Judul buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Cetakan: I, 2008
Tebal: 536 hlm
Setelah Saman terbit (1998) dengan segala kehebohannya, citra penulis vulgar seolah-olah melekat pada diri pengarangnya, Ayu Utami (40). Citra ini bahkan tersiar sampai ke luar Indonesia. Fakta ini baru saya ketahui kira-kira dua minggu silam dari percakapan saya dengan 6 orang teman dari Malaysia yang mengaku sebagai “ulat buku”, sebutan di negeri jiran itu untuk kutu buku. Saat mereka berkunjung ke Jakarta pada acara Pesta Buku Jakarta 2008 yang lalu, mereka emoh menuruti saran saya untuk juga membeli (dan membaca) novel-novel Ayu Utami selain tetraloginya Pram lantaran kabar yang mereka dengar buku-buku Ayu itu porno.
Citra porno yang telanjur menempel pada perempuan lajang bertubuh ramping ini juga sempat membuat teman-teman saya yang hendak membeli (dan membaca) buku ini mempertanyakan : masih sejenis nggak ya buku ini dengan Saman?
Setamat saya membaca novel setebal 500-an halaman ini, saya baru bisa mengatakan, bahwa buku ini berbeda dengan karya Ayu terdahulu, Saman dan Larung.
Bilangan Fu barangkali akan menjadi sebuah cerita yang “berat” seandainya Ayu tidak menuliskannya dengan bahasa yang gurih, sebab ia, novel ini, memuat gagasan dan kritik Ayu pada tiga hal yang dianggapnya sebagai ancaman kebebasan dan demokrasi, yakni 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Tema yang serius, bukan? Namun, secara cerdik Ayu menyiasatinya melalui jalinan kisah dua pemuda pendaki tebing yang tampan dan cerdas: Yuda dan Parang Jati.
Kedua lelaki muda yang sehat itu menjadi simbol dan sekaligus para pahlawan di novel ini yang memerangi segala bentuk penzaliman dan penganiayaan kepada alam dan manusia. Yuda dan Parang Jati tidak berdiri berseberangan sebagai dua orang seteru, tetapi justru saling bahu-membahu menjadi protagonis melawani musuh bersama: ya 3 M itu.
M yang pertama, modernisme, menurut Ayu menjadi penyebab utama rusaknya lingkungan akibat eksploitasi manusia modern yang kelewat batas dan lupa menghormati alam. Manusia modern tak percaya lagi pada segala bentuk keramat dan cerita-cerita takhayul ihwal roh-roh halus penunggu pohon besar, sungai, gunung, dan samudera. Padahal kepercayaan pada takhayul dan keberadaan roh-roh halus yang dahulu “diimani” oleh masyarakat adat telah mampu menyelamatkan alam dari kebinasaan. Kerena percaya bahwa setiap benda dan tempat ada yang punya, mereka tak berani berlaku sewenang-wenang. Tetapi kini seiring dengan semakin lunturnya kepercayaan tersebut, semakin parahlah perusakan yang terjadi.
Kritik dan kampanye anti-perusakan lingkungan ini disampaikan Ayu dengan memilih dunia panjat tebing sebagai latar kisahnya. Yuda dan Parang Jati mengenalkan agama baru mereka : pemanjatan bersih atau yang lebih ekstrem lagi sacred climbing, yaitu teknik memanjat dengan sesedikit mungkin atau sama sekali tidak melukai tebing-tebing dengan alat-alat panjat modern seperti bor dan paku.
M yang kedua adalah monoteisme. Ayu meyakini, bahwa agama-agama langit yang monoteis memiliki persoalan mendasar dalam menerima perbedaan. Ayu menggambarkannya melalui permusuhan antara Kupukupu dan Parang Jati. Kupukupu adalah lambang mereka yang merasa diri paling benar dengan agama yang mereka peluk dan lalu merasa berhak mengadili serta mengkafirkan orang lain yang menganut kepercayaan yang berbeda dengannya. Mereka tak menyisakan ruang bagi perbedaan. Fundamentalis, begitulah tepatnya. Pada bagian inilah Ayu memperkenalkan filosofi bilangan fu yang lebih bermakna metaforis ketimbang matematis. Ini menyangkut pengertian akan Tuhan yang satu yang sering diartikan secara matematis.
Dan M yang ketiga adalah militerisme. Pendapat Ayu bahwa militerisme merupakan musuh utama demokrasi berangkat dari masa Orde Baru, di mana peran militer sangat dominan. Dengan kekuatan dan caranya sendiri, militer menebar teror, ketakutan, dan kekerasan di masyarakat demi mempertahankan kekuasaan. Kebebasan pers dibungkam, acara-acara seni dan sastra dimata-matai, diskusi dan kumpul-kumpul dianggap makar, sebversi. Kita yang sempat mengecap hidup di masa gelap tersebut tentu tahu betul rasanya.
Novel dengan beban gagasan seberat itu tentu akan terasa membosankan jika tak pandai-pandai mengemas dan menyajikannya. Bilangan Fu nyaris terjerumus menjadi novel demikian seandainya Ayu hanya fokus pada ide besarnya itu dan melupakan unsur-unsur “hiburan” dalam bukunya ini. Unsur-unsur hiburan itu di antaranya bumbu seks, asmara, dialog-dialog yang bernas, plot yang tidak linear, dan humor. Kendati saya sempat terserang jenuh juga oleh banyaknya kutipan kliping surat kabar dan majalah, “artikel” serius Parang jati, serta dialog panjang lebar Yuda dan Parang Jati yang sangat ilmiah, namun secara keseluruhan novel ini enak dibaca.
Lantas, bagaimana dengan cinta segitiga seperti yang diiklankan dalam sinopsis di sampul belakang buku ini? Ah, rasanya saya tidak menemukan adanya asmara tiga sisi di novel ini. Ayu tidak pernah secara terang-terangan menampilkan percintaan segitiga antara Yuda, Marja, dan Parang Jati. Marja itu pacar Yuda yang dengan tersirat dan samar-samar–melalui dugaan-dugaan Yuda–diceritakan juga menaruh hasrat kepada Parang Jati. Jadi, jika Anda berharap akan bertemu kisah cinta segitiga yang menggelora dalam novel ini, siap-siaplah kecewa.***
Posted at Tuesday, July 22, 2008 by Perca
 |  |  |
zazein May 12, 2009 12:40 PM PDT
belum baca aku.... |
 |

 |  |  |
perca@noor November 1, 2008 12:27 PM PDT
hahaha..Noor, mnrtku sih ga usah takut membaca karya AU. Tidak ada yg berbahaya kok :) |
 |

 |  |  |
perca@yulionan November 1, 2008 12:24 PM PDT
kurasa Tuhan senang kok kita jd makhluknya yang kritis dan selalu mempertanyakan misteri alam dan diriNYA. Itu artinya kita mau belajar dan tak puas dengan pengetahuan yang kita miliki. |
 |

 |  |  |
Noor Suraya September 10, 2008 01:10 PM PDT
Perca,
Aku akan ikuti resensi kamu lagi, dan sedang berfikir... mahu baca atau tidak kara AU
Perca, rasanya, aku bukan ulat buku tulen... kerana mahu baca pun harus fikir segala la la la :D |
 |

 |  |  |
perca@Dave September 1, 2008 04:07 PM PDT
ya tinggal kita menyikapinya gimana. mau ikutan si penulis atau tetap dg keyakinan kita? tp kebebasan berkarya hrs tetap ada. |
 |

 |  |  |
yuliyono August 22, 2008 09:20 PM PDT
saya kok makin ngeri ya mau baca-baca novel yang terlalu 'aktivis' (terutama feminis) begini, seringkali batas-batas kasatmata yang tercipta dari Sang Pencipta hendak dilabrak semaunya. Mengapa masih ada saja yang emmpertanyakan agama, monoteisme, dan Tuhan? Apakah harus 'mati' dulu baru kita meyakininya? padahal kalau sudah mati tidak mungkin memperbaiki diri. |
 |

 |  |  |
perca@indah August 2, 2008 10:55 AM PDT
Didi, waduh, sebesar itukah TUK, sehingga sdh membuat dunia menjadi tak karuan? :D |
 |

 |  |  |
perca@indah August 2, 2008 10:52 AM PDT
Slamet, menurut ceritanya, untuk menulis novel ini, ayu ikutan belajar di sekolah panjat tebing sejak 2003. Novel ini terinspirasi kisah pacarnya, Erick Prastya, seorang "pensiunan" pemanjat tebing. |
 |

 |  |  |
didi August 1, 2008 05:18 PM PDT
justru ayu dan komunitasnya itu yang wajib dimusuhi dan membuat dunia semakin gak karuan dengan idenya apa apa boleh asal tidak mengganggu orang lain. |
 |

 |  |  |
slamet July 31, 2008 02:15 AM PDT
sebagai penggiat panjat tebing saya sepakat dengan yuda dan parang jati tapi apakah sang penulis juga pernah merasakan pemanjatan tebing itu sendiri hingga bisa memberi istilah sacred climbing padahal dalam dunia panjat tebing di indonesia khususnya istilah itu belum ada |
 |