|
|
 |
 |
|
Saturday, January 30, 2010

Judul buku: The Lost Symbol
Pengarang: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Esti B Habsari & Andityas Prabantoro
Penerbit: Bentang Pustaka
CetakanL: I, 2010
Tebal: 712 hlm
Membaca novel-novel Dan Brown bersiaplah untuk bergadang. Itulah selalu yang selalu saya alami. The Lost Symbol menjadi pengalaman ketiga setelah The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Bersama si ahli simbologi lajang, Profesor Robert Langdon, saya kembali menelusuri misteri ruangan-ruangan bawah tanah yang menyimpan bukan saja keindahan tetapi juga sejarah menakjubkan. Kali ini, Langdon membawa kita mengungkap rahasia Gedung Capitol di Washington, DC, Amerika Serikat.
Ada apa gerangan di balik kemegahan mahakarya Gedung Capitol itu? Tentu tidak akan saya sampaikan di sini agar kau membacanya sendiri. Saya hanya akan menceritakan betapa buku ini akan kembali membawamu pada sebuah petualangan penuh keajaiban di balik simbol-simbol kuno serta sihir ilmu pengetahuan. Menurut saya, novel-novel Dan Brown, bukan sekadar menyajikan ketegangan dan horror, tetapi juga ilmu pengetahuan. Jadi rasanya karya-karyanya bisa digolongkan juga ke dalam genre science fiction.
Bagi engkau yang telah membaca dua buku sebelumnya (The Da Vinci Code dan Angels and Demons), akan berjumpa kembali dengan sang jagoan: Robert Langdon dengan bidadari pendampingnya, Katherine Solomon, dalam sebuah thriller yang berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Robert Langdon berupaya membongkar sebuah rahasia yang menyelubungi perkumpulan kaum Mason yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan ternyata George Washington dan Benjamin Franklin pernah menjadi anggotanya.
Sudah tentu, dalam usaha mengungkapnya, Langdon menemui banyak kendala. Dia harus berhadapan dengan seorang penjahat sadis yang tak segan-segan membunuh demi mendapatkan yang diinginkannya. Salah satu korbannya adalah sahabat terbaik Langdon, Peter Solomon, salah seorang anggota terhormat Freemasonry. Nyawa Peter terancam dan hanya Langdonlah yang mampu menyelamatkannya. (Ya iyalah, secara dia jagoannya :D).
Maka, sebagaimana The Da Vinci Code, Brown mengajak kita menggali misteri seputar Piramida Mason, simbol agung yang menyimpan sebuah “Kata” yang hilang. Dengan piawai, Brown menyingkap lapis demi lapis kisahnya dalam tempo cepat. Setiap babnya selalu diakhiri dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan yang memaksa kita membuka halaman berikutnya demi menuntaskan rasa penasaran. Brown memang ahlinya meramu misteri dan ketegangan. Deskripsinya tentang satu subjek sangat detail tanpa terjerumus menjadi “kuliah” ilmiah yang membosankan. Saya dibuat tercengang setiap kali sebuah selimut misteri tersibak. Sudah pasti, novel yang semula hendak diberi judul The Solomon Key ini dibuat melalui sebuah riset yang serius.
Salah satu daya tarik dari buku-buku Brown adalah keberaniannya menghadirkan fakta sejarah dalam versi yang berbeda yang hasilnya kerap menimbulkan kehebohan dan pro-kontra di kalangan pembacanya. Bagi saya, terlepas dari semua kontroversinya, sangat menikmati suguhan kisahnya tentang benda-benda dan artefak kuno yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Saya seakan-akan tengah diajak tamasya ke sebuah museum yang penuh berisi karya seni agung lengkap dengan kisah-kisah menakjubkan di sebaliknya. Entah itu hanya sekadar hasil imajinasi Brown atau memang fakta sebenarnya, saya tak lagi terlalu peduli.
Agak sedikit berbeda dengan The Da Vinci Code, The Lost Symbol tidak lagi menampilkan kejahatan konspirasi. Penjahatnya hanya seorang dengan motif balas dendam. Dan dalam urusan tegang-tegangan, Angels and Demons masih jauh lebih mencekam. Saya ingat betul, selama membaca novel itu pada malam hari, berulang kali saya menengok ke jendela, merasa seram dan ngeri sendiri seakan-akan penjahat dari novel tersebut bisa muncul di kamar saya sewaktu-waktu. Hiiiiy….
Tetapi, sebagai sebuah bacaan setebal 712 halaman, The Lost Symbol sangat menghibur, terutama pada bagian akhirnya yang tidak terduga.*** (Endah Sulwesi)
Posted at Saturday, January 30, 2010 by Perca
Permalink
Saturday, January 23, 2010
Judul buku: Garis Perempuan
Pengarang: Sanie B Kuncoro
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 375 hlm.
Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?
Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa jadi ya, setidaknya dalam novel perdana Sanie B Kuncoro ini. Novel dengan seting sebuah daerah di Jawa Tengah ini, bertutur ihwal empat orang gadis dalam memandang dan menyikapi makna keperawanan. Bagi Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, keperawanan bisa menjadi sebuah anugerah atau justru malapetaka.
Siapakah sebenarnya yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan seorang perempuan? Mestinya, perempuan itu sendiri sebagai pemilik yang sah. Namun, pada kenyataannya, sering kali seorang atau banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang (mungkin) paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan. Umpamanya, yang dialami Ranting.
Gadis miskin ini menghadapi dilema. Ia harus melunasi utang puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting, karena kemiskinannya, tak punya banyak pilihan. Jika hanya mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), seumur hidupnya pun utang itu tak akan pernah terbayar. Tetapi, dia juga tidak mungkin membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Sementara itu, ada seorang lelaki yang menawarkan jalan keluar: bersedia membayarkan utangnya asalkan Ranting mau dijadikan istri ketiga. Sungguh pilihan yang sulit.
Tak jauh dari Ranting, ada seorang gadis lain yang mengalami nasib nyaris serupa. Gadis itu, Gendhing, berada pada kondisi sosial ekonomi yang hanya sedikit saja di atas Ranting. Berkat kerja keras orang tuanya–ayahnya tukang becak dan ibunya kuli cuci pakaian–Gendhing agak lebih beruntung ketimbang Ranting karena bisa menyelesaikan SMA-nya sehingga ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil terus mencari peluang kerja yang lebih baik.
Celakanya, sebelum sempat mewujudkan cita-cita, Gendhing terbentur sebuah masalah. Seperti Ranting, ia pun terpaksa pasang badan untuk menyelamatkan orang tuanya dari belitan utang. Lagi-lagi, solusi yang disodorkan pada seorang perempuan yang terjepit adalah sebuah barter pelunasan utang dengan penyerahan dirinya, entah sebagai istri kesekian atau sekadar “simpanan”.
Dalam kasus Ranting dan Gendhing, akar masalahnya adalah kemiskinan. Kedua gadis ini sadar betul tubuh perawan mereka memiliki nilai jual yang tinggi. Pada para lelaki yang terobsesi tidur dengan para perawan, Ranting dan Gendhing menemukan pembeli yang bersedia membayar mahal. Terjadilah sebuah transaksi dan saat itu keperawanan hanyalah sebuah komoditi.
Lain halnya dengan Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua wanita ini barangkali jauh lebih beruntung daripada dua sahabat mereka. Sri dan Zhang (mengapa bukan Mey?) tidak mesti bergulat dengan kemiskinan. Orang tua mereka berada pada level sosial ekonomi menengah atas. Sementara Ranting dan Gendhing harus bermandi keringat mengais rezeki, Sri dan Zhang menikmati dunia kampus tanpa harus memikirkan biayanya. Bagi Sri dan Zhang, tersedia lebih banyak pilihan, termasuk menentukan kepada siapa tubuh perawan mereka akan dipersembahkan. Mungkin untuk kekasih sebagai bukti cinta atau kepada suami di malam pengantin.
Pilihan Sanie pada tema “perawan” ini, mungkin berdasarkan pengamatannya terhadap sekitar. Penulis yang berumah di Solo ini, barangkali menemukan fakta bahwa keperawanan masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan atau pun (lebih-lebih) lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Di novelnya ini, Sanie mengambil latar budaya Jawa dan Cina, dua kultur yang sangat karib dengannya. Sebagi seorang peranakan Cina yang lahir dan besar di Solo, Sanie tentu sangat memahami persoalan-persoalan yang ia tampilkan, baik kultural maupun sosial ekonominya.
Dengan gaya menulisnya yang khas–romantis melankolis, sehingga kadang terkesan berlarat-larat dengan kalimat–Sanie mengurai kisahnya menjadi empat bagian inti yang masing-masing menceritakan keempat tokoh utamanya. Pembagian ini memudahkan pembaca mengikuti alur novel yang linier. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, cukup terwakilkan. Beberapa ungkapan dan dialog dalam kedua bahasa berhasil menghidupkan cerita. Untuk para pembaca yang tidak paham bahasa Jawa dan Mandarin, jangan khawatir, penulis langsung menerjemahkannya di situ juga, tak perlu repot-repot melirik catatan kaki. Alhasil, novel ini lumayan menarik untuk dicermati. Sangat perempuan. Banyak hal yang mengundang untuk didiskusikan lebih lanjut.
Terlepas dari kisah keempat dara tadi, saya pun masih sering “menemukan” pria (dan banyak!) yang mencari seorang calon istri perawan. Bagi mereka, ada semacam sebuah kebanggaan jika berhasil menjadi yang pertama memerawani perempuan yang menjadi istri mereka. Keperawanan juga menjadi bukti kesucian seorang perempuan. Seolah-olah para wanita “suci” ini benar-benar belum pernah tersentuh kulit lelaki dan sebaliknya, jika sudah tidak perawan berarti perempuan tersebut bermoral bejat. Dan kita tahu, stigma ini tidak berlaku buat para lelaki.
Ini hanya masalah kultur yang notabene hasil ciptaan manusia (baca: lelaki). Sejak dulu, para perawan sudah diposisikan sebagai korban. Lihat saja ritual-ritual agama kuno yang selalu menyajikan seorang perawan di altar sebagai persembahan kepada para dewa. Atau pada masa yang lebih moderen lagi, perawan-perawan kerap dijadikan upeti kepada para raja atau sebagai pampasan perang. Pada abad 21 ini, hal serupa masih berlanjut dalam kemasan yang sedikit berbeda. Terjadi pada perempuan-perempuan tak berdaya seperti Ranting dan Gendhing. Kalau begini, sebuah anugerah atau bencanakah menjadi seorang perawan? Ternyata, tak semata-mata soal pilihan.*** (Endah Sulwesi)
Posted at Saturday, January 23, 2010 by Perca
Permalink
Friday, January 01, 2010
Judul buku: Daddy Long Legs
Pengarang: Jean Webster
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
Penerbit: Atria
Cetakan: I, 2009
Tebal: 235 hlm.
Daddy long legs dalam bahasa Inggris adalah sebutan untuk laba-laba berkaki panjang. Namun, oleh Jerusha Abbott, kata tersebut ia pakai untuk menjuluki seorang pria budiman yang telah menyantuninya bersekolah di perguruan tinggi. Pria baik hati itu hanya mensyaratkan Judy (nama kecil Jerusha) menulis laporan kemajuan studinya dalam bentuk surat setiap bulan. Sebuah syarat yang sangat mudah, apalagi bagi seorang gadis yang memang senang menulis seperti Judy. Maka, gadis yatim piatu itu pun meninggalkan Panti Asuhan John Grier setelah selama delapan belas tahun menjadi penghuni di dalamnya.
Kisah yang sesungguhnya pun dimulai, dari awal hingga akhir semua tersaji dalam bentuk surat Judy kepada Daddy Long Legs. Dengan gaya tulisan yang menyenangkan, Judy bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya selama menjadi mahasiswa: pelajaran-pelajarannya, teman-teman, liburan, buku-buku, cowok-cowok, dan apa saja yang dipikirkannya. Ia menulis seolah-olah bercakap-cakap langsung dengan si pembaca suratnya. Ia menulis kejadian hari demi hari sehingga kau akan merasa seakan-akan tengah membaca sebuah buku harian seorang gadis yang periang, cerdas, dan penuh harga diri. Ceritanya cewek banget deh.
Meski tidak pernah berjumpa dengan Daddy Long Legs yang misterius itu, namun dalam hati Judy telah tumbuh benih-benih kasih sayang kepada lelaki yang–sesuai persyaratan–tidak pernah membalas surat-suratnya itu. Malah, diam-diam Judy telah menganggap sang tuan budiman yang minta dipanggil dengan nama Mr. John Smith ini sebagai ayah yang tidak pernah dimilikinya. Perasaan tersebut lama kelamaan menerbitkan harapan pada diri Judy suatu saat akan bisa berjumpa langsung dengan penolongnya tersebut.
Novel klasik karya Jean Webster ini terbit pertama kali di Amerika pada 1912. Ketika itu, tentu saja, surat masih menjadi pilihan utama sebagai alat komunikasi yang efisien setelah telepon, terutama jika kita harus menyampaikan sebuah laporan yang panjang pada seseorang yang berada jauh dari kita. Dan sekalipun novel ini berbentuk surat-surat, tetap menyenangkan membacanya. Segar, jenaka, dan kadang-kadang menyentuh hati. Jika kau pernah membaca Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery), kau akan menemukan spirit yang sama di dalamnya. Kau akan berjumpa dengan seorang gadis dengan karakter mirip Anne: cantik, cerdas, humoris, suka berkhayal, dan tidak pernah mengeluhkan nasib malangnya sebagai seorang anak yatim piatu.
Sejak kemunculannya, Daddy Long Legs terus memperoleh sambutan hangat dari khalayak pembaca, bahkan kemudian diangkat menjadi sandiwara panggung serta film layar lebar. Salah satunya yang cukup terkenal dibuat tahun 1955 dengan bintang Fred Astaire. Buku yang menarik ini layak dan aman dibaca oleh seluruh golongan umur. Dua tahun berikutnya, terbit buku lanjutannya: Dear Enemy. ***(Endah Sulwesi)
Posted at Friday, January 01, 2010 by Perca
Permalink
Sunday, December 20, 2009
Mencoba bersetia pada "tradisi" tahunan yang kuciptakan sendiri sejak 3 atau 4 tahun silam, tahun ini kembali aku menyampaikan "laporan" kegiatan membacaku. Tahun ini ada yang sedikit berbeda dari daftarku. Jika sebelumnya aku tidak membedakan (mencampur) antara buku lokal dan impor (terjemahan), maka tahun 2009 aku memisahkannya. Tahun ini pula aku mencatat, faktanya review yang kutulis lebih sedikit daripada tahun lalu (hanya 21 review!). Tentu aku perlu alasan untuk masalah ini agar tak terlalu merasa "berdosa". Alasanku, karena mulai Juni 2009 bus Bogor-UKI tidak ada lagi dan itu artinya berdampak pada waktu tempuhku dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dengan demikian, setiap harinya aku tiba lebih larut daripada biasanya. Belum lagi kalau ada acara-acara seni dan sastra yang terlalu sayang untuk kulewatkan. Alhasil, sampai di rumah aku sudah capek banget. Boro-boro nulis review, kadang-kadang untuk melanjutkan membaca saja juga sudah nggak sanggup. Akhirnya, aku hanya menulis review pada hari-hari libur saja atau jika sedang terserang insomnia :D
Dari dua daftar yang berbeda itu, aku telah memilih masing-masing 5 (lima) buku favorit yang tentu saja kupilih berdasarkan selera pribadi semata-mata yang tidak lepas dari unsur subjektivitas. Pasti sangat debatable, tetapi sebaiknya tidak diperdebatkan. Akan lebih asyik mungkin jika kita saling membandingkan daftar dan pilihan kita.
Berdasarkan daftar itu pula, iseng-iseng aku menghitung jumlah halaman buku yang kubaca. Totalnya ada 15.761 halaman dari 51 buku (30 buku impor/terjemahan dan 21 buku lokal). Daftarku ini tidak membedakan antara buku fiksi dan nonfiksi, novel dan novel grafis (komik), buku anak-anak dan dewasa. Maka, pilihanku pun juga tidak berdasarkan kategori-kategori tersebut. Tetapi, rinciannya adalah seperti berikut:
- Fiksi : 43
- Nonfiksi : 8
- Buka anak-anak/fantasi : 13
- Novel grafis/komik : 2
Nah, inilah daftar itu:
Buku Lokal:
1. Cinta di AtasPerahu Cadik (Kumpulan Cerpen Kompas Terbaik) - 166 hlm
2. Eendaagsche Exprestreinen (Yusi Pareanom dkk) - 62 hlm
3. Pada Sebuah Kapal (NH Dini) - 351 hlm
4. Kolam (Sapardi Djoko Damono) - 120 hlm
5. Tanah Tabu (Anindita S Thayf) - 237 hlm
6. Perempuan Berkalung Sorban (Abidah El Khalieqy) - 320 hlm
7. Merjan-Merjan Jiwa (Kurnia Effendi) - 350 hlm
8. Ma Yan (Sanie B Kuncoro) - 214 hlm
9. Elle Eleanor (Zev Zanzad) - 426 hlm
10. Metropolis (Windry Ramadhina) - 331 hlm
11. Dua Ibu (Arswendo Atmowiloto) - 304 hlm
12. Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah (Tina K) - 262 hlm
13. Perahu Kertas (Dee Lestari) - 456 hlm
14. 9 dari Nadira (Leila S Chudori) - 270 hlm
15. Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma) - 524 hlm
16. Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo) - 198 hlm
17. Cinta 4 Bab (Hermawan Aksan) - 271 hlm
18. 9 Matahari (Adenita) - 350 hlm
19. Ripin (Kumpulan Cerpen Kompas Terbaik 2005-2006) - 179 hlm
20. Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme (Peter Carey, Harsja Bachtiar, Ong Hok Ham) - 240 hlm
21. Maryamah Karpov (Andrea Hirata) - 504 hlm
Buku Terjemahan:
1. The Book of Lost Things (John Connoly) - 472 hlm
2. Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery) - 516 hl
3. Morality for Beautiful Girls (Alexander McCall Smith) - 265 hlm
4. Embroideries/Bordir (Marjane Satrapi) - 136 hlm
5. Sweetness in the Belly (Camilla Gibb) - 500 hlm
6. Nightmare Academy (Dean Lorey) - 320 hlm
7. Inkheart (Cornelia Funke) - 536 hlm
8. Breakfast at Tiffany (Truman Capote) - 163 hlm
9. Kenakalan-Kenakalan Baru Emil (Astrid Lindgren) - 136 hlm
10. Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina (Marina Lewycka) - 416 hlm
11. The Tuesday Erotica Club (Lisa Beth Kovetz) - 358 hlm
12. Esio Trot/Aruk-Aruk (Roald Dahl) - 64 hlm
13. Diary: Si Musuh Geng Kodok (Jessica Green) - 323
14. Botchan (Natsume Soseki) - 224 hlm
15. Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway) - 145 hlm
16. The Mysterious Benedict Society 1 (Trenton Lee Stewart) - 574 hlm
17. The Mysterious Benedict Society 2 (Trenton Lee Stewart) - 546 hlm
18. Charlie and the Chocolate Factory (Roald Dahl) - 200 hlm
19. Chicken with Plum (Marjane Satrapi) - 88 hlm
20. Honeymoon with My Brother (Franz Wisner) - 485 hlm
21. Room to Read (John Wood) - 386 hlm
22. In Love with Nation (Molly Bondan) - 297 hlm
23. Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda (1600-1950) (Harry A Poeze) - 417 hlm
24. The Twits (Roald Dahl) - 96 hlm
25. Coraline (Neil Gaiman) - 232 hlm
26. Three Cups of Tea (Greg Mortenson, David Oliver Relin) - 630 hlm
27. The Swordless Samurai (Kitami Masao) - 280 hlm
28. The Lorax (Dr. Seuss) - 72 hlm
29. Gadis Berbunga Kamelia (Alexandre Dumas Jr.) - 326 hlm
30. Spanning A Revolution: Kisah Mohamad Bondang, Eks Digulis dan Pergerakan Nasional Indonesia (Molly Bondan) - 423 hlm
Dan inilah buku favoritku tahun ini:
Buku Lokal:
1. Tanah Tabu (Anindita S Thayf)
2. 9 dari Nadira (Leila S Chudori)
3. Metropolis (Windry Ramadhina)
4. Perahu Kertas (Dee Lestari)
5. Kolam (Sapardi Djoko Damono)
Sebenarnya, aku ingin pula memasukkan Pada Sebuah Kapal, namun karena pembacaanku merupakan pembacaan ulang, maka novel tersebut tidak kuikutsertakan dalam pemilihan. Untuk karya masterpiece NH Dini ini, rasanya predikat "buku favorit sepanjang zaman" akan lebih pas :).
Buku Impor/Terjemahan:
1. Embroideries/Bordir (Marjane Satrapi)
2. Anne of Green Gables (Lucy M Montgomery)
3. Inkheart (Cornelia Funke)
4. Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina (Marina Lewicka)
5. Room to Read (John Wood)
Oiya, tahun ini aku juga memilih 5 kover favorit, yaitu:
1. 9 dari Nadira
2. Perahu Kertas
3. Botchan
4. The Benedict Society
5. Tanah Tabu
Begitulah, Kawan.
Bagaimana dengan kalian? Sudah juga membuat daftar? :)
Selamat Tahun Baru!
Tetaplah membaca dan terus menulis!
Salam buku,
Endah Sulwesi
Posted at Sunday, December 20, 2009 by Perca
Permalink
Saturday, November 21, 2009
Judul buku: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S Chudori
Penerbit: KPG
Cetakan: I, Oktober 2009
Tebal: 270 hlm.
Sudah berabad-abad yang lalu rasanya ketika terkahir saya membaca cerpen Leila S Chudori, pengarang yang karya-karyanya turut mewarnai hari-hari remaja saya. Yang paling saya ingat itu cerpennya yang berjudul "Saya dan Apuy", kalau tak keliru mengingat, pernah dimuat di majalah Gadis. Masih di majalah yang sama, Leila pernah juga menulis sebuah cerita bersambung: "Seputih Hati Andra". Kedua kisah fiksi ini bertutur seputar dunia remaja dan gejolaknya.
Bertahun kemudian, saya sempat kehilangan penulis ini. Baru pada sekitar awal 90-an, saya "menemukannya" kembali lewat Malam Terakhir. Di buku kumpulan cerpennya ini, saya mendapati dirinya yang mulai beranjak dewasa. Kisah dalam cerpen-cerpennya, bukan lagi kisah cinta monyet anak-anak baru gede, tetapi mulai merambah dunia sosial politik. Leila mulai kritis memandang yang terjadi di masyarakat. Umpamanya, ihwal hak mengeluarkan pendapat yang terpasung ("Pasien Dokter Gigi Yos").
Lalu, kembali saya kehilangan jejaknya. Sebenarnya sih ia tak hilang, karena masih sering saya dapati tulisan-tulisannya di majalah Tempo berupa artikel, berita, atau ulasan buku dan film. Katanya, ia masih suka menulis cerpen juga yang dimuat di majalah Matra. Tetapi karena saya tidak membaca majalah tersebut, praktis saya tidak mengikuti lagi cerpen-cerpennya.
Dan pada 2006, ia muncul kembali melalui skenario drama televisi yang ditulisnya, Dunia Tanpa Koma. Sinetron serial yang diperankan oleh bintang jelita, Dian Sastrowardoyo ini, menampilkan kisah seputar dunia wartawan, dunia yang digeluti Leila hingga hari ini.
Tiga tahun berikutnya, lahirlah 9 dari Nadira, sebuah novel unik yang terdiri dari 9 fragmen yang bisa saja dibaca secara sendiri-sendiri sebagaimana halnya cerpen. Maksud saya, setiap babnya merupakan satu cerita yang seolah-olah berdiri lepas walaupun pada akhirnya membentuk sebuah novel yang utuh.
Agak mirip dengan Dunia Tanpa Koma, 9 dari Nadira pun bercerita tentang seorang gadis yang berprofesi sebagai wartawan majalah berita mingguan. Tak jauh-jauh dari kehidupan penulisnya. Malah, tokoh utamanya, Nadira, bisa jadi adalah perwujudan Leila muda. Mereka sama-sama wartawan, sekolah di Kanada, menulis cerpen, dan sama-sama anak ketiga dari seorang ayah yang juga wartawan. Tak heran kalau Nadira bisa menjelma begitu hidup dalam novel ini. Leila seperti sedang menulis tentang dirinya sendiri.
Dasar memang penulis berbakat, kendati telah lama tak mengarang fiksi, tulisan Leila tetap saja memikat dan menjadikan novel ini sebuah kisah realis dengan tokoh-tokoh yang sangat manusiawi. Semua karakternya tampil wajar ibarat aktor dan aktris yang berakting natural. Mereka begitu hidup dan "sempurna" sebagai seorang manusia biasa yang memiliki sisi gelap dan terang. Nyaris antihero. Jenis kisah yang saya sukai.
Satu lagi yang patut mendapatkan pujian dari saya adalah ilustrasi keren, termasuk desain kovernya, yang dibuat oleh Ario Anindito. Gambar-gambarnya telah membuat penampilan buku ini semakin menarik, terutama pada bab "Sebilah Pisau". Meskipun bab ini, menurut saya, tidak perlu ada karena hanya mengulang penceritaan sosok Nadira dari angle Kris, ilustrator majalah tempat mereka bekerja, tetapi menjadi menarik lantaran ilustrasinya. Sebelumnya, tokoh Kris belum pernah muncul dan setelahnya juga tidak pernah diceritakan lagi. Jadi, seandainya bab ini tidak ada, ya juga tidak apa-apa. Tidak akan memengaruhi keseluruhan kisah. (Eh, tapi nanti judulnya jadi 8 dari Nadira dong, ya? :D)
Sejatinya, 9 dari Nadira adalah sebuah roman cinta yang berujung tidak bahagia. Karakter Nadira cenderung murung, pendiam, dan rapuh. Apalagi setelah kematian ibu yang sangat dicintainya. Praktis, kehidupan bagi Nadira menjadi kian suram dan senantiasa mendung. Tara, bos yang diam-diam memendam cinta padanya, tak bisa berbuat banyak. Hubungan dengan Nina, kakak sulungnya, juga telah lama mendingin. Sementara, kakak lelakinya, Arya, memilih hidup di hutan. Tinggallah Nadira dengan ayahnya, pensiunan wartawan yang menderita post power syndrome.
Ketika kemudian Nadira merasa menemukan cinta pada sosok Niko, ia lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Niko mengkhianati cinta mereka. Lalu, ke mana dan kepada siapa lagi Nadira mesti berpaling dan mendapatkan cinta yang sebenarnya? Atau memang sudah tak ada lagi cinta untuknya?
Ah, rupanya bagi Leila, cinta tak harus selalu manis dan penuh bunga seperti halnya komedi romantis Hollywood. Cinta juga bisa sangat pahit, getir, dan menyakitkan.***(Endah Sulwesi, Nov 2009)
Posted at Saturday, November 21, 2009 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|