Wednesday, November 09, 2011
Astrid: Rumah Pohon

Astrid: Rumah Pohon


Penulis: Djokolelono
Penerbit: PT Gramedia
Tahun 1987

Rasanya seperti menemukan harta karun yang hilang ketika saya mendapatkan setumpuk buku karya Djokolelono, salah satu penulis buku anak-anak kesayangan saya. (Salah duanya Bung Smas, salah tiganya Arswendo, salah empatnya Sukanto SA, salah limanya….dst). 

Di antara tumpukan buku itu, beberapa adalah serial Astrid, si bintang film cilik yang kerap menjadi detektif bersama kakak lelakinya, Sweta dan temannya, Wiedha.  Petualangan mereka selalu seru dan asyik diikuti, bahkan setelah saya baca kembali pada usia setua ini (ehem).  Tokoh anak-anak dalam karya-karya Djokolelono selalu dibiarkan menyelesaikan masalah dengan cara anak-anak. Orang-orang dewasa justru hamper selalu kebagian peran sebagai penjahat (antagonis), sedangkan tokoh orang dewasa baik-baik biasanya  sekadar membantu Astrid dan kawan-kawan. Saya rasa, faktor inilah yang menjadi kekuatan buku-buku Djokolelono selain humor-humor segar yang menghibur dan selalu berhasil membuat saya cengar-cengir. Dan yang paling penting lagi, pesan-pesan yang disampaikan Djokolelono tidak pernah terasa menggurui.  Mungkin (atau sudah pasti?) saya kecanduan membaca buku-bukunya.  Saya sering membayangkan cerita-cerita itu difilmkan. Siapa ya yang cocok jadi Astrid?

Setelah sekian lama mengenal karya-karyanya, baru kira-kira 3 bulan silam saya akhirnya berjumpa dengan ayah Astrid, Sweta, dan Wiedha  ini. Ayah sebenarnya, karena ternyata Astrid, Sweta, dan Wiedha adalah nama anak-anak Djokolelono (hasil ngintip di Facebook beliau. Hehehe.)

Salah satu buku beliau yang saya baca kembali adalah Astrid: Rumah Pohon.

Di kelas Astrid ada seorang anak yang dijuluki si Jibang (Jijik Banget) karena anak ini pendiam dan suka menyendiri. Nama sebenarnya Anto.  Dia jago matematika tetapi sikapnya yang kurang ramah dan kurang gaul membuatnya dijauhi teman-temannya. Termasuk Astrid.  Anehnya, meski pandai matematika, Anto masih diharuskan ayahnya untuk ikut les matematika di sekolah.

Pada suatu hari, Astrid terlambat datang ke les matematika itu. Iseng-iseng dia lalu naik sebuah sepeda butut yang diparkir di halaman sekolah. Mulanya dia hanya bermaksud berputar-putar di sekitar sekolah, tetapi tanpa sadar dia telah mengayuh sepeda itu menjauh dari sekolah hingga bertemu tiga orang anak lelaki yang juga sedang main sepeda: Ari, Sonny, dan Yoyok.

Saat Astrid kembali ke sekolah, les sudah bubar dan di halaman sekolah menunggu seorang bapak yang langsung mengambil sepeda butut itu dari tangan Astrid sambil marah-marah. Astrid tidak tahu ternyata sepeda itu milik ayah Anto. Karena Anto terlambat pulang, dia dimarahi ayahnya yang juga menjadi terlambat ke tempat kerjanya. Ayah Anto selalu naik sepeda itu ke tempat kerjanya.

Astrid sangat menyesal, karena itu keesokan harinya dia berkunjung ke rumah Anto untuk minta maaf. Dengan bantuan Ari yang ternyata juga kenal dengan Anto, Astrid berhasil menemukan tempat tinggal Anto. Mereka masuk lewat halaman belakang dan di sana Astrid melihat sebuah rumah mungil di atas sebatang pohon besar. Itu rumah pohon Anto, tempat Anto belajar dan sembunyi jika habis dimarahi ayahnya.

Dari cerita Anto, tahulah Astrid bahwa Anto kerap berselisih dengan ayahnya. Ayahnya ingin Anto menjadi insinyur listrik, cita-cita yang gagal diraihnya dulu karena keterbatasan biaya. Karena itu dia menekan Anto untuk belajar keras, terutama matematika.  Padahal Anto ingin menjadi penulis fiksi. Diam-diam dia telah banyak menulis puisi di rumah pohonnya itu.  Dan tentu saja ayahnya menjadi sangat murka saat mengetahui hal tersebut. Terlebih ketika salah satu puisi Anto dimuat di majalah.  Mereka bertengkar hebat yang berujung pada kaburnya Anto dari rumah.

Sang ayah tak mengira Anto bisa senekad itu. Kejutan itu membuat penyakit jantungnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Astrid yang prihatin lalu turun tangan membantu mencari Anto bersama Ari.  Ternyata Anto minggat ditemani Sonny. Mereka ngamen dan menjadi kuli angkut di pasar sayuran. Berkat bujukan Astrid, Anto akhirnya mau juga pulang. Peristiwa ini lalu menyadarkan ayah Anto. Dia tidak lagi memaksakan kehendaknya kepada Anto. ***


Posted at Wednesday, November 09, 2011 by Perca
Comments (2)  

Sunday, March 14, 2010
(4) The Marriage Bereau for Rich People

Judul Buku: The Marriage Bereau for Rich People

Penulis: Farahad Zama

Penerjemah: Rinurbad

Penyunting: Lulu Fitri Rahman

Penerbit: Matahati

Cetakan: I, 2010

Tebal: 455 hlm

 

 

Farahad Zama, satu lagi penulis India yang sukses setelah hijrah ke Barat (London). Pria kelahiran Vizag, India, ini sewaktu masih di tanah airnya bekerja di bank. Lalu, kariernya membawanya mendarat di London yang kemudian menjadi tanah airnya yang kedua.

 

Tampaknya, pergi dan menetap di Barat, merupakan impian kebanyakan orang India, seperti digambarkan dalam film/novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri, penulis India lainnya yang telah lebih dulu menuai sukses di Barat (Amerika).

 

Tetapi, walaupun mereka telah berpindah kewarganegaraan, cerita-cerita yang mereka tulis selalu berakar pada kebudayaan asal mereka, meskipun seting kisahnya di luar India.

 

Novel The Marriage Bureau for Rich People adalah contoh mutakhir yang saya baca. Farahad Zama menulis novel ini setelah ia menetap dan menjadi warga negara Inggris.

 

The Marriage adalah sebuah karya pop yang cukup kaya. Ia sebuah novel cinta berlatar kultur India. Melalui tokoh utamanya, Mr Ali, seorang muslim India yang membuka biro jodoh di masa pensiunnya, Farahad Zama memebeberkan persoalan di tanah airnya yang kompleks. Bukan hanya sekadar urusan kultur dan agama, tetapi juga masalah sosial politik.

 

Menarik. Dalam kemasan karya pop yang gurih dan segar ini, Farahad Zama berhasil meramu berbagai topik dan informasi menjadi sebuah kisah yang cukup padat gizi.

 

Ia menuturkan bahwasanya dalam kehidupan masyarakat sebuah kota kecil seperti Vizag, dua orang tetangga yang berbeda agama, Islam dan Hindu,  bisa hidup rukun berdampingan. Seandainya kedamaian itu bisa terjadi dalam skala yang lebih besar lagi (kehidupan bernegara), mungkin India akan bebas dari huru-hara yang disebabkan perseteruan abadi Islam-Hindu.

 

Farahad juga mengisahkan, bahwa dalam masyarakat yang sama pula masih terus berlangsung tradisi dan kepercayaan lokal menyangkut kasta dan adat istiadat. Misalnya saja, ternyata bahkan di zaman modern ini, urusan jodoh masih diatur orang tua. Jika seorang anak yang memilih jodohnya sendiri tanpa campur tangan orag tua, anak tersebut akan dianggap sebagai anak yang tak tahu adat. Apalagi jika sampai berani menikah dengan pasangan yang berbeda kasta atau agama. Selamanya ia akan dikucilkan oleh keluarga besarnya.

 

Tetapi, saya rasa, melalui karyanya ini, Farahad justru ingin menyampaikan gagasan bahwa sudah tidak masanya lagi urusan jodoh diatur orang tua, walaupun secara eksplisit dia sepakat sebaiknya memang menikah dengan orang dari kasta yang sama. Barangkali untuk menghindarkan masalah kelak.

 

Mr Ali dan biro jodohnya menjadi tokoh sentral tempat segala konflik berlangsung, mirip sinetron "Losmen" di TVRI yang sangat terkenal dua puluh tahun lalu. Di losmen milik Pak dan Bu Broto itu, pemirsa menyaksikan segala macam persoalan tokoh-tokohnya. Dan di losmen itu pula, masalah diselesaikan.

 

Sebelum tulisan ini berakhir, saya ingin mengutip sebuah kalimat cantik di halaman 440 buku ini yang patut dicamkan oleh pasangan yang akan dan tekah menikah: Kasih sayang antara mereka tampak jelas di mata semua orang. Berdasarkan pengalaman, Mr. Ali tahu bahwa cinta romamntis ini hanya akan berumur beberapa tahun dan mereka harus mencari jalan lain untuk langgeng seumur hidup... Saya sepakat, Mr. Ali.J*** (Endah Sulwesi)

 


Posted at Sunday, March 14, 2010 by Perca
Comments (4)  

Saturday, January 30, 2010
(3) The Lost Symbol

Judul buku: The Lost Symbol

Pengarang: Dan Brown

Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno

Penyunting: Esti B Habsari & Andityas Prabantoro

Penerbit: Bentang Pustaka

CetakanL: I, 2010

Tebal: 712 hlm           

 

Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Bersama si ahli simbologi lajang, Profesor Robert Langdon, saya kembali menelusuri misteri ruangan-ruangan bawah tanah yang menyimpan bukan saja keindahan tetapi juga sejarah menakjubkan. Kali ini, Langdon membawa kita mengungkap rahasia Gedung Capitol di Washington, DC, Amerika Serikat.  

 

Ada apa gerangan di balik kemegahan mahakarya Gedung Capitol itu? Tentu tidak akan saya sampaikan di sini agar kau membacanya sendiri. Saya hanya akan menceritakan betapa buku ini akan kembali membawamu pada sebuah petualangan penuh keajaiban di balik simbol-simbol kuno serta sihir ilmu pengetahuan. Menurut saya, novel-novel Dan Brown, bukan sekadar menyajikan ketegangan dan horror, tetapi juga ilmu pengetahuan. Jadi rasanya karya-karyanya bisa digolongkan juga ke dalam genre science fiction.

 

Bagi engkau yang telah membaca dua buku sebelumnya (The Da Vinci Code dan Angels and Demons), akan berjumpa kembali dengan sang jagoan: Robert Langdon dengan bidadari pendampingnya, Katherine Solomon, dalam sebuah thriller yang berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Robert Langdon berupaya membongkar sebuah rahasia yang menyelubungi perkumpulan kaum Mason yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan ternyata George Washington dan Benjamin Franklin pernah menjadi anggotanya.

 

Sudah tentu, dalam usaha mengungkapnya, Langdon menemui banyak kendala. Dia harus berhadapan dengan seorang penjahat sadis yang tak segan-segan membunuh demi mendapatkan yang diinginkannya. Salah satu korbannya adalah sahabat terbaik Langdon, Peter Solomon, salah seorang anggota terhormat Freemasonry. Nyawa Peter terancam dan hanya Langdonlah yang mampu menyelamatkannya. (Ya iyalah, secara dia jagoannya :D).

 

Maka, sebagaimana The Da Vinci Code, Brown mengajak kita menggali misteri seputar Piramida Mason, simbol agung yang menyimpan sebuah “Kata” yang hilang. Dengan piawai, Brown menyingkap lapis demi lapis kisahnya dalam tempo cepat. Setiap babnya selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memaksa kita membuka halaman berikutnya demi menuntaskan rasa penasaran. Brown memang ahlinya meramu misteri dan ketegangan. Deskripsinya tentang satu subjek sangat detail tanpa terjerumus menjadi “kuliah” ilmiah yang membosankan. Saya dibuat tercengang setiap kali sebuah selimut misteri tersibak. Sudah pasti, novel yang semula hendak diberi judul The Solomon Key ini dibuat melalui sebuah riset yang serius.

 

Salah satu daya tarik dari buku-buku Brown adalah keberaniannya menghadirkan fakta sejarah dalam versi yang berbeda yang hasilnya kerap menimbulkan kehebohan dan pro-kontra di kalangan pembacanya. Bagi saya, terlepas dari semua kontroversinya, sangat menikmati suguhan kisahnya tentang benda-benda dan artefak kuno yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya seakan-akan tengah diajak tamasya ke sebuah museum yang penuh berisi karya seni agung lengkap dengan kisah-kisah menakjubkan di sebaliknya. Entah itu hanya sekadar hasil imajinasi Brown atau memang fakta sebenarnya, saya tak lagi terlalu peduli.

 

Agak sedikit berbeda dengan The Da Vinci Code, The Lost Symbol tidak lagi menampilkan kejahatan konspirasi. Penjahatnya hanya seorang dengan motif balas dendam. Dan dalam urusan tegang-tegangan, Angels and Demons masih jauh lebih mencekam. Saya ingat betul, selama membaca novel itu pada malam hari, berulang kali saya menengok ke jendela, merasa seram dan ngeri sendiri seakan-akan penjahat dari novel tersebut bisa muncul di kamar saya sewaktu-waktu. Hiiiiy….

 

Tetapi, sebagai sebuah bacaan setebal 712 halaman, The Lost Symbol sangat menghibur, terutama pada bagian akhirnya yang tidak terduga.*** (Endah Sulwesi)


Posted at Saturday, January 30, 2010 by Perca
Comments (4)  

Saturday, January 23, 2010
(2) Garis Perempuan

Judul buku: Garis Perempuan

Pengarang: Sanie B Kuncoro

Penyunting: Imam Risdiyanto

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan: I, Januari 2010

Tebal: 375 hlm.

 

 

Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?

 

Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa jadi ya, setidaknya dalam novel perdana Sanie B Kuncoro ini. Novel dengan seting sebuah daerah di Jawa Tengah ini, bertutur ihwal empat orang gadis dalam memandang dan menyikapi makna keperawanan. Bagi Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, keperawanan bisa menjadi sebuah anugerah atau justru malapetaka.

 

Siapakah sebenarnya yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan seorang perempuan? Mestinya, perempuan itu sendiri sebagai pemilik yang sah. Namun, pada kenyataannya, sering kali seorang atau banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang (mungkin) paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Umpamanya, yang dialami Ranting.

 

Gadis miskin ini menghadapi dilema. Ia harus melunasi utang  puluhan juta untuk biaya operasi ibunya.  Ranting, karena kemiskinannya, tak punya banyak pilihan. Jika hanya mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), seumur hidupnya pun utang itu tak akan pernah terbayar. Tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Sementara itu, ada seorang lelaki yang menawarkan jalan keluar: bersedia membayarkan utangnya asalkan Ranting mau dijadikan istri ketiga. Sungguh pilihan yang sulit.

 

Tak jauh dari Ranting, ada seorang gadis lain yang mengalami nasib nyaris serupa. Gadis itu, Gendhing, berada pada kondisi sosial ekonomi yang hanya sedikit saja di atas Ranting. Berkat kerja keras orang tuanya–ayahnya tukang becak dan ibunya kuli cuci pakaian–Gendhing agak lebih beruntung ketimbang Ranting karena bisa menyelesaikan SMA-nya sehingga ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil terus mencari peluang kerja yang lebih baik.

 

Celakanya, sebelum sempat mewujudkan cita-cita, Gendhing terbentur sebuah masalah. Seperti Ranting, ia pun terpaksa pasang badan untuk menyelamatkan orang tuanya dari belitan utang. Lagi-lagi, solusi yang disodorkan pada seorang perempuan yang terjepit adalah sebuah barter pelunasan utang dengan penyerahan dirinya, entah sebagai istri kesekian atau sekadar “simpanan”.

 

Dalam kasus Ranting dan Gendhing, akar masalahnya adalah kemiskinan. Kedua gadis ini sadar betul tubuh perawan mereka memiliki nilai jual yang tinggi. Pada para lelaki yang terobsesi tidur dengan para perawan, Ranting dan Gendhing menemukan pembeli yang bersedia membayar mahal. Terjadilah sebuah transaksi dan saat itu keperawanan hanyalah sebuah komoditi.

 

Lain halnya dengan Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua wanita ini barangkali jauh lebih beruntung daripada dua sahabat mereka. Sri dan Zhang (mengapa bukan Mey?) tidak mesti bergulat dengan kemiskinan. Orang tua mereka berada pada level sosial ekonomi menengah atas. Sementara Ranting dan Gendhing harus bermandi keringat mengais rezeki, Sri dan Zhang menikmati dunia kampus tanpa harus memikirkan biayanya. Bagi Sri dan Zhang, tersedia lebih banyak pilihan, termasuk menentukan kepada siapa tubuh perawan mereka akan dipersembahkan. Mungkin untuk kekasih sebagai bukti cinta atau kepada suami di malam pengantin.  

 

Pilihan Sanie pada tema “perawan” ini, mungkin berdasarkan pengamatannya terhadap sekitar. Penulis yang berumah di Solo ini, barangkali menemukan fakta bahwa keperawanan masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan atau pun (lebih-lebih) lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Di novelnya ini, Sanie mengambil latar budaya Jawa dan Cina, dua kultur yang sangat karib dengannya. Sebagi seorang peranakan Cina yang lahir dan besar di Solo, Sanie tentu sangat memahami persoalan-persoalan yang ia tampilkan, baik kultural maupun sosial ekonominya.

 

Dengan gaya menulisnya yang khas–romantis melankolis, sehingga kadang terkesan berlarat-larat dengan kalimat–Sanie mengurai kisahnya menjadi empat bagian inti yang masing-masing menceritakan keempat tokoh utamanya. Pembagian ini memudahkan pembaca mengikuti alur novel yang linier. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, cukup terwakilkan. Beberapa ungkapan dan dialog dalam kedua bahasa berhasil menghidupkan cerita. Untuk para pembaca yang tidak paham bahasa Jawa dan Mandarin, jangan khawatir, penulis langsung menerjemahkannya di situ juga, tak perlu repot-repot melirik catatan kaki. Alhasil, novel ini lumayan menarik untuk dicermati. Sangat perempuan. Banyak hal yang mengundang untuk didiskusikan lebih lanjut.

 

Terlepas dari kisah keempat dara tadi, saya pun masih sering “menemukan” pria (dan banyak!) yang mencari seorang calon istri perawan. Bagi mereka, ada semacam sebuah kebanggaan jika berhasil menjadi yang pertama memerawani perempuan yang menjadi istri mereka. Keperawanan juga menjadi bukti kesucian seorang perempuan. Seolah-olah para wanita “suci” ini benar-benar belum pernah tersentuh kulit lelaki dan sebaliknya, jika sudah tidak perawan berarti perempuan tersebut bermoral bejat. Dan kita tahu, stigma ini tidak berlaku buat para lelaki.

 

Ini hanya masalah kultur yang notabene hasil ciptaan manusia (baca: lelaki). Sejak dulu, para perawan sudah diposisikan sebagai korban. Lihat saja ritual-ritual agama kuno yang selalu menyajikan seorang perawan di altar sebagai persembahan kepada para dewa. Atau pada masa yang lebih moderen lagi, perawan-perawan kerap dijadikan upeti kepada para raja atau sebagai pampasan perang. Pada abad 21 ini, hal serupa masih berlanjut dalam kemasan yang sedikit berbeda. Terjadi pada perempuan-perempuan tak berdaya seperti Ranting dan Gendhing. Kalau begini, sebuah anugerah atau bencanakah menjadi seorang perawan? Ternyata, tak semata-mata soal pilihan.*** (Endah Sulwesi)


Posted at Saturday, January 23, 2010 by Perca
Comments (2)  

Friday, January 01, 2010
(1) Daddy Long Legs

Daddy Long Legs

Judul buku: Daddy Long Legs

Pengarang: Jean Webster

Penerjemah: Ferry Halim

Penyunting: Ida Wajdi

Penerbit: Atria

Cetakan: I, 2009

Tebal: 235 hlm.

 

Daddy long legs dalam bahasa Inggris adalah sebutan untuk laba-laba berkaki panjang. Namun, oleh Jerusha Abbott, kata tersebut ia pakai untuk menjuluki seorang pria budiman yang telah menyantuninya bersekolah di perguruan tinggi. Pria baik hati itu hanya mensyaratkan Judy (nama kecil Jerusha) menulis laporan kemajuan studinya dalam bentuk surat setiap bulan. Sebuah syarat yang sangat mudah, apalagi bagi seorang gadis yang memang senang menulis seperti Judy. Maka, gadis yatim piatu itu pun meninggalkan Panti Asuhan John Grier setelah selama delapan belas tahun menjadi penghuni di dalamnya.

 

Kisah yang sesungguhnya pun dimulai, dari awal hingga akhir semua tersaji dalam bentuk surat Judy kepada Daddy Long Legs. Dengan gaya tulisan yang menyenangkan, Judy bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya selama menjadi mahasiswa: pelajaran-pelajarannya, teman-teman, liburan, buku-buku, cowok-cowok, dan apa saja yang dipikirkannya. Ia menulis seolah-olah bercakap-cakap langsung dengan si pembaca suratnya. Ia menulis kejadian hari demi hari sehingga kau akan merasa seakan-akan tengah membaca sebuah buku harian seorang gadis yang periang, cerdas, dan penuh harga diri. Ceritanya cewek banget deh.

 

Meski tidak pernah berjumpa dengan Daddy Long Legs yang misterius itu, namun dalam hati Judy telah tumbuh benih-benih kasih sayang kepada lelaki yang–sesuai persyaratan–tidak pernah membalas surat-suratnya itu. Malah, diam-diam Judy telah menganggap sang tuan budiman yang minta dipanggil dengan nama Mr. John Smith ini sebagai ayah yang tidak pernah dimilikinya. Perasaan tersebut lama kelamaan menerbitkan harapan pada diri Judy suatu saat akan bisa berjumpa langsung dengan penolongnya tersebut.

 

Novel klasik karya Jean Webster ini terbit pertama kali di Amerika pada 1912. Ketika itu, tentu saja, surat masih menjadi pilihan utama sebagai alat komunikasi yang efisien setelah telepon, terutama jika kita harus menyampaikan sebuah laporan yang panjang pada seseorang yang berada jauh dari kita. Dan sekalipun novel ini berbentuk surat-surat, tetap menyenangkan membacanya. Segar, jenaka, dan kadang-kadang menyentuh hati. Jika kau pernah membaca Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery), kau akan menemukan spirit yang sama di dalamnya. Kau akan berjumpa dengan seorang gadis dengan karakter mirip Anne: cantik, cerdas, humoris, suka berkhayal, dan tidak pernah mengeluhkan nasib malangnya sebagai seorang anak yatim piatu.

 

Sejak kemunculannya, Daddy Long Legs terus memperoleh sambutan hangat dari khalayak pembaca, bahkan kemudian diangkat menjadi sandiwara panggung serta film layar lebar. Salah satunya yang cukup terkenal dibuat tahun 1955 dengan bintang Fred Astaire. Buku yang menarik ini layak dan aman dibaca oleh seluruh golongan umur. Dua tahun berikutnya, terbit buku lanjutannya: Dear Enemy. ***(Endah Sulwesi)


Posted at Friday, January 01, 2010 by Perca
Comments (6)  

Next Page



Selamat datang di PERCA. Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah komunitas. Selamat membaca!



Blog Perca : Aku dan Sastra

Ruang Bercakap-cakap

   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




Perpustakaan Sahabat


Nonton Bersama Sahabat

  • Kutubuku Ngomongin Film



  •  


    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed