Thursday, July 09, 2009
(16) The Mysterious Benedict Society

Judul buku: Persekutuan Misterius Benedict

Judul asli: The Mysterious Benedict Society

Penulis: Trenton Lee Stewart

Penerjemah: Maria M. Lubis

Penyunting: Nadya A.

Penerbit: Matahati

Cetakan: I, 2009

Tebal: 574 hlm.

 

Mengapa ya belakangan ini cerita-cerita fantasi untuk anak dan remaja, sering memakai tokoh seorang anak yatim piatu? Itulah pertanyaan pertama yang menyembul di benakku saat diperkenalkan dengan tokoh utama buku The Mysterious Benedict ini. Adalah Reynard Muldoon si anak malang itu. Bahkan, di cerita ini masih ada 2 anak lainnya yang juga tak memiliki orang tua.

 

Kembali ke pertanyaanku tentang anak-anak yatim yang menjadi tokoh utama kisah-kisah fantasi. Mengapa aku menyebutnya “sering”? Nggak percaya dan masih perlu contoh? Yuk, kita lihat daftarnya yang lumayan panjang: Harry Potter (JK Rowling), Harry dan Geng Keriput (Alan Temperley), Pangeran Pencuri (Cornelia Funke), The Book of Lost Things (John Connoly), The Edge of Chronicles (Paul Stewart & Chris Riddell) dan masih banyak lagi kurasa.

 

Nah, kira-kira kenapa ya anak-anak tak berayah ibu ini dijadikan tokoh utama? Apakah demi menimbulkan keharuan para pembacanya? Apakah ada semacam keyakinan, bahwa semakin malang tokohnya akan semakin meraih simpati pembaca dan kemudian menjadi idola? Atau semata-mata untuk memudahkan penulisnya saja dalam menciptakan latar belakang si tokoh?

 

Misalnya, Harry Potter. Ayah ibunya diceritakan mati dalam sebuah pertarungan sihir dengan Voldemort, tokoh jahat di buku tersebut. Harry lalu dipelihara oleh paman dan bibinya yang kurang murah hati padanya.  Tak beda jauh dengan si Potter, tokoh Harry dalam Harry dan Geng Keriput, juga menyandang status yatim piatu lantaran orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Dia tak lebih beruntung dari Harry si penyihir karena harus mau tinggal bersama pembantunya yang jahat sebelum akhirnya diasuh oleh neneknya yang nyentrik.

 

Mau tidak mau, pada akhirnya kita memang jadi jatuh sayang kepada bocah-bocah malang tersebut. Simpati itu kian bertambah besar karena bocah-bocah ini merupakan manusia-manusia kecil yang tabah, cerdas, dan baik hati.

 

Demikian pula Reynard ‘Reynie’ Muldoon dalam buku karya Trenton Lee Stewart ini. Reynie, bocah lelaki umur 12 tahun yang menghuni sebuah panti asuhan, adalah seorang anak yang cerdas dan berbakat. Suatu hari, oleh guru privatnya, Miss Perumal, ia didaftarkan pada sebuah lomba yang ganjil untuk anak-anak berbakat seperti dirinya. Di lomba ini, Reynie berkenalan dengan 3 orang anak lainnya yang kelak menjadi teman-temannya satu tim. Mereka adalah Kate, Sticky, dan Constance. Masing-masing mereka memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda yang di kemudian hari sangat bermanfaat dalam melaksanakan misi misterius dari Mr Benedict, seorang jenius si penggagas lomba aneh itu.

 

Bagi kalian penggemar kisah-kisah fantasi, buku ini cukup menarik dinikmati. Ide besarnya tentu sangat klasik: memerangi kebatilan (hitam putih). Yang sedikit agak berbeda, mungkin, jenis kejahatan dan sosok antagonisnya. Serupa novel-novel bertema cinta, variasinya ada pada tokoh-tokoh dan persoalannya. Soal tema, kan cuma sesuatu yang kerap diulang-ulang.

 

Pujian untuk novel ini, pertama kutujukan bagi penulisnya: Trenton Lee Stewart, yang telah menyuguhkan sebuah dongeng asyik tentang persahabatan dan kepahlawanan. Penulis muda kelahiran Arkansas 1970 ini, menyajikan pesan-pesan moral dalam bukunya tanpa terkesan menggurui. Melalui tokoh-rokohnya, Stewart seolah-olah ingin menyampaikan, jangan pernah meremehkan anak-anak. Mereka, para kanak-kanak ini, mempunyai kekuatan sendiri yang tidak dimiliki para orang dewasa.

 

Pujian kedua, kuberikan bagi penerjemahnya, teman mudaku, Maria Lubis, yang telah secara keren mengalihbahasakan karya yang aslinya berbahasa Inggris ini. Ada satu bagian yang berkesan saat ia menerjemahkan yang seharusnya ‘berharga’ menjadi ‘berharta’ (karena si tokoh keliru mengucapkannya). Entah apa dalam bahasa aslinya.Begitu juga untuk terjemahan pesan morse : k dan c ke mana rebend era. Bikin penasaran, sebenarnya dalam bahasa Inggrisnya seperti apa?

 

Pujian berikutnya, untuk perancang kovernya, Ella Elviana. Kover hasil desainnya tak kalah cantik dengan edisi aslinya. Sayang, ada kekeliruan fatal dalam menuliskan nama pengarangnya, Trenton Lee Stewart menjadi Treton Lee Stewart. Kecerobohan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Mudah-mudahan saja tidak diprotes oleh si pemilik nama. ***

 

endah sulwesi

Posted at Thursday, July 09, 2009 by Perca

natasylover
October 6, 2009   11:26 AM PDT
 
aslm...salam kenal perca...sy penggemar novel baru nih...blog kamu ni sering banget sy kunjungi untuk baca resensi2nya, krn biasanya sebelum sy beli buku, sy butuh resensi yang ringan dulu, buat perangsang gitu...termasuk novel ini, sy dah punya, setelah baca resensi mu jadi ga sabar pengen baca bukux langsung...thanks y
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< July 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed