Wednesday, January 02, 2008
(1). MENEROPONG BENAK GELAP PARA PEMBUNUH

Display Buku

Judul buku: In Cold Blood

Judul asli: In Cold Blood: A True Account of A Multiple Murder and Its Consequences

Penulis: Truman Capote

Penerjemah: Santi Indra Astuti

Penyunting: Wendratama

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Cetakan: I, September 2007

Tebal: viii + 476 hlm

 

Buku kesembilan karya penulis Truman Capote ini di kalangan pemerhati sastra sering disebut sebagai sebuah bentuk sastra baru: novel nonfiksi. Truman Capote yang lahir pada 30 September 1942 ini memerlukan waktu tidak kurang dari 6 tahun untuk menyelesaikan In Cold Blood ini.

 

Aslinya, buku ini pertama kali terbit di Amerika Serikat pada 1965. Terjemahan bahasa Indonesianya oleh penerbit Bentang berdasarkan buku yang sama tetapi edisi 2002. Di negaranya, buku ini termasuk salah satu buku terbaik sepanjang masa.

 

In Cold Blood adalah buku yang dibuat berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada 16 November 1959 di Negara Bagian Kansas, AS.

 

Satu keluarga pemilik pertanian ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di sebuah desa kecil, Holcomb. Mereka adalah Mr. Herbert Clutter beserta istri dan kedua orang anaknya. Keempat korban malang ini dibantai secara sadis di dalam rumah mereka sendiri. Sherif setempat menyimpulkan, bahwa motif pembunuhan tersebut adalah perampokan. Tetapi apakah benar demikian jika melihat nilai harta yang berhasil digondol kabur si pelaku pembunuhan itu hanya sebesar 42 dolar saja.

 

Peristiwa itu tercatat sebagai salah satu pembunuhan paling sadis di Kansas. Tak membutuhkan waktu terlalu lama, para penyelidik yang dipimpin oleh detektif Dewey ahirnya berhasil menggulung para pelakunya, Richard "Dick" Hickock dan Perry Smith. Para juri di pengadilan kemudian sepakat menjatuhkan hukuman gantung bagi mereka berdua.

 

Sebagai penggemar kisah-kisah suspens dan detektif, bagian paling menarik menurut saya adalah ketika kedua cecunguk ini diinterogasi. Kita seolah-olah diajak serta meneropong benak para pembunuh ini; mengungkap masa lalu dan latar belakang psikologis keduanya. Secara detail Capote menceritakan kehidupan Perry dan Dick yang pada dasarnya tidak bahagia. Mereka adalah anak-anak keluarga miskin broken home yang kurang kasih sayang.

 

Penelusuran ke masa lalu ini menjadi memikat sebab ditulis dengan penuh ketelitian, berimbang, dan emosional.. Perlahan-lahan rasa kasihan dan simpati saya timbul kepada kedua kriminal ini. Meskipun ini sungguh-sungguh sebuah kisah nyata, namun dengan cerdik Capote berhasil membuatnya bagaikan sebuah novel fiksi. Tokoh-tokohnya hadir dengan karakter-karakter yang kuat; melekat terus dalam ingatan pembacanya.

 

Motif mereka membunuh semata-mata karena uang. Kabar tentang Clutter pertama kali mereka dengar di penjara Lansing dari mulut Floyd Wells, teman satu sel Dick. Wells bercerita bahwa ia sebelum dipenjara ia pernah bekerja pada Mr.Clutter. Wells yakin Mr. Clutter adalah seorang kaya raya dan pasti memiliki brankas di suatu tempat di rumahnya. Dick mencatat semua ocehan Wells dalam otaknya, lengkap dengan "gambar" denah rumah Mr. Clutter. Dick sesumbar bahwa jika ia bebas dari Lansing ia akan merampok Mr. Clutter demi lembar-lembar dolar di brankasnya.

 

Wells tak pernah menduga Dick akan benar-benar menjalankan rencananya. Ia mengajak serta Perry Smith, seorang pemuda keturunan Indian yang menggemari sastra yang juga dikenalnya di penjara Lansing. Lewat informasi dan "kesaksian" Wells ini, sherif akhirnya berhasil menangkap Dick dan Perry.  

 

Pada bagian-bagian awal cerita, saya agak direpotkan dengan kalimat-kalimat panjang (berikut anak kalimat yang banyak pula, mengingatkan saya pada Romo Mangun almarhum) Capote. Tetapi, lambat-laun, setelah bisa "menyesuaikan diri" dan masuk ke dalam alurnya, justru saya menemukan kenikmatan tersendiri selama membacanya dan tak ingin berhenti sampai terungkap misteri yang menyelimuti kisah kelam ini.

 

Capote melengkapi bukunya berdasarkan bahan-bahan dan data yang diperolehnya dari berbagai sumber, baik berupa catatan resmi atau pun hasil wawancara dengan orang-orang yang terlibat langsung. Konon ia dibantu oleh sahabatnya, Harper Lee (penulis novel keren To Kill A Mockingbird).

 

Eksekusi hukuman mati bagi Perry dan Dick baru telaksana pada tengah malam 14 April 1965. Mereka digantung di Lansing, Kansas setelah gagal melakukan berbagai upaya pembatalan hukuman mati lewat pengadilan banding dan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Empat bintang dari saya***.

 

endah sulwesi 2/01/08

Posted at Wednesday, January 02, 2008 by Perca

bonekarusia
December 21, 2008   03:00 PM PST
 
Empat bintang dari saya juga!

Terima kasih Mba Endah, review2nya bagus2... :)
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< January 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed