Penulis : Andrea Hirata
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : I - Juli 2006
Tebal : x + 292 hlm
Menyusul novel pertamanya, Laskar Pelangi, Andrea Hirata meluncurkan Sang Pemimpi sebagai kelanjutannya. Masih berkutat di dunia sekolahan, Sang Pemimpi memunculkan tokoh "pahlawan" Arai yang mirip dengan Lintang pada Laskar Pelangi. Dengan semangat juang yang tinggi, Arai dan Ikal bertekad mewujudkan impian mereka : sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Apa pun yang terjadi!
Jika di Laskar Pelangi melibatkan sebelas orang anak SD, maka pada Sang Pemimpi cerita berpusat pada tiga orang anak (SMA) saja. Mereka adalah : Ikal, Arai, dan Jimbron. Bagi yang telah pernah membaca Laskar Pelangi, pasti tidak asing lagi dengan tokoh Ikal. Dialah si empunya hikayat, di mana padanyalah kisah kedua novel ini bersumber.
Setting cerita masih tetap di Belitong, kampung halaman ketiga anak muda itu. Warga di sana baru saja mendapat kegembiraan yang bukan main besarnya, karena kini tak jauh dari kampung mereka (kira-kira 30 km) berdiri satu unit bangunan sekolah SMA Negeri. Bukan main! Sebelumnya, SMA terdekat ada di Tanjong Pandan, berjarak 120 km jauhnya dari kampung tempat para pegawai PN Timah bermukim. Semestinyalah seluruh penduduk kampung tersebut bersuka-cita dengan kehadiran SMA yang dirintis oleh Pak Mustar, sang Wakil Kepala Sekolah.
Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan siswa-siswa angkatan pertama SMA Bukan Main yang dipimpin oleh Pak Balia, guru sastra lulusan IKIP Bandung yang memegang teguh aturan moral itu. Berbahagialah para siswanya karena memiliki para pendidik seperti Pak Balia dan Pak Mustar, orang-orang idealis dengan komitmen tinggi pada profesi guru yang disandangnya.
Oya, di Laskar Pelangi nama Arai belum pernah disebut satu kalipun. Agak mengherankan sebetulnya, sebab menurut penuturan di buku Sang Pemimpi ini, Arai telah bersama-sama dengan Ikal sejak kelas III SD. Mereka tinggal di kamar yang sama dalam rumah yang sama. Mengaji bersama. Bermain bersama. Sejak menjadi yatim piatu, Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal. Pertanyaannya lalu : di mana Arai bersekolah waktu SD dan SMP?
Tapi baiklah, kita teruskan saja dongeng Sang Pemimpi yang berisi kisah-kisah lucu, sedih, pahit, mengharukan, semasa SMA. Misalnya, sewaktu pembagian rapor. Bagi ayah Ikal, saat pembagian rapor anak-anaknya adalah saat istimewa yang membanggakan. Oleh karenanya beliau senantiasa menyiapkan segala sesuatunya pada hari pembagian rapor. Ia akan mengambil cuti dua hari, memangkas rambut serta merapikan kumisnya, dan tak lupa mengenakan busana terbaik miliknya, yakni baju safari yang dijahit istrinya tahun 1972. Itu baju keramat yang hanya dipakai pada acara-cara penting saja.
Bagian ini amat menyentuh, memperlihatkan kasih sayang seorang ayah yang lugu dan tulus kepada putranya tercinta. Bagi Ikal, dialah ayah juara satu seluruh dunia.
Sayangnya, ada yang terasa tak logis di sini, yaitu ketika Ikal bercerita soal baju safari kebanggaan sang ayah : Aku ingat, tahun 1972, setelah bertahun-tahun menjadi tenaga langkong, semacam calon pegawai PN Timah, akhirnya ayahku diangkat menjadi kuli tetap. Bonus pengangkatan itu adalah kain putih kasar bergaris-garis hitam. Oleh ibuku kain itu dijadikan lima potong celana dan baju safari sehingga pada hari raya Idul Fitri 1972, ayahku, aku, adik laki-lakiku, dan kedua abangku memakai baju seragam: safari empat saku! Kami bersilaturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar (hlm.89).
Jika pada saat Ikal bercerita itu tahun 1988/1989 dan ia - taruhlah - berusia 17 atau 18 tahun (usia anak SMA umumnya), maka berarti ia lahir tahun 1971. Ini artinya pada 1972, ia baru berumur 1 tahun. Mungkinkah ia mampu mengingat peristiwa yang dialami ketika ia umur 1 tahun? Rasanya akan lebih masuk akal bila ditulis dengan kalimat : Aku ingat, ibuku pernah bercerita, bahwa pada tahun 1972...bla..bla..bla.
Satu hal lagi pada bab ini yang mengundang pertanyaan adalah : apabila Ikal berumur 1 tahun, berapa umur si adik pada saat itu? Logikanya, pasti si adik masih bayi usia bulanan dan kok janggal ya rasanya anak bayi diberi busana baju safari empat saku.
Entahlah, apakah ini merupakan kekeliruan penulis yang tidak disengaja akibat kurang teliti atau karena luput dari pengamatan editor? Andaipun dianggap hanya sebagai sebuah kesalahan kecil yang tak penting, akan jauh lebih baik jika hal tersebut tidak terjadi.
Barangkali memang tak mudah membuat novel, apa lagi novel sekuel. Selalu ada "beban" atau semacam tuntutan pada novel-novel lanjutannya untuk bisa lebih baik dari novel pertamanya. Minimal, samalah. Beberapa novel telah terbukti sukses sebagai kisah sekuel. Misalnya, The Lord of The Rings (Tolkien) dan Harry Potter (J.K.Rowlings) dan atau Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari) untuk menyebut karya penulis lokal.
Pada Sang Pemimpi agaknya Andrea Hirata terlalu memusatkan perhatiannya pada bagaimana menciptakan sebuah kisah emosional, menghanyutkan pembaca ke dalam peristiwa dan situasi emosi para tokohnya sebagaimana Laskar Pelangi. Dalam hal ini ia cukup berhasil. Kelakarnya berhamburan, mengundang senyum, cukup menghibur, dan ketika harus bersentimentil, ia juga mampu menyentuh hati pembacanya. Namun, di beberapa bagian ia melalaikan hal-hal "kecil" yang cukup mengganggu logika cerita. Ia juga tampak mengabaikan urutan waktu dan kejadian, sehingga masing-masing babnya seperti berdiri sendiri-sendiri dan membikin pembaca kehilangan panduan waktu.
Kalau harus membandingkan antara Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Laskar Pelangi lebih menarik dan lebih emosional. Tetapi, kedua-duanya memiliki kelebihan berupa kekayaan diksi dan metafor yang menawan. Penggunaan metafor yang baik, kita tahu, merupakan unsur penting dalam sebuah karya fiksi.
Pada kuliahnya di depan para anggota Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) peserta program penulisan novel awal Agustus lalu, Prof.Fuad Hasan mengatakan, bahwa salah satu syarat sebuah karya sastra yang baik adalah konsistensi, khususnya untuk perwatakan para tokohnya. Dari awal hingga kisah ditutup, tak boleh ada sedikitpun penyimpangan karakter tokoh-tokoh yang diciptakan penulis. Penulis diharamkan melupakan karakter tokoh-tokoh ceritanya.
Hal yang kelihatan kerap dilupakan Andrea dalam menulis adalah konsistensi. Dalam Sang Pemimpi ini ia kembali lupa mengingat keterangan yang pernah ditulisnya sendiri untuk seorang tokohnya : Arai. Pada saat Arai merayu gadis pujaan hatinya, Nurmala, dengan lagu "I Can't Stop Loving You", ia digambarkan sebagai siswa yang jago berbahasa Inggris. Namun, ketika "terdampar" di emper rumah makan Kentucky Fried Chicken di Bogor, ia berubah menjadi seorang dengan kemampuan bahasa Inggris yang buruk, sampai-sampai tak tahu makna kata "fried", malah memelesetkannya menjadi Tuan Fred.
Beberapa 'ganjalan' yang disebut di atas tadi, selayaknya bisa diminimalisasi oleh penyunting. Bukankah itu merupakan salah satu fungsi penyunting selain memeriksa ejaan?
Demikianlah. Sang Pemimpi hadir dengan sejumlah mozaik riwayat masa muda Ikal dan Arai, dua sepupu jauh yang percaya pada kekuatan mimpi-mimpi, pengorbanan, kerja keras, dan Tuhan. Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, termasuk mewujudkan impian kedua makhluk Belitong dengan cita-cita setinggi langit itu. Kedua "pahlawan" dalam buku ini ingin menularkan semangat mereka dalam memetik cita-cita. Percayalah, apa bila kita fokus dan bekerja keras demi meraih impian, maka Tuhan beserta seluruh alam semesta akan ikut membantu. Ah...kok jadi seperti Sang Alkemis, ya? :)
Endah Sulwesi 20/8