Wednesday, January 18, 2006
Narnia : Pangeran Caspian

Judul asli      The Chronicles of Narnia #4 Prince Caspian
Penulis         C.S.Lewis
Penerjemah  Donna Widjajanto
Penerbit        PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun           2005 - Cetakan I
Tebal            280 hal
 
Liburan sekolah akan segera berakhir. Peter, Susan, Edmund, dan Lucy harus kembali ke sekolah. Lihatlah, mereka sekarang ada di peron stasiun tengah menunggu kereta api yang akan membawa mereka ke asrama sekolah. Mereka terkenang kembali saat-saat menakjubkan sebagai raja dan ratu di Narnia setahun yang lalu. Rasanya seperti baru kemarin peristiwa itu mereka alami. Kenyataan harus kembali ke sekolah, membuat keempat saudara itu sedikit murung.
 
Sekonyong-konyong mereka serentak merasakan ada sesuatu yang menyeret mereka dan saat berikutnya Peter dan adik-adiknya telah berada di tengah hutan lebat! Kekuatan sihir memanggil mereka kembali ke Narnia. Ada apakah gerangan?
 
Seperti telah dikisahkan pada judul-judul sebelumnya, Narnia adalah sebuah negeri dongeng tempat segala keajaiban terjadi : pohon-pohon yang menari, hewan-hewan yang dapat bicara dan di sana hidup pula makhluk-makhluk dari segala jenis : centaur, dwarf, raksasa, faun dan lain-lain. Di sana, di Narnia, Peter bersaudara  diangkat menjadi raja dan ratu sebelum akhirnya kembali ke dunia riil.
 
Rupanya banyak pintu menuju Narnia. Dalam episode ini, anak-anak itu masuk ke Narnia malalui peron stasiun setelah Pangeran Caspian meniup terompet minta pertolongan. Terompet tersebut milik Susan semasa menjadi ratu.
 
Pangeran Caspian adalah ahli waris sah takhta Narnia yang dikhianati oleh pamannya sendiri. Ia mengetahuinya dari Doctor Cornelius, makhluk setengah dwarf yang menjadi guru privatnya dan diam-diam membantunya melarikan diri dari istana untuk kemudian  merebut kembali singgasana kerajaan Narnia dari tangan Miraz, sang paman.
 
Bagi Miraz, itu sama saja artinya dengan menantang perang. Maka, tak terelakkan lagi perang pun pecah antara Narnia Baru di bawah pimpinan Miraz dengan Narnia Lama yang dipimpin Caspian.
 
Ketika Caspian dan pengikutnya terdesak dan nyaris kalah, mereka memanggil Peter, Susan, Edmund, dan Lucy lewat tiupan terompet ajaib untuk kembali ke Narnia membantu mereka menghadapi Miraz. Maka, keempat anak tersebut kembali bertualang!
 
Episode Pangeran Caspian ini, menurut saya, agak sedikit 'sadis' sebagai bacaan anak-anak, sebab ada adegan perang dan bunuh membunuh antara tokoh baik dan jahatnya. Berbeda dengan dua episode sebelumnya yang saya baca - Sang Singa...dan Keponakan Penyihir -  berakhir dengan kepergian para tokoh antagonisnya, pada Pangeran Caspian ini, C.S. Lewis tanpa ragu-ragu 'membunuh' karakter penjahatnya untuk menyelesaikan konflik. Perang dan pembunuhan, tentu bukan teladan yang baik bagi anak-anak, kepada siapa buku ini ditujukan.
 
Cerita selebihnya masih tetap menarik.
 
Salah satu bagian favorit saya setiap membaca buku anak-anak karya terjemahan adalah bagian yang menceritakan makanannya. Bagian  yang justru acap kali dilupakan oleh para penulis cerita anak kita. Ingat saja Lima Sekawan dan Harry Potter, misalnya. Selalu ada acara makannya.
 
Pada bagian ini, biasanya saya jadi ikut-ikutan merasa sangat lapar membayangkan semua makanan lezat yang diceritakan itu; bahkan jika hanya sekadar menggambarkan soal roti tawar berlapis keju dan mentega dengan sebutir bawang saja atau sebatang coklat yang meleleh karena terlalu lama disimpan di saku.
 
Dan membaca Narnia hampir sama nikmatnya dengan makan sebatang coklat plus es krim. Yummy...!
 
Endah Sulwesi 18/01
 

Posted at Wednesday, January 18, 2006 by Perca
Comments (1)  

Sunday, January 15, 2006
Dialog

Judul: Dialog
Penulis: Umar Kayam
Penynting: Mikael Johani
Penerbit Metafor Publishing
Jakarta, Tahun 2005
Tebal: xv + 325 halaman

Saya tak pernah yakin bisa meresensi kumpulan tulisan-tulisan Umar Kayam ini dengan baik. Meski diniatkan oleh penyuntingnya - Mikael Johani - sebagai kumpulan dari tulisan-tulisan Umar Kayam yang "non-spesialis," tetap saja bagi saya, apa diangkatnya itu mengandung makna yang belum tentu bisa dimamah-baik oleh saya sebagai pembaca awam.
 
Apa yang saya tangkap adalah bahwa persoalan se-sepele apa pun, bagi Umar Kayam, mesti memiliki penjelasan. Dan sesederhana apa pun penjelasan itu, tetap saja ada referensi baginya. Dalam berbagai persoalan yang diangkatnya ada dialog yang tak putus-putus, seakan makna azali tak pernah final. Maka, pantas saja, menurut saya pribadi, kumpulan tulisan-tulisannya diberi judul Dialog, entah oleh penyunting entah oleh penerbit, karena yang ditawarkan Umar Kayam adalah dialog bagi kita, si pembaca, atas persoalan-persoalan yang ada.
 
Saya mengenal Umar Kayam lewat "Sri Sumarah" dan "Bawuk," kedua cerpennya yang terkenal itu. Meningkat ke Para Priyayi, lalu cerpen-cerpennya yang lain, dan lebih akrab lagi dengan "tetralogi"-nya, Mangan Ora Mangan Kumpul. Terakhir yang saya lihat adalah kumpulan kolomnya di TEMPO; Titipan Umar Kayam. Apa yang saya dapatkan, ia melihat hidup bukan melulu pada apa yang "berat" dan "dalam." Yang besar dan serius. Hidup itu luas dan beragam, dan ternyata lebih bewarna, tak seperti saya yang sering lupa bahwa hidup bukan sekedar dari kasur ke kakus, dari meja makan terus ke kasur lagi.
 
Ketika taksi-taksi Jakarta dipasangi AC pada tahun 1989 (lihat "Taksi AC Jakarta"), yang ia lihat bukan ada-tidaknya kemewahan sebagai suatu contoh status dari sebuah kota besar, tapi malah apa dan siapa sopir. Ketika, katakanlah sopir-sopir taksi sebagai, manusia dihadapkan pada perkembangan baru yang tak pernah dialami sebelumnya, yakni adanya AC dalam taksi, di sanalah bakal ada "goncangan" yang ternyata menarik juga untuk diamati dan celakanya sering luput dari pengamatan saya selama ini. Adakah sopir-sopir itu merasa nyaman dengan AC yang dingin sejuk? Bagaimana dengan yang perokok berat? Lantas, penumpang--adakah menerimanya?
 
Umar Kayam tak memberi jawab, tapi ia membuka dialog dengan saya, sebagai seorang pembaca, untuk tak melulu melihat kenyam anan sebagai hasil satu-satunya dari kemajuan. Banyak sudut pandang lain untuk melihat, ternyata. Dan itu saya sadari bukan sebagai jawaban langsung dari pertanyaan Umar Kayam, tapi hasil dialog dari "bola"  yang diumpankannya. Ini pun bukan bermaksud melebih-lebihkannya--tapi coba lihat contoh lain: "Jam Karet", misalnya.
 
Bagi saya, sudah jamak bahwa jam karet adalah suatu kebiasaan yang menjengkelkan dan saya berjanji untuk tak melakukannya meski kadang juga. Sebagai seorang yang menerima modernisasi, jam karet bagi saya adalah bencana. Jam karet adalah kebiasaan manusia-manusia sialan yang, sayangnya, sering saya jumpai di sekitar. Tapi apa kata Umar Kayam tentang jam karet?

Menurutnya (hal. 16), waktu memang dapat kita perlakukan baik secara mulur mungkret (baca: ngaret) atau tegar tepat. Masing-masing tentulah menurut ko nteks peristiwa serta kepentingannya. Ada waktunya memang membutuhkan bahkan menuntut untuk kita perlakukan secara karet, secara luwes. Ada pula waktunya sang waktu memang mengharuskan kita untuk memperlakukannya secara tegar tepat. Agaknya keduanya memang bagian dari kehidupan wajar manusia.
 
Coba bayangkan, bagaimana ia menerima bahkan memaafkan jam karet. Saya jelas tak habis pikir tentang pendapatnya itu. Tapi, ia pun menjelaskan, bahkan menyadarkan saya lewat dialog yang dilontarkannya, bahwa meski kita menerima konsep waktu industri, adalah kenyataan di depan mata bila belum sepenuhnya masyarakat kita sudah menerimanya jangankan mempraktekkannya. Konsep waktu agraris tradisional begitu lekat-mengakar dalam masyarakat kita, dan keadaan sekarang: kita masih dalam peralihan untuk meninggalkannya.

Karena itu, apa yang saya tafsirkan darinya ada lah, jangan memaksa apa yang belum pada tempatnya. Perlakukanlah menurut konteks peristiwa dan kepentingannya. Sebab, toh, kenyataan yang ada di tengah kita menunjukkan kebelumsiapan itu. Termasuk ucapan kita, "Saya baru bangun tidur sore ini," yang semestinya "Saya baru bangun pukul 16.33 ini...".
 
Masih ada 36 tulisan Umar Kayam lainnya dalam buku ini. Dan semuanya, seperti itu. Ia melontarkan dialog, bukan sekedar pertanyaan yang tak bisa kita jawab. Beberapa, misalnya, menyoroti pendidikan anak-anak (seperti dalam "Dunia Sekolah & Dunia Rumah") dan pendidikan tinggi ("Siap Pakai dan Terampil"). Beberapa lain tentang dunia pertunjukan pada kurun 1970-an sampai 1980-an (misalnya dalam "Wayang Orang Sriwedari" dan "Film Indonesia: Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri"). Yang agak lebih lain lagi dua tulisan tentang perjalanannya naik haji (lihat "Naik Haji" dan "Setahun Yang Lalu di Padang Arafah") . Beberapa tulisan, menariknya, meminjam tokoh-tokoh untuk berdialog dengan kita.
 
Misalnya Sardono W. Kusumo (dalam “Ketemu Sardono”). Dalam kegiatannya melihat-lihat berbagai pementasan di Eropa, Sardono mengaku tak banyak yang dilihatnya. Dari hari ke hari. Kasarnya: yang itu-itu juga... Pantas saja, bila apa yang dipertunjukkan Sardono di sana mendapat perhatian lebih dari masyarakat Eropa--yang melulu disuguhi yang serba analitis-rapi-teknis-teknologis-intelektualis-serebral-filosofis. Yang dibawa Sardono adalah polos dan langsung datang dari kehidupan.

Lantas, apa artinya? Agaknya, menurut saya, Umar Kayam ingin menunjukkan kepada kita bahwa rutinisasi memberi peluang banyak bagi kejenuhan dalam hidup berikut iramanya. Ketika tenggelam dan larut dalam proses rutinisasi, maka jangan berharap akan lahir kembali daya dan karya setingkat Bele nggu Armijn Pane di Indonesia ini (lihat "Yang Saya Kenang dari Armijn Pane"), jangan berharap lahirnya puisi-puisi memukau Rendra atau setidaknya orang "sekaliber" Utuy Tatang Sontani (lihat juga "Heeeee! Namaku Aswar").
 
Namun pada akhirnya, semua ini semata-mata hasil dialog saya, yang tentu saja dapat berbeda dengan hasil dialog pembaca-pembaca lain. Lagipula, tak semuanya dapat saya ikuti dialog yang dilontarkannya--seperti yang berjudul "Merenungkan Kemenangan Indira Gandhi." Pada beberapa tempat, terdapat subjek-subjek yang terkesan masih terlalu "spesialis" bagi seorang pembaca awam seperti saya. Ataukah memang itu kembali pada siapa pembacanya? Entahlah. Yang jelas, tidak terlalu buruk juga bagi saya untuk mengakui satu hal lain: saya tak tahu apa yang mesti saya kritik dari tulisan-tulisan Umar Kayam ini.

Rimbun Natamarga

 




Posted at Sunday, January 15, 2006 by Perca
Comments (2)  

Wednesday, January 11, 2006
Gadis yang Menikahi Seekor Singa

Penulis       Alexander McCall Smith
Penerbit     Bentang
Tahun        2005 Cetakan I
Tebal         195 hal
 
Sekali lagi, Perca mengetengahkan review dongeng. Kali ini dongeng-dongeng indah berasal dari Afrika, tepatnya Zimbabwe dan Bostwana. Pendongengnya adalah Alexander McCall Smith, penulis Skotlandia kelahiran Zimbabwe. Ia 'sekadar' menuliskan kembali - dengan bantuan seorang penerjemah - cerita-cerita rakyat yang ia kumpulkan sejak duapuluh tahun lalu dari masyarakat di bagian selatan Zimbabwe.
 
Seperti juga dongeng-dongeng dari negeri kita (dan dari banyak negeri lainnya), dongeng Afrika ini banyak menampilkan binatang sebagai tokoh-tokohnya. Karena ini Afrika, singalah yang sering mendapat peran utama dalam dongeng yang seluruhnya ada 33 di buku ini. Ia, singa, tak selalu digambarkan sebagai si gagah perkasa tak terkalahkan, kejam, buas, licik. Kadang-kadang ia bisa jadi si pecuncang dan baik hati.
 
Satu hal yang akan selalu kita temukan dalam dongeng dan cerita-cerita rakyat adalah unsur keajaiban yang mustahil dapat kita jumpai di dunia real. Dalam buku ini misalnya, ada anak-anak yang terbuat dari lilin, yang akan meleleh di panas matahari (Anak-anak Lilin hal 57) atau seekor burung yang menghasilkan susu (Burung Susu hal 43). Unik bukan? Semua itu hanya bisa terjadi dalam dongeng.
 
Dalam kata pengantar buku ini, McCall Smith mengatakan, bahwa dongeng-dongeng di seluruh dunia memiliki sejumlah kesamaan, dan banyak tema yang umum muncul dalam tradisi rakyat yang budayanya berbeda jauh. Ini berarti, dongeng merupakan bagian dari bahasa universal yang dapat berbicara kepada semua orang, melampaui batas-batas manusia, sebagaimana halnya musik.
 
Tradisi mendongeng (sastra lisan) ada di mana-mana rupanya. Kisah-kisah rakyat itu tersebar meluas dari mulut ke mulut, turun-temurun dari generasi ke generasi, bahkan menyeberang jauh ke benua lain setelah dituliskan kembali.
 
Walau pun bersifat universal, setiap dongeng membawa ciri khas daerah/negeri dari mana ia berasal. Jika pada banyak dongeng Barat, kita jumpai para tokohnya  adalah putri dan pangeran dari istana raja-raja, maka dongeng Afrika ini lebih banyak mengangkat kehidupan rakyat kebanyakan yang tinggal di gurun dengan tradisi berburu dan bertani. Kedekatan hubungan manusia dengan alam (tumbuhan dan hewan) sangat kental tergambar dalam hampir di setiap cerita, bahkan sejak dari judul-judulnya : Gadis yang Menikahi Seekor Singa, Labu, Kelinci Hutan Berhati Batu, Lelaki Buta Menangkap Seekor Burung, Kisah Sedih Kura-kura dan Siput. Babun Pemalas, Ular Raksasa, Pohon Kelapa, dan lain-lain.
 
Membaca dongeng-dongeng dalam buku ini membawa kenangan saya pada masa kecil; saat di mana hampir setiap malam menjelang tidur, ayah saya mengisahkan satu cerita indah kepada saya dan adik saya. Kami tak pernah bosan mendengarnya, meski pun diceritakan berulang-ulang (mungkin karena ayah sudah kehabisan cerita). Beberapa dari dongeng-dongeng tersebut amat berkesan, sehingga sampai hari ini saya masih bisa mengingatnya dengan baik.
 
Alexander McCall Smith mendongeng seperti seorang ayah kepada anaknya. Bahasanya sederhana dan lugas, dan karena ceritanya singkat-singkat, kita akan dapat menghapalnya untuk kita kisahkan kembali kepada anak-anak kita.
 
Gadis yang Menikahi Seekor Singa ini bukan satu-satunya buku McCall Smith yang berlatarbelakang Afrika. Ia juga menulis The No.1 Ladies' Detective Agency - terjemahan Indonesianya telah terbit tahun lalu dengan judul Kantor Detektif Wanita No.1 - yang ber-setting Bostwana.
 
Endah Sulwesi 11/01
 

Posted at Wednesday, January 11, 2006 by Perca
Comments (4)  

Sunday, January 08, 2006
Manifesto Khalifatullah

 
Penulis        Achdiat K.Mihardja
Penerbit      Arasy Mizan
Tahun         2005 - cetakan I
Tebal          219 hal
Suatu kali, Kurnia Effendi, cerpenis kondang itu, pernah berkata, bahwa suatu hari nanti dalam hidupnya, ia akan pensiun menulis. Waktu itu saya menjawabnya, bahwa pekerjaan atau profesi sebagai penulis seharusnya tidak mengenal kata pensiun. 
 
Saat menjawab itu, saya teringat pada Achdiat Karta Mihardja yang masih terus menulis di usia senjanya : 90 tahun. Sebuah kesetiaan pada profesi yang pasti didasari kecintaan amat mendalam; bahkan ketika kedua mata tuanya tak sanggup lagi melihat huruf-huruf yang akan membentuk ceritanya, ia masih 'menulis'. Dengan bantuan sekretarisnya, Si Aki - demikian ia kerap disapa - melahirkan Manifesto Khalifatullah.
 
Manifesto Khalifatullah adalah sebuah - seperti disebut oleh penulisnya - kispan (kisah panjang) tentang "aku", yang tak lain Achdiat Karta Mihardja sendiri, dalam menemukan kesejatian diri seorang manusia sebagai khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi ; yang berarti bahwa sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia haruslah memanifestasikan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya dengan semaksimal mungkin sambil tetap tunduk patuh kepada segala perintah-Nya.
 
Sungguh kental memang nuansa spiritual novel, eh maaf, kisah panjang ini. Ia merupakan uraian, ungkapan, dan rekaman perjalanan batin (spiritual) Aki selama hidupnya dalam menemukan 'kebenaran' yang sesungguhnya.
 
Tidak salah jika ada yang mengatakan, bahwa seseorang akan menjadi kian relijius di masa tuanya; semakin menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya sebagai manusia; semakin haus dan rindu kepada 'kebenaran' : Tuhan. Mungkin, karena tahu kematian semakin dekat atau telah puas kenyang bertualang di dunia dan kinilah saatnya kembali 'pulang' dalam keadaan suci seperti ketika memulai perjalanan dulu.
 
Sebagai seorang muslim sejak lahir, jalan Islam jualah yang akhirnya dipilih Aki menuju 'kebenaran' itu, setelah ia lelah berputar-putar mengelana di lautan pemikiran para intelektual dunia ;  berdialog dengan Nietzche, Marx, Siddharta, Engles, Lenin...
 
Jelas sangatlah berbeda novelet ini dibandingkan dengan karya masterpiece-nya : Atheis yang berisi jalinan kisah dengan tokoh-tokoh yang saling berkonflik ideologi Manifesto Khalifatullah lebih merupakan dialog Aki dengan dirinya sendiri yang sarat kritik, nasihat, serta khutbah/pidato yang membuat kispan ini jadi cenderung kaku ( untuk tak menyebutnya membosankan). Aki seperti kehilangan kemampuannya bermetafora, berindah-indah dalam bertutur.
 
Aki menyerang ke sana - ke mari, ditujukan kepada paham-paham/ideologi yang dinilainya sangat sekuler.  Ia juga sibuk membanding-bandingkan Timur dan Barat dengan meminjam polemik Sanusi Pane dan STA (Sutan Takdir Alisyahbana). Ia membahas Pancasila, komunisme, eksistensialisme, buddhisme dll yang pada beberapa bagian diuraikan dalam bentuk wawancara imajiner dengan para tokohnya.
 
Pada akhirnya, lewat Manifesto Khalifatullah, sastrawan yang lama bermukim di Australia ini, ingin menegaskan kembali keyakinannya pada kebenaran Islam sebagai agama akal. Kebenaran tersebut dijadikan sebagai kalimat kunci imaniahnya. Menurutnya, akal merupakan daya jiwa yang utama dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk membedakannya dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain (hal 212)
 
Kita boleh saja berpendapat, bahwa sebagai kispan, Manifesto Khalifatullah ini kurang menarik. Namun, barangkali yang terpenting adalah semangat mencipta dan terus berkarya dari penulisnya yang patut kita contoh. Pada 6 Maret nanti, Aki genap berusia 95 tahun dan tampaknya ia belum hendak pensiun menulis.
 
Jadi, sebaiknya kawan saya terkasih, Kef, harus buru-buru membatalkan niat pensiun yang sempat diucapkannya beberapa waktu lalu.
 
Endah Sulwesi 8/12

Posted at Sunday, January 08, 2006 by Perca
Comments (1)  

Thursday, January 05, 2006
Kincir Api

Penulis    Kurnia Effendi
Penerbit   Gramedia Pustaka Utama
Tahun      2005 - Cetakan I
Tebal       164 hal

Di  antara sederet nama-nama cerpenis Indonesia mutakhir yang cukup produktif, Kurnia Effendi adalah salah seorang di antaranya. Karya-karyanya terus mengalir mengisi kanal-kanal sastra media massa kita—yang menarik,  karya-karya Kurnia tidak hanyalakudi media-media yang selama ini memiliki citra sebagai media yang memuat sastraserius”, melainkan juga pada terbitan-terbitan yang secara khusus menyasar segmen remaja sebagai pasarnya, atau yang belakangan dikenal sebagai ciklit. Karya-karyanya yang dimuat di media massa itulah kemudian diterbitkan menjadi sejumlah buku. Sebut saja Senapan Cinta (KataKita, 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Metafor, 2004),  Aura Negeri Cinta (Forum Lingkar Pena, 2005), dan yang paling gres Kincir Api (Gramedia, Agustus 2005). Keempat bukunya tersebut tak pelak memperlihatkan Kurnia sebagai penulis cerpen yang serba bisa. Kemampuan yang jarang dimiliki pengarang lain.  

Bukunya yang paling gres, Kincir Api, memuat 14 cerpen yang seluruhnya lebih dahulu disiarkan media massa. Kekhasan yang menonjol dari karya-karya Kurnia adalah ketelatenannya mendeskripsikan secara detil setiap peristiwa, latar, maupun karakter tokoh-tokohnya sehingga menyosok dalam balutan bahasa yang rimbun. Bahasa sebagai satu-satunya perangkat pengarang dikuasainya dengan sangat memadai. Membaca cerpen-cerpen Kurnia kita dibawa pada tamasya bahasa yang sangat kaya dan memberikan kenikmatan. Kurnia membiarkan cerpen-cerpennya hadir tanpa pretensi. Apakah ini menunjukkan bahwa Kurnia termasuk pengarang yang lebih mempertaruhkan karyanya pada bentuk?   

Sebagian kita sepakat, bahwa kekokohan teks cerpen tidak terletak pada suguhan pesan yang hendak disilahturahmikan, melainkan sejauh mana ia mampu berdiri sebagai bangunan estetika bahasa yang padu secara logika, gramatika dalam mewadahi imajinasi. Di sana ada proses pergulatan, penggalian yang tak pernah selesai terhadap bahasa sebagai satu-satunya perangkat yang dimiliki pengarang. Asumsi ini kemudian mendasari pemikiran bahwa teks sastra bekerja di wilayah ide dan kekuatan imajinasi yang tidak bisa dikungkung oleh batasan moral, aliran politik, serta perkara di luar teks lainnya. Inilah hakikat sastra seperti yang disebut Budi Darma, bahwa sastra adalah dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia sosiologi, politik, agama dan lain-lain (Harmonium, 1995). Hipotesis di atas tidak serta merta menjadikan sastra batal sebagai medium yang memberi nilai-nilai reflekif atas realitas sosial.  

Membaca kumpulan cerpen Kurnia Effendi, Kincir Api, tak keliru kiranya bila kita memasukkan Kurnia dalam barisan pengarang yang meneguhi hipotesis di atas. Dengan kesadaran semacam inilah saya kira membaca cerpen-cerpen Kurnia jangan berharap disuguhi khotbah moral, tapi justru harus bersiap menikmati guyuran kalimat-kalimat rimbun dengan detail yang demikian tumpah ruah namun tetap terkontrol; dan kaya dengan metafor-metafor begitu imajinatif dan petualangan berbahasa yang memukau. Setiap peristiwa dan suasana dideskripsikan secara rinci dan puitik sehingga mampu menggugah kesadaran sekaligus kesegaran berbahasa. Surat yang kubaca tiba-tiba basah. Bukan oleh siapa-siapa. Huruf itu perlahan menebal, saling bersentuhan dan warnanya mengabur. Luntur. Mereka mencair mirip es yang meleleh (Air, halaman 37)/ ibu tidak menjawab. Namun tatapannya memancarkan api. Ranggas pohon yang dipandangnya hangus seketika (Api, halaman 39). 

Kurnia berkisah tentang berbagai tema, dari mulai perselingkuhan sampai ketuhanan (religius), dengan mempertaruhkan bahasa yang di dalam dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk merambah pelbagai kemungkinan. Bahkan untuk tema-tema religius, Kurnia sama sekali tidak dengan sengaja menyisipkan pesan-pesan. Teks terkesan tampak telah berdiri sebagai entitas otonom, kalaupun muncul anasir pesan ia hadir semata sebagai logika berbahasa yang mau tak mau terjerat dalam kaidah-kaidah sastra yang mesti dipatuhi. Cerpen Seseorang Mirip Nuh, dan empat lainnya, yakni Memecah Udara, Tumbal, Tongkat Musa, misalnya, merupakan cerpen yang kaya simbol-simbol yang diangkut dari mitologi dan riwayat besar dalam tradisi keagamaan sebagai titik pijak cerita. Kehadiran simbol-simbol tersebut sangat padu dalam keutuhan tema yang berkelindan dengan realitas faktual dengan alur meliuk-liuk menjebak sekaligus memabukkan. Bukan sapuan kasar yang menjadikan cerpennya penuh tendensi tertentu. Kecemasan seseorang perihal kabar akan datangnya banjir bandang dalam Seseorang Mirip Nuh atau seseorang yang tiba-tiba menemukan kesadaran religiusnya setelah mendapatkan kiriman misterius sebuah tongkat yang mampu membelah air dalam Tongkat Musa serta keajaiban yang terjadi dalam  Air memancar dari Ujung Jemarinya. Mereka hadir dalam sistem cerita yang utuh. Unsur ketegangan, kejutan berpadu dan saling menunjang cerita dengan ending terbuka dan memunculkan ambiguitas yang memukau.   

Kemampuan Kurnia melakukan eksplorasi bahasa dipadu dengan kekuatan imajinasi yang liar sanggup menghadirkan teks sebagai  dunia yang menyungguhkan pelbagai kemungkinan tak terduga. Unsur-unsur ini semakin terasa mengental pada cerpen Kincir Api, yang dijadikan  judul buku, kemudian Mencintai Boneka, empat komposisi pendek: Angin, Api, Air, Tanah, dan Warna Ajal.  Kincir Api berkisah tentang seorang anak keturunan malaikat yang dihantui khayalan terbang ke langit; untuk mewujudkan khayalannya ia memelihara sepasang angsa yang kelak bulu-bulunya ia kumpulkan dan disulam menjadi sayap yang mampu membawanya terbang menemui mimpi-mimpinya.  Mencintai Boneka menggambarkan kesalahan persepsi berbahasa terhadap objek yang sama antara ibu dan anak bisa berakibat pada hubungan buruk. Sebuah tema keterasingan yang lazim namun disampaikan secara unik dan memikat. Terkisah di sana tentang seorang anak membunuh ibunya gara-gara sang ibu tidak memberikan jawaban semestinya. Sang ibu melarangnya mencintai boneka.  

Kekuatan cerpen-cerpen Kurnia dalam membuat deskripsi yang begitu detail dan puitis tampaknya disadari betul sehingga cerita Kurnia mampu tampil secara luwes dan enak dinikmati. Kenikmatan yang didapat dari membaca cerpen Kurnia tidak semata lantaran cara pandang cerpen-cerpennya yang unik, tapi juga teks cerpen diletakkan dalam bingkainya yang paling substansif, pertimbangan mengolah gagasan dengan mantap. Dengan kekuatannya itu Kurnia tidak perlu melakukan eksperimentasi teknik berkisah untuk mencapai kompetensi literer ataupun pendahsyatan-pendahsyatan artifisial seperti yang dilakukan banyak cerpenis mutakhir. Tehnik berkisah yang diamalkan Kurnia dengan sendirinya menghadirkan pola ungkap yang personal.  

Pada cerpen Sang Penari, Juru Rias dan Seorang Pesolek, Lagu Jauh, Tilas Cemeti di Punggung, dan Roti Tawar kita, seperti diakui Andy Fuller, pengamat Sastra Indonesia berkewarganegaraan Australia, yang tertera di cover belakang buku, menemukan kenyataan bahwa susastra tidak harus menjadi perjalanan yang terbatas pada realisme atau surealisme. Sesungguhnya karakter yang kuat pada diksi dan irama cerpen-cerpen Kurnia menjadikan semua cerpen Kurnia memberikan pemahaman yang mengatasi dikotomi antara sastra sebagai cara dan semata kendaraan penyampai gagasan.***

 *Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).

Posted at Thursday, January 05, 2006 by Perca
Comments (5)  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed