Saturday, September 26, 2009
(20) Perahu Kertas

Judul buku: Perahu Kertas

Pengarang: Dee

Editor: Hermawan Aksan

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 456 hlm

Cetakan: I, 2009.

 

Pertama kali mendengar judul novel Dee yang keempat ini, yang teringat oleh saya adalah judul buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang terbit tahun 1982. Saya kira tadinya Dee terinspirasi oleh puisi Sapardi tersebut. Tetapi, ternyata tidak. Malah tulisnya di halaman belakang, ilham itu datang setelah membaca cerita bersambung di majalah Hai yang bertitel “Ke Gunung Lagi” milik Katyusha, seorang penulis cerpen yang beken di era 80-an. Ya, cerbung itu pun ditulis pada tahun 80-an.

 

“Kelincahan dan keluwesan Katyusha menjadi daya tarik utama dari cerbung ‘Ke Gunung Lagi,’” begitu alasan Dee tentang keterpikatannya pada cerbung itu. “Namun, ada satu faktor lagi yang menjadi candu terkuat bagi saya: formatnya,” sambungnya. Yang ia maksud dengan format adalah cerita bersambung yang mirip cerita serial; mengikat pembacanya untuk terus mengikuti kisah tersebut dan senantiasa menerbitkan rasa penasaran.

 

Resep inilah yang kemudian dipakainya dalam menulis Perahu Kertas. Tidak sia-sia hasil “belajarnya” dari Katyusha. Dee berhasil meramu sebuah kisah cinta remaja yang lincah dan menghibur. Sangat jauh berbeda dengan novel debutannya, Supernova, yang “nglimiah” dan terlalu sarat beban itu. Pada Perahu Kertas, terasa Dee menulis dengan lebih lepas, merdeka, dan semakin matang. Hasilnya, sebuah dongeng yang renyah dan gurih yang memaksa saya untuk terus membuka lembar demi lembar halamannya. Seperti mengudap crispy snack bermuatan MSG. Enak tapi tak padat gizi. Atau kalau mau dibandingkan dengan film, ya layaknya drama komedi romantis yang mengandalkan dialog-dialog serta joke-joke yang cerdas dan segar. Dan jangan lupa, selalu happy ending.

 

Bagi saya, kelincahan dan keluwesan Dee mendongeng menjadi daya pikat utama Perahu Kertas. Sebab, temanya sih klasik: cinta. Percintaan dua anak muda perkotaan. Yang cewek penyuka dongeng, sedangkan cowonya seorang pelukis. Tetapi, Dee mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sajian kisah cinta yang legit dengan karakter utamanya, Kugy, yang unik dan menggemaskan. Kugy yang mungil, ceria, cerdas, dan agak urakan mengingatkan saya pada tokoh ciptaan Katyusha dalam cerbungnya yang lain: “Sebuah Makhluk Mungil” (yang konon telah mengilhami Hilman Hariwijaya menulis serial Lupus dalam episode “Makhluk Mungil dalam Bis”).

 

Jika niatan Dee untuk membuat sebuah kisah ala cerbung/serial yang tokoh-tokohnya tumbuh berkembang serta ceritanya membuat pembacanya penasaran (walaupun akhir kisah sudah bisa tertebak dari awal, tetapi kita membaca sebuah buku toh bukan sekadar ingin mengetahui ending-nya, kan?) dan ketagihan, rasanya bolehlah saya katakan Dee telah sukses meraih cita-citanya itu. Tetapi, ya hanya sebatas itu: sebuah novel (pop) yang menghibur. ***

 

endah sulwesi

Posted at Saturday, September 26, 2009 by Perca

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< September 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed