|
|
 |
 |
|
Saturday, November 21, 2009
Judul buku: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S Chudori
Penerbit: KPG
Cetakan: I, Oktober 2009
Tebal: 270 hlm.
Sudah berabad-abad yang lalu rasanya ketika terkahir saya membaca cerpen Leila S Chudori, pengarang yang karya-karyanya turut mewarnai hari-hari remaja saya. Yang paling saya ingat itu cerpennya yang berjudul "Saya dan Apuy", kalau tak keliru mengingat, pernah dimuat di majalah Gadis. Masih di majalah yang sama, Leila pernah juga menulis sebuah cerita bersambung: "Seputih Hati Andra". Kedua kisah fiksi ini bertutur seputar dunia remaja dan gejolaknya.
Bertahun kemudian, saya sempat kehilangan penulis ini. Baru pada sekitar awal 90-an, saya "menemukannya" kembali lewat Malam Terakhir. Di buku kumpulan cerpennya ini, saya mendapati dirinya yang mulai beranjak dewasa. Kisah dalam cerpen-cerpennya, bukan lagi kisah cinta monyet anak-anak baru gede, tetapi mulai merambah dunia sosial politik. Leila mulai kritis memandang yang terjadi di masyarakat. Umpamanya, ihwal hak mengeluarkan pendapat yang terpasung ("Pasien Dokter Gigi Yos").
Lalu, kembali saya kehilangan jejaknya. Sebenarnya sih ia tak hilang, karena masih sering saya dapati tulisan-tulisannya di majalah Tempo berupa artikel, berita, atau ulasan buku dan film. Katanya, ia masih suka menulis cerpen juga yang dimuat di majalah Matra. Tetapi karena saya tidak membaca majalah tersebut, praktis saya tidak mengikuti lagi cerpen-cerpennya.
Dan pada 2006, ia muncul kembali melalui skenario drama televisi yang ditulisnya, Dunia Tanpa Koma. Sinetron serial yang diperankan oleh bintang jelita, Dian Sastrowardoyo ini, menampilkan kisah seputar dunia wartawan, dunia yang digeluti Leila hingga hari ini.
Tiga tahun berikutnya, lahirlah 9 dari Nadira, sebuah novel unik yang terdiri dari 9 fragmen yang bisa saja dibaca secara sendiri-sendiri sebagaimana halnya cerpen. Maksud saya, setiap babnya merupakan satu cerita yang seolah-olah berdiri lepas walaupun pada akhirnya membentuk sebuah novel yang utuh.
Agak mirip dengan Dunia Tanpa Koma, 9 dari Nadira pun bercerita tentang seorang gadis yang berprofesi sebagai wartawan majalah berita mingguan. Tak jauh-jauh dari kehidupan penulisnya. Malah, tokoh utamanya, Nadira, bisa jadi adalah perwujudan Leila muda. Mereka sama-sama wartawan, sekolah di Kanada, menulis cerpen, dan sama-sama anak ketiga dari seorang ayah yang juga wartawan. Tak heran kalau Nadira bisa menjelma begitu hidup dalam novel ini. Leila seperti sedang menulis tentang dirinya sendiri.
Dasar memang penulis berbakat, kendati telah lama tak mengarang fiksi, tulisan Leila tetap saja memikat dan menjadikan novel ini sebuah kisah realis dengan tokoh-tokoh yang sangat manusiawi. Semua karakternya tampil wajar ibarat aktor dan aktris yang berakting natural. Mereka begitu hidup dan "sempurna" sebagai seorang manusia biasa yang memiliki sisi gelap dan terang. Nyaris antihero. Jenis kisah yang saya sukai.
Satu lagi yang patut mendapatkan pujian dari saya adalah ilustrasi keren, termasuk desain kovernya, yang dibuat oleh Ario Anindito. Gambar-gambarnya telah membuat penampilan buku ini semakin menarik, terutama pada bab "Sebilah Pisau". Meskipun bab ini, menurut saya, tidak perlu ada karena hanya mengulang penceritaan sosok Nadira dari angle Kris, ilustrator majalah tempat mereka bekerja, tetapi menjadi menarik lantaran ilustrasinya. Sebelumnya, tokoh Kris belum pernah muncul dan setelahnya juga tidak pernah diceritakan lagi. Jadi, seandainya bab ini tidak ada, ya juga tidak apa-apa. Tidak akan memengaruhi keseluruhan kisah. (Eh, tapi nanti judulnya jadi 8 dari Nadira dong, ya? :D)
Sejatinya, 9 dari Nadira adalah sebuah roman cinta yang berujung tidak bahagia. Karakter Nadira cenderung murung, pendiam, dan rapuh. Apalagi setelah kematian ibu yang sangat dicintainya. Praktis, kehidupan bagi Nadira menjadi kian suram dan senantiasa mendung. Tara, bos yang diam-diam memendam cinta padanya, tak bisa berbuat banyak. Hubungan dengan Nina, kakak sulungnya, juga telah lama mendingin. Sementara, kakak lelakinya, Arya, memilih hidup di hutan. Tinggallah Nadira dengan ayahnya, pensiunan wartawan yang menderita post power syndrome.
Ketika kemudian Nadira merasa menemukan cinta pada sosok Niko, ia lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Niko mengkhianati cinta mereka. Lalu, ke mana dan kepada siapa lagi Nadira mesti berpaling dan mendapatkan cinta yang sebenarnya? Atau memang sudah tak ada lagi cinta untuknya?
Ah, rupanya bagi Leila, cinta tak harus selalu manis dan penuh bunga seperti halnya komedi romantis Hollywood. Cinta juga bisa sangat pahit, getir, dan menyakitkan.***(Endah Sulwesi, Nov 2009)
Posted at Saturday, November 21, 2009 by Perca
Permalink
Saturday, September 26, 2009
Judul buku: Perahu Kertas
Pengarang: Dee
Editor: Hermawan Aksan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 456 hlm
Cetakan: I, 2009.
Pertama kali mendengar judul novel Dee yang keempat ini, yang teringat oleh saya adalah judul buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang terbit tahun 1982. Saya kira tadinya Dee terinspirasi oleh puisi Sapardi tersebut. Tetapi, ternyata tidak. Malah tulisnya di halaman belakang, ilham itu datang setelah membaca cerita bersambung di majalah Hai yang bertitel “Ke Gunung Lagi” milik Katyusha, seorang penulis cerpen yang beken di era 80-an. Ya, cerbung itu pun ditulis pada tahun 80-an.
“Kelincahan dan keluwesan Katyusha menjadi daya tarik utama dari cerbung ‘Ke Gunung Lagi,’” begitu alasan Dee tentang keterpikatannya pada cerbung itu. “Namun, ada satu faktor lagi yang menjadi candu terkuat bagi saya: formatnya,” sambungnya. Yang ia maksud dengan format adalah cerita bersambung yang mirip cerita serial; mengikat pembacanya untuk terus mengikuti kisah tersebut dan senantiasa menerbitkan rasa penasaran.
Resep inilah yang kemudian dipakainya dalam menulis Perahu Kertas. Tidak sia-sia hasil “belajarnya” dari Katyusha. Dee berhasil meramu sebuah kisah cinta remaja yang lincah dan menghibur. Sangat jauh berbeda dengan novel debutannya, Supernova, yang “nglimiah” dan terlalu sarat beban itu. Pada Perahu Kertas, terasa Dee menulis dengan lebih lepas, merdeka, dan semakin matang. Hasilnya, sebuah dongeng yang renyah dan gurih yang memaksa saya untuk terus membuka lembar demi lembar halamannya. Seperti mengudap crispy snack bermuatan MSG. Enak tapi tak padat gizi. Atau kalau mau dibandingkan dengan film, ya layaknya drama komedi romantis yang mengandalkan dialog-dialog serta joke-joke yang cerdas dan segar. Dan jangan lupa, selalu happy ending.
Bagi saya, kelincahan dan keluwesan Dee mendongeng menjadi daya pikat utama Perahu Kertas. Sebab, temanya sih klasik: cinta. Percintaan dua anak muda perkotaan. Yang cewek penyuka dongeng, sedangkan cowonya seorang pelukis. Tetapi, Dee mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sajian kisah cinta yang legit dengan karakter utamanya, Kugy, yang unik dan menggemaskan. Kugy yang mungil, ceria, cerdas, dan agak urakan mengingatkan saya pada tokoh ciptaan Katyusha dalam cerbungnya yang lain: “Sebuah Makhluk Mungil” (yang konon telah mengilhami Hilman Hariwijaya menulis serial Lupus dalam episode “Makhluk Mungil dalam Bis”).
Jika niatan Dee untuk membuat sebuah kisah ala cerbung/serial yang tokoh-tokohnya tumbuh berkembang serta ceritanya membuat pembacanya penasaran (walaupun akhir kisah sudah bisa tertebak dari awal, tetapi kita membaca sebuah buku toh bukan sekadar ingin mengetahui ending-nya, kan?) dan ketagihan, rasanya bolehlah saya katakan Dee telah sukses meraih cita-citanya itu. Tetapi, ya hanya sebatas itu: sebuah novel (pop) yang menghibur. ***
endah sulwesi
Posted at Saturday, September 26, 2009 by Perca
Permalink
Monday, August 10, 2009
(19) Honeymoon with My Brother
Judul buku: Honeymoon with My Brother
Penulis: Franz Wisner
Penerjemah: Berliani M Nugrahani
Penyunting: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2008
Tebal: 485
Setiap kali usai membaca sebuah buku catatan perjalanan, hasrat jalan-jalanku senantiasa bergelora kembali. Aku tidak yakin, apakah ada orang di planet ini yang tidak suka jalan-jalan, sebuah kegiatan yang bagiku amat menyenangkan dan selalu ingin kulakukan kembali. Andai saja aku punya uang dan waktu yang banyak, aku ingin keliling dunia seperti Trinity (The Naked Traveler), Nawal El Saadawi (My Travels Around the World), Sigit Susanto (Menyusuri Lorong-Lorong Dunia), atau Franz Wizner dalam Honeymoon with My Brother.
Dari keempat buku yang kusebut di atas, umumnya mengemukakan hal yang hampir sama. Keempat manusia yang suka jalan itu sama-sama menyoroti tempat dan objek wisata yang tidak umum, yang tidak tertera dalam buku panduan perjalanan sekelas Lonely Planet sekali pun. Para pengukur jalanan ini memiliki minat yang nyaris serupa tentang berkunjung ke tempat-tempat yang unik dan mendapatkan pengalaman yang unik pula dari tempat-tempat tersebut. Mereka menggali sesuatu yang lain dari setiap kunjungan mereka ke pelosok dunia.
Khusus dalam Honeymoon with My Brother yang konon kisahnya akan segera dilayarlebarkan, ceritanya tidak sekadar catatan perjalanan. Franz Wisner melengkapinya dengan kisah cintanya yang gagal total; yang menjadi awal mula perjalanannya kelililing bumi.
Jadi begini, semula Franz Wisner adalah seorang pekerja kantoran di sebuah perusahaan besar di Amerika: The Irvine Company. Ia memiliki segalanya sebagai seorang pria: penampilan fisik yang oke, pekerjaan dan karier yang mapan, keluarga yang selalu siap memberikan dukungan, sahabat-sahabat yang baik, dan tentu, seorang tunangan cantik yang tak lama lagi akan dibawanya ke altar pernikahan.
Namun, ternyata wajah tampan dan karier bagus, masih kurang cukup sebagai modal untuk menyeret seorang gadis ke dalam sebuah perkawinan. Setelah 10 tahun berpacaran dan hanya tinggal lima hari menjelang pernikahan, sang gadis, Annie, memutuskan untuk membatalkan pernikahan tersebut. Begitu saja.
Meski hatinya hancur lebur, tak ada yang mampu dilakukan Franz untuk menyelamatkan rencana agung tersebut. Ia terlalu gengsi–mungkin–kalau mesti memohon-mohon kepada Annie untuk membatalkan keputusannya.
Dan itu artinya, Franz harus juga membatalkan rencana perjalanan bulan madu mereka. Padahal semua telah siap. Tiket pesawat serta kamar hotel sudah dipesan, tinggal eksekusinya saja. Dan celakanya (oh, tapi kemudian Franz justru harus menyebut: dan untungnya…) semua itu tidak bisa dibatalkan. Maka, alih-alih membatalkannya, Franz kemudian malah mengajak adiknya, Kurt, untuk pergi berbulan madu bersamanya.
Perjalanan bulan madu inilah yang selanjutnya menjadi pintu masuk Wisner Bersaudara untuk menjelajahi sudut-sudut dunia selama 4 tahun sembari memperbaiki kembali hubungan kakak-adik mereka yang selama ini sempat mendingin seiring pertambahan usia keduanya.
Maka, jadilah Honeymoon with My Brother sebuah catatan perjalanan yang menarik dicermati. Di samping hal-hal unik tentang objek-objek yang mereka singgahi, Franz juga membumbui kisahnya dengan sentuhan emosional ihwal hubungannya dengan nenek, ayah ibu, para sahabat, serta terutama sang adik, Kurt Oscar Wisner, kepada siapa ia mempersembahkan buku ini (di halaman pembuka, dengan manis ia menulis: Untuk Kurt Ocsar Wisner, adikku, pahlawanku, dan sahabat baruku).
Bagian relasi kakak-adik ini mau tidak mau membawa ingatanku tentang hubunganku dengan adik-adikku yang kurasakan kini juga sudah tak seakrab dulu ketika kami kanak-kanak. Rasanya dulu aku selalu merasa rindu jika salah seorang dari ketiga adikku tidak tampak di rumah. Dulu, kami masih suka pergi ke mal atau nonton bareng. Tetapi saat kami sama-sama beranjak dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing, acara pergi bareng pun nyaris tidak pernah lagi dilakukan. Kami tentu lebih senang pergi dengan pacar atau teman-teman.
Apalagi sekarang, mereka, adik-adikku ini, sudah menikah. Untungnya semua masih tinggal di Jakarta, sehingga masih bisa berjumpa sedikitnya satu bulan sekali. Sayangnya, masa pertemuan itu pun tidak selalu bisa kuhadiri dengan alasan ngantor (konsekuensi bekerja di sebuah objek wisata yang kudu tetap ngantor di hari libur, hari keluarga. Hiks…)
Oops! Kok jadi curcol sih? Maaf ya J. Baiklah, kita balik ke Franz lagi.
Intinya, ini adalah sebuah buku yang memikat. Sebuah kisah perjalanan yang dikemas seperti novel. Secara cerdik, Franz mengolah ceritanya menjadi bacaan yang gurih, lucu, dan menyentuh perasaan. Gurih, lebih kepada cara penyampaiannya yang segar dan mengalir. Lucu, terutama pada bagian-bagian yang mengisahkan tempat dan kejadian-kejadian unik yang mereka alami. Menyentuh, karena Franz berhasil menggugah perasaanku melalui penuturannya tentang Annie, LaRue, dan Kurt. Sayang banget mereka tidak menyertainya dengan foto-foto hasil jepretan Kurt yang tentu akan membuat buku ini lebih menarik.
Ngomong-ngomong, akan seperti apakah filmnya nanti? Mestinya sih akan jadi film tamasya yang bagus, ya?
Tapi yang pasti, seperti biasa, seusai membaca buku kisah perjalanan, hasrat jalan-jalanku jadi kambuh lagi. Jalan-jalan memang asyik. Apalagi jika tak harus patah hati terlebih dahulu. Yuuuk! J***
endah sulwesi
Posted at Monday, August 10, 2009 by Perca
Permalink
Tuesday, August 04, 2009
(18) Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah
Judul buku: Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah
Pengarang: Tina K
Penerbit: KutuBuku Sampurna
Cetakan: I, 2009
Tebal: 262 hlm.
Tina K baru kukenal sekitar dua tahun silam. Tetapi sesungguhnya, aku telah mengenal namanya jauh sebelum itu melalui cerpen-cerpen kerennya di majalah Anita Cemerlang. Kendati tak satu pun judul cerpennya yang berhasil kuingat dengan baik, namun fakta bahwa namanya tetap tertanam di benakku setelah sekian lama Anita menjadi almarhum, adalah bukti bahwa sebagai cerpenis remaja, nama Tina K sempat berkibar-kibar dan aku pernah menjadi penggemarnya.
Pernah? Barangkali lebih tepat jika kupakai kata “masih”, sebab sampai hari ini aku masih menyukai tulisan-tulisannya yang berciri riang, lincah, dengan menggunakan banyak percakapan sebagai pengganti fungsi narasi. Gaya penulisan seperti ini, berhasil menjadikan cerpen-cerpen Tina menyenangkan untuk dibaca. Ringan, segar, bernada optimis. Nyaris serupa menonton film-film komedi romantis Amerika. Apalagi ditunjang pula dengan tema-tema seputar masalah cinta: cemburu, cinta platonis, patah hati, kasih tak sampai.
Setelah sekian puluh tahun nyebur ke dunia penulisan fiksi, tahun ini akhirnya Tina K membukukan karya-karyanya dalam sebuah kumpulan cerpen bertajuk Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah. Selamat ya, Mbak Tina!
Seluruhnya ada 18 cerpen (cinta) dalam buku ini. Cerpen-cerpen yang sangat khas Tina. Kisah-kisah percintaan orang-orang kota. Tina memang tidak selalu menyebutkan seting ceritanya, tetapi dari detail-detail yang ditampilkan, menunjuk kepada sebuah suasana perkotaan: kantor di gedung-gedung tinggi, salon, kafe, nama-nama restoran, pertokoan, dan juga nama-nama tokohnya. Sayangnya, Tina tidak menyertakan tanggal penulisan masing-masing cerpennya, sehingga kita agak kehilangan jejak.
Aku menduga, sebagian besar cerpen dalam buku ini merupakan cerpen-cerpen lawas Tina. Itu bisa terlihat jelas dari (lagi-lagi) detail yang disampaikannya. Umpamanya, pada “Kunang-Kunang Malam” (hlm.215) yang masih menghadirkan becak sebagai angkutan umum di daerah Rawamangun. Pada beberapa cerpen yang lain, tampak ada upaya penyesuaian seting cerita dengan mengubah detail-detail tersebut. Misalnya, surat diganti dengan email.
Cerpen favoritku adalah “Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah” dan “Ignatius de Loyola”. Alasanku sederhana saja, lantaran tokoh kedua cerpen di atas seorang wanita lajang dewasa. Di kedua cerpen ini juga, Tina telah jauh lebih matang dalam penulisannya. Tokohnya bukan lagi gadis-gadis remaja yang gelisah karena cemburu atau menderita oleh cinta yang ditolak. Tokoh perempuan (lajang) dalam “Laki-Laki….” dan “Ignatius ..” adalah sosok mandiri, tegar, dan matang. Sejenak aku sempat menduga, jangan-jangan perempuan dalam kedua cerpen tersebut merupakan gambaran diri sang pengarangnya. Hehehe. Benar ga, Mbak Tina? J
“Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah” bertutur secara menawan ihwal seorang perempuan single yang jatuh cinta kepada lelaki yang memakai wewangian beraroma rempah-rempah. Mereka berkantor di gedung yang sama. Mereka saling menyukai, namun ketika si lelaki melamar sang wanita, mendadak saja si cewek ini terserang rasa tak percaya diri. Benarkah sang jantan serius dengan lamarannya? Apa yang dilihat laki-laki itu pada dirinya yang – menurutnya – biasa-biasa saja itu? Ia bukanlah perempuan dengan tubuh seksi. Ia juga tidak memiliki kulit selembut bayi atau rambut hitam panjang tergerai layaknya para model shampoo. Bagaimana bisa pria itu jatuh hati padanya?
Di sini, Tina tampaknya sedang menyindir para lelaki (dan kita) yang pada umumnya setuju bahwa wanita cantik adalah bertubuh langsing, berkulit putih, dan berambut panjang terurai. Sebuah citra tentang cantik yang kerap dijejalkan oleh iklan produk-produk kosmetik di televisi dan majalah. Seolah tak ada tempat bagi perempuan di luar kategori tersebut untuk disebut cantik. Cantik itu langsing, bukan gemuk. Cantik itu putih, bukan hitam atau cokelat. Cantik itu lurus dan panjang, bukan keriting atau cepak.
Citra yang terus-menerus dicekokkan ke pikiran kita, pada akhirnya tanpa sadar telah membuat kita sepakat pada rumusan tentang cantik versi mereka itu. Dan celakanya, lalu banyak wanita yang ramai-ramai menyulap penampilan mereka demi memenuhi persyaratan fisik untuk bisa dibilang cantik. Kita jadi lupa, bahwa ada kecantikan lain yang berada di dalam diri kita: kepribadian (inner beauty).
“Ignatius de Loyola” lain lagi kisahnya. Kali ini, Tina mengangkat tema percintaan beda usia. Wanitanya jauh lebih tua dari pacarnya, seorang pemuda belia yang lebih pantas menjadi adiknya. Persoalan menjadi lebih pelik karena si wanita berstatus janda.
Sekali lagi Tina menyindir (kalau tak mau menyebutnya mengkritik) kita yang sering menilai negatif seorang janda. Janda acap dianggap sebagai ancaman, baik bagi para pria beristri maupun para pemuda lajang. Sepertinya, pasangan yang tepat bagi para janda adalah bujang lapuk atau para duda.
Meski favoritku hanya dua, namun bukan berarti cerpen yang lain kalah menarik. Hanya saja saat dibaca sekarang agak kurang pas. Kurang dapat menghayatinya sebab masa-masa remajaku sudah lama berlalu. Barangkali akan berbeda jika aku membacanya waktu sekolah dulu. Romantika asmara anak muda yang penuh gejolak rindu, prasangka, cemburu, marah, benci….Ah, nostalgia yang manis untuk dikenang dan diceritakan kembali.
Secara keseluruhan, cerpen-cerpen Tina tentu layak dinikmati. Hal yang patut disayangkan, masih banyak terdapat kesalahan eja dan pengetikan yang cukup mengganggu mata. Seperti melihat rumput liar di sela-sela tanaman bunga. Hal lain lagi yang aku kurang sreg adalah desain kovernya. Kesannya jadul banget. Padahal, desain kover salah satu faktor menentukan loh. Walaupun aku pengikut setia aliran don’t judge the book by its cover tetapi terganggu juga sih kalau melihat desain kover yang kurang oke.***
endah sulwesi
Posted at Tuesday, August 04, 2009 by Perca
Permalink
Monday, July 27, 2009
Judul buku: Dua Ibu
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2009
Tebal: 203 hlm.
Siapa yang lebih berhak menyandang sebutan ‘ibu’, seorang wanita cantik yang melahirkan kita tapu kemudian meninggalkan kita atau seorang perempuan desa sederhana yang dengan ikhlas dan penuh kasih sayang merawat serta mengasuh kita sebagai anak kandungnya sendiri?
Kurang lebih seperti itulah permasalahan yang dilontarkan Arswendo dalam novel lawasnya yang diterbitkan kembali sejak lebih setengah abad dari penerbitannya yang pertama. Dua Ibu, novel yang mengusung tema sosial, seperti kebanyakan novel Wendo, juga menghadirkan kisah drama kehidupan masyarakat kelas bawah. Sebuah kisah realis yang menyentuh tanpa dengan tokoh-tokoh orang miskin yang optimis dan selalu gembira dalam kekurangan mereka. Agaknya haram bagi tokoh-tokoh rekaan Wendo untuk mengeluh, apalagi meratap-ratap dalam kemalangan mereka.
Novel yang kuberi 3 dari lima bintang ini rasanya sudah pernah kubaca duluuuu sekali, saat aku kelas I SMA. Terus terang, tak ada yang tersisa dalam ingatanku ihwal novel ini kecuali judul dan pengarangnya serta bahwa aku telah menghilangkan buku yang kusewa dari taman bacaan “Intan” di dekat rumahku itu. Karena keteledoranku tersebut, aku kena denda harus menggantinya dengan uang senilai harga buku itu.
Kisah bukunya sendiri tidak ada yang sempat membekas. Aku jadi tidak yakin apakah waktu itu aku benar-benar telah membacanya? :D Tetapi sudahlah, itu tak penting lagi. Yang penting akhirnya kini aku betul-betul membacanya.
Yang terutama aku suka dari karya-karya Arswendo adalah karena tema realita sosialnya. Setiap membaca buku-bukunya aku selalu merasa akrab dengan karakter-karakter dan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Begitu riil. Begitu dekat dengan keseharianku. Seperti layaknya tetangga.
Begitu pun dalam Dua Ibu. Berkisah mengenai seorang perempuan sederhana yang memiliki cinta seorang ibu bahkan bagi anak-anak yang bukan anak kandungnya. Ia memberikan segala yang dimilikinya dengan ketulusan dan keikhlasan hati seorang ibu sejati. Ia mengingatkanku pada ibuku.
Hal lain yang aku suka dari kebanyakan tulisan-tulisan Wendo adalah karena ia selalu menggunakan bahasa yang lugas, sederhana, namun tetap menarik dinikmati. Ia juga tak melupakan unsur humor sebagai bumbu yang menambah lezat cita rasa kisah-kisah rekaannya. Yang “menyebalkan”, humor-humor itu seringkali terasa pahit dan justru membuatku diam-diam menitikkan airmata. Seperti bercanda dalam duka gitu :D.
Lantaran ini karya lawas yang berjarak seperempat abad lebih, barangkali jika dibaca kembali saat ini–khususnya buat para pembaca muda yang tidak mengalami era 80-an–akan mendapati sebuah kesenjangan yang disebabkan kemajuan teknologi sekarang. Misalnya, dalam buku ini kita masih menemui kegiatan surat-menyurat sebagai salah satu bentuk komunikasi antartokohnya. Surat, yang dikirim lewat pos, hari ini mungkin sudah menjadi sebuah benda antik berkat kehadiran internet dan handphone. Siapa lagi di antara kita yang masih memakai surat untuk berkirim sapa dan kabar?
Namun, bagi pembaca sepertiku yang sempat mengalami zaman keemasan surat-menyurat (mulai dari surat cinta hingga sahabat pena), justru menjadi sebuah nostalgia. Kenangan romantis yang rasanya sudah tidak mungkin diulang kembali. SMS, email, dan facebook, tentu akan jauh lebih lekas, murah, dan praktis. Yang masih sanggup bertahan barangkali kartu pos. Itu pun hanya sebatas sebagai suvenir untuk dikoleksi ketimbang penyampai warta.
Surat boleh saja telah menjadi kuno dan ketinggalan zaman, tetapi kisah tentang ibu akan selalu hadir sampai kapan pun, bukan? Semangat itulah yang menjadikan Dua Ibu tetap enak dibaca hari ini. Sebab, seorang ibu tidak akan pernah menjadi usang dan dilupakan. Kita selalu memerlukan sosoknya, di kala sakit maupun senang. Seorang Malin Kundang pun diam-diam boleh jadi merindukan ibunya, setidaknya untuk membuyarkan kutukan.***
endah sulwesi, 2009.
Posted at Monday, July 27, 2009 by Perca
Permalink
|
|

Selamat datang di PERCA.
Di sini kawan-kawan bisa ikutan mengirim tulisan berupa review / ulasan
buku. Harapanku, dari blog kecil ini akan dapat terbentuk sebuah
komunitas. Selamat membaca!
Blog Perca : Aku dan Sastra
Ruang Bercakap-cakap
Perpustakaan Sahabat
Nonton Bersama Sahabat
Kutubuku Ngomongin Film
|
|