Sunday, October 26, 2008
(32) Kartunama Putih: Puisi untuk Sejumlah Nama

[kartunama_putih.jpg]

Judul buku: Kartunama Putih

Penulis: Kurnia Effendi

Penerbit: Biduk, Bandung

Cetakan: I, 1997

Tebal: xiv + 95 hlm.

 

Kurnia Effendi sebagai cerpenis, itu sudah lama saya tahu. Sejak dua puluh tahun yang lalu di era generasi Anita Cemerlang. Tetapi bahwa ia juga seorang penyair, baru belakangan ini saya mengetahuinya. Dan diam-diam, oh…tepatnya sih saya yang kurang informasi, ia telah pernah menerbitkan puisi-puisinya itu dalam satu buku : Kartunama Putih. Buku tersebut lahir 11 tahun silam.

 

Kerena usianya yang sudah cukup “tua” untuk ukuran sebuah buku, tidaklah mengherankan jika kita sudah tidak akan menemukannya lagi di rak-rak toko buku. Namun, beruntunglah saya yang berkat persahabatan saya dengan penulisnya, masih bisa menikmati jejak kepenyairan Kurnia Effendi atau yang kerap disapa dengan nama akrabnya, Kef, ini. Sepekan lalu, pada sebuah siang yang menyengat, ia menghadiahi saya buku kumpulan puisinya itu.

 

Kartunama Putih memuat 86 biji sajak yang bertema atau berkisah ihwal nama-nama orang yang oleh saya akan saya bedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah puisi-puisi yang melibatkan atau diperuntukkan bagi orang-orang terdekat Kef. Misalnya, istri, anak-anaknya, keluarga, keponakan, kakek, sahabat, atau bisa jadi sejumlah mantan kekasih di masa remaja. Bagian kedua merupakan puisi-puisi persembahan atau ungkapan  kekaguman Kef kepada para tokoh. Baik nasional ataupun internasional. Di sana akan kita temukan nama-nama seperti Mega, Udin, Benyamin Netanyahu, Slobodan Milosevic, dan lain-lain.

 

Dari kedua pembagian ini, saya bisa merasakan perbedaannya. Maksud saya, saya merasakan kesan yang berbeda dari keduanya.

 

Pada bagian untuk orang-orang terdekatnya, puisi-puisi yang ditulisnya terasa lebih “bunyi”. Barangkali karena ia benar-benar menuliskannya dari hati. Dari jarak yang dekat dengan subjeknya. Benar-benar merupakan ungkapan perasaan yang personal; yang umumnya hanya bisa dipahami oleh yang bersangkutan. Tetapi tidak demikian halnya dengan sajak-sajak Kef di buku ini. Meskipun puisi tersebut sangat personal sifatnya dan bukan ditujukan untuk kita (baca : saya), tapi kita (baca: saya) dapat ikut merasakan getarannya. Dengan kata lain, sampai ke hati. Baik maknanya maupun keindahannya. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai puisi-pusi yang bikin cemburu; lantaran tatkala membacanya saya membayangkan tentu pribadi-pribadi kepada siapa Kef menujukan sajak-sajaknya ini merasa tersanjung dan senang sekali.  Sebab hal yang sama pernah saya rasakan pula.

 

Untuk jelasnya, baiklah, saya petikkan satu contohnya :

 

 

R.A.

 

Tinggal wangi bajumu, menyapu udara, ketika

Kereta bertolak ke utara. Tanganmu lepas dari

Genggaman. Jarak pun berkali lipat menawarkan sunyi

Di bumi yang selalu basah ini kutunggu kabar:

Kapan engkau kembali? Hujan terus turun, mencuci

Jarak pertemuan  yang sengaja kunamai kenangan

Dingin peron merayap ke lantai kamar. Tempat

Sepasang kakiku terhenti. Menopang kerinduan

Yang tiba-tiba sangat berat.

 

Ingin kularutkan dalam mimpi: seluruh percakapan

Tentang harapan dan kecemasan. Juga tahun-tahun

Yang kupertaruhkan. Menunggu bulan turun

Ke pangkuan, alangkah panjang pengembaraan

Di malam yang kelewat basah, terus kupagut

Wangi bajumu. Terus kupagut

 

Puisi yang berangka tahun 1989 ini, jelas sekali merupakan puisi persembahan cinta untuk kekasih yang kini menjadi istrinya : R.A. Kependekan dari Ratu Ade. Tentu waktu itu mereka masih berstatus pacaran.

 

Walaupun “R.A.” sajak yang sangat personal bagi penulisnya, namun kita bisa meminjamnya untuk merayu kekasih kita. Apa lagi bila peristiwa atau situasi yang kita hadapi memiliki kemiripan dengan sajak tersebut.

 

Atau sajak yang ini :

 

KANGEN

: Ageng-Erda

 

Benarkah hanya jarak memisahkan kita

(Bukan karena orang ketiga, atau matirasa?)

Waktu telah lancang menghimpun seluruh

Perasaan yang diam-diam kutabung untukmu

 

Bahwa suatu ketika kado ini kubuka

Persis di depan bolamatamu

Yang menyembunyikan sejumlah gemerlap,

adalah tentang kangen semata

 

Ini juga milikku

Satu kangen yang tak bergeser

dari alamatmu.

 

Saya tentu tak kenal Ageng dan Erda. Dan saya memang tak perlu mengenal mereka lebih dahulu untuk bisa menikmati sajak ini; untuk dapat ikut serta merasakan kerinduan seorang kekasih di dalamnya. Bahkan saya berniat, kapan-kapan jikalau saya sedang kangen pada kekasih saya (kalau pas lagi punya kekasih), saya akan ungkapkan rindu saya dengan sajak ini.

 

Nah, kini mari kita bandingkan dengan sajak-sajaknya di “bagian kedua”. Langsung saja saya ambil satu sampel :

 

MEGA

 

Ketika bibirmu tersenyum

Beribu-ribu hati bijak turut tersiram sejuk

Tanganmu yang mengepal: menanamkan tunas

semangat kepada kebun massa di sekelilingmu

 

Engkau duduk pada kursi yang mula-mula

disiapkan untuk memimpin komunitas luluh-lantak

Babak kondisional dalam peta sosial politik,

dielu-elu dengan saputangan basah

Lorong panjang masa silam kembali diteropong

Darah orator mengalir kuat di jantungmu

 

Ketika bibirmu tersenyum

Seharusnya untuk 1993 sampai 1998

Namun dramatisasi dalam sandiwara negeri ini diperlukan

Untuk mengecoh para penulis sejarah masa depan

Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

 

Engkau kini duduk di kursi goyah

Sedang mata dunia tengah bersama-sama menatap

dari segala penjuru. Mungkin berjuta lembar skenario

harus ditimbang-tinbang, sebelum diterbitkan

dengan tinta cetak kepalsuan

Akankah tangan-tangan kita perlu berlumur darah lagi?

 

Sajak ini ditulis tahun 1996. Sudah pasti bermaksud mengenang peristiwa bersejarah 27 Juli 1996 yang berupaya menumbangkan Megawati dari kursi ketua DPP PDI. Zaman itu, ketika pemerintahan masih dijalankan oleh rezim Orde Baru yang otoriter, sosok Megawati dan PDI-nya menjadi simbol perlawanan. Megawati yang didzalimi, telah menumbuhkan banyak simpati di hati banyak orang di negeri ini. Mungkin termasuk Kurnia Effendi, sehingga terciptalah puisi ini.

 

Perhatikan diksi yang dipilih Kef dalam sajak ini. Sangat berbeda dengan yang ia pakai dalam sajak-sajak cintanya yang lembut dan romantis. Pada sajak “Mega” ini, saya seperti sedang membaca pamflet. Ada aroma politik, kekerasan, bau amis darah, kemarahan, serta sarat gugatan di sana. Demikian pula pada sajak “Literatur Kematian Udin” (hlm.16), “Kepada Ny. Hillary Clinton” (hlm.38), dan “Slobodan Milosevic” (hlm.24)

 

Tetapi itu masih lumayan. Masih lumayan ngerti, maksud saya. Sosok Megawati, Udin, Ny. Clinton, dan Milosevic bukanlah sosok asing. Namun, ketika sampai pada Peter Brook, Eva Johnson, Narrowsky, Oodgeroo Noonuccal, atau Hikotaro Yazaki, lantaran dangkalnya ilmu yang saya punyai, terpaksa kudu tanya si Google dulu untuk mengulik pengetahuan ihwal nama-nama tersebut. Akibatnya, saya merasakan ada jarak antara saya dengan puisi-puisi tentang mereka. Tidak senikmat saat saya membaca puisi-puisi di “bagian pertama”. Ah, mudah-mudahan Kef menulis sajak-sajak di “bagian kedua” ini bukan sekadar sebagai sebuah upaya gagah-gagahan.

 

Lalu, mana sajak “Kartunama Putih” yang dipakai untuk judul buku ini? Ia terletak di halaman xi (pembuka) dan 95 (penutup) :

 

Kartunama itu putih saja

Tak ada huruf kecuali warna kain kafan

Kartunama itu : putih saja

 

Namun, agaknya kartunama itu tak putih lagi. Di dalamnya,  Kef telah mengukir nama-nama, puisi-puisi…***

 

Endah Sulwesi 26/10

Posted at Sunday, October 26, 2008 by Perca

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< October 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed