|
Penulis : Femmy Syahrani & Yulyana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2005, cetakan I
Tebal : 184 hlm
Bumi Indonesia kaya akan cerita rakyat dan legenda; tersebar dari mulut ke mulut melintasi beberapa generasi. Dari hamparan pulau-pulaunya yang meratus, tinggal beribu suku bangsa dengan budaya dan adat istiadat serba unik. Dari setiapnya, kita akan bisa menggali kisah-kisah indah penanda zaman yang terus hidup dari waktu ke waktu.
Banyak dari legenda tersebut yang akhirnya lenyap tak pernah diceritakan lagi. Sebabnya bisa macam-macam. Salah satunya barangkali karena tak ada lagi sumber yang menurunkan kisah itu. Atau kisah itu dianggap tak lagi relevan dengan perkembangan zaman, tak menarik, tak menjual.
Oleh karenanya, berbagai upaya telah dilakukan banyak pihak untuk melestarikan warisan sastra budaya leluhur itu dengan jalan, misalnya, menulis ulang hikayat-hikayat klasik tersebut; baik dalam bentuk aslinya atau pun hasil tafsiran baru. Ada yang ditujukan khusus untuk pembaca kanak-kanak, ada pula yang versi dewasa.
Banyak penerbit telah melakukan kerja mulia itu. Contohnya, penerbit PT Bentang Pustaka yang menulis kembali dongeng Timun Mas dan Ande-ande Lumut dalam versi "untold story" untuk kanak-kanak. Atau Gramedia Pustaka Utama yang telah meluncurkan Panah Patah Sangkuriang dan Galau Putri Calon Arang. Keduanya ditulis ulang oleh Femmy Syahrani.
Ada beberapa versi Calon Arang; sedikitnya ada dua yang masih beredar, yaitu karya Pramoedya Ananta Toer (Dongeng Calon Arang) berupa novel dan Calon Arang : Perempuan Korban Patriarki, karya Toeti Heraty berbentuk prosa lirik (puisi panjang).
Khusus pada karya Toeti Herati, yang menyoroti kisah ini dari perspektif feminisme, Calon Arang digambarkan lebih sebagai seorang perempuan korban patriarki - bukan semata-mata kriminal penebar teror - yang harus dihukum mati sebab ia menolak ikut membakar diri bersama kematian suaminya, hal yang wajib dilakukan oleh para istri di Bali, biasanya di kalangan kaum ningrat.
Penolakan Calon Arang yang dianggap bertentangan dengan adat dan kepercayaan relijius masyarakat Bali, menurut Toerty, merupakan simbol perlawanan perempuan yang menuntut persamaan hak dengan lelaki, meski akhirnya ia harus mati juga - dengan tuduhan sebagai penyihir jahat - di tangan para lelaki yang menjadi musuhnya itu.
Demikian pula yang diungkapkan oleh Pramoedya A.Toer. Menurutnya, kemungkinan besar legenda Calon Arang lahir dari dendam perempuan terhadap kaum laki-laki.
Berbeda dengan legenda-legenda seperti Malin Kundang atau Sangkuriang yang hanya berupa dongeng dengan tokoh-tokoh fiktif, Calon Arang ternyata melibatkan tokoh dan peristiwa sejarah di dalamnya, yakni Airlangga, raja Kahuripan, sebuah kerajaan yang berpusat di Daha, Jawa Timur.
Alkisah, hiduplah di suatu desa di Jawa seorang janda sakti dikenal dengan nama Calon Arang bersama putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Kesaktian janda ini telah tersiar ke seantero negeri, mengalahkan kabar kecantikan putrinya. Sang Janda tak suka bergaul dengan para penduduk desa lainnya. Ia memilih menyendiri bertapa sehingga orang-orang desa mencurigainya sebagai dukun ilmu hitam atau tukang tenung, karena itulah ia dijuluki Calon Arang.
Kecurigaan masyarakat desa baru terbukti kemudian setelah peristiwa pelecehan terhadap Ratna Manggali oleh Rakajasa, putra kepala desa yang ingin menjadikan Ratna sebagai istri ketiganya. Pelecehan itu membuat murka Calon Arang. Ia lantas mengutuk seluruh desa dengan menyebarkan wabah penyakit menular yang mematikan.
Wabah ganas itu akhirnya sampai juga ke Daha, ibukota kerajaan Kahuripan yang dipimpin Airlangga. Sang Raja risau dibuatnya dan lalu mencari upaya mengatasi kutukan tersebut. Ia bertambah gundah setelah mengetahui bahwa ternyata si penyebar kutuk adalah ibu kandungnya sendiri.
Ya, Calon Arang ternyata adalah ratu kerajaan Bali yang melarikan diri ke Jawa bersama putrinya, Ratna Manggali, adik kandung Airlangga, karena dituduh mempraktikkan ilmu desti (ilmu hitam).
Riwayatnya dulu, Calon Arang, selagi masih bernama Mahendradatta, adalah putri raja Kahuripan. Ia kemudian menikah dengan Dharmodayana, raja Bali dari keturunan Warmadewa. Sedangkan kakaknya, Dharmawangsa naik takhta sebagai raja Kahuripan menggantikan sang ayah.
Dari perkawinannya dengan raja Bali itu, lahirlah Airlangga yang kemudian hijrah ke Daha dan menikah dengan sepupunya sendiri, putri Dharmawangsa untuk akhirnya mewarisi takhta kerajaan tersebut.
Kini, sang raja muda gundah-gulana dilanda dilema. Di satu sisi, ia harus menyelamatkan kerajaan dan rakyatnya dari bencana mematikan itu, di sisi lain, itu berarti ia harus melawan ibu kandungnya sendiri sebagai si pembuat bencana. Sungguh pilihan yang sulit.
Konflik batin Airlangga inilah yang coba diangkat oleh Femmy dalam bukunya. Bagaimana seorang pemimpin seperti Airlangga harus bersikap menghadapi kezaliman yang dilakukan oleh ibundanya sendiri? Ia pun mengatur siasat dengan mengutus sahabat setianya, Bahula, untuk menikahi Ratna Manggali. Airlangga berharap, lewat Ratna Manggali, rahasia kesaktian Calon Arang akan bisa terungkap.
Akibatnya, perang batin pun juga dialami Ratna Manggali. Menghadapi permohonan Bahula, sang suami, ia harus memilih : ibunya yang sangat dicintainya yang telah menebar teluh atau keselamatan rakyat banyak.
Keanekaragaman versi sebuah cerita, tentulah akan lebih memperkaya wawasan pembacanya, sebab mendapat kesempatan melihat kisah tersebut dari berbagai perspektif. Apalagi 'hanya' sebuah fiksi, sejarah real pun memiliki banyak versi, bukan? Jadi, ya nggak masalah, nikmati saja.
Endah Sulwesi 28/1
|