Musikalisasi puisi memang bukanlah barang baru. Namun menyaksikan kembali sebuah pertunjukan seni
yang diberi nama seperti itu selalu mengasyikkan. Demikianlah, pada tgl. 18-19 Mei 2004 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, kembali digelar sebuah acara musikalisasi puisi dengan judul " Sajak dalam Musik & Nada". Mengusung nama-nama terkenal seperti di antaranya Aning Katamsi, Cornelia Agatha dan Maudy Koesnaedi, menjadikan acara ini cukup menghibur.
Tak kurang dari 23 puisi yang dibawakan berganti-ganti malam itu oleh para penampil. Maka lalu Diponegoro karya Chairil Anwar yang heroik itu menjelma menjadi sebuah lagu yang indah dibawakan oleh Deavies Sanggar Matahari, sebuah kelompok musik yang terdiri dari 6 personel Siregar bersaudara (Dedie Syahnila, Herie Syahnila, Irma Komala Syahni, Devie Komala Syahni, Andrie Syahnila dan Denie Syahnila). Berdiri tahun 1990, mereka mengkhususkan diri dalam jalur musikalisasi puisi. Selain Diponegoro, mereka juga membawakan PadaMu Jua karya Amir Hamzah dan Tanah Air Mata (Sutardji Calzoum Bachri).
Penampil lain yang tak kalah menarik adalah Aning Katamsi. Dalam irama seriosa, ia menyanyikan dengan sepenuh perasaan puisi-puisi Kubakar Cintaku karya Emha Ainun Nadjib serta Hidup, Jika Kau Tahu dan Cita-cita karya Usmar Ismail.
Trio Cornelia Agatha, Melanie Subono dan Teddy Snada mendendangkan beberapa puisi yang di antaranya sudah sangat terkenal, seperti : Hujan Bulan Juni dan Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono). Cornelia Agatha tampil dalam gaun berwarna hitam. Sebuah busana yang lebih pantas untuk ke pesta. Pemain sinetron ini memang senang mencoba hal-hal baru. Sebelumnya dia juga pernah terlibat dalam beberapa pementasan drama/teater.
Sementara Teddy Snada adalah salah satu personel dari kelompok nasyid Snada.
Sayangnya, acara ini tidak dipandu oleh seorang pemandu acara yang bisa menjadi jembatan antara penonton dengan para penampil serta puisi-puisi yang dilagukan. Penonton hanya dibekali sebuah buku panduan pertunjukan. Sudah begitu, para artis di panggungpun sama sekali tidak melakukan dialog dengan para penonton sehingga pertunjukan seperti dibiarkan mengalir begitu saja. Endah Widiastuti, gitaris, menjadi satu- satunya penampil yang melibatkan penonton dalam pertunjukan malam itu. Dia mengajak penonton bertepuk tangan mengikuti irama gitarnya saat membawakan puisi Semangkok Bubur Ayam karya Ags.Arya Dwipayana.
Acara ditutup oleh Trio Cornelia, Melanie dan Teddy dengan bait-bait indah dari sajak Sapardi Pada Suatu Hari Nanti :
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
.....................
19/5/04
Posted at Wednesday, May 19, 2004 by Perca
 |  |  |
Dicky November 20, 2004 05:34 AM PST
Hai Lia,salam kenal ya..gue salah satu pengagum berat Lia. Bolehkan gw jadi salah satu fansnya Lia? gw mau perkenalkan diri dulu nih...
Nama gue Bonivasius Diki Kurniawan,gw dari keluarga Katolik. Gw saat ini kerja di Hotel Mulia Senayan,sebagai cook. Alamat: Jatibening 2 jl.Akasia 5 no. 20 Pondok Gede-Bekasi !7412.
Tlp:8486747/ Hp 081314635894 Please gw pengen banget denger suara Lia di tlp,atau lihat tulisan tangan lia lewat surat,gw bth bgt. |
 |

 |  |  |
endah widiastuti May 28, 2004 02:25 AM PDT
hi.. salam kenal..
nggak sengaja gue browsing ketemu weblog lu.
Trims ya sudah nonton acara di TIM. Ternyata lu sangat mengerti puisi yaa.. hebat.. :)
btw, imel gue
endahwidiastuti@hotmail.com
it's nice to have a new friend..
thanks
sincerely,
Endah |
 |