2005 - cetakan I
Tebal 219 hal
Suatu kali, Kurnia Effendi, cerpenis kondang itu, pernah berkata, bahwa suatu hari nanti dalam hidupnya, ia akan pensiun menulis. Waktu itu saya menjawabnya, bahwa pekerjaan atau profesi sebagai penulis seharusnya tidak mengenal kata pensiun.
Saat menjawab itu, saya teringat pada Achdiat Karta Mihardja yang masih terus menulis di usia senjanya : 90 tahun. Sebuah kesetiaan pada profesi yang pasti didasari kecintaan amat mendalam; bahkan ketika kedua mata tuanya tak sanggup lagi melihat huruf-huruf yang akan membentuk ceritanya, ia masih 'menulis'. Dengan bantuan sekretarisnya, Si Aki - demikian ia kerap disapa - melahirkan Manifesto Khalifatullah.
Manifesto Khalifatullah adalah sebuah - seperti disebut oleh penulisnya - kispan (kisah panjang) tentang "aku", yang tak lain Achdiat Karta Mihardja sendiri, dalam menemukan kesejatian diri seorang manusia sebagai khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi ; yang berarti bahwa sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia haruslah memanifestasikan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya dengan semaksimal mungkin sambil tetap tunduk patuh kepada segala perintah-Nya.
Sungguh kental memang nuansa spiritual novel, eh maaf, kisah panjang ini. Ia merupakan uraian, ungkapan, dan rekaman perjalanan batin (spiritual) Aki selama hidupnya dalam menemukan 'kebenaran' yang sesungguhnya.
Tidak salah jika ada yang mengatakan, bahwa seseorang akan menjadi kian relijius di masa tuanya; semakin menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya sebagai manusia; semakin haus dan rindu kepada 'kebenaran' : Tuhan. Mungkin, karena tahu kematian semakin dekat atau telah puas kenyang bertualang di dunia dan kinilah saatnya kembali 'pulang' dalam keadaan suci seperti ketika memulai perjalanan dulu.
Sebagai seorang muslim sejak lahir, jalan Islam jualah yang akhirnya dipilih Aki menuju 'kebenaran' itu, setelah ia lelah berputar-putar mengelana di lautan pemikiran para intelektual dunia ; berdialog dengan Nietzche, Marx, Siddharta, Engles, Lenin...
Jelas sangatlah berbeda novelet ini dibandingkan dengan karya masterpiece-nya : Atheis yang berisi jalinan kisah dengan tokoh-tokoh yang saling berkonflik ideologi. Manifesto Khalifatullah lebih merupakan dialog Aki dengan dirinya sendiri yang sarat kritik, nasihat, serta khutbah/pidato yang membuat kispan ini jadi cenderung kaku ( untuk tak menyebutnya membosankan). Aki seperti kehilangan kemampuannya bermetafora, berindah-indah dalam bertutur.
Aki menyerang ke sana - ke mari, ditujukan kepada paham-paham/ideologi yang dinilainya sangat sekuler. Ia juga sibuk membanding-bandingkan Timur dan Barat dengan meminjam polemik Sanusi Pane dan STA (Sutan Takdir Alisyahbana). Ia membahas Pancasila, komunisme, eksistensialisme, buddhisme dll yang pada beberapa bagian diuraikan dalam bentuk wawancara imajiner dengan para tokohnya.
Pada akhirnya, lewat Manifesto Khalifatullah, sastrawan yang lama bermukim di Australia ini, ingin menegaskan kembali keyakinannya pada kebenaran Islam sebagai agama akal. Kebenaran tersebut dijadikan sebagai kalimat kunci imaniahnya. Menurutnya, akal merupakan daya jiwa yang utama dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk membedakannya dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain (hal 212)
Kita boleh saja berpendapat, bahwa sebagai kispan, Manifesto Khalifatullah ini kurang menarik. Namun, barangkali yang terpenting adalah semangat mencipta dan terus berkarya dari penulisnya yang patut kita contoh. Pada 6 Maret nanti, Aki genap berusia 95 tahun dan tampaknya ia belum hendak pensiun menulis.
Jadi, sebaiknya kawan saya terkasih, Kef, harus buru-buru membatalkan niat pensiun yang sempat diucapkannya beberapa waktu lalu.
Endah Sulwesi 8/12
Posted at Sunday, January 08, 2006 by Perca
Permalink
Thursday, January 05, 2006

Penulis Kurnia Effendi
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 164 hal
Di antara sederet nama-nama cerpenis Indonesia mutakhir yang cukup produktif, Kurnia Effendi adalah salah seorang di antaranya. Karya-karyanya terus mengalir mengisi kanal-kanal sastra media massa kitayang menarik, karya-karya Kurnia tidak hanya laku di media-media yang selama ini memiliki citra sebagai media yang memuat sastra serius, melainkan juga pada terbitan-terbitan yang secara khusus menyasar segmen remaja sebagai pasarnya, atau yang belakangan dikenal sebagai ciklit. Karya-karyanya yang dimuat di media massa itulah kemudian diterbitkan menjadi sejumlah buku. Sebut saja Senapan Cinta (KataKita, 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Metafor, 2004), Aura Negeri Cinta (Forum Lingkar Pena, 2005), dan yang paling gres Kincir Api (Gramedia, Agustus 2005). Keempat bukunya tersebut tak pelak memperlihatkan Kurnia sebagai penulis cerpen yang serba bisa. Kemampuan yang jarang dimiliki pengarang lain.
Bukunya yang paling gres, Kincir Api, memuat 14 cerpen yang seluruhnya lebih dahulu disiarkan media massa. Kekhasan yang menonjol dari karya-karya Kurnia adalah ketelatenannya mendeskripsikan secara detil setiap peristiwa, latar, maupun karakter tokoh-tokohnya sehingga menyosok dalam balutan bahasa yang rimbun. Bahasa sebagai satu-satunya perangkat pengarang dikuasainya dengan sangat memadai. Membaca cerpen-cerpen Kurnia kita dibawa pada tamasya bahasa yang sangat kaya dan memberikan kenikmatan. Kurnia membiarkan cerpen-cerpennya hadir tanpa pretensi. Apakah ini menunjukkan bahwa Kurnia termasuk pengarang yang lebih mempertaruhkan karyanya pada bentuk?
Sebagian kita sepakat, bahwa kekokohan teks cerpen tidak terletak pada suguhan pesan yang hendak disilahturahmikan, melainkan sejauh mana ia mampu berdiri sebagai bangunan estetika bahasa yang padu secara logika, gramatika dalam mewadahi imajinasi. Di sana ada proses pergulatan, penggalian yang tak pernah selesai terhadap bahasa sebagai satu-satunya perangkat yang dimiliki pengarang. Asumsi ini kemudian mendasari pemikiran bahwa teks sastra bekerja di wilayah ide dan kekuatan imajinasi yang tidak bisa dikungkung oleh batasan moral, aliran politik, serta perkara di luar teks lainnya. Inilah hakikat sastra seperti yang disebut Budi Darma, bahwa sastra adalah dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia sosiologi, politik, agama dan lain-lain (Harmonium, 1995). Hipotesis di atas tidak serta merta menjadikan sastra batal sebagai medium yang memberi nilai-nilai reflekif atas realitas sosial.
Membaca kumpulan cerpen Kurnia Effendi, Kincir Api, tak keliru kiranya bila kita memasukkan Kurnia dalam barisan pengarang yang meneguhi hipotesis di atas. Dengan kesadaran semacam inilah saya kira membaca cerpen-cerpen Kurnia jangan berharap disuguhi khotbah moral, tapi justru harus bersiap menikmati guyuran kalimat-kalimat rimbun dengan detail yang demikian tumpah ruah namun tetap terkontrol; dan kaya dengan metafor-metafor begitu imajinatif dan petualangan berbahasa yang memukau. Setiap peristiwa dan suasana dideskripsikan secara rinci dan puitik sehingga mampu menggugah kesadaran sekaligus kesegaran berbahasa. Surat yang kubaca tiba-tiba basah. Bukan oleh siapa-siapa. Huruf itu perlahan menebal, saling bersentuhan dan warnanya mengabur. Luntur. Mereka mencair mirip es yang meleleh (Air, halaman 37)/ ibu tidak menjawab. Namun tatapannya memancarkan api. Ranggas pohon yang dipandangnya hangus seketika (Api, halaman 39).
Kurnia berkisah tentang berbagai tema, dari mulai perselingkuhan sampai ketuhanan (religius), dengan mempertaruhkan bahasa yang di dalam dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk merambah pelbagai kemungkinan. Bahkan untuk tema-tema religius, Kurnia sama sekali tidak dengan sengaja menyisipkan pesan-pesan. Teks terkesan tampak telah berdiri sebagai entitas otonom, kalaupun muncul anasir pesan ia hadir semata sebagai logika berbahasa yang mau tak mau terjerat dalam kaidah-kaidah sastra yang mesti dipatuhi. Cerpen Seseorang Mirip Nuh, dan empat lainnya, yakni Memecah Udara, Tumbal, Tongkat Musa, misalnya, merupakan cerpen yang kaya simbol-simbol yang diangkut dari mitologi dan riwayat besar dalam tradisi keagamaan sebagai titik pijak cerita. Kehadiran simbol-simbol tersebut sangat padu dalam keutuhan tema yang berkelindan dengan realitas faktual dengan alur meliuk-liuk menjebak sekaligus memabukkan. Bukan sapuan kasar yang menjadikan cerpennya penuh tendensi tertentu. Kecemasan seseorang perihal kabar akan datangnya banjir bandang dalam Seseorang Mirip Nuh atau seseorang yang tiba-tiba menemukan kesadaran religiusnya setelah mendapatkan kiriman misterius sebuah tongkat yang mampu membelah air dalam Tongkat Musa serta keajaiban yang terjadi dalam Air memancar dari Ujung Jemarinya. Mereka hadir dalam sistem cerita yang utuh. Unsur ketegangan, kejutan berpadu dan saling menunjang cerita dengan ending terbuka dan memunculkan ambiguitas yang memukau.
Kemampuan Kurnia melakukan eksplorasi bahasa dipadu dengan kekuatan imajinasi yang liar sanggup menghadirkan teks sebagai dunia yang menyungguhkan pelbagai kemungkinan tak terduga. Unsur-unsur ini semakin terasa mengental pada cerpen Kincir Api, yang dijadikan judul buku, kemudian Mencintai Boneka, empat komposisi pendek: Angin, Api, Air, Tanah, dan Warna Ajal. Kincir Api berkisah tentang seorang anak keturunan malaikat yang dihantui khayalan terbang ke langit; untuk mewujudkan khayalannya ia memelihara sepasang angsa yang kelak bulu-bulunya ia kumpulkan dan disulam menjadi sayap yang mampu membawanya terbang menemui mimpi-mimpinya. Mencintai Boneka menggambarkan kesalahan persepsi berbahasa terhadap objek yang sama antara ibu dan anak bisa berakibat pada hubungan buruk. Sebuah tema keterasingan yang lazim namun disampaikan secara unik dan memikat. Terkisah di sana tentang seorang anak membunuh ibunya gara-gara sang ibu tidak memberikan jawaban semestinya. Sang ibu melarangnya mencintai boneka.
Kekuatan cerpen-cerpen Kurnia dalam membuat deskripsi yang begitu detail dan puitis tampaknya disadari betul sehingga cerita Kurnia mampu tampil secara luwes dan enak dinikmati. Kenikmatan yang didapat dari membaca cerpen Kurnia tidak semata lantaran cara pandang cerpen-cerpennya yang unik, tapi juga teks cerpen diletakkan dalam bingkainya yang paling substansif, pertimbangan mengolah gagasan dengan mantap. Dengan kekuatannya itu Kurnia tidak perlu melakukan eksperimentasi teknik berkisah untuk mencapai kompetensi literer ataupun pendahsyatan-pendahsyatan artifisial seperti yang dilakukan banyak cerpenis mutakhir. Tehnik berkisah yang diamalkan Kurnia dengan sendirinya menghadirkan pola ungkap yang personal.
Pada cerpen Sang Penari, Juru Rias dan Seorang Pesolek, Lagu Jauh, Tilas Cemeti di Punggung, dan Roti Tawar kita, seperti diakui Andy Fuller, pengamat Sastra Indonesia berkewarganegaraan Australia, yang tertera di cover belakang buku, menemukan kenyataan bahwa susastra tidak harus menjadi perjalanan yang terbatas pada realisme atau surealisme. Sesungguhnya karakter yang kuat pada diksi dan irama cerpen-cerpen Kurnia menjadikan semua cerpen Kurnia memberikan pemahaman yang mengatasi dikotomi antara sastra sebagai cara dan semata kendaraan penyampai gagasan.***
*Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).
Posted at Thursday, January 05, 2006 by Perca
Permalink
Tuesday, January 03, 2006
DYAH PITALOKA : Senja Di Langit Majapahit

Penulis Hermawan Aksan
Penerbit C I Publishing
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 326 hal
Siapa yang tak mengenal Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit yang pernah bersumpah tak akan makan buah palapa sebelum seluruh Nusantara bersatu? Kebesaran namanya bukan saja karena sumpahnya itu, tetapi juga karena kepemimpinannya. Namanya tak bisa dilepaskan dari kerajaan besar di Jawa Timur itu, yang kekuasaannya meliputi sebagian Jawa, Bali, dan Sumatra. Majapahit adalah Gajah Mada dan Gajah Mada adalah Majapahit.
Kesetiaan sang Mahapatih kepada kerajaan tak perlu diragukan. Seluruh hidupnya dibaktikan demi kejayaan Majapahit. Baginya, mengabdi kepada kerajaan itu di atas segala-galanya. Lebih penting dari nyawanya sendiri. Dan memenuhi sumpahnya adalah ambisi yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Saat banyak negeri takluk - dengan suka rela ataupun melalui perlawanan - di bawah kebesaran Majapahit, nun di sebelah Barat Jawa, di kaki Gunung Sawal, tersebutlah sebuah kerajaan Sunda dengan rajanya Linggabuana, berdiri bebas merdeka; membuat Gajah Mada penasaran ingin menaklukkannya demi memenuhi ambisinya. Maka, diputarlah otaknya mencari cara yang tepat agar kerajaan tersebut dapat dikuasai.
Ketika itu raja muda Hayam Wuruk masih belum beristri. Banyak sudah utusan dan juru lukis istana dikirim ke negeri-negeri taklukan guna mencari calon permaisuri. Namun, hingga kini tak jua ada yang berkenan di hati Sang Raja.
Kebetulan sekali, Raja Linggabuana memiliki seorang putri jelita yang juga belum menikah. Dialah Dyah Pitaloka; seorang putri yang bukan saja cantik rupa, tetapi juga cantik budi bahasa, cerdas, ramah, baik hati, dan pemberani. Gajah Mada pun menemukan jalan!
Singkat cerita, Hayam Wuruk pun jatuh cinta pada sang putri jelita. Lalu, disampaikanlah lamaran resmi yang diterima dengan segala kebanggaan oleh Prabu Linggabuana. Dyah tak kuasa menolak. Ia tak ingin mengecewakan rama dan bundanya, meski pun sebenarnya ia masih punya cita-cita luhur memajukan kaumnya di negeri Sunda.
Ia ingin, perempuan negerinya tak hanya pandai menjadi istri setia, tetapi juga pandai membaca dan menulis. Ia tak ingin sekadar menjadi seperti Dayang Sumbi atau Purbasari. Ia bermimpi, perempuan Sunda kelak juga bisa memimpin negeri sebagaimana cerita yang ia baca dari negeri-negeri seberang di luar Tanah Sunda.
Namun, apa daya, ia tak mampu menolak nasib yang telah digariskan baginya. Maka, pergilah ia menyongsong masa depannya ke Tanah Jawa.
Ternyata ia bukan sekadar menyerahkan dirinya , tetapi juga mengantarkan nyawanya. Putri Sunda itu mati dengan gagah berani di ujung tusuk kondenya sendiri, bahkan sebelum sampai ke pelaminan. Ia memilih mati bersama ayahanda dan rakyatnya demi membela kehormatan negeri ketimbang harus takluk pada tipu muslihat Gajah Mada yang licik dan keji. Peristiwa ini kemudian dikenal sejarah sebagai Perang Bubat.
Menarik, kisah di balik Perang Bubat yang dituturkan dalam novel Dyah Pitaloka ini. Dikemas dalam fiksi, membuat penulisnya bebas mengembangkan plot cerita dengan menggabungkan fakta dan imajinasi.
Di samping itu, sebagai penggemar wayang, Hermawan Aksan, penulis novel ini, cukup banyak juga mengutip lakon Mahabarata dan Ramayana sebagai ilustrasi dan pengaya cerita.
Berangkat dari obsesi penulisnya yang ingin menampilkan wanita cantik dalam sejarah (Sunda) - di Jawa ada Ken Dedes - maka dipilihlah Dyah Pitaloka dengan karakter hasil rekaannya : bukan hanya cantik tetapi juga cerdas, pemberani, dan penuh gagasan maju. Tentu saja, tokoh Dyah Pitaloka adalah real (fakta), namun soal karakter dan gambaran fisiknya, sepenuhnya hasil imajinasi penulis. Sebab, masih menurut penulisnya, tak ada ditemukan peninggalan berupa patung atau lukisan sosok sang putri jelita ini. Yang ada hanya sekadar gambaran Dyah Pitaloka yang cantik dan manja. Berbeda dengan Ken Dedes, misalnya, yang patungnya masih bisa kita lihat.
Selalu ada risiko dikritik oleh para sejarawan menulis kisah fiksi berdasarkan sejarah. Namun, semestinya kita bisa bersikap objektif dalam memberi penilaian sebuah karya fiksi. Sepanjang tak ada fakta sejarah yang disimpangkan atau diputarbalikkan, kisah tersebut patut kita terima sebagai sebuah upaya memperkaya wawasan dan melihat sejarah dari perspektif berbeda.
Misalnya saja, dalam novel ini, ditampilkan sisi lain Gajah Mada yang licik dan ambisius. Selama ini yang sering kita dengar hanyalah Gajah Mada yang perkasa, pahlawan yang telah mempersatukan Nusantara. Karakter Gajah Mada yang licik dan ambisius, rasanya mungkin saja, mengingat ia seorang panglima perang sebuah kerajaan besar. Tanpa ambisi, mustahil ia mampu meraih kejayaan.
Hari ini kita masih sering menyaksikan hubungan Jawa-Sunda (orang Jawa dan orang Sunda) yang tampak tidak terlalu mulus. Masing-masing pihak mengklaim sebagai "yang lebih tua". Apakah itu bermula dari Perang Bubat ini, yang mengakibatkan Gajah Mada gagal memenuhi sumpahnya dan Negeri Sunda kehilangan raja dan putrinya? Entahlah..
Bagian yang paling menarik, menurut saya, adalah saat Dyah Pitaloka memilih menikam ulu hatinya sendiri dengan patrem, sejenis tusuk konde penghias rambut wanita. Terasa ada unsur pemberontakan (seorang perempuan) di sini. Pilihan patrem - bukan keris atau belati - membuat adegan di akhir cerita ini jadi lebih dramatis dan menyentuh.
Hanya ada yang sedikit terasa berlebihan, yaitu ketika Hayam Wuruk, raja Majapahit yang gagah itu, menangis mengguguk atas kematian calon permaisuri pujaan hati yang bahkan belum sempat dikenalnya. Menurut saya, akan lebih pas jika digambarkan dengan sekadar menangis dalam hati dengan mata berkaca-kaca, umpamanya.
Dyah Pitaloka ini adalah novel perdana Hermawan Aksan. Sebelumnya, ia telah pula menerbitkan buku kumpulan cerpen Sang Jelata. Salah satu cerpennya dalam bahasa Sunda, Pulpen, memenangi lomba cipta carpon mini 2002.
Endah Sulwesi 3/12
Posted at Tuesday, January 03, 2006 by Perca
Permalink
Friday, December 30, 2005
LEDGARD : Musuh dari Balik Kabut

Penulis WD. Yoga
Penerbit CIPublishing
Tahun 2005 -cetakan I
Tebal 579 hal
Ledgard. Tentu kata itu bukan merupakan bahasa Indonesia. Terdengar asing, seperti bahasa Inggris. Tetapi, setelah saya cari-cari di kamus Inggris, ternyata kata tersebut tidak ada. Ia ternyata 'hanya' sebuah negeri (planet?) hasil rekaan WD.Yoga dalam novel perdananya yang sekaligus juga dijadikan judul novelnya itu. Hasil daya khayal yang luar biasa. Jika bukan murni rekaan, tentu pengaruh dari kisah-kisah fantasi yang dibacanya.
Ledgard adalah negeri antah-berantah, entah kapan peristiwanya dan di bagian mana di jagat raya ini letaknya, tetapi yang jelas ia dihuni oleh berbagai jenis makhluk dari berbagai bangsa, termasuk bangsa Manusia, Centaur, Ae Siri, Felis, Doggorin dan lain-lain lagi yang sangat aneh-aneh dan serba tak terduga.
Ya, sejak halaman pertama, Ledgard sudah mengejutkan kita dengan fantasi-fantasi yang memukau, mulai dari nama para tokohnya, nama tempat, dan peristiwanya. Mengapa mengejutkan? Buat saya, mengejutkan itu karena novel ini ditulis oleh orang Indonesia, Yogyakarta tepatnya.
Bukan, saya bukan bermaksud mengecilkan atau merendahkan karya bangsa sendiri, namun lebih karena ingin menegaskan bahwa Ledgard, meski ditulis oleh penulis kita, sama sekali tak membawa warna lokal. Tak terasa unsur-unsur 'tradisional' yang setidaknya mencerminkan keindonesiaan seperti novel-novel Indonesia (modern) lainnya. Tepatnya, kita seperti membaca novel (fantasi) import/terjemahan. Ini kelemahan atau justru kelebihan?
Membacanya, mau tidak mau kita akan membandingkannya - atau setidaknya teringat - dengan Harry Potter, kisah fantasi rekaan J.K. Rowling yang penjualannya menuai sukses di seluruh dunia. Jika Harry Potter masih menyebutkan setting ceritanya, yaitu Inggris (sebuah tempat real yang membuat kisah Harry Potter tetap terasa berjejak di bumi) , setting Ledgard benar-benar di luar planet bumi ; maka akhirnya bisa diterima kenapa tidak ada unsur lokal Indonesia di dalamnya. Pilihan (setting) yang cerdas dari penulisnya.
Perhatikan pula nama-nama tokohnya : Nash, Rhavi, Vasthi, Serra, Deedek, Karra, Mruudin Nraam, Josian dan masih banyak lagi. Belum lagi nama-nama tempat asal para tokoh itu : Ifarett, Kepulauan Latlian, Pulau Cee-Vilalan, Cursive, dsb. Saya sampai bertanya-tanya (kagum), dari mana WD Yoga mendapat gagasan untuk semua nama dan istilah "aneh" di novelnya ini.
Ia juga sangat memerhatikan detail : deskripsi fisik, karakter, dan kebiasaan para tokoh, kostum, lokasi, suasana serta properti pendukung, diuraikan dengan sangat rinci, cermat, dan konsisten, sehingga meskipun tokohnya lumayan banyak,tak terlalu sulit bagi kita mengingatnya. Tentu saja ini jadi satu (lagi) kelebihan Ledgard.
Plotnya pun terjaga baik sampai halaman terakhir, lancar dan mengalir. Pertempuran demi pertempuran tersaji memikat dengan jurus-jurus ajaib saling adu kekuatan. Kita akan dibawa 'terbang' sejenak ke dunia lain, menjelajah negeri fantasi bernama Ledgard, berjumpa dengan para peri, kurcaci, monster, centaur, naga, felis...
Suatu hari , Ifarett, kota kecil terletak di wilayah Cursive, tempat Nash, Rhavi, dan Deedek tinggal, kedatangan "tamu" seorang gadis cantik, Vasthi, putri bangsa Kalonn, yang mengaku sampai di Ifarett karena tersesat. Sebagai tetangga yang baik, Ifarett wajib mengantarkan kembali Vasthi ke kota asalnya. Lantas ditugaskanlah ketiga orang sahabat - Nash, Rhavi, dan Deedek - mengantar gadis itu pulang.
Nash dan kawan-kawan sama sekali tak mengira, bahwa kepergiannya itu sesuatu yang sudah direncanakan oleh Vasthi demi menyelamatkan mereka -terutama Nash - dari kematian yang dilihat Vasthi dalam mimpinya (Bangsa Kalonn dikaruniai kemampuan melihat masa depan melalui mimpi) dalam sebuah pertempuran melawan para penyerbu berperahu terbang.
Mimpi Vasthi terbukti benar sesaat setelah mereka tiba di Kepulauan Latlian, tempat tinggal Vasthi. Ifarett luluh lantak hancur-lebur tanpa menyisakan seorangpun penduduknya - termasuk orang tua Nash - oleh serbuan pasukan asing berperahu terbang yang datang dari langit barat itu.
Kelak diketahui pasukan penyerbu itu dipimpin oleh Sicah, manusia berdarah campuran Jind, prajurit dari Kastil Batu. Ia bertugas menaklukkan seluruh wilayah Ledgard.
Nash, Rhavi, dan Deedek - walaupun Ifarett sudah tak ada lagi - tidak tinggal diam. Mereka bahu-membahu menggalang kekuatan dari seluruh bangsa yang ada di Ledgard untuk memerangi pasukan pembunuh dari Kastil Batu pimpinan Sicah itu. Namun, di tengah-tengah kemelut itu, ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan situasi demi merebut kekuasaan.
Dari sinilah cerita berkembang sangat menarik dengan bumbu-bumbu intrik, pengkhianatan, kepahlawanan, petualangan, dan tentu saja, asmara. Hampir setiap bagian berhasil mengundang rasa penasaran kita. Penulisnya nyaris tak memberi kita kesempatan menarik napas selama mengikuti kisahnya. Kata anak sekarang : Cool abeeeesss!!
Lazimnya kisah-kisah fantasi, Ledgard pun sebuah novel yang bakal asyik dibaca siapa saja : anak-anak, remaja, dewasa, orangtua.
Rasanya kita patut berbangga dengan hadirnya seorang penulis muda berbakat asal Yogyakarta yang telah menulis novel memikat ini : WD.Yoga.
Bagi para penggemar kisah-kisah fantasi, Ledgard layak masuk daftar buku wajib baca.
Endah Sulwesi 30/12
Posted at Friday, December 30, 2005 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|