|
|
 |
 |
|
Thursday, January 05, 2006

Penulis Kurnia Effendi
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 164 hal
Di antara sederet nama-nama cerpenis Indonesia mutakhir yang cukup produktif, Kurnia Effendi adalah salah seorang di antaranya. Karya-karyanya terus mengalir mengisi kanal-kanal sastra media massa kita—yang menarik, karya-karya Kurnia tidak hanya “laku” di media-media yang selama ini memiliki citra sebagai media yang memuat sastra “serius”, melainkan juga pada terbitan-terbitan yang secara khusus menyasar segmen remaja sebagai pasarnya, atau yang belakangan dikenal sebagai ciklit. Karya-karyanya yang dimuat di media massa itulah kemudian diterbitkan menjadi sejumlah buku. Sebut saja Senapan Cinta (KataKita, 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Metafor, 2004), Aura Negeri Cinta (Forum Lingkar Pena, 2005), dan yang paling gres Kincir Api (Gramedia, Agustus 2005). Keempat bukunya tersebut tak pelak memperlihatkan Kurnia sebagai penulis cerpen yang serba bisa. Kemampuan yang jarang dimiliki pengarang lain.
Bukunya yang paling gres, Kincir Api, memuat 14 cerpen yang seluruhnya lebih dahulu disiarkan media massa. Kekhasan yang menonjol dari karya-karya Kurnia adalah ketelatenannya mendeskripsikan secara detil setiap peristiwa, latar, maupun karakter tokoh-tokohnya sehingga menyosok dalam balutan bahasa yang rimbun. Bahasa sebagai satu-satunya perangkat pengarang dikuasainya dengan sangat memadai. Membaca cerpen-cerpen Kurnia kita dibawa pada tamasya bahasa yang sangat kaya dan memberikan kenikmatan. Kurnia membiarkan cerpen-cerpennya hadir tanpa pretensi. Apakah ini menunjukkan bahwa Kurnia termasuk pengarang yang lebih mempertaruhkan karyanya pada bentuk?
Sebagian kita sepakat, bahwa kekokohan teks cerpen tidak terletak pada suguhan pesan yang hendak disilahturahmikan, melainkan sejauh mana ia mampu berdiri sebagai bangunan estetika bahasa yang padu secara logika, gramatika dalam mewadahi imajinasi. Di sana ada proses pergulatan, penggalian yang tak pernah selesai terhadap bahasa sebagai satu-satunya perangkat yang dimiliki pengarang. Asumsi ini kemudian mendasari pemikiran bahwa teks sastra bekerja di wilayah ide dan kekuatan imajinasi yang tidak bisa dikungkung oleh batasan moral, aliran politik, serta perkara di luar teks lainnya. Inilah hakikat sastra seperti yang disebut Budi Darma, bahwa sastra adalah dunia tersendiri yang berbeda dengan dunia sosiologi, politik, agama dan lain-lain (Harmonium, 1995). Hipotesis di atas tidak serta merta menjadikan sastra batal sebagai medium yang memberi nilai-nilai reflekif atas realitas sosial.
Membaca kumpulan cerpen Kurnia Effendi, Kincir Api, tak keliru kiranya bila kita memasukkan Kurnia dalam barisan pengarang yang meneguhi hipotesis di atas. Dengan kesadaran semacam inilah saya kira membaca cerpen-cerpen Kurnia jangan berharap disuguhi khotbah moral, tapi justru harus bersiap menikmati guyuran kalimat-kalimat rimbun dengan detail yang demikian tumpah ruah namun tetap terkontrol; dan kaya dengan metafor-metafor begitu imajinatif dan petualangan berbahasa yang memukau. Setiap peristiwa dan suasana dideskripsikan secara rinci dan puitik sehingga mampu menggugah kesadaran sekaligus kesegaran berbahasa. Surat yang kubaca tiba-tiba basah. Bukan oleh siapa-siapa. Huruf itu perlahan menebal, saling bersentuhan dan warnanya mengabur. Luntur. Mereka mencair mirip es yang meleleh (Air, halaman 37)/ ibu tidak menjawab. Namun tatapannya memancarkan api. Ranggas pohon yang dipandangnya hangus seketika (Api, halaman 39).
Kurnia berkisah tentang berbagai tema, dari mulai perselingkuhan sampai ketuhanan (religius), dengan mempertaruhkan bahasa yang di dalam dirinya sendiri memiliki kemampuan untuk merambah pelbagai kemungkinan. Bahkan untuk tema-tema religius, Kurnia sama sekali tidak dengan sengaja menyisipkan pesan-pesan. Teks terkesan tampak telah berdiri sebagai entitas otonom, kalaupun muncul anasir pesan ia hadir semata sebagai logika berbahasa yang mau tak mau terjerat dalam kaidah-kaidah sastra yang mesti dipatuhi. Cerpen Seseorang Mirip Nuh, dan empat lainnya, yakni Memecah Udara, Tumbal, Tongkat Musa, misalnya, merupakan cerpen yang kaya simbol-simbol yang diangkut dari mitologi dan riwayat besar dalam tradisi keagamaan sebagai titik pijak cerita. Kehadiran simbol-simbol tersebut sangat padu dalam keutuhan tema yang berkelindan dengan realitas faktual dengan alur meliuk-liuk menjebak sekaligus memabukkan. Bukan sapuan kasar yang menjadikan cerpennya penuh tendensi tertentu. Kecemasan seseorang perihal kabar akan datangnya banjir bandang dalam Seseorang Mirip Nuh atau seseorang yang tiba-tiba menemukan kesadaran religiusnya setelah mendapatkan kiriman misterius sebuah tongkat yang mampu membelah air dalam Tongkat Musa serta keajaiban yang terjadi dalam Air memancar dari Ujung Jemarinya. Mereka hadir dalam sistem cerita yang utuh. Unsur ketegangan, kejutan berpadu dan saling menunjang cerita dengan ending terbuka dan memunculkan ambiguitas yang memukau.
Kemampuan Kurnia melakukan eksplorasi bahasa dipadu dengan kekuatan imajinasi yang liar sanggup menghadirkan teks sebagai dunia yang menyungguhkan pelbagai kemungkinan tak terduga. Unsur-unsur ini semakin terasa mengental pada cerpen Kincir Api, yang dijadikan judul buku, kemudian Mencintai Boneka, empat komposisi pendek: Angin, Api, Air, Tanah, dan Warna Ajal. Kincir Api berkisah tentang seorang anak keturunan malaikat yang dihantui khayalan terbang ke langit; untuk mewujudkan khayalannya ia memelihara sepasang angsa yang kelak bulu-bulunya ia kumpulkan dan disulam menjadi sayap yang mampu membawanya terbang menemui mimpi-mimpinya. Mencintai Boneka menggambarkan kesalahan persepsi berbahasa terhadap objek yang sama antara ibu dan anak bisa berakibat pada hubungan buruk. Sebuah tema keterasingan yang lazim namun disampaikan secara unik dan memikat. Terkisah di sana tentang seorang anak membunuh ibunya gara-gara sang ibu tidak memberikan jawaban semestinya. Sang ibu melarangnya mencintai boneka.
Kekuatan cerpen-cerpen Kurnia dalam membuat deskripsi yang begitu detail dan puitis tampaknya disadari betul sehingga cerita Kurnia mampu tampil secara luwes dan enak dinikmati. Kenikmatan yang didapat dari membaca cerpen Kurnia tidak semata lantaran cara pandang cerpen-cerpennya yang unik, tapi juga teks cerpen diletakkan dalam bingkainya yang paling substansif, pertimbangan mengolah gagasan dengan mantap. Dengan kekuatannya itu Kurnia tidak perlu melakukan eksperimentasi teknik berkisah untuk mencapai kompetensi literer ataupun pendahsyatan-pendahsyatan artifisial seperti yang dilakukan banyak cerpenis mutakhir. Tehnik berkisah yang diamalkan Kurnia dengan sendirinya menghadirkan pola ungkap yang personal.
Pada cerpen Sang Penari, Juru Rias dan Seorang Pesolek, Lagu Jauh, Tilas Cemeti di Punggung, dan Roti Tawar kita, seperti diakui Andy Fuller, pengamat Sastra Indonesia berkewarganegaraan Australia, yang tertera di cover belakang buku, menemukan kenyataan bahwa susastra tidak harus menjadi perjalanan yang terbatas pada realisme atau surealisme. Sesungguhnya karakter yang kuat pada diksi dan irama cerpen-cerpen Kurnia menjadikan semua cerpen Kurnia memberikan pemahaman yang mengatasi dikotomi antara sastra sebagai cara dan semata kendaraan penyampai gagasan.***
*Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, reportase, esai untuk sejumlah penerbitan. Bukunya yang telah terbit Lagu Cinta untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2005).
Posted at Thursday, January 05, 2006 by Perca
Permalink
Tuesday, January 03, 2006
DYAH PITALOKA : Senja Di Langit Majapahit

Penulis Hermawan Aksan
Penerbit C I Publishing
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 326 hal
Siapa yang tak mengenal Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit yang pernah bersumpah tak akan makan buah palapa sebelum seluruh Nusantara bersatu? Kebesaran namanya bukan saja karena sumpahnya itu, tetapi juga karena kepemimpinannya. Namanya tak bisa dilepaskan dari kerajaan besar di Jawa Timur itu, yang kekuasaannya meliputi sebagian Jawa, Bali, dan Sumatra. Majapahit adalah Gajah Mada dan Gajah Mada adalah Majapahit.
Kesetiaan sang Mahapatih kepada kerajaan tak perlu diragukan. Seluruh hidupnya dibaktikan demi kejayaan Majapahit. Baginya, mengabdi kepada kerajaan itu di atas segala-galanya. Lebih penting dari nyawanya sendiri. Dan memenuhi sumpahnya adalah ambisi yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Saat banyak negeri takluk - dengan suka rela ataupun melalui perlawanan - di bawah kebesaran Majapahit, nun di sebelah Barat Jawa, di kaki Gunung Sawal, tersebutlah sebuah kerajaan Sunda dengan rajanya Linggabuana, berdiri bebas merdeka; membuat Gajah Mada penasaran ingin menaklukkannya demi memenuhi ambisinya. Maka, diputarlah otaknya mencari cara yang tepat agar kerajaan tersebut dapat dikuasai.
Ketika itu raja muda Hayam Wuruk masih belum beristri. Banyak sudah utusan dan juru lukis istana dikirim ke negeri-negeri taklukan guna mencari calon permaisuri. Namun, hingga kini tak jua ada yang berkenan di hati Sang Raja.
Kebetulan sekali, Raja Linggabuana memiliki seorang putri jelita yang juga belum menikah. Dialah Dyah Pitaloka; seorang putri yang bukan saja cantik rupa, tetapi juga cantik budi bahasa, cerdas, ramah, baik hati, dan pemberani. Gajah Mada pun menemukan jalan!
Singkat cerita, Hayam Wuruk pun jatuh cinta pada sang putri jelita. Lalu, disampaikanlah lamaran resmi yang diterima dengan segala kebanggaan oleh Prabu Linggabuana. Dyah tak kuasa menolak. Ia tak ingin mengecewakan rama dan bundanya, meski pun sebenarnya ia masih punya cita-cita luhur memajukan kaumnya di negeri Sunda.
Ia ingin, perempuan negerinya tak hanya pandai menjadi istri setia, tetapi juga pandai membaca dan menulis. Ia tak ingin sekadar menjadi seperti Dayang Sumbi atau Purbasari. Ia bermimpi, perempuan Sunda kelak juga bisa memimpin negeri sebagaimana cerita yang ia baca dari negeri-negeri seberang di luar Tanah Sunda.
Namun, apa daya, ia tak mampu menolak nasib yang telah digariskan baginya. Maka, pergilah ia menyongsong masa depannya ke Tanah Jawa.
Ternyata ia bukan sekadar menyerahkan dirinya , tetapi juga mengantarkan nyawanya. Putri Sunda itu mati dengan gagah berani di ujung tusuk kondenya sendiri, bahkan sebelum sampai ke pelaminan. Ia memilih mati bersama ayahanda dan rakyatnya demi membela kehormatan negeri ketimbang harus takluk pada tipu muslihat Gajah Mada yang licik dan keji. Peristiwa ini kemudian dikenal sejarah sebagai Perang Bubat.
Menarik, kisah di balik Perang Bubat yang dituturkan dalam novel Dyah Pitaloka ini. Dikemas dalam fiksi, membuat penulisnya bebas mengembangkan plot cerita dengan menggabungkan fakta dan imajinasi.
Di samping itu, sebagai penggemar wayang, Hermawan Aksan, penulis novel ini, cukup banyak juga mengutip lakon Mahabarata dan Ramayana sebagai ilustrasi dan pengaya cerita.
Berangkat dari obsesi penulisnya yang ingin menampilkan wanita cantik dalam sejarah (Sunda) - di Jawa ada Ken Dedes - maka dipilihlah Dyah Pitaloka dengan karakter hasil rekaannya : bukan hanya cantik tetapi juga cerdas, pemberani, dan penuh gagasan maju. Tentu saja, tokoh Dyah Pitaloka adalah real (fakta), namun soal karakter dan gambaran fisiknya, sepenuhnya hasil imajinasi penulis. Sebab, masih menurut penulisnya, tak ada ditemukan peninggalan berupa patung atau lukisan sosok sang putri jelita ini. Yang ada hanya sekadar gambaran Dyah Pitaloka yang cantik dan manja. Berbeda dengan Ken Dedes, misalnya, yang patungnya masih bisa kita lihat.
Selalu ada risiko dikritik oleh para sejarawan menulis kisah fiksi berdasarkan sejarah. Namun, semestinya kita bisa bersikap objektif dalam memberi penilaian sebuah karya fiksi. Sepanjang tak ada fakta sejarah yang disimpangkan atau diputarbalikkan, kisah tersebut patut kita terima sebagai sebuah upaya memperkaya wawasan dan melihat sejarah dari perspektif berbeda.
Misalnya saja, dalam novel ini, ditampilkan sisi lain Gajah Mada yang licik dan ambisius. Selama ini yang sering kita dengar hanyalah Gajah Mada yang perkasa, pahlawan yang telah mempersatukan Nusantara. Karakter Gajah Mada yang licik dan ambisius, rasanya mungkin saja, mengingat ia seorang panglima perang sebuah kerajaan besar. Tanpa ambisi, mustahil ia mampu meraih kejayaan.
Hari ini kita masih sering menyaksikan hubungan Jawa-Sunda (orang Jawa dan orang Sunda) yang tampak tidak terlalu mulus. Masing-masing pihak mengklaim sebagai "yang lebih tua". Apakah itu bermula dari Perang Bubat ini, yang mengakibatkan Gajah Mada gagal memenuhi sumpahnya dan Negeri Sunda kehilangan raja dan putrinya? Entahlah..
Bagian yang paling menarik, menurut saya, adalah saat Dyah Pitaloka memilih menikam ulu hatinya sendiri dengan patrem, sejenis tusuk konde penghias rambut wanita. Terasa ada unsur pemberontakan (seorang perempuan) di sini. Pilihan patrem - bukan keris atau belati - membuat adegan di akhir cerita ini jadi lebih dramatis dan menyentuh.
Hanya ada yang sedikit terasa berlebihan, yaitu ketika Hayam Wuruk, raja Majapahit yang gagah itu, menangis mengguguk atas kematian calon permaisuri pujaan hati yang bahkan belum sempat dikenalnya. Menurut saya, akan lebih pas jika digambarkan dengan sekadar menangis dalam hati dengan mata berkaca-kaca, umpamanya.
Dyah Pitaloka ini adalah novel perdana Hermawan Aksan. Sebelumnya, ia telah pula menerbitkan buku kumpulan cerpen Sang Jelata. Salah satu cerpennya dalam bahasa Sunda, Pulpen, memenangi lomba cipta carpon mini 2002.
Endah Sulwesi 3/12
Posted at Tuesday, January 03, 2006 by Perca
Permalink
Friday, December 30, 2005
LEDGARD : Musuh dari Balik Kabut

Penulis WD. Yoga
Penerbit CIPublishing
Tahun 2005 -cetakan I
Tebal 579 hal
Ledgard. Tentu kata itu bukan merupakan bahasa Indonesia. Terdengar asing, seperti bahasa Inggris. Tetapi, setelah saya cari-cari di kamus Inggris, ternyata kata tersebut tidak ada. Ia ternyata 'hanya' sebuah negeri (planet?) hasil rekaan WD.Yoga dalam novel perdananya yang sekaligus juga dijadikan judul novelnya itu. Hasil daya khayal yang luar biasa. Jika bukan murni rekaan, tentu pengaruh dari kisah-kisah fantasi yang dibacanya.
Ledgard adalah negeri antah-berantah, entah kapan peristiwanya dan di bagian mana di jagat raya ini letaknya, tetapi yang jelas ia dihuni oleh berbagai jenis makhluk dari berbagai bangsa, termasuk bangsa Manusia, Centaur, Ae Siri, Felis, Doggorin dan lain-lain lagi yang sangat aneh-aneh dan serba tak terduga.
Ya, sejak halaman pertama, Ledgard sudah mengejutkan kita dengan fantasi-fantasi yang memukau, mulai dari nama para tokohnya, nama tempat, dan peristiwanya. Mengapa mengejutkan? Buat saya, mengejutkan itu karena novel ini ditulis oleh orang Indonesia, Yogyakarta tepatnya.
Bukan, saya bukan bermaksud mengecilkan atau merendahkan karya bangsa sendiri, namun lebih karena ingin menegaskan bahwa Ledgard, meski ditulis oleh penulis kita, sama sekali tak membawa warna lokal. Tak terasa unsur-unsur 'tradisional' yang setidaknya mencerminkan keindonesiaan seperti novel-novel Indonesia (modern) lainnya. Tepatnya, kita seperti membaca novel (fantasi) import/terjemahan. Ini kelemahan atau justru kelebihan?
Membacanya, mau tidak mau kita akan membandingkannya - atau setidaknya teringat - dengan Harry Potter, kisah fantasi rekaan J.K. Rowling yang penjualannya menuai sukses di seluruh dunia. Jika Harry Potter masih menyebutkan setting ceritanya, yaitu Inggris (sebuah tempat real yang membuat kisah Harry Potter tetap terasa berjejak di bumi) , setting Ledgard benar-benar di luar planet bumi ; maka akhirnya bisa diterima kenapa tidak ada unsur lokal Indonesia di dalamnya. Pilihan (setting) yang cerdas dari penulisnya.
Perhatikan pula nama-nama tokohnya : Nash, Rhavi, Vasthi, Serra, Deedek, Karra, Mruudin Nraam, Josian dan masih banyak lagi. Belum lagi nama-nama tempat asal para tokoh itu : Ifarett, Kepulauan Latlian, Pulau Cee-Vilalan, Cursive, dsb. Saya sampai bertanya-tanya (kagum), dari mana WD Yoga mendapat gagasan untuk semua nama dan istilah "aneh" di novelnya ini.
Ia juga sangat memerhatikan detail : deskripsi fisik, karakter, dan kebiasaan para tokoh, kostum, lokasi, suasana serta properti pendukung, diuraikan dengan sangat rinci, cermat, dan konsisten, sehingga meskipun tokohnya lumayan banyak,tak terlalu sulit bagi kita mengingatnya. Tentu saja ini jadi satu (lagi) kelebihan Ledgard.
Plotnya pun terjaga baik sampai halaman terakhir, lancar dan mengalir. Pertempuran demi pertempuran tersaji memikat dengan jurus-jurus ajaib saling adu kekuatan. Kita akan dibawa 'terbang' sejenak ke dunia lain, menjelajah negeri fantasi bernama Ledgard, berjumpa dengan para peri, kurcaci, monster, centaur, naga, felis...
Suatu hari , Ifarett, kota kecil terletak di wilayah Cursive, tempat Nash, Rhavi, dan Deedek tinggal, kedatangan "tamu" seorang gadis cantik, Vasthi, putri bangsa Kalonn, yang mengaku sampai di Ifarett karena tersesat. Sebagai tetangga yang baik, Ifarett wajib mengantarkan kembali Vasthi ke kota asalnya. Lantas ditugaskanlah ketiga orang sahabat - Nash, Rhavi, dan Deedek - mengantar gadis itu pulang.
Nash dan kawan-kawan sama sekali tak mengira, bahwa kepergiannya itu sesuatu yang sudah direncanakan oleh Vasthi demi menyelamatkan mereka -terutama Nash - dari kematian yang dilihat Vasthi dalam mimpinya (Bangsa Kalonn dikaruniai kemampuan melihat masa depan melalui mimpi) dalam sebuah pertempuran melawan para penyerbu berperahu terbang.
Mimpi Vasthi terbukti benar sesaat setelah mereka tiba di Kepulauan Latlian, tempat tinggal Vasthi. Ifarett luluh lantak hancur-lebur tanpa menyisakan seorangpun penduduknya - termasuk orang tua Nash - oleh serbuan pasukan asing berperahu terbang yang datang dari langit barat itu.
Kelak diketahui pasukan penyerbu itu dipimpin oleh Sicah, manusia berdarah campuran Jind, prajurit dari Kastil Batu. Ia bertugas menaklukkan seluruh wilayah Ledgard.
Nash, Rhavi, dan Deedek - walaupun Ifarett sudah tak ada lagi - tidak tinggal diam. Mereka bahu-membahu menggalang kekuatan dari seluruh bangsa yang ada di Ledgard untuk memerangi pasukan pembunuh dari Kastil Batu pimpinan Sicah itu. Namun, di tengah-tengah kemelut itu, ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan situasi demi merebut kekuasaan.
Dari sinilah cerita berkembang sangat menarik dengan bumbu-bumbu intrik, pengkhianatan, kepahlawanan, petualangan, dan tentu saja, asmara. Hampir setiap bagian berhasil mengundang rasa penasaran kita. Penulisnya nyaris tak memberi kita kesempatan menarik napas selama mengikuti kisahnya. Kata anak sekarang : Cool abeeeesss!!
Lazimnya kisah-kisah fantasi, Ledgard pun sebuah novel yang bakal asyik dibaca siapa saja : anak-anak, remaja, dewasa, orangtua.
Rasanya kita patut berbangga dengan hadirnya seorang penulis muda berbakat asal Yogyakarta yang telah menulis novel memikat ini : WD.Yoga.
Bagi para penggemar kisah-kisah fantasi, Ledgard layak masuk daftar buku wajib baca.
Endah Sulwesi 30/12
Posted at Friday, December 30, 2005 by Perca
Permalink
Wednesday, December 28, 2005
Temans,
Menutup tahun 2005 yang penuh kenangan indah dan tak indah, aku iseng-iseng menyusun daftar 10 buku favoritku sepanjang tahun ini, sebagai berikut :
1. The Catcher In The Rye
2. 24 Wajah Billy
3. The Chronicles of Narnia
4. Angsa-angsa Liar
5. Da Vinci Code
6. Ronggeng Dukuh Paruk
7. Life of Pi
8. Norwegian Wood
9. Fateless
10.Samurai : Kastel Awan Burung Gereja
Namanya juga daftar iseng-iseng, dasarnya hanyalah pada seleraku semata. Dengan demikian, buku-buku yang tidak masuk dalam daftarku itu bukan lantas berarti tidak / kurang bagus lo.
Akhirnya, SELAMAT TAHUN BARU 2006! SEMOGA DI TAHUN DEPAN, DUNIA BUKU KITA LEBIH BAGUS DAN TAMBAH SEMARAK LAGI!!
Salam,
Endah Sulwesi
Posted at Wednesday, December 28, 2005 by Perca
Permalink
Penulis : Anindita
Penerbit : DAR! Mizan, cet I/Juni 2005
Tebal : 123 hal ; ilus: 17 cm
Genre : Novel Anak Islami
Setahun sudah tragedi tsunami meluluh lantakkan Banda Aceh dan sekitarnya. Banyak sudah karya-karya tulis yang mengangkat tragedi tsunami sebagai latar belakang tulisannya, baik itu berupa laporan jurnalistik, cerpen, puisi, lirik lagu, dan lain sebagainya. Namun dari semua itu sangat sedikit yang menuangkannya dalam bentuk novel anak. Novel Keajaiban untuk Ila karya Anindita adalah salah satunya, bahkan mungkin satu-satunya dalam genre sastra anak yang menggunakan tragedi tsunami sebagai latar belakang ceritanya.
Novel anak Keajaiban Untuk Ila ditulis oleh Anindita Siswanto Thayf, penulis muda lulusan Fakultas Elektro Universitas Makasar yang banyak berkecimpung dalam dunia tulis menulis semenjak mahasiswa hingga kini. Kini ia aktif menulis artikel di Astaga.com, tabloid Nova, Makassar Terkini dan Kompas Anak. Ia juga pernah menulis naskah Film Dokumenter BP DAS DT II Kab Sidrap dan naskah Film Dokumenter BP DAS DT II Kab Sinjai Sulawesi Selatan. Anindita juga piawai dalam menulis puisi, salah satu puisinya "Soul" dimuat dalam antologi puisi The Silence Within (Poetry.com2002), dan puisinya yang berjudul "Gate of Terror" masuk menjadi salah satu nominasi International Society of Poets, 2005. Pengalamannya yang beragam dalam dunia tulis menulis itulah yang mengantarnya membuat sebuah novel anak ini.
Novel Keajaiban Untuk Ila menceritakan kisah tragis seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang bernama Ila. Ila tinggal di pesisir pantai Aceh, ia anak yang pintar dan memiliki keinginan yang kuat untuk bisa segera bersekolah. Beberapa bulan lagi usianya genap 7 tahun yang berarti impiannya untuk bisa bersekolah akan segera terwujud. Kakek Ila rupanya tanggap akan keinginan cucunya ini, belum lagi Ila berulang tahun kakeknya telah menghadiahinya sebuah tas baru lengkap dengan alat tulisnya.
Namun baru saja beberapa saat Ila mengenakan tas baru, tiba-tiba bencana dahsyat datang. Gelombang pasang setinggi pohon kelapa menerjang seluruh benda dan mahluk hidup yang ada di pesisir pantai tempat Ila tinggal. Ila yang saat itu sedang bersama kakeknya mencoba menyelamatkan diri dengan berlari menuju bukit, namun kemanapun ia dan kakeknya berlari dinding air bah mengikutinya hingga akhirnya hempasan air yang sangat keras menghantam mereka dan memisahkan Ila dari genggaman kakeknya. Ila akhrinya terapung-apung sendirian sambil memeluk sebuah papan pintu dengan air bercampur sampah di sekelilingnya. Ila hanyut selama 3 hari. Ia haus, lapar, dan rindu pada kakek, ayah dan ibunya. Akankah keajaiban datang kepada Ila ?
Novel anak ini dibuat dengan kalimat-kalimat sederhana khas anak-anak. Ceritanya yang bergulir dengan cepat dan memikat membuat pembaca novel ini enggan melepaskannya sebelum sampai pada halaman terakhir. Novel ini dimulai dengan latar belakang kehidupan dan keseharian Ila beberapa saat sebelum bencana tiba. Hampir sebagain besar novel ini menceritakan saat terjadinya bencana mulai dari gempa, datanganya gelombang pasang, terapung-apungnya Ila di tengah air bah hingga keajaiban yang dialami Ila. Semua hal di atas terungkap dengan baik sehingga gambaran bencana itu terasa mencekam dan menyentuh hati pembacanya.
Saat Ila terapung-apung di tengah air bah rupanya menjadi inti dari novel ini. Apa yang mungkin dirasakan dan dipikirkan oleh seorang anak kecil ketika harus sendirian terapung-apung di tengah air bah sambil menahan rasa lapar, haus dan kerinduannya yang dalam untuk bertemu keluarganya terungkap secara baik di novel ini. Beberapa nilai positif yang patut diteladani anak-anak terungkap dalam pikiran Ila saat ia sendiri, misalnya ketika ia didera rasa lapar. Ia teringat akan dirinya kerap tak menghargai makanan yang diterimanya dengan selalu tidak menghabiskan sarapan pagi nasi goreng buatan ibunya.
Selain itu berbagai peristiwa yang dialami Ila ketika terapung-apung sendirian tereksplorasi dengan baik sehingga bagian ini menjadi bagian yang paling menarik dari novel ini. Banyak nilai-nilai positif bagi anak-anak yang bertaburan dalam novel ini, namun karena novel ini ditulis berdasarkan sudut pandang seorang anak –anak, maka tak sedikitpun novel ini terkesan menggurui pembacanya.
Ceritanya yang mengalir cepat dan kalimat-kalimatnya yang sederhana dan enak dibaca oleh anak-anak membuat novel anak ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi bagi anak-anak yang membacanya. Tak heran, dari semua hal positif yang terungkap di atas, novel ini dianugerahi sebagai Pemenang I Sayembara Menulis Novel Anak Islami 2005 yang diselenggarakan oleh penerbit DAR! Mizan. Dari segi pengemasan, novel ini tampaknya dikemas dengan sangat baik, selain covernya yang menarik, ukurannya yang kecil memudahkan anak-anak membawanya, selain itu terteranya batas usia yang disarankan (7-12 thn) pada cover depan novel ini memudahkan para orang tua dalam merekomendasikan novel ini bagi putra-putrinya.
Di tengah langkanya novel anak karya penulis lokal, kehadiran novel Keajaiban Untuk Ila ini sangat patut dihargai, dan amatlah bijak jika para orang tua merekomendasikan pada putra-putrinya agar dapat membaca novel ini.
Hernadi Tanzil
Posted at Wednesday, December 28, 2005 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|