Saturday, January 28, 2006
Galau Putri Calon Arang

Penulis : Femmy Syahrani & Yulyana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2005, cetakan I
Tebal : 184 hlm
 
Bumi Indonesia kaya akan cerita rakyat dan legenda; tersebar dari mulut ke mulut melintasi beberapa generasi. Dari hamparan pulau-pulaunya yang meratus, tinggal beribu suku bangsa dengan budaya dan adat istiadat serba unik. Dari setiapnya, kita akan bisa menggali kisah-kisah indah penanda zaman yang terus hidup dari waktu ke waktu.
 
Banyak dari legenda tersebut yang akhirnya lenyap tak pernah diceritakan lagi. Sebabnya bisa macam-macam. Salah satunya barangkali karena tak ada lagi sumber yang menurunkan kisah itu. Atau kisah itu dianggap tak lagi relevan dengan perkembangan zaman, tak menarik, tak menjual.
 
Oleh karenanya, berbagai upaya telah dilakukan banyak pihak untuk melestarikan warisan sastra budaya leluhur itu dengan jalan, misalnya, menulis ulang hikayat-hikayat klasik tersebut; baik dalam bentuk aslinya atau pun hasil tafsiran baru. Ada yang ditujukan khusus untuk pembaca kanak-kanak, ada pula yang versi dewasa.
 
Banyak penerbit telah melakukan kerja mulia itu. Contohnya, penerbit PT Bentang Pustaka yang menulis kembali dongeng Timun Mas dan Ande-ande Lumut dalam versi "untold story" untuk kanak-kanak. Atau Gramedia Pustaka Utama yang telah meluncurkan Panah Patah Sangkuriang dan Galau Putri Calon Arang. Keduanya ditulis ulang oleh Femmy Syahrani.
 
Ada beberapa versi Calon Arang; sedikitnya ada dua yang masih beredar, yaitu karya Pramoedya Ananta Toer (Dongeng Calon Arang) berupa novel  dan Calon Arang : Perempuan Korban Patriarki, karya Toeti Heraty berbentuk prosa lirik (puisi panjang).
 
Khusus pada karya Toeti Herati, yang menyoroti kisah ini dari perspektif feminisme, Calon Arang digambarkan lebih sebagai seorang perempuan korban patriarki - bukan semata-mata kriminal penebar teror -  yang harus dihukum mati sebab ia menolak ikut membakar diri bersama kematian suaminya, hal yang wajib dilakukan oleh para istri di Bali, biasanya di kalangan kaum ningrat.
 
Penolakan Calon Arang yang dianggap bertentangan dengan adat dan kepercayaan relijius masyarakat Bali, menurut Toerty,  merupakan simbol perlawanan perempuan yang menuntut persamaan hak dengan lelaki, meski akhirnya ia harus mati juga - dengan tuduhan sebagai penyihir jahat -  di tangan para lelaki yang menjadi musuhnya itu.
 
Demikian pula yang diungkapkan oleh Pramoedya A.Toer. Menurutnya, kemungkinan besar legenda Calon Arang lahir dari dendam perempuan terhadap kaum laki-laki.
 
Berbeda dengan legenda-legenda seperti Malin Kundang atau Sangkuriang yang hanya berupa dongeng dengan tokoh-tokoh fiktif, Calon Arang ternyata melibatkan tokoh dan peristiwa sejarah di dalamnya, yakni Airlangga, raja Kahuripan, sebuah kerajaan yang berpusat di Daha, Jawa Timur.
 
Alkisah, hiduplah di suatu desa di Jawa seorang janda sakti dikenal dengan nama Calon Arang bersama putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Kesaktian janda ini telah tersiar ke seantero negeri, mengalahkan kabar kecantikan putrinya. Sang Janda tak suka bergaul dengan para penduduk desa lainnya. Ia memilih menyendiri bertapa  sehingga orang-orang desa mencurigainya sebagai dukun ilmu hitam atau tukang tenung, karena itulah ia dijuluki Calon Arang.
 
Kecurigaan masyarakat desa baru terbukti kemudian setelah peristiwa pelecehan terhadap Ratna Manggali oleh Rakajasa, putra kepala desa yang ingin menjadikan Ratna sebagai istri ketiganya. Pelecehan itu membuat murka Calon Arang. Ia lantas mengutuk seluruh desa dengan menyebarkan wabah penyakit menular yang mematikan.
 
Wabah ganas itu akhirnya sampai juga ke Daha, ibukota kerajaan Kahuripan yang dipimpin Airlangga. Sang Raja risau dibuatnya dan lalu mencari upaya mengatasi kutukan tersebut. Ia bertambah gundah setelah mengetahui bahwa ternyata si penyebar kutuk adalah ibu kandungnya sendiri.
 
Ya, Calon Arang ternyata adalah ratu kerajaan Bali yang melarikan diri ke Jawa bersama putrinya, Ratna Manggali, adik kandung Airlangga, karena dituduh mempraktikkan ilmu desti (ilmu hitam).
 
Riwayatnya dulu, Calon Arang, selagi masih bernama Mahendradatta, adalah putri raja Kahuripan. Ia kemudian menikah dengan Dharmodayana, raja Bali dari keturunan Warmadewa. Sedangkan kakaknya, Dharmawangsa naik takhta sebagai raja Kahuripan menggantikan sang ayah.
 
Dari perkawinannya dengan raja Bali itu, lahirlah Airlangga yang kemudian hijrah ke Daha dan menikah dengan sepupunya sendiri, putri Dharmawangsa untuk akhirnya mewarisi takhta kerajaan tersebut.
 
Kini, sang raja muda gundah-gulana dilanda dilema. Di satu sisi, ia harus menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya dari bencana mematikan itu, di sisi lain, itu berarti ia harus melawan ibu kandungnya sendiri sebagai si pembuat bencana. Sungguh pilihan yang sulit.
 
Konflik batin Airlangga inilah yang coba diangkat oleh Femmy dalam bukunya. Bagaimana seorang pemimpin seperti Airlangga harus bersikap menghadapi kezaliman yang dilakukan oleh ibundanya sendiri? Ia pun mengatur siasat dengan mengutus sahabat setianya, Bahula, untuk menikahi Ratna Manggali. Airlangga berharap, lewat Ratna Manggali, rahasia kesaktian Calon Arang akan bisa terungkap.
 
Akibatnya, perang batin pun juga dialami Ratna Manggali. Menghadapi permohonan Bahula, sang suami, ia harus memilih : ibunya yang sangat dicintainya yang telah menebar teluh atau keselamatan rakyat banyak. 
 
Keanekaragaman versi sebuah cerita, tentulah akan lebih memperkaya wawasan pembacanya, sebab mendapat kesempatan melihat kisah tersebut dari berbagai perspektif. Apalagi 'hanya' sebuah fiksi, sejarah real pun memiliki banyak versi, bukan? Jadi, ya nggak masalah, nikmati saja.
 
Endah Sulwesi 28/1
 

Posted at Saturday, January 28, 2006 by Perca
Comments (4)  

Wednesday, January 25, 2006
The Va Dinci Cod

Judul asli : The Va Dinci Cod
Penulis : Adam Roberts
Penerjemah : Isma B.Koesalamwardi
Penerbit : Pustaka Primatama
Tahun : 2005 - cetakan I
Tebal : 161 hlm
Dalam dua tahun terakhir tak diragukan lagi novel kontroversial yang paling laris dan menghebohkan seluruh dunia adalah The Da Vinci Code karya Dan Brown. Ceritanya berawal dari sebuah pembunuhan di Museum Louvre, Paris, berkembang ke pengunkapan rahasia terbesar tentang hubungan antar Yesus Kristus dengan Maria Magdalena.
 
Bagi pembaca berwawasan dewasa, sudah jelas Brown menyebut karyanya sebuah novel, karuan saja fiksi, hingga kebenarannya usah dipercaya. Tak urung banyak orang menjadi rada goyah imannya dan memercayai penuturan Brown sebagai kebenaran, tak lain tak bukan karena ketrampilannya sebagai pendongeng kelas wahid disertai fakta-fakta setengah benar setengah rekayasa namun ditulis dengan sangat meyakinkan.
 
Sebagai dampaknya kemudian bermunculan sejumlah buku (sebagian terbesar tentu s aja lebih tipis) yang mengoreksi serta membongkar kepalsuan fakta dalam karya Brown tersebut.
 
 Namun buku The Va Dinci Cod dengan subtitle (judul tambahan) Misteri EDa Vinci dan tagline (kalimat semboyan), Peristiwa berbau amis sedang berlangsung” - beda dari semua buku penyangkalan tersebut. Buku yang ditulis A.R.R.R. Roberts (sedang menyamar sebagai Don Brine) ini boleh disebut sebagai parodi atau mengolok-olok buku larisnya (dalam dunia film parodi telah menjadi genre tersendiri yang mengomedikan adegan-adegan dari film-film sukses).
 
Kata yang tepat untuk parodi dalam bahasa Indonesia adalah pelesetan. Jadi alur cerita novel The Da Vinci Code dipelesetkan bukan cuma peristiwa demi peristiwa, termasuk nama para tokohnya. Robert Langdon disulap menjadi Robert Donglan, Sophie Neveu jadi Sophie Nudivue (nudivue artinya telanjang), lokasi Paris dialihkan ke London. Leonardo Da Vinci dilecehkan sebagai punya adik perempuan bernama Eda Vinci, pelukis asli dirinya sendiri, Mona Eda, yang dicontek si abang menjadi Mona Lisa.
 
Cerita dibuka dengan pembunuhan keji terhadap Jacques Sauna-Lurker (Jacques si Pengintip orang mandi di sauna), kurator National Art Galery of Fine Paintings di pusat London. Mulutnya dijejali seekor ikan cod yang menyelak di tenggorokannya (!). Maka ahli anagramatologi masyhur dari University of London, Robert Donglan, dipanggil inspektur Charles 'si Montok' Tash ke TKP.Ternyata pada seluruh sirip ikan cod itu ditemukan didik jari Donglan, sehingga Tash menuduhnya sebagai pembunuh si kurator.
 
Namun, sebelum dijebloskan ke sel, Donglan diajak kabur si agen rahasia Prancis, Sophie. Maka, dimulailah petualangan pinter-keblinger yang ngawur namun cerdas. Mereka mencari lukisan peninggalan Eda Vinci, pengungkap rahasia tempat disembunyikannya cawan suci yang dipakai Yesus Kristus dalam perjamuan terakhir dan kemudian dijadikan tempat menampung darah-Nya oleh Yoseph dari Arimatea (Kisah pencarian cawan suci sudah sering difilmkan termasuk oleh Steven Spielberg dalam serial Indiana Jones and The Last Crusade, 1989)
 
Terungkap persekongkolan mengerikan COD (Conspiratus Opi Dei) yang tersembunyi rapi selama dari 2000 tahun, bahkan melambung jauh ke jutaan tahun lalu saat alam tercipta. Tahukah Anda apa yang pertama kali dilakukan Tuhan menurut Alkitab? Apakah yang terlebih dahulu ada sebelum Tuhan menciptakan terang, siang dan malam, matahari, bulan, bintang, daratan, hewan dan terakhir, manusia? Sebelum semuanya! Jawabannya ada pada klimaks buku ini atau  simak kalimat pertama Kitab Suci!  (spoiler alert!) 
 
Kenapa aku bilang keblinger? Masalahnya sungguh Masya Allah,  masakan Tuhan (God) disamakan dengan sejenis  ikan (Cod)? Dan berjut a-juta ikan Cod yang lezat dilahap orang itu sebenarnya tak bedanya dengan sperma manusia!
 
Harus diakui buku lucu ini ditulis dengan semangat humor tinggi dan pengetahuan yang - astaganaga! - luas banget serta bertujuan pokok menghibur pembacanya. Jangan-jangan nanti akan berterbitan buku-buku parodi novel-novel laris mutakhir, sebut saja Harry Potter atau karya-karya Tom Clancy, Michael Crichton, John Grisham, Stephen King, dan lain-lain.
 
 Nah, jika The Da Vinci Code difilmkan dengan bintang-bintang internasional: Tom Hanks, Audrey Tautou dan Jean Reno,  maka bila The Va Dinci Cod dialihkan ke layar seluloid penulisnya  mengusulkan George Clooney (tak langsung menudingnya hanya menyebut pemeran film Ocean’s Eleven dan Solaris). Aku pribadi sih berpendapat paling cocok untuk memerani si profesor gadungan pinter-pinter-bloon Donglan ya tak lain tak bukan daripada … Rowan ‘Mr Bean’ Atkinson !
    
Kita tunggu kapan jadinya diskusinya, pasti seru dan kocak, apalagi ada hiburan nonton film parodi, ingin ikutan hadir juga sih!
 
Yan Wijaya

Posted at Wednesday, January 25, 2006 by Perca
Comments (15)  

Sunday, January 22, 2006
Liu Hulan : Jaring-jaring Bunga

Judul asli : Flower Net
Penulis : Lisa See
Penerjemah : Utti Setiawati
Penerbit: Qanita
Tahun: 2006 - Cetakan I, Januari
Tebal: 639 hlm
 
Di Negeri Cina ada sebuah legenda tentang seorang wanita pejuang yang gagah berani bernama Liu Hulan. Pada saat Cina berperang melawan pendudukan Jepang , gadis pemberani itu menjadi mata-mata.
 
Liu Hulan lahir dari keluarga petani miskin di desa Yunchouhsi di Provinsi Shansi. Mereka sekeluarga membanting tulang mengolah tanah dan ladang di bawah terik matahari setiap hari serta memintal benang membuat pakaian sendiri.
 
Suatu hari, Tentara Kuomintang - lawan politik Mao - sampai di desa Liu Hulan. Mereka - tentara-tentara itu - memerintahkan penduduk desa untuk berkumpul di alun-alun. Tetapi ada satu pun penduduk yang mematuhinya hingga para tentara itu mengancam, bahwa jika tak ada yang mau maju, mereka akan menghabisi penduduk desa tersebut.
 
Hulan, gadis berusia lima belas tahun itu, tampil menyerahkan dirinya sebagai martir. Ia mati dengan kepala terpenggal. Mao Zedong, yang kemudian berkuasa, menjadikan Liu Hulan sebagai teladan bagi generasi muda Cina dalam mendukung suksesnya Revolusi Kebudayaan.
 
Kisah di atas hanya ilustrasi asal mula nama tokoh utama novel ini : Liu Hulan. Oleh kedua orang tuanya, putri mereka itu diharapkan memiliki keberanian hati, keteguhan jiwa, dan semangat berjuang seperti Liu Hulan. 
 
Liu Hulan dalam Jaring-jaring Bunga ini adalah seorang pengacara lulusan Amerika Serikat  yang bertugas di Kementrian Keamanan Publik Cina. Kariernya dimulai sebagai gadis pembuat teh sampai akhirnya menjabat sebagai inspektur yang menangani kasus-kasus kejahatan. Saat ini, ia tengah dihadapkan pada misteri terbunuhnya Billy Watson, putera Dubes Amerika di Cina yang ditemukan mati mengenaskan di sebuah danau yang membeku.
 
Pada saat yang hampir bersamaan, di Los Angeles, David Stark dari Kantor Jaksa Penuntut AS, sedang disibukkan oleh temuan mayat Guang Heng Lai di sebuah kapal pengangkut, China Peony, yang memuat sejumlah besar imigran Cina.
 
Penyelidikan selanjutnya menguak tabir adanya keterkaitan kedua kasus pembunuhan tersebut dan mempertemukan kembali sepasang kekasih lama - Hulan dan David - yang sempat terputus karena kepulangan Hulan ke Cina.
 
Berikutnya adalah cerita detektif diramu dengan percintaan romantis ala Amerika dengan latar belakang sejarah dan budaya Cina yang eksotis. Perpaduan yang menarik ini dimungkinkan oleh karena penulisnya, Lisa See, adalah orang Cina yang menetap di Amerika. Perbedaan kedua kultur yang unik tersebut - Amerika dan Cina - justru menjadi bumbu penyedap kisah ini.
 
Latar belakang sejarah Cina, di antaranya disinggung soal Revolusi Kebudayaan di bawah pimpinan Mao Zedong, serta perang dingin Cina-Amerika, sedikit banyak dapat saya pahami karena sebelumnya saya telah pernah membaca juga Angsa-angsa Liar karya Jung Chang.
 
Jaring-jaring Bunga sendiri adalah sebuah metode yang dipakai Hulan untuk menangkap pelaku kejahatan, yaitu sebuah jaring hasil pintalan tangan berbentuk lingkaran yang dipasangi pemberat di ujung-ujungnya. Ketika jaring ini dilempar, ia akan berkembang seperti bunga, mendarat di atas air, tenggelam di kedalaman yang gelap dan menangkap semua yang berada dalam lingkupannya.
 
Metode ini ternyata terbukti efektif. Perlahan tapi pasti, pasangan penyelidik ini berhasil mengurai misteri pembunuhan itu. Nama Rising Phoenix, sebuah triad di Cina, diduga kuat sebagai pihak yang harus bertanggungjawab. Lebih jauh lagi, penyelidikan Hulan dan David juga berhasil mengungkap bisnis jual beli ilegal dan penyelundupan empedu beruang liar dari Cina ke Amerika.
 
Sungguh, ini sebuah novel detektif yang menarik dengan tokoh utama seorang wanita. Seorang  perempuan dengan profesi sebagai inspektur penyelidik di sebuah negeri di mana para lelaki mendominasi peran-peran di sektor publik, tentulah menjadi daya pikat tersendiri.  Meski mengaku sebagai negara modern, Cina, seperti juga banyak negara Asia lainnya, masih memegang teguh adat dan budaya leluhur yang umumnya sangat patriarkhis.
 
Yang saya sayangkan, ending kisah ini terjerumus menjadi sangat Hollywood sekali : si penjahat mengakui semua perbuatannya, membeberkan seluruh rahasia kejahatannya,  sembari menodongkan pistol kepada para jagoan sebelum akhirnya justru ia sendiri yang mati tertembak atau bunuh diri. Adegan seperti ini banyak kita temui di film-film Hollywood, bukan?
 
Jaring-jaring Bunga adalah buku pertama dari serial Liu Hulan. Judul berikutnya adalah The Interior dan Dragon Bones.
 
Mengingat nuansa Cina yang kuat sekali, rasanya novel ini cocok sebagai kado Imlek :)
 
Endah Sulwesi 22/1
 

Posted at Sunday, January 22, 2006 by Perca
Comments (5)  

Wednesday, January 18, 2006
Narnia : Pangeran Caspian

Judul asli      The Chronicles of Narnia #4 Prince Caspian
Penulis         C.S.Lewis
Penerjemah  Donna Widjajanto
Penerbit        PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun           2005 - Cetakan I
Tebal            280 hal
 
Liburan sekolah akan segera berakhir. Peter, Susan, Edmund, dan Lucy harus kembali ke sekolah. Lihatlah, mereka sekarang ada di peron stasiun tengah menunggu kereta api yang akan membawa mereka ke asrama sekolah. Mereka terkenang kembali saat-saat menakjubkan sebagai raja dan ratu di Narnia setahun yang lalu. Rasanya seperti baru kemarin peristiwa itu mereka alami. Kenyataan harus kembali ke sekolah, membuat keempat saudara itu sedikit murung.
 
Sekonyong-konyong mereka serentak merasakan ada sesuatu yang menyeret mereka dan saat berikutnya Peter dan adik-adiknya telah berada di tengah hutan lebat! Kekuatan sihir memanggil mereka kembali ke Narnia. Ada apakah gerangan?
 
Seperti telah dikisahkan pada judul-judul sebelumnya, Narnia adalah sebuah negeri dongeng tempat segala keajaiban terjadi : pohon-pohon yang menari, hewan-hewan yang dapat bicara dan di sana hidup pula makhluk-makhluk dari segala jenis : centaur, dwarf, raksasa, faun dan lain-lain. Di sana, di Narnia, Peter bersaudara  diangkat menjadi raja dan ratu sebelum akhirnya kembali ke dunia riil.
 
Rupanya banyak pintu menuju Narnia. Dalam episode ini, anak-anak itu masuk ke Narnia malalui peron stasiun setelah Pangeran Caspian meniup terompet minta pertolongan. Terompet tersebut milik Susan semasa menjadi ratu.
 
Pangeran Caspian adalah ahli waris sah takhta Narnia yang dikhianati oleh pamannya sendiri. Ia mengetahuinya dari Doctor Cornelius, makhluk setengah dwarf yang menjadi guru privatnya dan diam-diam membantunya melarikan diri dari istana untuk kemudian  merebut kembali singgasana kerajaan Narnia dari tangan Miraz, sang paman.
 
Bagi Miraz, itu sama saja artinya dengan menantang perang. Maka, tak terelakkan lagi perang pun pecah antara Narnia Baru di bawah pimpinan Miraz dengan Narnia Lama yang dipimpin Caspian.
 
Ketika Caspian dan pengikutnya terdesak dan nyaris kalah, mereka memanggil Peter, Susan, Edmund, dan Lucy lewat tiupan terompet ajaib untuk kembali ke Narnia membantu mereka menghadapi Miraz. Maka, keempat anak tersebut kembali bertualang!
 
Episode Pangeran Caspian ini, menurut saya, agak sedikit 'sadis' sebagai bacaan anak-anak, sebab ada adegan perang dan bunuh membunuh antara tokoh baik dan jahatnya. Berbeda dengan dua episode sebelumnya yang saya baca - Sang Singa...dan Keponakan Penyihir -  berakhir dengan kepergian para tokoh antagonisnya, pada Pangeran Caspian ini, C.S. Lewis tanpa ragu-ragu 'membunuh' karakter penjahatnya untuk menyelesaikan konflik. Perang dan pembunuhan, tentu bukan teladan yang baik bagi anak-anak, kepada siapa buku ini ditujukan.
 
Cerita selebihnya masih tetap menarik.
 
Salah satu bagian favorit saya setiap membaca buku anak-anak karya terjemahan adalah bagian yang menceritakan makanannya. Bagian  yang justru acap kali dilupakan oleh para penulis cerita anak kita. Ingat saja Lima Sekawan dan Harry Potter, misalnya. Selalu ada acara makannya.
 
Pada bagian ini, biasanya saya jadi ikut-ikutan merasa sangat lapar membayangkan semua makanan lezat yang diceritakan itu; bahkan jika hanya sekadar menggambarkan soal roti tawar berlapis keju dan mentega dengan sebutir bawang saja atau sebatang coklat yang meleleh karena terlalu lama disimpan di saku.
 
Dan membaca Narnia hampir sama nikmatnya dengan makan sebatang coklat plus es krim. Yummy...!
 
Endah Sulwesi 18/01
 

Posted at Wednesday, January 18, 2006 by Perca
Comments (1)  

Sunday, January 15, 2006
Dialog

Judul: Dialog
Penulis: Umar Kayam
Penynting: Mikael Johani
Penerbit Metafor Publishing
Jakarta, Tahun 2005
Tebal: xv + 325 halaman

Saya tak pernah yakin bisa meresensi kumpulan tulisan-tulisan Umar Kayam ini dengan baik. Meski diniatkan oleh penyuntingnya - Mikael Johani - sebagai kumpulan dari tulisan-tulisan Umar Kayam yang "non-spesialis," tetap saja bagi saya, apa diangkatnya itu mengandung makna yang belum tentu bisa dimamah-baik oleh saya sebagai pembaca awam.
 
Apa yang saya tangkap adalah bahwa persoalan se-sepele apa pun, bagi Umar Kayam, mesti memiliki penjelasan. Dan sesederhana apa pun penjelasan itu, tetap saja ada referensi baginya. Dalam berbagai persoalan yang diangkatnya ada dialog yang tak putus-putus, seakan makna azali tak pernah final. Maka, pantas saja, menurut saya pribadi, kumpulan tulisan-tulisannya diberi judul Dialog, entah oleh penyunting entah oleh penerbit, karena yang ditawarkan Umar Kayam adalah dialog bagi kita, si pembaca, atas persoalan-persoalan yang ada.
 
Saya mengenal Umar Kayam lewat "Sri Sumarah" dan "Bawuk," kedua cerpennya yang terkenal itu. Meningkat ke Para Priyayi, lalu cerpen-cerpennya yang lain, dan lebih akrab lagi dengan "tetralogi"-nya, Mangan Ora Mangan Kumpul. Terakhir yang saya lihat adalah kumpulan kolomnya di TEMPO; Titipan Umar Kayam. Apa yang saya dapatkan, ia melihat hidup bukan melulu pada apa yang "berat" dan "dalam." Yang besar dan serius. Hidup itu luas dan beragam, dan ternyata lebih bewarna, tak seperti saya yang sering lupa bahwa hidup bukan sekedar dari kasur ke kakus, dari meja makan terus ke kasur lagi.
 
Ketika taksi-taksi Jakarta dipasangi AC pada tahun 1989 (lihat "Taksi AC Jakarta"), yang ia lihat bukan ada-tidaknya kemewahan sebagai suatu contoh status dari sebuah kota besar, tapi malah apa dan siapa sopir. Ketika, katakanlah sopir-sopir taksi sebagai, manusia dihadapkan pada perkembangan baru yang tak pernah dialami sebelumnya, yakni adanya AC dalam taksi, di sanalah bakal ada "goncangan" yang ternyata menarik juga untuk diamati dan celakanya sering luput dari pengamatan saya selama ini. Adakah sopir-sopir itu merasa nyaman dengan AC yang dingin sejuk? Bagaimana dengan yang perokok berat? Lantas, penumpang--adakah menerimanya?
 
Umar Kayam tak memberi jawab, tapi ia membuka dialog dengan saya, sebagai seorang pembaca, untuk tak melulu melihat kenyam anan sebagai hasil satu-satunya dari kemajuan. Banyak sudut pandang lain untuk melihat, ternyata. Dan itu saya sadari bukan sebagai jawaban langsung dari pertanyaan Umar Kayam, tapi hasil dialog dari "bola"  yang diumpankannya. Ini pun bukan bermaksud melebih-lebihkannya--tapi coba lihat contoh lain: "Jam Karet", misalnya.
 
Bagi saya, sudah jamak bahwa jam karet adalah suatu kebiasaan yang menjengkelkan dan saya berjanji untuk tak melakukannya meski kadang juga. Sebagai seorang yang menerima modernisasi, jam karet bagi saya adalah bencana. Jam karet adalah kebiasaan manusia-manusia sialan yang, sayangnya, sering saya jumpai di sekitar. Tapi apa kata Umar Kayam tentang jam karet?

Menurutnya (hal. 16), waktu memang dapat kita perlakukan baik secara mulur mungkret (baca: ngaret) atau tegar tepat. Masing-masing tentulah menurut ko nteks peristiwa serta kepentingannya. Ada waktunya memang membutuhkan bahkan menuntut untuk kita perlakukan secara karet, secara luwes. Ada pula waktunya sang waktu memang mengharuskan kita untuk memperlakukannya secara tegar tepat. Agaknya keduanya memang bagian dari kehidupan wajar manusia.
 
Coba bayangkan, bagaimana ia menerima bahkan memaafkan jam karet. Saya jelas tak habis pikir tentang pendapatnya itu. Tapi, ia pun menjelaskan, bahkan menyadarkan saya lewat dialog yang dilontarkannya, bahwa meski kita menerima konsep waktu industri, adalah kenyataan di depan mata bila belum sepenuhnya masyarakat kita sudah menerimanya jangankan mempraktekkannya. Konsep waktu agraris tradisional begitu lekat-mengakar dalam masyarakat kita, dan keadaan sekarang: kita masih dalam peralihan untuk meninggalkannya.

Karena itu, apa yang saya tafsirkan darinya ada lah, jangan memaksa apa yang belum pada tempatnya. Perlakukanlah menurut konteks peristiwa dan kepentingannya. Sebab, toh, kenyataan yang ada di tengah kita menunjukkan kebelumsiapan itu. Termasuk ucapan kita, "Saya baru bangun tidur sore ini," yang semestinya "Saya baru bangun pukul 16.33 ini...".
 
Masih ada 36 tulisan Umar Kayam lainnya dalam buku ini. Dan semuanya, seperti itu. Ia melontarkan dialog, bukan sekedar pertanyaan yang tak bisa kita jawab. Beberapa, misalnya, menyoroti pendidikan anak-anak (seperti dalam "Dunia Sekolah & Dunia Rumah") dan pendidikan tinggi ("Siap Pakai dan Terampil"). Beberapa lain tentang dunia pertunjukan pada kurun 1970-an sampai 1980-an (misalnya dalam "Wayang Orang Sriwedari" dan "Film Indonesia: Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri"). Yang agak lebih lain lagi dua tulisan tentang perjalanannya naik haji (lihat "Naik Haji" dan "Setahun Yang Lalu di Padang Arafah") . Beberapa tulisan, menariknya, meminjam tokoh-tokoh untuk berdialog dengan kita.
 
Misalnya Sardono W. Kusumo (dalam “Ketemu Sardono”). Dalam kegiatannya melihat-lihat berbagai pementasan di Eropa, Sardono mengaku tak banyak yang dilihatnya. Dari hari ke hari. Kasarnya: yang itu-itu juga... Pantas saja, bila apa yang dipertunjukkan Sardono di sana mendapat perhatian lebih dari masyarakat Eropa--yang melulu disuguhi yang serba analitis-rapi-teknis-teknologis-intelektualis-serebral-filosofis. Yang dibawa Sardono adalah polos dan langsung datang dari kehidupan.

Lantas, apa artinya? Agaknya, menurut saya, Umar Kayam ingin menunjukkan kepada kita bahwa rutinisasi memberi peluang banyak bagi kejenuhan dalam hidup berikut iramanya. Ketika tenggelam dan larut dalam proses rutinisasi, maka jangan berharap akan lahir kembali daya dan karya setingkat Bele nggu Armijn Pane di Indonesia ini (lihat "Yang Saya Kenang dari Armijn Pane"), jangan berharap lahirnya puisi-puisi memukau Rendra atau setidaknya orang "sekaliber" Utuy Tatang Sontani (lihat juga "Heeeee! Namaku Aswar").
 
Namun pada akhirnya, semua ini semata-mata hasil dialog saya, yang tentu saja dapat berbeda dengan hasil dialog pembaca-pembaca lain. Lagipula, tak semuanya dapat saya ikuti dialog yang dilontarkannya--seperti yang berjudul "Merenungkan Kemenangan Indira Gandhi." Pada beberapa tempat, terdapat subjek-subjek yang terkesan masih terlalu "spesialis" bagi seorang pembaca awam seperti saya. Ataukah memang itu kembali pada siapa pembacanya? Entahlah. Yang jelas, tidak terlalu buruk juga bagi saya untuk mengakui satu hal lain: saya tak tahu apa yang mesti saya kritik dari tulisan-tulisan Umar Kayam ini.

Rimbun Natamarga

 




Posted at Sunday, January 15, 2006 by Perca
Comments (2)  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed