Monday, August 21, 2006
Sang Pemimpi

Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : I - Juli 2006
Tebal : x + 292 hlm
 
Menyusul novel pertamanya, Laskar Pelangi, Andrea Hirata meluncurkan Sang Pemimpi sebagai kelanjutannya. Masih berkutat di dunia sekolahan, Sang Pemimpi memunculkan tokoh "pahlawan" Arai yang mirip dengan Lintang pada Laskar Pelangi. Dengan semangat juang yang tinggi, Arai dan Ikal bertekad mewujudkan impian mereka : sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Apa pun yang terjadi!
 
Jika di Laskar Pelangi melibatkan sebelas orang anak SD, maka pada Sang Pemimpi cerita berpusat pada tiga orang anak (SMA) saja. Mereka adalah : Ikal, Arai, dan Jimbron. Bagi yang telah pernah membaca Laskar Pelangi, pasti tidak asing lagi dengan tokoh Ikal. Dialah si empunya hikayat, di mana padanyalah kisah kedua novel ini bersumber.
 
Setting cerita masih tetap di Belitong, kampung halaman ketiga anak muda itu. Warga di sana baru saja mendapat kegembiraan yang bukan main besarnya, karena kini tak jauh dari kampung mereka (kira-kira 30 km) berdiri satu unit bangunan sekolah SMA Negeri. Bukan main! Sebelumnya, SMA terdekat ada di Tanjong Pandan, berjarak 120 km jauhnya dari kampung tempat para pegawai PN Timah bermukim. Semestinyalah seluruh penduduk kampung tersebut bersuka-cita dengan kehadiran SMA yang dirintis oleh Pak Mustar, sang Wakil Kepala Sekolah.
 
Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan siswa-siswa angkatan pertama SMA Bukan Main yang dipimpin oleh Pak Balia, guru sastra lulusan IKIP Bandung yang memegang teguh aturan moral itu. Berbahagialah para siswanya karena memiliki para pendidik seperti Pak Balia dan Pak Mustar, orang-orang idealis dengan komitmen tinggi pada profesi guru yang disandangnya.
 
Oya, di Laskar Pelangi nama Arai belum pernah disebut satu kalipun. Agak mengherankan sebetulnya, sebab menurut penuturan di buku Sang Pemimpi ini, Arai telah bersama-sama dengan Ikal sejak kelas III SD. Mereka tinggal di kamar yang sama dalam rumah yang sama. Mengaji bersama. Bermain bersama. Sejak menjadi yatim piatu, Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal. Pertanyaannya lalu : di mana Arai bersekolah waktu SD dan SMP?
 
Tapi baiklah, kita teruskan saja dongeng Sang Pemimpi yang berisi kisah-kisah lucu, sedih, pahit, mengharukan, semasa SMA. Misalnya, sewaktu pembagian rapor. Bagi ayah Ikal, saat pembagian rapor anak-anaknya adalah saat istimewa yang membanggakan. Oleh karenanya beliau senantiasa menyiapkan segala sesuatunya pada hari pembagian rapor. Ia akan mengambil cuti dua hari, memangkas rambut serta merapikan kumisnya, dan tak lupa mengenakan busana terbaik miliknya, yakni baju safari yang dijahit istrinya tahun 1972. Itu baju keramat yang hanya dipakai pada acara-cara penting saja.
 
Bagian ini amat menyentuh, memperlihatkan kasih sayang seorang ayah yang lugu dan tulus kepada putranya tercinta. Bagi Ikal, dialah ayah juara satu seluruh dunia.
 
Sayangnya, ada yang terasa tak logis di sini, yaitu ketika Ikal bercerita soal baju safari kebanggaan sang ayah : Aku ingat, tahun 1972, setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong, semacam calon pegawai PN Timah, akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam. Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri 1972, ayahku, aku, adik laki-lakiku, dan kedua abangku memakai baju seragam: safari empat saku! Kami bersilaturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar (hlm.89).
 
Jika pada saat Ikal bercerita itu tahun 1988/1989 dan ia - taruhlah - berusia 17 atau 18 tahun (usia anak SMA umumnya), maka berarti ia lahir tahun 1971. Ini artinya pada 1972, ia baru berumur 1 tahun.  Mungkinkah ia mampu mengingat peristiwa yang dialami ketika ia umur 1 tahun? Rasanya akan lebih masuk akal bila ditulis dengan kalimat : Aku ingat, ibuku pernah bercerita, bahwa pada tahun 1972...bla..bla..bla.
 
Satu hal lagi pada bab ini yang mengundang pertanyaan adalah : apabila Ikal berumur 1 tahun, berapa umur si adik pada saat itu? Logikanya, pasti si adik masih bayi usia bulanan dan kok janggal ya rasanya anak bayi diberi busana baju safari empat saku.
 
Entahlah, apakah ini merupakan kekeliruan penulis  yang tidak disengaja akibat kurang teliti atau karena luput dari pengamatan editor? Andaipun dianggap hanya sebagai sebuah kesalahan kecil yang tak penting, akan jauh lebih baik jika hal tersebut tidak terjadi.
 
Barangkali memang tak mudah membuat novel, apa lagi novel sekuel. Selalu ada "beban" atau semacam tuntutan pada novel-novel lanjutannya untuk bisa lebih baik dari novel pertamanya. Minimal, samalah. Beberapa novel telah terbukti sukses sebagai kisah sekuel. Misalnya, The Lord of The Rings (Tolkien) dan Harry Potter (J.K.Rowlings) dan atau Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) untuk menyebut karya penulis lokal.
 
Pada Sang Pemimpi agaknya Andrea Hirata terlalu memusatkan perhatiannya pada bagaimana menciptakan sebuah kisah emosional, menghanyutkan pembaca ke dalam peristiwa dan situasi emosi para tokohnya sebagaimana Laskar Pelangi. Dalam hal ini ia cukup berhasil. Kelakarnya berhamburan, mengundang senyum, cukup menghibur, dan ketika harus bersentimentil, ia juga mampu menyentuh hati pembacanya. Namun, di beberapa bagian ia melalaikan hal-hal "kecil" yang cukup mengganggu logika cerita. Ia juga tampak mengabaikan urutan waktu dan kejadian, sehingga masing-masing babnya seperti berdiri sendiri-sendiri dan membikin pembaca kehilangan panduan waktu.
 
Kalau harus membandingkan antara Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Laskar Pelangi lebih menarik dan lebih emosional. Tetapi, kedua-duanya memiliki kelebihan berupa kekayaan diksi dan metafor yang menawan. Penggunaan metafor yang baik, kita tahu, merupakan unsur penting dalam sebuah karya fiksi.
 
Pada kuliahnya di depan para anggota Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) peserta program penulisan novel awal Agustus lalu, Prof.Fuad Hasan mengatakan, bahwa salah satu syarat sebuah karya sastra yang baik adalah konsistensi, khususnya untuk perwatakan para tokohnya. Dari awal hingga kisah ditutup, tak boleh ada sedikitpun penyimpangan karakter tokoh-tokoh yang diciptakan penulis. Penulis diharamkan melupakan karakter tokoh-tokoh ceritanya.
 
Hal yang kelihatan kerap dilupakan Andrea dalam menulis adalah konsistensi. Dalam Sang Pemimpi ini ia kembali lupa mengingat keterangan yang pernah ditulisnya sendiri untuk seorang tokohnya : Arai. Pada saat Arai merayu gadis pujaan hatinya, Nurmala, dengan lagu "I Can't Stop Loving You", ia digambarkan sebagai siswa yang jago berbahasa Inggris. Namun, ketika "terdampar" di emper rumah makan Kentucky Fried Chicken di Bogor, ia berubah menjadi seorang dengan kemampuan bahasa Inggris yang buruk, sampai-sampai tak tahu makna kata "fried", malah memelesetkannya menjadi Tuan Fred.
 
Beberapa 'ganjalan' yang disebut di atas tadi, selayaknya bisa diminimalisasi oleh penyunting. Bukankah itu merupakan salah satu fungsi penyunting selain memeriksa ejaan?
 
Demikianlah. Sang Pemimpi hadir dengan sejumlah mozaik riwayat masa muda Ikal dan Arai, dua sepupu jauh yang percaya pada kekuatan mimpi-mimpi, pengorbanan, kerja keras, dan Tuhan. Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, termasuk mewujudkan impian kedua makhluk Belitong dengan cita-cita setinggi langit itu. Kedua "pahlawan" dalam buku ini ingin menularkan semangat mereka dalam memetik cita-cita. Percayalah, apa bila kita fokus dan bekerja keras demi meraih impian, maka Tuhan beserta seluruh alam semesta akan ikut membantu. Ah...kok jadi seperti Sang Alkemis, ya? :)
 
Endah Sulwesi 20/8

Posted at Monday, August 21, 2006 by Perca

Erna
July 15, 2007   08:25 PM PDT
 
sayang pesan moral dari buku ini tidak sejalan dengan penulisnya. Saya mendapatkan foto andrea bermalam satu kamar hotel dengan seorang perempuan. Belakangan diketahui perempuan itu adalah wartawan tabloid wanita yang minggu sebelumnya memuat profil Andrea
perca
September 12, 2006   09:36 PM PDT
 
Dan Negeri Senja mengingatkanku pada novelnya SGA yg menang KLA 2004 :) Salam kenal ya...
Negeri Senja
September 12, 2006   10:41 AM PDT
 
Arai dan Ikal mengingatkan aku pada dua sahabat kental dalam "Kite Runner". Si Arai sangat Hasan... dan persahabatannya itu lho... kebetulan cocoggggg bangetzzzzz
perca
August 28, 2006   08:50 AM PDT
 
hai Irma, salam kenal juga. Terima kasih sudah singgah di Perca. Setuju kok, Andrea memang penyihir dan SP adalah buku yang menarik, apa lagi jika bolong-bolong itu ditutup lebih rapi lagi :)
Irma Citarayani
August 28, 2006   08:23 AM PDT
 
hehe...pokoke saya seneng banget deh bisa baca LP dan SP, walaupun seperti yang bu perca tulis dlm resensi, ada beberapa bolong dalam tulisan tsb, tapi teteup aja dua novel ini telah menyihir saya :) btw salam kenal ya bu :)
perca
August 27, 2006   09:03 PM PDT
 
wkt diskusi kmrn, ikal crt seru bgt soal pengalamannya ntn konser Kak Rhoma. Dia harus nyebrang naik ferry demi menyaksikan sang idola beraksi di pulau lain. Dia juga fasih menirukan gaya Kak Rhoma di panggung!!
Dhika
August 27, 2006   05:26 PM PDT
 
ditunggu makan2nya untuk dimuatnya review ini di kortem...:)
btw, saya paling ngakak ketika ikal menjawab pertanyaan pak Balia dengan mengutip haji rhoma irama..hehehe
perca
August 23, 2006   10:29 PM PDT
 
Ada lagi tuh yg jg menyentuh : wkt pembagian rapor berikutnya yg ranking ikal turun drastis itu dan ayahnya tetap datang dg kebanggaan yg tak berkurang sdktpun pd sang anak terkasih. Aku jd ingat bapakku almarhum. Hiks...:(
kobo
August 23, 2006   07:28 PM PDT
 
Setuju! Bagian itu memang mengharukan.

Aku juga suka waktu Arai nongol tiba-tiba aja udah bawa kuda, setelah beberapa lama diam-diam kerja bakti supaya Jimbron bisa mendapatkan impiannya untuk menunggangi kuda.
perca
August 23, 2006   05:46 PM PDT
 
Hehehe..setuju Bo! SP ini sgt menghibur kok dan juga menyentuh. Terutama di bagian itu lo, wkt Jimbron menyerahkan harta kekayaannya berupa dua buah celengan kuda kepada Ikal dan Arai. Waah...emosiku tersentuh banget tuh hu..hu..hu..hu...
kobo
August 23, 2006   05:04 PM PDT
 
Hue he he he, salut banget ama Perca ^.^

Yang pasti, selain keganjalan yang ditemukan berkat kejelian jeng Perca, bagiku sih Sang Pelangi seperti teman, karena sangat menghibur diriku di kala sendirian menunggu sanak saudara di airport, hi hi hi hi.....
perca
August 23, 2006   01:11 PM PDT
 
sebenarnya gini Laotong : berangkat dari pengalaman membaca Laskar Pelangi yang msh byk bolongnya, aku jd memberi perhatian lebih pd SP. Aku ingin tahu apakah kali ini Andrea sdh lbh "rapi" menyajikan ceritanya hehehe:)
tanzil
August 23, 2006   11:21 AM PDT
 
ya..bo...aku juga tersihir oleh kemahiran Andrea bermain kata-kata.

Aku salut sama 'laotong'ku yg tak tersihir kalimat2 Andrea shg bnyak menemukan kejanggalan2 di SP
perca
August 23, 2006   11:06 AM PDT
 
hehehe betul sih, kalimat2 Andrea mmg memukau, menyihir....:)
kobo
August 23, 2006   10:42 AM PDT
 
kebetulan, Sang Pemimpi menemani aku waktu 'menjabat' panitia penjemputan di airport, hi hi hi....

Oke juga, aku suka cara bercerita Andrea. Masalah keganjalan-keganjalan yang Perca temukan, aku malah baru nyadar setelah baca review Perca, he he he, abis udah terpukau duluan ama kalimat-kalimat manisnya si Ikal itu. Dan menurutku sih, Sang Pemimpi lebih gampang dinikmati dari Laskar Pelangi, mungkin karena tokoh utama di sini lebih sedikit yah, kalau di LP kan ruameee, he he he he
perca
August 22, 2006   04:23 PM PDT
 
Hai Bo, gmn, sdh dinikmati Sang Pemimpi? Pgn tau komenmu :)
kobo
August 22, 2006   04:12 PM PDT
 
T_T ku tak pernah bisa ikutan, jadi cuma menunggu laporan aja ntar di milis, hehehehe
perca
August 22, 2006   10:40 AM PDT
 
kita brkt bareng aja spt yl. Kali ini Her bakal gabung di travel "Sepanjang Braga"
Dhika
August 22, 2006   09:24 AM PDT
 
penginnya datang dan sudah baca bukunya dulu. kita lihat saja nanti, ya kali2 ada yg mau ditebengin lagi..:)
perca
August 21, 2006   09:30 PM PDT
 
hehehe..wah..kalo soal beli atau tidak ya kausimpulkan saja sendiri, Dhika :) Hari Jumat insyaAllah aku datang, kan aku yg akan bikin tehnya :) Kau datang juga, kan?
Dhika
August 21, 2006   08:42 PM PDT
 
jadi menurutmu Sang Pemimpi ni seheboh yang dibincangkan ndak? layak beli ndak atau nunggu dikasih mas kris saja? :)
btw, jumat besok hadir ndak?
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed