Sunday, December 25, 2005
Panah Patah Sangkuriang

Panah Patah Sangkuriang
Penulis    Femmy Syahrani
Penerbit  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun     2003
Tebal      115 hal
 
Dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi tentu tak asing lagi bagi kita. Legenda Tanah Sunda yang dipercaya sebagai asal-usul terjadinya Gunung Tangkuban Perahu itu telah sering dikisahkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dengan versi yang selama ini kita kenal.
 
Oleh sebab terinspirasi film-film Disney yang banyak memodifikasi dongeng klasik agar tetap menarik dan relevan dengan zaman, Femmy Syahrani bereksperimen dengan menceritakan kembali  kisah rakyat itu (Sangkuriang) dalam  buku Panah Patah Sangkuriang.
 
Pasti ada risiko diprotes dan butuh keberanian tersendiri untuk menampilkan kembali dalam versi baru dongeng-dongeng klasik yang sudah kadung dipercaya sebagai mitos dan  melekat di masyarakat. Dan tentu juga bukan hal yang mudah mengolah kembali sebuah naskah tradisional menjadi kisah yang lebih modern.
 
Sebenarnya, Femmy tidak terlalu jauh ke luar dari versi lamanya. Ia 'hanya' mengubah sedikit saja apa yang selama ini telah banyak diketahui orang.
 
Misalnya,  kedua tokoh utama cerita yang tadinya "hitam putih", kini ditampilkan "abu-abu" untuk supaya bisa tampak lebih manusiawi . Sangkuriang bukan lagi tokoh keras kepala dan angkuh tetapi seorang anak muda bernasib malang yang membawa-bawa rasa bersalah di pundaknya selama hayatnya karena telah membunuh ayahnya dan jatuh cinta pada ibu kandungnya sendiri.
 
Selain itu, Femmy, sebagaimana pengakuannya, juga berusaha melogiskan alur cerita dengan cara menggali motivasi dan perasaan kedua tokoh utama novelnya ini.
 
Contohnya, pemberian latar belakang yang logis mengapa Dayang Sumbi sampai menikah dengan seekor anjing, yaitu  karena ia dipaksa kawin dengan lelaki yang tidak dicintainya. Ia memberontak, menolak perintah ayahnya, membuat sang ayah murka dan dikutuklah Tumang, kekasih Dayang Sumbi menjadi seekor anjing. Sedangkan dalam versi lama diceritakan bahwa Dayang Sumbi menikah dengan seekor anjing akibat termakan sumpahnya sendiri.
 
Ketika itu, Dayang Sumbi sedang asyik menenun kain. Tiba-tiba alat tenunnya terjatuh dan ia malas mengambilnya sendiri. Ia kemudian berujar bahwa barang siapa yang sudi mengambilkan alat tenunnya itu, akan ia jadikan suami. Dan, seperti telah kita ketahui, seekor anjing bernama Tumang mengambilkan alat tenun Dayang. Dayang pun memenuhi sumpahnya.
 
Menurut saya, gagasan ini sangat menarik, meski pun kita harus rela kehilangan unsur "keajaiban" yang lazim kita temukan pada dongeng. Padahal, justru  keajaiban-keajaiban serupa  itulah salah satu daya tarik dan  unsur yang membedakan dongeng dengan kisah-kisah realis.
 
Kendati demikian, kedua pilihan versi (tafsiran) tersebut sama-sama sah untuk ditampilkan. Tak perlu terlalu dipersoalkan tentang mana yang lebih benar, tetapi pandanglah ini sebagai satu upaya penulisnya untuk lebih memperkaya khazanah cerita rakyat kita.
 
Dan novel Panah Patah Sangkuriang - yang merupakan penafsiran baru atas mitos Sangkuriang - ini, mengingat bobot ceritanya yang agak 'berat',  rasanya lebih cocok untuk para remaja dan dewasa dari pada untuk kanak-kanak.
 
Endah Sulwesi 25/12
 

Posted at Sunday, December 25, 2005 by Perca

azara
November 5, 2009   09:00 PM PST
 
apakah yang membuat dayag sumbi menjadi feminisme???
ruth
October 9, 2009   01:02 PM PDT
 
boleh tau gak alamat cerita sangkuriang yang ada dialognya
penting banget nie
Julia
February 2, 2006   04:24 PM PST
 
cerita ini saya pernah dengar dari guru saya pada waktu saya SD
femmy
January 2, 2006   11:20 AM PST
 
Salam kenal buat Noor. Saya tak tahu apakah Sangkuriang saya itu masih ada di toko di Medan. Kalau sulit mendapatkannya, saya masih ada beberapa kopi di rumah.
perca
December 27, 2005   06:28 PM PST
 
Hai Noor, Femmy juga menulis ulang cerita "Calon Arang" legenda rakyat Bali. Ia pun ikutan milis Bentang.

Femmy, Noor ini novelis Malaysia sekaligus dosen sastra di KL. Noor sdh bikin 4 novel.
noor suraya
December 27, 2005   10:43 AM PST
 
femmy,
tahniah... cerita sangkuriang ini salah satu daripada favorit saya. alangkah bagusnya, kalau saya dapat membaca versi lakaran femmy... nanti saya akan meminta tolong pelajar saya membelinya apabila mereka pulang ke Medan.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed